CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
SAAT HATI HARUS MEMILIH


__ADS_3

"Laurel..., aku minta maaf, saat itu aku terpaksa melakukan itu, karena saat itu aku mendengar Devan akan membawamu pergi ke Australia," Laurel menatap mata Dave dengan tajam, mata yang selalu membuat hatinya bergetar saat menatapnya.


"Dave..., apa keluarga Shaw terlibat dengan kehancuran bisnis keluargaku dan kasus pidana papaku?" Kali ini Dave benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegusaran dan kekagetannya mendengar Laurel menanyakan itu.


"Laurel..., aku bisa jelaskan semuanya padamu, duduklah dahulu, aku akan menjelaskan semuanya padamu," Laurel menarik nafas panjang, dengan sisa keberanian yang dimilikinya, didorongnya tubuh Dave yang berusaha mendekat ke arahnya.


"Tolong jawab pertanyaanku. Apa benar keluarga Shaw terlibat dengan apa yang terjadi pada papaku dan perusahaan keluarga kami?" Dave hanya terdiam mendengar pertanyaan Laurel, berusaha mengatur apa yang akan dikatakannya agar tidak menimbulkan salah paham.


Melihat Dave yang tetap terdiam tanpa menjawab pertanyaan darinya, tanpa sadar airmata Laurel kembali turun membasahi pipinya. Melihat itu tangan kanan Dave langsung terulur ke arah wajah Laurel bermaksud untuk menghentikan airmata Laurel, tapi dengan cepat Laurel mengibaskan tangannya, menghalangi tangan Dave untuk menyentuh wajahnya.


"Cukup sampai disini Dave. Tanpa kamu menjawabpun, aku sudah tahu jawabanmu tentang pertanyaanku,"


"Laurel...," Laurel langsung mundur ke belakang begitu Dave melangkah mendekat ke arahnya.


"Kita hentikan saja Dave. Aku akan pulang, terimakasih untuk kejujuranmu malam ini. Terimakasih untuk semua hal yang sudah kamu lakukan untukku selama ini, semoga ke depannya kita tidak lagi saling mengganggu atau menyakiti. Kita hentikan saja semuanya sampai di sini," Tanpa menunggu tanggapan dari Dave, Laurel membalikkan tubuhnya, berjalan mendekat ke arah pintu keluar rumah kaca Dave.


"Laurel..., maafkan aku, aku tahu keluarga Shaw bersalah padamu, tapi aku tidak akan membiarkanmu mengakhiri hubungan kita seperti ini," Laurel menghentikan langkahnya mendengar perkataan Dave barusan, Laurel mengangkat kepalanya ke atas, menahan airmatanya semakin deras, tanpa menoleh ke arah Dave agar laki-laki itu tidak bisa melihat bagaimana beratnya bagi dia untuk berjalan meninggalkan Dave.


"Jangan membuat segalanya menjadi lebih berat Dave, selagi hubungan kita belum terlalu dalam, lebih baik kita akhiri sekarang, sebelum kita semakin saling menyakiti. Mungkin kita berdua memang tidak berjodoh," Dave melangkah ke arah Laurel.


"Tolong jangan mendekat Dave, aku akan sangat menghargai jika kamu tidak memaksakan kehendakmu," Dave menghentikan langkahnya, memejamkan kedua matanya, berusaha mengendalikan rasa nyeri yang begitu menyakitkan di dadanya, rasa nyeri yang sama yang dia rasakan seperti 7 tahun lalu, saat mengetahui Laurel pergi meninggalkannya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan hubungan kita berakhir, sampai selamanya kamu adalah istriku, satu-satunya istriku," Laurel mengepalkan tangan kanannya mendengar kata-kata Dave yang baginya bukan lagi sebuah ancaman, tapi permohonan dari seseorang yang terdengar begitu putus asa.


Rasanya menyakitkan sekali bagi Laurel saat ini harus menahan rasa cinta yang ada dalam hatinya untuk Dave, tapi dia adalah putri dari Purnama Tanputra, seorang putri yang juga begitu mencintai papanya.


"Maafkan aku Dave, bukan hanya aku yang tersakiti, aku tahu kamu juga banyak merasakan rasa sakit sejak mengenalku, lebih baik kita jangan saling menambah luka lagi," Kali ini Laurel benar-benar tidak lagi memperdulikan suara Dave yang  memanggil namanya, dengan langkah gontai Laurel berjalan menjauh tanpa menoleh ke belakang lagi.


Sepanjang malam Laurel menghabiskan waktu di kamarnya dengan menangis, sambil memandangi handphone yang menunjukkan fotonya bersama Dave di tempat ketika dia menjawab pernyataan cinta dari Dave malam itu. Dengan erat digenggamnya liontin yang tergantung di kalung yang melingkar di lehernya sambil sesekali dielusnya liontin itu. Kenangan-kenangannya bersama Dave melintas di pikirannya silih berganti. Untuk waktu yang lama Laurel tetap menangis sampai pada akhirnya dia merasa lelah dan tertidur.

__ADS_1


# # # # # # #


Laurel yang berjalan pelan dengan sedikit melamun, tersentak kaget begitu mendapatkan tepukan lembut di bahunya, dengan cepat dia menoleh ke samping, dan didapatinya Nia sudah berjalan di sampingnya, berusaha menjajari langkah-langkahnya.


"Pagi Laurel, bagaimana pelatihanmu kemarin? Jam berapa kamu sampai?" Laurel tersenyum mendengar sapaan dari Nia.


"Semuanya berjalan lancar, aku mendarat kemarin jam 5 sore," Nia tersenyum, diamatinya wajah Laurel yang tampak tidak seceria biasanya, dengan mata terlihat sedikit bengkak, tanda-tanda semalam dia cukup lama menangis.


Nia menarik nafas dalam-dalam, walaupun begitu penasaran dengan apa yang terjadi pada Laurel, tapi Nia memilih untuk diam, karena tanpa disadari Laurel, kemarin malam saat dia baru saja hendak pulang dari tugas jaga malamnya, dengan jelas dia melihat Laurel keluar dari kantor Dave dengan wajah dipenuhi oleh airmata.


"Pagi dokter Laurel,"


"Pagi Raga," Laurel menjawab sapaan Raga sambil tersenyum.


"Dok, saya mau menyampaikan pesan kepada dokter Laurel, setelah apel dokter diminta untuk ke ruangan dokter Arman," Laurel sedikit mengernyitkan dahinya mendengar pesan yang disampaikan Raga untuknya.


"Dokter Arman? Ada perlu apa ya kira-kira?" Nia langsung bertanya dengan wajah menyelidik ke arah Raga yang langsung mengangkat bahunya.


"Kenapa ya dokter Arman memanggilmu? Seperti dia bosmu saja berani memanggilmu ke kantornya?" Laurel hanya tersenyum mendengar perkataan Nia.


"Tidak apa-apa, bagaimanapun dia senior kita, mungkin memang ada hal penting yang mau dibicarakan ke aku,"


"Apa perlu aku ikut menemanimu?" Laurel langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat mendengar penawaran Nia.


"Seperti anak kecil saja, apa yang perlu aku takutkan dari dokter Arman?" Nia sedikit mendengus kesal mendengar pertanyaan Laurel karena mengingat bagaimana selama ini terlihat dengan jelas bagaimana dokter Arman di setiap kesempatan berusaha memojokkan dan menjatuhkan mental Laurel, apalagi saat tidak ada Dave atau Leo di sekitar Laurel.  Walaupun selama ini sebenarnya Laurel tetap tidak ambil perduli dengan sikap dokter Arman kepadanya, tetap bersikap ramah dan tidak berusaha menghindarinya.


"Aduh, seperti kamu belum tahu saja bagaimana tidak sukanya dokter Arman ke kamu karena kamu terlihat cukup dekat dengan bos dan dokter Leo, apalagi di acara liburan ke villa kemarin kamu menempati bangunan villa utama bersama bos dan dokter Leo,"


"Kan, bukan aku yang meminta dan mengatur itu?" Laurel berusaha membela diri.

__ADS_1


"Dokter Arman mana perduli, yang dia mau dia selalu ingin jadi yang terpenting dan diutamakan, tidak mau dikalahkan oleh yang lain, apalagi kalah dari kita-kita yang masih muda, yang dianggap belum punya pengalaman, yang hanya mengandalkan selembar ijazah yang menurutnya kadang bisa dibeli, beda dengan jamannya dulu, orang yang kuliah di kedokteran betul-betul harus dengan kerja keras baru bisa lulus, itu sih omongan beliau," Laurel sedikit tertawa mendengar penjelasan Nia tentang dokter Arman yang memang dikenal galak dan sok jadi dokter paling pintar, paling dibutuhkan dan paling penting di rumah sakit ini.


"Ah, sudahlah, ayo kita apel dulu. Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja," Laurel menarik lengan Nia ke arah lapangan untuk melakukan apel pagi.


"Hai," Lusiana langsung berjalan mendekat ke arah Laurel setelah apel selesai.


"Kenapa dengan wajahmu hari ini? Ada masalah apa?" Laurel langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Lusiana.


"Laurel, aku tidak melihat bos pagi ini, apa bos pergi lagi? Padahal kemarin sore kita baru saja pulang dari kota X," Laurel sedikit memaksakan senyumnya tanpa menjawab pertanyaan Lusiana, rasanya dia justru bersyukur Dave tidak muncul di rumah sakit hari ini, membuat dia bisa sedikit bernafas lega.


"Eh, Mir, bos kemana? Kok belum terlihat?" Mira yang baru saja berjalan melewati Lusiana dan Laurel menghentikan langkahnya dan menoleh, sedikit melirik ke arah Laurel yang terlihat tidak tertarik dengan apa jawaban dari pertanyaan Lusiana kepadanya.


"Bos ke rumah besar, adik bos yang ada di Irlandia semalam datang ke Indonesia, mungkin siang atau sore nanti bos baru ke rumah sakit, itupun kalau urusan beliau sudah beres," Lusiana langsung tersenyum mendengar jawaban dari Mira yang langsung kembali melangkah pergi.


"Lus, aku harus ke kantor dokter Arman sebentar, tadi Raga menyampaikan pesan agar aku kesana," Laurel langsung berpamitan kepada Lusiana untuk menemui dokter Arman, membuat Lusiana langsung mengerutkan keningnya karena heran.


"Dokter Arman memanggilmu? Memang kamu anak buahnya?" Lusiana mengernyitkan dahinya, heran kenapa dokter Arman memanggil Laurel ke kantornya.


# # # # # # #


"Pagi dokter Arman, kata Raga dokter Arman memanggil saya. Apa ada yang bisa saya bantu?" Laurel berkata sambil berjalan mendekat ke arah meja kerja dokter Arman. Melihat kedatangan Laurel di kantornya, dokter Arman langsung bangkit dari duduknya.


"Dokter Laurel, kamu itu seorang gadis cantik dan berpendidikan tinggi, tapi aku benar-benar tidak menyangka ternyata kamu seorang gadis yang begitu murahan," Laurel tersentak kaget mendengar kata-kata kasar dari dokter Arman yang ditujukan untuknya yang langsung meluncur tanpa adanya pembukaan atau penjelasan.


"Maaf dok, saya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh dokter Arman. Apa maksud dokter Arman?" Dokter Arman tersenyum sinis mendengar pertanyaan dari Laurel yang bagi dokter Arman terdengar sok polos.


"Lihat baik-baik ini," Dokter Arman melemparkan beberapa lembar foto di atas mejanya, Laurel melirik sekilas ke arah foto-foto itu sebelum akhirnya meraih dan memandangi foto-foto itu dengan wajah bingung.


Di foto-foto itu terlihat Laurel yang berdiri di samping Dave di bandara dengan lengan Dave melingkar di bahu Laurel, sedang Devan berdiri di depan mereka berdua. Namun, orang yang tidak ada di lokasi saat itu tidak akan mengetahui bahwa itu Dave, wajah Laurel dan Devan terlihat jelas, tapi tidak dengan Dave, membuat foto itu terlihat disengaja hanya untuk menunjukkan wajah Laurel dan Devan.

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak menyangka dokter Laurel yang selama ini terlihat seperti gadis baik-baik ternyata seorang janda, yang begitu pintar mendekati para pria kaya dan tampan. Aku dengar suami dokter Laurel sudah meninggal, mungkin dia meninggal juga karena sakit hati memiliki istri seperti dokter Laurel yang begitu murahan," Wajah Laurel menegang mendengar perkataan dokter Arman, tangan kirinya mengepal menahan amarah, tangan kanannya segera meletakkan kembali foto-foto itu di atas meja kerja dokter Arman, ditariknya nafas dalam-dalam, lalu memaksakan senyum di wajahnya sambil menatap tajam ke arah dokter Arman sebelum menanggapi apa yang baru saja dikatakan dokter Arman.


__ADS_2