CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
BERHENTILAH MENGHARAPKANKU


__ADS_3

“Kita pasti akan selalu bahagia, aku akan selalu berusaha melakukan apapun yang akan membuatmu bahagia,” Dave berkata sambil meraih kepala Laurel, meletakkannya di antara bahu dan lehernya, membiarkan tubuhnya menikmati hembusan hangat udara yang keluar dari hidung Laurel yang mengenai bahunya.


Sebuah suara panggilan telepon membuat Dave menoleh ke samping, melihat ke arah handphonenya, meraihnya dengan tetap membiarkan Laurel yang masih duduk di pangkuannya menyandarkan kepalanya di bahunya.


“Hallo,”


“Kak, kami sedang berada di depan pintu kamarmu, mama memintaku untuk mengajak Kak Dave dan Kak Laurel untuk makan pagi bersama,” Begitu Dave mengangkat telepon, Evelyn langsung menyampaikan pesan dari mamanya, membuat Dave terdiam untuk beberapa saat.


Kami? Apa Evelyn sedang berada di luar pintu kamar dengan Bryan? Atau dengan Meria? Dave bertanya-tanya dalam hati dengan sedikit mengernyitkan alisnya, berusaha menebak siapa yang datang bersama dengan Evelyn ke kamarnya.


“Apa Kak Dave masih belum bangun?” Melihat Dave tidak segera menjawab perkataannya, Evelyn langsung berpikir bahwa Dave dan Laurel masih belum bangun dari tidurnya.


“Eh, tentu saja kami sudah bangun, bahkan sudah rapi. Kamu masuk saja ke kamar, pintu kamar tidak terkunci, kami sedang menikmati pemandangan di balkon kamar,” Evelyn sedikit mengernyitkan dahinya mendengar permintaan Dave untuk memintanya masuk ke kamarnya.


Dengan gerakan pelan dan cukup hati-hati, Evelyn membuka pintu kamar Dave, memandang ke sekeliling, dan begitu dia tidak menemukan sosok kedua kakaknya di kamar mereka, Evelyn berjalan dengan ragu ke arah balkon, berniat untuk mencari sosok Dave dan Laurel.


“Siapa yang menelpon Dave?” Laurel menggerakkan kepalanya untuk menjauh dari bahu Dave, dan berencana bangkit berdiri dari posisinya yang duduk di pangkuan Dave, tapi dengan cepat lengan Dave yang masih memeluk tubuh Laurel bergerak untuk menahan tubuh Laurel agar tetap duduk di pangkuannya.


“Kak Dave…,” Dan bersamaan dengan gerakan Dave yang menahan tubuh Laurel untuk tetap ada di pangkuannya, terdengar suara tertahan dari Meria yang berdiri bersama Evelyn di dekat jendela kamar Dave yang menghubungkan antara kamar Dave dan balkon tempatnya sedang menikmati kebersamaannya dengan Laurel.


“Kamu bersama Meria, Evelyn? Kemarilah,” Dave berkata sambil menahan senyumnya, melihat bagaimana ekspresi terkejut Meria melihat kondisi Dave yang sedang duduk dengan Laurel berada di atas pangkuannya, sedang kedua tangan Dave memeluk erat tubuh Laurel.


Aku tidak mengira kamu berani memanfaatkan keberadaan Evelyn untuk datang ke kamarku. Maaf, tapi kamu harus mulai sadar bahwa Laurel adalah gadis yang aku pilih untuk menjadi istriku, bukan kamu atau yang lain. Kamu harus berhenti sekarang atau kamu akan menyakiti dirimu sendiri. Saat ini aku harus dengan terus terang menunjukkan padamu apa arti Laurel bagiku. Maafkan aku, karena aku hanya bisa mencintai satu wanita, Laurel Tanputra, Dave berkata dalam hati, lalu membiarkan Laurel yang terlihat tidak kalah kaget dengan kehadiran Evelyn dan Meria, membuatnya dengan spontan bangkit berdiri dari pangkuan Dave.

__ADS_1


Mo Cuisle, aku harap dengan ini kamu mengerti bagaimana aku menghargai keberadaanmu lebih dari orang lain. Aku tidak pernah keberatan membuktikan pada orang lain bahwa kamu adalah satu-satunya yang aku inginkan, dan aku tidak akan pernah membiarkan hatimu khawatir terhadap keberadaan wanita lain di dekatku, Dave kembali berkata dalam hati sambil menatap dengan mesra wajah kikuk Laurel karena Evelyn dan Meria yang baru saja melihatnya dalam posisi yang terlalu intim dengan Dave.


“Maaf Kak, kami tidak tahu telah mengganggu acara kalian berdua,” Evelyn sedikit membuang mukanya karena merasa malu telah mengganggu kemesraan kedua kakaknya, apalagi begitu dia sadar bahkan ini bukan untuk pertama kalinya keberadaannya mengganggu suasana intim kedua kakaknya ini.


“Tidak masalah, toh kami berdua juga sudah bersiap untuk sarapan, sudah lapar, karena terlalu banyak hal yang kami lakukan, yang sudah menghabiskan banyak energi. Ayo kita turun,” Dengan wajah tersenyum, Dave bangkit berdiri, meraih bahu Laurel dan memeluknya, bahkan mencium lembut puncak kepala Laurel di depan Evelyn dan Meria. Setelah itu dengan santai mengajak Laurel untuk keluar dari kamarnya, melewati Evelyn dan Meria yang masih berdiri mematung di tempatnya.


Apa yang sudah kamu lakukan Kak Dave? Apa kamu sengaja menunjukkan kemesraanmu di depanku bersama dia yang sudah merebutmu dariku? Meria berkata dalam hati sambil mengatupkan giginya rapat-rapat dengan tangan kirinya terkepal, berusaha mengendalikan amarah dalam dirinya.


“Meria, kamu tidak apa-apa?” Melihat Meria yang tetap mematung di tempatnya, Evelyn menepuk lembut bahunya.


“Ah, memang salah kita, tidak seharusnya kita mengganggu pasangan yang sudah menikah,” Dengan sekuat tenaga Meria berusaha mengubah wajah amarahnya dengan wajah dipenuhi senyuman lembut, bagaimanapun dia harus tetap menjada image yang selama ini melekat kepadanya sebagai seorang gadis yang dikenal lemah lembut dan baik hati, yang bahkan karena image yang melekat padanya itu juga, yang membuat sebagian besar keluarga Shaw menyukainya dan mengharapkannya menikah dengan Dave, menjadi Nyonya Shaw selanjutnya yang mengurus rumah besar.


# # # # # # #


“Pagi, apa semalam tidurmu nyenyak Laurel? Mama harap kamu betah tinggal di rumah ini. Katakan pada mama, apa ada yang membuatmu tidak betah tinggal di sini? Apa perlu kita mengganti dekorasi kamar Dave agar sesuai dengan seleramu? Agar kamu bisa merasa nyaman menempati kamar itu,” Mendengar perkataan mamanya Dave melirik ke arah Laurel sambil menahan senyumnya, apalagi melihat wajah Laurel yang terlihat salah tingkah dengan banyaknya pertanyaan dari mamanya yang tertuju pada Laurel.


“Tidak ma, tidak perlu mengubah apapun. Kamar Dave yang sekarang sudah sangat nyaman. Mama tidak perlu khawatir, Laurel bukan orang yang rewel dengan suasana dan dekorasi ruangan,” Mama Rosalia tersenyum mendengar jawaban Laurel, matanya segera beralih ke arah Meria yang baru saja datang menyusul ke arah meja makan bersama Evelyn, kemudian disusul oleh Bryan yang berjalan dari arah lain yang juga segera mengambil posisi untuk duduk di meja makan.


“Bagaimana Mer? Apa semalam tidurmu nyenyak?”


“Iya Tante, sangat nyenyak. Meria selalu merindukan suasana rumah ini, suasana nyaman melebihi rumah Meria sendiri,” Meria langsung menjawab pertanyaan Mama Rosalia, dan jawaban Meria tentu saja membuat Mama Rosalia tersenyum dengan bangga.


“Ah, kamu memang gadis manis yang selalu pintar mengeluarkan kata-kata yang menyenangkan seperti itu. Apa benar seperti kata Evelyn kamu akan tinggal di Indonesia sampai hari selasa?” Meria tersenyum manis sebelum menjawab pertanyaan Mama Rosalia.

__ADS_1


“Tidak Tante. Rencananya, Meria ingin memperpanjang kunjungan Meria di Indonesia, kalau Tante Dan Om mengijinkan meria untuk tetap tinggal di rumah ini. Kemarin Meria baru saja membatalkan tiket penerbangan Meria untuk kembali ke Singapura,” Mendengar perkataan Meria, Laurel sedikit tersentak, entah hanya perasaannya saja atau memang benar begitu kenyataannya, Laurel merasa keinginanan Meria untuk tinggal lebih lama di Indonesia ada hubungannya dengan keberadaan Dave.


“Tentu saja Meria, pintu rumah ini selalu terbuka untukmu kapan saja,” Mama Rosalia berkata dengan nada senang, merasa keberadaan Meria akan mengurangi suasana sepi di rumah besar.


“Apa kedua orangtuamu sudah mengetahui rencanamu untuk tinggal lebih lama di Indonesia?” Begitu Mama Rosalia selesai berbicara, Augistin Shaw langsung berkata sambil matanya menatap ke arah Meria, membuat Meria sedikit gugup.


“Eh, tenang saja Om, papa dan mama pasti akan mengijinkan jika aku menginap di rumah besar,”


“Ah, senangnya. Rumah ini pasti akan lebih ceria dengan kehadiran Meria, iya kan Pa?” Mama Rosalia berkata sambil memandang ke arah Augistin Shaw yang tersenyum mendengar perkataan istri kesayangannya.


“Kalau mau rumah ini tidak setenang sekarang, minta ke Dave dan Laurel agar segera memberimu cucu,” Laurel sedikit kaget mendengar perkataan Augistin Shaw yang walaupun dikatakan dengan suara tenang tetap membuatnya kaget, sedang Dave terlihat hanya tersenyum simpul.


“Tenang saja Pa, sedang diusahakan sebaik mungkin. Papa dan Mama hanya tinggal menunggu kabar baiknya,” Mama Rosalia langsung tertawa mendengar jawaban dari Dave.


“Kak Dave, malam ini kamu akan tetap menginap di sini kan?” Bryan yang sedari tadi diam dan hanya menjadi pengamat, tiba-tiba mengeluarkan suaranya untuk bertanya kepada Dave.


“Tidak, setelah makan pagi, kami akan kembali ke rumah kami, lagipula besok kami akan kembali bekerja. Kapan kamu kembali ke Irlandia?” Bryan tersenyum mendengar apa yang dikatakan Dave.


Aku sengaja menunda kepulanganku ke Singapura, dan sekarang Kak Dave berencana meninggalkan rumah besar hari ini? Aku harus segera memikirkan cara agar selama aku berada di Indonesia bisa menahan Kak Dave untuk bisa selalu berada di dekatku, Meria berkata dalam hati dengan dada yang bergejolak karena kecewa dan marah melihat bagaimana Dave memperlakukan Laurel begitu mesra, seolah tidak ada keberadaannya di ruang makan itu.


Mendengar jawaban Dave bahwa dia akan segera pulang ke rumahnya bersama Laurel, membuat Evelyn melirik ke arah Meria, yang walaupun sekilas Evelyn bisa melihat perubahan wajah Meria yang terlihat begitu kecewa dan terlihat ada kemarahan di wajahnya mendengar rencana Dave untuk segera meninggalkan rumah besar. Evelyn sedikit menahan nafasnya melihat bagaimana dengan hebatnya Meria bisa mengubah wajahnya dari wajah kecewa dan marah kembali ke wajah dengan aura lembut hanya dalam hitungan detik.


Kalau bukan karena permintaan Kak Leo untuk membiarkan Kak Dave mengetahui siapa sebenarnya Meria tanpa harus aku menjelek-jelekannya, aku tidak akan mau untuk tetap berdiam diri, apalagi harus bersikap seolah-olah aku tidak mengetahui rencana liciknya untuk berusaha menjebak Kak Dave 2 tahun lalu, Evelyn berkata dalam hati sambil berusaha fokus pada makanan di depannya agar matanya tidak menatap tajam ke arah Meria yang terlihat tersenyum dengan manis begitu Mama Rosalia memandang ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2