CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
LAGI LAGI GAGAL


__ADS_3

"Aku sudah menanyakan kepada papa Meria, mereka mengatakan bahkan mereka tidak tahu jika Meria ke Indonesia, dia hanya ijin untuk menghabiskan liburannya bersama teman-temannya untuk beberapa waktu ke depan," Mendengar perkataan Augistin, wajah Mama Rosalia terlihat tidak nyaman, mendengar bagaimana Meria sudah berbohong untuk bisa tetap tinggal di rumah besar.


"Apa menurutmu tidak akan terjadi apa-apa dengan Meria? Kita semua tahu Meria begitu menyukai Dave. Entah kenapa perasaanku tidak enak, apa seharusnya aku mengatakan pada Meria untuk kembali ke Singapura sesuai jadwal?" Augistin menepuk lembut tangan istrinya yang ada di atas pahanya.


"Mereka sudah dewasa, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka, kita sebagai orangtua cukup melihat saja dulu, kalau mereka sudah menemukan jalan buntu baru kita turun tangan," Mama Rosalia terlihat menggigit bibirnya, mencoba untuk menenangkan diri.


"Tapi pa...,"


"Apa yang kamu khawatirkan, Dave sudah bersama Laurel, Meria perlu belajar bersikap dewasa untuk tidak lagi mengharapkan Dave. Baik Dave maupun Laurel juga harus belajar untuk mengatasi masalah di rumah tangga mereka, termasuk kehadiran orang ketiga. Dengan keberadan Meria, Dave harus bisa menunjukkan bagaimana harus bersikap sebagai seorang laki-laki yang harus mengutamakan keberadaan istrinya. Untuk Laurel, kehadiran Meria akan bisa membantunya untuk sadar arti keberadaan Dave baginya dan seberapa besar cintanya pada Dave. Mereka harus bisa bertahan dengan cinta mereka kalau ingin menjadi keluarga yang kuat," Augistin Shaw menggenggam erat tangan istrinya, mencoba untuk membuatnya tenang.


"Aku hanya takut, tekanan yang dialami Meria akan membuat penyakitnya yang dulu kambuh kembali," Mendengar perkataan istrinya, Augistin Shaw memandang ke arah wajah Mama Rosalia sambil sedikit menahan nafasnya.


"Dave dan Meria harus belajar bahwa cinta bukan didasarkan pada rasa kasihan. Jika sedangkal itu yang menjadi dasar cinta, saat rasa kasihan menghilang, cinta juga akan menguap dan hilang. Selama ini Dave begitu mencintai Laurel tanpa perduli dengan apapun, sekarang dia yang harus memberi batasan yang tegas kepada Meria bahwa dia tidak bisa karena kasihan kepada Meria tidak berani mengambil sikap tegas,"


"Tapi kamu tahu sendiri bagaimana Dave. Dia tidak akan tahan melihat orang lain menderita apalagi orang yang dikenalnya. Selama ini dia lebih sering mengalah untuk orang lain," Augistin Shaw tersenyum mendengar kekhawatiran istrinya.


"Mungkin ini ujian yang harus dihadapi Dave, bagaimana dia harus memilih antara cinta atau kasihan. Biarkan dia menjadi kuat dan dewasa dalam cinta, kita lihat saja. Jangan terus menganggap Dave sebagai anak kecil. Anak kita adalah laki-laki yang kuat dan hebat. Dan aku sungguh berterimakasih kamu sudah memberikan anak-anak yang begitu hebat bagiku," Augistin Shaw mengecup bibir Mama Rosalia dengan lembut dan mesra, membuat wanita itu hanya bisa tersenyum, walaupun hatinya masih sedikit mengkhawatirkan Dave dan Laurel karena adanya Meria.


"Pa...," Dave dan Laurel sedikit menahan langkahnya melihat papa yang dipanggilnya tiba-tiba mencium bibir mamanya.


Bagi Dave sudah terbiasa melihat bagaimana papanya memanjakan mamanya, tapi Laurel sedikit terkejut dan merasa begitu sungkan melihat pemandangan seperti itu, pemandangan yang boleh dibilang belum pernah dia temui di lingkungan keluarganya, melakukan ciuman mesra di depan orang lain.


"Hai Dave, Laurel, kemarilah!" Mama Rosalia melambaikan tangannya ke arah Dave dan Laurel yang langsung mendekat ke arah mereka yang sedang duduk santai di ruang keluarga.


"Ma, kami akan pulang sekarang, kami akan usahakan akhir pekan ini akan kembali mengunjungi kalian," Dave berkata sambil lengannya melingkar ke pinggang Laurel yang awalnya berusaha menghindar karena merasa tidak enak Dave melakukan itu di depan orangtuanya, tapi gerakan tangan Dave yang kokoh, menariknya dengan lembut namun kuat, sehingga Laurel tidak mampu melawannya untuk melepaskan diri darinya.


"Ah, syukurlah. Mama berpikir Dave akan lebih jarang mengunjungi kami setelah menikah. Jangan membuat mama tidak tenang karena terlalu merindukan kalian," Laurel tersenyum mendengar perkataan mertuanya.

__ADS_1


"Kak Dave...," Baik Dave, Laurel, maupun Augistin dan Mama Rosalia langsung menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nama Dave.


Dari arah barat terlihat sosok Meria yang berjalan dengan perlahan-lahan ke arah mereka sedang berkumpul.


"Kak Dave sudah mau pergi?" Meria langsung bertanya dengan suara pelan tanpa tenaga ketika dia sudah berada dekat dengan Dave.


"Iya, kami akan segera pulang. Bagaimana kondisimu? Apa sudah lebih baik?" Meria tersenyum mendengar pertanyaan Dave, apalagi melihat wajah Dave yang menunjukkan dia cukup khawatir melihat kondisi Meria yang terlihat lemah.


"Sudah lebih baik. Obat dari Kak Laurel benar-benar manjur. Tapi..., sepertinya rasa sakit di kepalaku masih belum menghilang sepenuhnya," Meria memegang kepalanya, dengan tubuh yang sedikit sempoyongan, dengan cepat Dave mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Meria yang terlihat goyah, seperti akan terjatuh, namun Evelyn yang awalnya berada tidak jauh dari situ segera berlari dan meraih tubuh Meria, dan menopangnya, membuat Dave kembali menarik tangannya, membatalkan niatnya untuk meraih tangan Meria.


"Sudah aku bilang jangan keluar dari kamar dulu, kenapa kamu tetap bersikeras seperti ini?" Evelyn menahan tubuh Meria sambil mengomel.


Ah, kenapa Evelyn selalu berusaha ikut campur dalam urusanku? Meria berbisik dalam hati sambil sedikit menggigit bibir bawahnya karena kesal, menyadari bagaimana tangan Dave yang terulur padanya terhenti karena keberadaan Evelyn.


"Aku hanya ingin bertemu Kak Dave sebentar sebelum Kak Dave pulang ke rumahnya. Ahh..., kepalaku benar-benar terasa tidak enak, apa mungkin penyakit lamaku kembali kam...,buh...," Mendengar apa yang dikatakan Meria, dengan cepat Mama Rosalia mendekat ke arah Meria, yang matanya terlihat berkaca-kaca, membuat wajah Mama Rosalia semakin khawatir.


"Mir, segera aturkan jadwal agar salah satu dokter spesialis syaraf kita untuk melakukan pemeriksaan terhadap Meria sore ini. Segera berikan info kepadaku, kira-kira jam berapa Meria bisa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan," Meria sedikit tersentak mendengar apa yang diperintahkan Dave kepada Mira melalui panggilan telepon.


Sial! Aku berharap Kak Dave yang melakukan pemeriksaan kepadaku, agar aku memiliki kesempatan untuk berduaan dengannya. Kalau begini mereka akan segera mengetahui bahwa aku berbohong tentang sakitku. Aku harus segera mencari cara agar Kak Dave mengkhawatirkan kondisiku, dan membuatnya untuk beberapa waktu tetap berada di sisiku. Aku hanya memiliki sedikit waktu lagi sebelum Kak Dave benar-benar terikat dengan Kak Laurel dan tidak bisa lagi meninggalkannya. Benar-benar sial, seharusnya aku tidak meninggalkan Indonesia jika tahu Kak Laurel berencana kembali ke Indonesia, Meria merutuk dalam hati sambil berusaha membuat tubuhnya kembali berdiri dengan tegak.


"Kak Dave tidak perlu khawatir, mungkin dengan cukup istirahat aku akan baik-baik saja...,"


"Tidak bisa Mer, dengarkan kata-kata Dave, kamu harus segera memeriksakan diri ke dokter, atau kami tidak akan bisa menghadapi papamu kalau ada apa-pa denganmu," Mama Rosalia langsung memotong perkataan Meria, Laurel hanya bisa terdiam sambil mengamati apa yang terjadi.


"Tidak Tante, aku akan beristirahat hari ini, besok Meria janji akan memeriksakan diri ke dokter. Apa besok Kak Dave ada waktu untuk...,"


"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit besok," Evelyn langsung menawarkan diri untuk mengantar Meria yang hanya bisa terdiam, karena tidak memungkinkan dia beradu pendapat dengan Evelyn.

__ADS_1


"Apa kamu tidak acara besok?" Mama Rosalia memandang ke arah Evelyn yang langsung tersenyum.


"Tidak Ma, besok Evelyn tidak ada kesibukan. Masalah di restoran juga bisa di handle oleh anak-anak di sana. Sebaiknya besok pagi kita ke rumah sakit, sorenya aku masih ada waktu untuk mengunjungi restoran. Lagipula Kak Dave kan bisa menunggu kami di rumah sakitnya, daripada Kak Dave harus memutar arah menjemput Meria baru ke rumah sakit," Evelyn buru-buru memberikan penjelasan yang masuk akal kepada semuanya, sehingga mereka hanya bisa tersenyum mengiyakan pendapat Evelyn kecuali Meria yang berusaha mengalihkan wajahnya dari pandangan yang lain, berusaha menahan dirinya agar wajahnya yang menunjukkan rasa jengkelnya agar tidak terlihat oleh orang lain.


# # # # # # #


Suasana sore itu terlihat cerah. Setelah kembali dari rumah besar siang tadi, sore itu dengan santai Laurel duduk di ayunan yang ada di halaman depan teras depan rumahnya sambil membaca buku. Kepala Laurel bersandar di bahu kiri Dave yang duduk di sampingnya sambil sibuk menuliskan sesuatu di buku agenda kerjanya sambil memandang ke arah layar handphonenya dengan sesekali Dave mencium lembut puncak kepala Laurel yang bersandar di bahunya, dengan mata Dave tetap terfokus pada apa yang sedang dikerjakannya, mengecek semua email yang masuk dan mencatat apa yang diperlukan untuk diberikan kepada Mira, agar bisa mengatur jadwal kerjanya.


"Dave...," Laurel membisikkan nama Dave dengan lembut, diliriknya tangan kanan Dave yang masih sibuk menulis.


"Hmmm...," Dave menjawab panggilan Laurel dengan suara gumaman pelan.


"Ini masih hari minggu, tapi sepertinya kamu sudah begitu sibuk," Dave tersenyum mendengar perkataan Laurel yang terdengar sedikit manja, membuat tangannya berhenti menulis, menutup buku agendanya dan diletakkannya buku agenda itu di meja marmer kecil yang ada di samping ayunan, begitu juga dengan handphonenya.


"Tidak ada yang lebih penting dari kamu. Aku sudah menutup agenda dan handphoneku. Sekarang apa yang kamu inginkan untuk aku lakukan?" Laurel meringis, ditutupnya buku yang awalnya dia baca dan berada di atas pangkuannya.


"Dave...," Laurel kembali memanggil nama Dave dengan kepalanya yang berada di bahu Dave bergerak mendongak ke arah Dave, sehingga saat Dave menoleh ke arahnya sambil sedikit menunduk, bibir Dave langsung menyentuh kening Laurel, membuat Dave justru langsung mengecupnya dengan lembut, membuat bibir Laurel mengembangkan senyum bahagia.


"Aku cuma mau mengobrol santai denganmu. Beberapa hari ini rasanya kita terlalu banyak kegiatan yang membuat kita tidak bisa mengobrol berdua," Mendengar perkataan Laurel, Dave meraih buku yang ada di pangkuan Laurel dan meletakkannya di atas buku agendanya, di atas meja.


"Ayo, apa yang mau kamu bicarakan denganku sekarang?" Sambil berkata tangan kiri Dave langsung bergerak ke arah belakang tubuh Laurel, lalu memeluk pinggang Laurel, sedang kedua lengan Laurel bergerak ke arah pinggang Dave dan memeluknya dari samping dengan erat.


"Aku hanya ingin bercerita apa saja denganmu. Semua hal yang ada di sekitar kita. Aku mau menghabiskan waktuku dengan mengobrol berdua denganmu sore ini," Dave tersenyum mendengar keinginan Laurel yang baginya terdengar lucu karena tidak jelas apa yang diinginkan oleh Laurel, tapi baginya hanya duduk berdua dengan Laurel seperti ini sudah membuatnya nyaman dan bahagia, bisa merasakan keberadaan Laurel yang sepanjang sore ini terlihat begitu manja padanya.


"Mo cuisle...,"


"Ya...," Laurel kembali mendongakkan kepalanya ke atas untuk memandang ke arah Dave yang memanggilnya.

__ADS_1


"I love you so much," Tanpa menunggu jawaban dari Laurel, Dave mendekatkan wajahnya ke wajah Laurel, mencium bibirnya dengan mesra dan lembut untuk beberapa saat, membiarkan Laurel yang terkejut berusaha sedikit menghindar, tapi dengan cepat tangan kanan Dave meraih tengkuk Laurel agar wajah Laurel semakin mendekat ke arah wajah Dave, membuat ciuman Dave menjadi semakin dalam. Sore ini Dave benar-benar ingin menikmati waktu berduanya dengan Laurel sambil memanjakan istrinya dengan memberinya banyak pelukan dan ciuman, sebanyak yang bisa dia berikan pada wanita tercintanya, untuk menunjukkan betapa dia mencintai Laurel dan begitu menghargai keberadaan wanita itu di sisinya.


__ADS_2