
"Eh, Kak, jangan melamun," Freya tersenyum, sambil buru-buru menarik tangan Laurel untuk mengajaknya kembali ke kebun belakang. Akhirnya Laurel hanya bisa mengikuti langkah-langkah Freya yang menyeretnya untuk kembali ke kebun belakang, diikuti Dave yang berjalan di belakang mereka berdua.
"Laurel," Freya yang sedang menarik tangan Laurel langsung berhenti melihat kehadiran Dicky yang memanggil nama Laurel sambil mendekat ke arah mereka bersama mamanya.
"Eh, Kak Dicky, ada perlu dengan Kak Laurel?" Freya melepaskan tangannya yang tadinya memegang tangan Laurel.
Untuk beberapa saat Laurel menunggu Dicky mengatakan sesuatu, tapi ternyata Dicky tetap terdiam dengan matanya memandang dalam-dalam ke arah Laurel, membuat Tante Lia yang akhirnya mendekat ke arah Laurel.
“Ehmm, Laurel mungkin sudah lama tidak bertemu Dicky, anak tante ini orangnya pendiam, sejak lama kami ingin mengundang Laurel main dan makan malam bersama di rumah kami, kalau ada waktu tolong sempatkan waktu mampir kesana,” Freya sedikit membeliakkan matanya mendengar permintaan dari Tante Lia, yang dari kata-katanya jelas mengungkapkan tentang anak laki-lakinya yang sepertinya tertarik dengan Laurel.
“Maaf Tante, saya tidak berjanji, kapan-kapan kalau ada waktu saya sempatkan mampir mengunjungi keluarga Tante,” Sebuah senyum tipis tersungging di bibir Dicky begitu mendengar Laurel mengatakan akan mampir ke rumah mereka. Laurel membala senyum Dicky dengan canggung, walaupun senyumnya membuat laki-laki itu terlihat semakin tampan, tapi justru membuat Laurel semakin tidak nyaman dan takut.
“Kalau begitu terimakasih untuk makan malamnya yang lezat, Tante pamit pulang dulu…,” Belum selesai Tante Lia berkata-kata Dicky langsung memotongnya.
“Mam…,” Dicky memegang lengan mamanya, menunjukkan protes atas kata-katanya barusan dan ingin menunjukkan kalau dia belum ingin meninggalkan tempat ini.
“Sudah malam Dic, bukannya hari ini kamu sebenarnya kurang enak badan?” Tante Lia menepuk-nepuk punggung telapak tangan Dicky yang mencekal lengannya dengan lembut.
“Maaf Laurel, sebenarnya tadi Dicky tidak enak badan tapi tetap memaksa untuk datang ke pesta ini. Dia sudah lama sejak kedatanganmu kembali dari Amerika ingin sekali bertemu denganmu. Tapi karena Dicky kurang sehat hari ini, karena itu sekarang kami harus segera pulang agar Dicky bisa beristirahat di rumah,” Laurel tersenyum mendengar penjelasan dari Tante Lia, berbeda dengan Freya yang tampak tidak suka dengan kehadiran Dicky di tengah-tengah pesta kali ini, sekilas diliriknya Dave yang berdiri tak jauh dari posisi mereka mengobrol sekarang. Dave terlihat memandang ke arah lain, tapi Freya yakin saat ini Dave ikut mendengar semua yang dikatakan oleh Dicky dan Tante Lia.
“Ya Tante, kalau begitu lebih baik membawa Dicky pulang supaya bisa beristirahat, masih ada hari esok buat kita mengobrol,” Lagi-lagi Dicky tersenyum mendengar perkataan Laurel.
“Ok, terimakasih Laurel, kami pulang dulu,” Dengan sedikit memaksa, Tante Lia menarik tangan Dicky, mengajaknya pergi meninggalkan acara lebih dahulu. Begitu mereka berdua pergi, Laurel sedikit menarik nafas lega.
“Kak, aku tidak terlalu suka dengan Kak Dicky, kakak jangan dekat-dekat dengannya,” Laurel memandang ke arah Freya sambil tersenyum mendengar komentar Freya tentang Dicky yang sepertinya ganjil.
__ADS_1
“Sebenarnya siapa dia? Kakak merasa belum pernah mengenalnya,” Freya menarik nafas panjang mendengar Laurel menanyakan tentang Dicky.
“Bukan siapa-siapa, dia anak sahabat mama. Tante Lia itu teman mama sejak SMA, setelah sama-sama menikah, mereka sempat putus hubungan, tapi kemudian beberapa kali sempat bertemu sebelum Tante Lia pindah ke Yunani, karena orangtua suami Tante Lia orang asli sana dan punya bisnis pabrik makanan di sana, tapi 7 tahun yang lalu mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena ada cabang industri mereka yang dibuka disini. Di pemakaman papa 7 tahun lalu Kak Dicky juga datang, aku juga baru tahu ketika melihat foto-foto dari acara pemakaman papa,” Laurel menganggung-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Freya tentang Dicky.
“Ummm, pantas saja dari bentuk wajahnya, Dicky ada ciri-ciri wajah orang Yunani yang aku kenal sewaktu kuliah dulu, ternyata memang ada keturunan dari sana ya," Laurel mengangguk-anggukkan kepalanya, mencoba mengingat-ingat beberapa temannya yang berasal dari Yunani yang memang memiliki ciri-ciri umum, ada sedikit kemiripan dengan Dicky.
“Kakak, jangan coba-coba untuk jatuh cinta dengan Kak Dicky ya. Walaupun terlihat baik tapi aku tidak suka dengannya, tatapan matanya agak mengerikan, kalau melihat kakak seolah-olah ingin menelan kakak hidup-hidup,” Laurel tertawa kecil mendengar perkataan Freya yang terdengar sedikit mengancam.
“Kenapa? Dia cukup tampan lho, katamu kakak harus segera menemukan jodoh kakak?” Laurel berkata sambil tangannya mencolek pipi Freya untuk menggodanya.
“Kakak kan sudah menikah. Upsstt…,” Freya buru-buru menutup mulutnya yang tidak sengaja mengatakan tentang pernikahan Laurel dengan kedua telapak tangannya.
“Maaf kak, maaf…, bukan maksud Freya men…,” Laurel mengelus rambut Freya lembut, dengan kepala sedikit menggeleng ke samping Laurel menatap dalam-dalam wajah Freya yang dari wajahnya benar-benar terlihat merasa bersalah karena mengungkit masalah pernikahan Laurel kembali.
“Sepertinya selama kakak di Amerika kamu sempat kenal dengan suami kakak ya? Ceritakan pada kakak, orang seperti apa suami kakak dulu?” Freya sedikit tersentak mendengar pertanyaan Laurel tentang almarhum suaminya.
“Kakak sudah pernah bertemu dengan Evelyn dan mamanya, dari melihat kecantikan mereka kakak bisa menebak setampan apa suami kakak dulu. Kakak ipar orang yang sangat baik, walaupun kami jarang bertemu tapi dia sering menghubungi aku dan mama, walaupun hanya sekedar menanyakan kabar kami, dan pastinya juga menanyakan kabar kakak juga di Amerika.” Laurel menarik nafas panjang mendengar penjelasan dari Freya tentang almarhum suaminya dulu.
“Kakak ipar juga sering mengirimkan makanan ke kami, bahkan setiap ulang tahunku dan ulang tahun mama kakak ipar selalu mengirimkan kue ulang tahun dan hadiah untuk kami. Termasuk…, setiap ulang tahun kakak. Hadiah-hadiah itu masih tersimpan rapi di lemari kamarku.” Kali ini Laurel benar-benar terbeliak kaget mendengar penjelasan dari Freya.
“Kado-kado itu, mama minta aku menyimpannya sampai kakak kembali, tapi sampai sekarang aku belum berani memberikannya kepada kakak, takut kakak tersinggung atau sedih, aku tidak mau kakak terluka dan merasa bersalah yang berlarut-larut,” Freya meneruskan bicaranya, membuat Laurel terdiam, kehilangan kata-kata karena cerita dari Freya yang cukup membuatnya shock.
“Fre…Freya…, apa kamu punya fotonya?” Freya sedikit tersentak mendengar pertanyaan Laurel tentang foto almarhum suaminya.
“Eh…, ehmmm…, tidak kak, buat apa kakak menanyakan fotonya?” Freya sedikit mengernyitkan alisnya, berusaha menutupi rasa gugupnya karena pertanyaan Laurel barusan tentang foto almarhum suaminya.
__ADS_1
“Aku sudah berusaha mencari info tentang keberadaannya di rumah ini, tapi tidak ada jejak yang ditinggalkannya sama sekali. Walaupun mungkin sudah terlambat, aku ingin melihat satu dua jejak yang dia tinggalkan untuk aku kenang,” Freya sedikit menundukkan kepalanya mendengar perkataan Laurel.
“Eh, kakak jangan bicara lagi tentang sesuatu yang menyedihkan, jangan dipikirkan lagi kak, semuanya sudah berlalu. Ini pesta pindah rumah kakak, jangan memikirkan sesuatu yang menyedihkan hari ini. Ayo kita kembali ke teman-teman kakak,” Freya baru saja membalikkan tubuhnya untuk kembali ke tengah-tengah kebun bergabung dengan yang lainnya sebelum Laurel mebahas lebih jauh tentang almarhum suaminya, namun tangan Laurel bergerak menarik lengan tangan kanannya.
“Freya, siapa nama almarhum suamiku?” Kali ini Freya langsung menutup matanya sambil menggigit bibir bawahnya mendengar pertanyaan Laurel, untung saja dia sudah membalikkan badannya sehingga Laurel tidak bisa melihat wajahnya yang berubah tegang dan gugup.
“Freya?” Laurel memanggil kembali nama Freya begitu dilihatnya adiknya tidak bergeming dan tidak merespon pertanyaannya tentang nama almarhum suaminya.
“Dokter Laurel, bisakah kita bicara sebentar?” Suara panggilan dari Dave langsung membuat Laurel spontan melepaskan tangannya dari lengan Freya dan membuatnya menoleh ke arah Dave yang tiba-tiba sudah berdiri tepat disampingnya.
“Eh, iya bos, ada apa?”
“Kak Laurel, Freya membantu mama dulu ya,” Tanpa menunggu jawaban dari Laurel, Freya langsung berjalan menjauhi Laurel sambil menarik nafas lega.
“Ya bos?” Laurel menggerakkan tubuhnya ke samping sehingga tubuhnya berhadap-hadapan dengan Dave.
“Maaf, aku tahu ini acara pribadimu, tapi bolehkah aku menyelipkan sedikit pengumuman mumpung sebagian besar para pegawai dari rumah sakit Anugrah Indonesia hadir disini?” Laurel tersenyum mendengar pemintaan dari Dave.
“Oo, iya, silahkan bos,” Begitu mendapat lampu hijau dari Laurel, Dave langsung melakukan panggilan kepada Leo melalui handphonenya, dan memintanya Leo ke tempatnya begitu Leo mengangkat panggilan teleponnya, membuat Leo dengan setengah berlari langsung bergerak menuju tempat Dave dan Laurel berdiri.
“Iya, ada apa Dave?” Begitu Leo datang ke arahnya, Dave langsung mendekatinya dan membisikkan sesuatu di telinganya. Leo tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar apa yang dibisikkan Dave ke telinganya, dengan matanya sedikit melirik ke arah Laurel yang hanya terdiam melihat tindakan mereka berdua.
__ADS_1