
"Kak Leo! Aku benar-benar tidak tahan melihat sikap Meria!" Leo yang mendengar suara Evelyn lewat telepon dengan nada sedikit tinggi untuk menunjukkan kejengkelannya hanya bisa tertawa kecil.
"Kenapa kamu marah-marah seperti itu? Memang Meria sudah melakukan apa ke kamu?" Evelyn mendengus pelan mendengar kata-kata Leo yang berusaha menenangkan emosinya.
"Bukan ke aku, tapi ke Kak Dave dan Kak Laurel. Kalau saja Kak Leo memberiku ijin untuk langsung menceritakan semuanya kepada Kak Dave peristiwa 2 tahun lalu," Evelyn kembali berkata dengan nada suara lebih rendah, namun masih terdengar nada jengkel pada suaranya.
"Kamu mau Kakakmu Dave membenci Meria? Toh waktu itu kita sudah berhasil menggagalkan rencana Meria. Kalau kita menceritakannya sekarang kita juga sudah tidak memiliki bukti apapun, orang lain bisa berpikir kita sengaja memfitnah Meria. Bukan hanya hubungan Kakakmu dan Meria yang akan rusak, tapi hubungan papamu dan papa Meria pasti memburuk. Kamu sedang ada dimana sekarang?" Leo yang sedang menerima panggilan telepon Evelyn dengan menggunakan headset memutar setir mobilnya untuk berbelok ke arah kanan.
"Di restoran. Malas sekali aku melihat Meria. Tadi setelah Kak Dave dan Kak Laurel pulang, Kak Bryan juga langsung keluar berkunjung ke rumah temannya. Aku tidak mau menghabiskan waktu berhargaku dengan Meria, lebih baik aku ke restoran lebih awal," Evelyn menjawab pertanyaan Leo sambil menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi di kantornya yang ada di salah satu sisi utara bangunan restoran itu.
"Mau aku temani?" Evelyn membeliakkan matanya mendengar penawaran dari Leo.
"Kakak serius?" Leo tertawa mendengar pertanyaan Evelyn.
"Apa yang tidak untuk adik kecilku? Tapi aku belum makan siang, traktir aku ya?" Evelyn meringis mendengar syarat dari Leo.
"Apapun menu yang hari ini Kak Leo inginkan, sebanyak apapun, aku akan memberikannya dengan gratis," Tawa Leo semakin keras mendengar janji Evelyn.
"Ok, aku sedang berada dekat dengan restoranmu, dalam 10 menit aku sampai ke sana, lagipula ada sesuatu yang mau aku katakan padamu. Aku sedang butuh bantuanmu. Jangan salahkan aku kalau hari ini keuntungan restoranmu menurun drastis gara-gara kamu mentraktirku. Aku akan pesan semua menu terenak dan termahal," Evelyn tersenyum dengan wajah gembira mendengar apa yang dikatakan Leo yang berkata sambil tertawa ringan untuk menggoda Evelyn.
# # # # # # #
"Laurel, mau kemana?" Dave meraih pergelangan tangan Laurel yang tampak menggigit roti yang telah diolesi selai di mulutnya sambil berdiri, bersiap untuk meninggalkan meja makan, dengan roti yang digigitnya sebagian besar masih menggantung di bibirnya, karena Laurel menggigit kecil bagian ujungnya.
"Aku lupa, hari ini Freya akan mengambil bahan-bahan roti yang kemarin dikirim ke sini oleh suppliernya," Laurel berkata sambil tetap menggigit roti di mulutnya, membuat Dave langsung menarik pergelangan tangannya agar kembali duduk di kursinya.
__ADS_1
Begitu Laurel kembali duduk di kursinya, Dave langsung meraih roti yang ada di mulut Laurel, menariknya dan langsung memakannya, membuat mata Laurel terbeliak kaget.
"Dave..., punyaku...," Mendengar Laurel memprotes tindakannya dengan suara memelas, membuat Dave justru tersenyum, roti bekas gigitan Laurel yang masih digigitnya sebagian kecil dan sebagian lagi masih di mulutnya dia sodorkan ke arah bibir Laurel. Dan begitu Laurel kembali menggigit rotinya, wajah Dave terlihat kaget, tidak menyangka Laurel merespon apa yang dia lakukan dengan cara membalasnya seperti itu, bahkan Laurel membiarkan mulutnya tetap menggigit dan mengunyah roti tersebut tanpa henti sampai bibirnya dan bibir Dave bersentuhan. Setelah roti tersebut habis, tanpa ragu Laurel memberikan ciuman hangat ke bibir Dave, bukan hanya mencium sekilas, namun dengan sengaja Laurel menekan bagian bawah bibir Dave dengan kedua bibirnya sambil menghisapnya lembut dengan menutup kedua matanya, menunjukkan wajah cantiknya yang begitu menikmati ciumannya, membuat Dave lagi-lagi hanya bisa tersentak.
"Bibirmu manis sekali Mr Shaw. Hati-hati jika nantinya membuatku ketagihan," Laurel berkata sambil tertawa, lalu menggerakkan tubuhnya, berniat bangkit kembali dari duduknya, namun gerakan cepat dari Dave yang mencekal pergelangan tangannya segera membuatnya membatalkan niatnya dan menggerakkan kepalanya, menoleh ke arah Dave yang duduk di sebelahnya.
"Mo cuisle, apa kamu sengaja menggodaku untuk memberikan kode kepadaku agar kita mengajukan cuti berdua hari ini?" Laurel langsung melotot mendengar pertanyaan Dave yang berkata sambil tersenyum manis kepadanya.
"Tidak, kita sudah cukup beristirahat dua hari ini. Tolong lepaskan tanganku, aku mau mengambil barang-barang milik Freya. Dia akan mengambilnya nanti di rumah sakit supaya tidak perlu mengambil jalan memutar," Dengan gerakan lembut Laurel menggerakkan tangannya ke tangan Dave yang masih mencekal tangannya agar melepaskan cekalannya.
"Nanti biar aku aturkan Odi untuk mengantarnya ke cafe Freya. Kamu makanlah dulu. Aku keberatan kalau kamu seringkali melewatkan sarapan pagimu," Laurel tersenyum mendengar perkataan Dave.
"Aku sudah memakan roti sebagai sarapanku kalau saja tidak ada seseorang yang iseng, merebutnya dariku," Dave mengelus bahu Laurel yang duduk di sampingnya dengan lembut.
"Aku tidak akan begitu membatasimu makan roti kalau saja kamu tidak bermasalah dengan asam lambungmu. Kamu tahu pasti gluten di dalam tepung terigu tidak mudah untuk dicerna oleh tubuh manusia dan bisa mengganggu pencernaanmu, apalagi saat kondisi lambungmu sedang tidak dalam kondisi fit. Tolong lebih perhatikan kesehatanmu dokter Laurel Tanputra,"
"Kamu ini. Sikapmu kadang tidak menunjukkan kalau kamu seorang dokter spesialis penyakit dalam. Seringkali kamu justru menabrak aturan yang kamu tahu itu tidak baik untuk kondisi tubuhmu," Laurel yang sedang mengambil makanan di piringnya tersenyum mendengar perkataan Dave.
"Lalu? Apa aku lebih cocok jadi artis? Kalau begitu, bolehkah aku mulai banting setir dengan menjadi artis?" Laurel berkata sambil mengedipkan sebelah matanya, dengan senyum menggoda di wajahnya.
"Tidak!" Dave menjawab singkat sambil sedikit membeliakkan matanya, membuat Laurel tersenyum dengan tangan kanannya bergerak ke dada Dave, dan mengelusnya dengan lembut.
"Kenapa tidak boleh Mr. Shaw? Apa kamu takut aku akan memiliki banyak penggemar?"
"Para penggemarmu yang sekarang saja sudah cukup membuatku repot. Lebih baik kamu menjadi ibu rumah tangga daripada artis, aku akan membiarkanmu sibuk mengurus rumah," Laurel tersenyum melihat bagaimana nada suara Dave yang menunjukkan nada cemburunya.
__ADS_1
"Mengurus rumah bukannya itu tugas para pelayan? Apa kamu mau menjadikanku pelayan di rumah ini?" Laurel bertanya sambil menikmati makanan di piringnya sehingga sedikit kaget ketika bibir Dave tiba-tiba menempel di telinga kirinya, sehingga Laurel bisa merasakan hembusan nafas Dave yang hangat menerpa telinganya, sedang Dave bersiap untuk membisikkan sesuatu.
"Aku akan membiarkanmu memiliki selusin anak agar waktumu sebagai ibu rumah tangga bisa benar-benar terpakai," Dave berbisik lembut sebelum akhirnya Dave memberikan ciuman dan gigitan kecil ke telinga Laurel dengan bibirnya, membuat Laurel langsung menoleh ke arah Dave dengan kaget.
"Kamu pikir aku kelinci?" Dave langsung tertawa mendengar protes dari Laurel.
(Di antara mamalia, kelinci adalah hewan yang terkenal paling sering beranak. Kelinci bahkan kerap dianggap sebagai simbol kesuburan karena dapat melahirkan anak dalam jumlah banyak. Kondisi itu karena kelinci aktif secara seksual sejak berumur tiga hingga empat bulan. Betinanya bahkan bisa hamil lagi langsung setelah melahirkan).
"Sudahlah, cepat kamu habiskan makanmu. Sebelum kamu memberikan aku anak selusin. Kita akan membuat satu dahulu sampai berhasil," Dave berkata sambil tersenyum menggoda, memandang ke arah Laurel dengan mesra, membuat Laurel lebih memilih untuk berpura-pura berkonsentrasi pada makanan di piringnya agar bisa mengendalikan wajahnya yang memerah dan hatinya yang masih saja selalu berdebar keras tidak terkendali setiap kali Dave menggodanya, dan sepertinya akan terus seperti itu untuk ke depannya.
# # # # # # #
"Pagi Tuan Shaw, selamat datang," Dave menyambut uluran tangan Detektif Eka dan menjabatnya.
“Silahkan duduk Tuan Shaw,” Detektif Eka menunjuk ke arah salah satu kursi yang ada di depan meja kerjanya. Setelah Dave duduk di kursi, Detektif Eka berjalan ke arah lain meja kerjanya, dan duduk di sana, berhadapan dengan Dave, dipisahkan oleh meja kerjanya.
"Pak Eka, bagaimana dengan penyelidikan Anda?” Detektif Eka membuka file-file yang ada di map depannya.
“Maaf jika penyelidikan ini sedikit lambat, karena pelaku nampaknya orang yang cukup cerdik. Saya sudah memeriksa toko bunga yang menyediakan bunga tulip merah. Di kota ini ada 10 toko bunga, 6 diantaranya tidak pernah menjual bunga tulip merah. Keempat toko yang menyediakan bunga tulip merah tidak setiap hari mendapatkan pesanan bunga tulip merah. Jadi ada kemungkinan pelaku memesan bunga tulip merah itu secara bergantian di keempat toko tersebut,” Dave mengernyitkan dahinya, tidak menyangka penggemar rahasia istrinya ternyata orang yang begitu berhati-hati dalam bertindak.
“Untuk kartu ucapan, keempat toko bunga tersebut tidak pernah merasa orang yang memesan bunga tulip merah meminta mereka menuliskan kata-kata di kartu dan mengirimnya bersamaan dengan pengiriman bunga tulip merah. Ada kemungkinan kartu itu dikirimkan oleh pelaku dari tempat yang berbeda,” Detektif Eka melanjutkan bicaranya sambil menunjukkan secarik kertas bertuliskan sebuah alamat.
“Para pemilik toko bunga mengatakan pemesanan tulip merah yang hanya setangkai itu dikirimkan ke alamat yang sama, tapi alamat ini bukan alamat rumah tempat tinggal Tuan dan Nyonya Shaw. Dan penulisan alamat pengirimannya hanya menuliskan sebuah kompleks rumah susun, tanpa menuliskan nama penerima, blok atau nomer rumah susun yang dituju,” Dave berkata sambil mengamati kertas yang menuliskan alamat tujuan pengiriman bunga tersebut, komplek rumah susun itu terletak cukup jauh dari rumah yang sekarang ditempatinya bersama Laurel.
“Apa Detektif Eka sudah menanyakan kepada siapa pegawai toko bunga menyerahkan bunga itu?”
__ADS_1
“Para pegawai mengaku mereka hanya menyerahkannya kepada satpam komplek rumah susun, setelah itu mereka tidak tahu siapa yang mengambil bunga itu. Dan ada satu lagi kesamaan pemesanan. Pelaku selalu meminta bunga itu sampai di tempat pukul 5 pagi,” Dave terdiam untuk beberapa saat dengan wajah serius, mencoba menyatukan setiap puzzle dari setiap kejadian-kejadian yang diceritakan oleh Detektif Eka tersebut.