
“Hallo,” Laurel langsung mengangkat panggilan telepon di handphonenya begitu melihat nama Cladia yang terlihat di layar handphonenya.
“Laurel, aku sudah di bagian informasi rumah sakitmu, kira-kira aku harus kemana sekarang?” Suara lembut Cladia langsung terdengar begitu Laurel mengucapkan kata hallo, membuat Laurel langsung tersenyum ceria.
“Tunggu aku di sana, aku akan menemuimu di sana,” Dave yang sedang duduk di samping Laurel, di sofa yang ada di kantornya melirik sambil tersenyum ke arah Laurel yang sedang melakukan panggilan dengan Cladia.
Dari suaranya Dave bisa melihat bahwa hari ini Laurel terlihat begitu bersemangat karena rencananya bersama Cladia siang ini. Begitu Laurel mematikan panggilan teleponnya, Laurel segera bangkit dari duduknya.
“Apa Cladia sudah datang?” Mendengar pertanyaan Dave, Laurel menoleh dengan sedikit menundukkan kepalanya, memandang ke arah Dave yang tadinya masih sibuk dengan berkas-berkas di depannya dengan tersenyum.
“Iya, aku akan menemui Cladia dahulu di ruang informasi rumah sakit,” Laurel berkata sambil merapikan snellinya (jas dokternya).
“Apa dia datang bersama Ornado?”
“Aku tidak tahu, tapi dengan mengingat bagaimana sikap Ad terhadap Cladia selama ini, Ad tidak mungkin membiarkan Cladia berpergian di luar tanpa dirinya di samping Cladia,” Laurel menjawab pertanyaan Dave dengan sedikit terkikik, membayangkan bagaimana over protektifnya Ornado terhadap Cladia selama ini.
“Ajaklah mereka ke kantorku,”
“Ok, aku akan menemui mereka sekarang,” Laurel berjalan dengan sedikit bergegas keluar dari kantor Dave yang kembali mengamati beberapa berkas laporan rumah sakit yang ada di depannya.
Begitu sampai di ruang informasi rumah sakit, Laurel langsung tersenyum cerah melihat sosok Cladia yang tentu saja seperti perkiraannya sebelumnya, datang bersama dengan Ornado yang terlihat tampan dengan setelah jas resminya bewarna biru tua, menunjukkan Ornado sengaja meninggalkan kantornya untuk mengantar Cladia datang menemui Laurel.
Kehadiran Ornado dan Cladia, pasangan yang terlihat menonjol karena prianya merupakan seorang pria tampan berwajah khas orang Eropa, bermata biru dengan tinggi badan lebih dari 185 cm dan di sampingnya terlihat sosok seorang wanita cantik dan anggun itu sedikit menarik perhatian beberapa orang yang ada di ruang informasi baik para pengunjung maupun para pegawai rumah sakit. Laurel hanya bisa tersenyum melihat bisik-bisik beberapa orang yang tampak begitu kagum melihat sosok pria tampan dan wanita cantik yang sekarang tepat berhadapan dengan Laurel.
“Siang Cla, Ad,” Ornado yang awalnya berdiri di samping Cladia dengan lengan tangan kanannya melingkar di bahu Cladia langsung menoleh ke arah sumber suara mendengar sapaan ramah Laurel.
Dasar Ad, selalu saja tidak pernah perduli dengan tempat dan waktu saat menunjukkan tindakan mesranya kepada Cladia. Tidak perduli apa kata orang dan pandangan mata orang lain, seolah-olah dimanapun hanya ada dia dan Cladia berdua, Laurel berbisik dalam hati melihat bagaimana kedua sahabatnya yang berdiri di hadapannya saat ini dengan Ornado begitu santainya tetap memeluk bahu Cladia di depan umum.
__ADS_1
“Ayo, kita ke kantor Dave sebentar. Ad, tadi Dave menanyakanmu, apakah kamu ikut atau tidak mengantar Cladia kemari,” Ornado tersenyum mendengar perkataan Laurel.
“Ehhmm…, kalian pergi saja lebih dahulu, nanti aku akan menyusul. Ada salah satu istri kolegaku yang sedang di rawat di rumah sakit ini. Aku akan mengunjunginya sebentar,” Laurel memajukan bibirnya sedikit mendengar perkataan Ornado.
“Apa kamu sudah tahu kamarnya? Apa perlu aku mengeceknya untukmu Ad?” Ornado langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat mendengar pertanyaan Laurel.
“Tidak, tidak perlu. Kemarin sore James sudah mengirimkan padaku info kamar tempatnya dirawat. Kalian berdua pergi saja lebih dahulu ke kantor Dave, nanti aku menyusul. Sampai nanti amore mio,” Begitu selesai berkata-kata, Ornado langsung mengecup puncak kening Cladia sekilas dan melepaskan pelukan lengannya di bahu Cladia, membuat Laurel tersenyum geli melihat bagaimana wajah Cladia yang langsung memerah, sedangkan Ornado tanpa perduli tetap bersikap mesra kepada Cladia di depan orang banyak.
Benar-benar ciri khas Ornado yang aku kenal, begitu mengekspos tindakan mesranya kepada Cladia, seolah selalu ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Cladia adalah miliknya, Laurel berkata dalam hati dengan bibirnya yang begitu sulit untuk menyembunyikan senyum gelinya.
“Ayolah, kita segera pergi dari sini sebelum kalian semakin menjadi tontonan banyak orang,” Laurel segera menarik pergelangan tangan Cladia dan mengajaknya pergi menjauhi Ornado yang justru tersenyum melihat bagaimana memerahnya wajah Cladia karena tindakan mesranya barusan. Wajah memerah istrinya yang bagi Ornado begitu menarik dan selalu membuatnya berdebar-debar, selalu membuatnya tergoda untuk selalu berada dekat dengan Cladia.
“Aku pergi dulu Al,” Ornado mengangguk pelan sambil tersenyum dengan telapak tangannya yang melambai ke arah Cladia begitu mendengar perkataan Cladia yang diucapkan sambil menoleh ke belakang, ke arah Ornado yang sudah beberapa meter darinya karena Laurel sudah mengajaknya menjauh beberapa langkah dari Ornado.
“Istt..., Ad ini, tetap saja selalu bertindak mesra tanpa melihat tempat dan waktu,” Laurel berkata sambil melirik ke arah wajah Cladia yang masih terlihat memerah, membuat Laurel akhirnya tertawa lebar melihat bagaimana salah tingkahnya Cladia mendengar perkataan Laurel barusan.
“Sudah hampir jam istirahat. Siang ini kamu makan bersama Bos atau di kantin?” Roy bertanya sambil tanpa sadar mengamati sosok wanita cantik dan anggun yang berdiri di samping Laurel yang belum pernah sekalipun dilihat oleh mereka di lingkungan rumah sakit ini, namun melihat bagaimana Laurel memegang pergelangan tangan wanita cantik itu, mereka bisa menebak bahwa wanita itu merupakan teman Laurel yang sepertinya cukup dekat dengan Laurel.
Feri dan Arnold yang berdiri di samping Roy mau tidak mau ikut memandang dengan kagum ke arah Cladia yang mulai terlihat gugup dan tidak nyaman melihat bagaimana ketiga dokter pria yang ada di hadapannya tersenyum ramah sambil memandanginya.
“Siang ini aku akan keluar dengan temanku, ada sesuatu yang harus kami selesaikan di luar siang ini,” Laurel berkata sambil menahan senyumnya melihat bagaimana teman-temannya memandang Cladia dengan pandangan mata kagum.
“Ooo, teman Laurel ya, berarti teman kami juga dong. Laurel, kamu tidak ingin mengenalkan teman cantikmu kepada kami?” Roy kembali bertanya kepada Laurel dengan matanya tetap memandang kagum ke arah Cladia.
“Namanya Cladia Sanjaya, dulu dia tinggal di dekat rumahku sebelum akhirnya pindah 5 tahun lalu,” Baik Roy, Feri, dan Arnold tersenyum mendengar penjelasan dari Laurel.
“Seperti kata Roy, teman Laurel berarti teman kami juga, salam kenal,” Arnold menyodorkan tangannya ke arah Cladia yang tetap terdiam di tempatnya untuk beberapa saat, memandang ke arah tiga tangan dokter pria yang terulur ke arahnya. Cladia baru saja hendak sedikit membungkukkan tubuhnya untuk membalas sapaan mereka tanpa harus menjabat tangan mereka ketika tiba-tiba dari arah belakang Cladia dan Laurel terulur sebuah tangan dan menyambut uluran tangan ketiga dokter itu bergantian, setelah itu dengan sikap terlihat begitu melindungi Ornado yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Cladia segera melingkarkan lengan kirinya ke pinggang Cladia yang berada di samping kirinya.
__ADS_1
“Saya mewakili istri saya menyambut hangat perkenalan kita hari ini. Saya Ornado Xanderson, suami dari nona ini,” Baik, Roy, Feri dan Arnold sedikit kaget melihat kehadiran Ornado yang tiba-tiba saja dan langsung menggantikan Cladia untuk menjabat tangan mereka, apalagi menyatakan bahwa dia adalah suami dari Cladia, wanita cantik yang terlihat masih begitu muda, tapi ternyata sudah menikah. Dan suaminya yang berwajah bule, sepertinya bukan orang sembarangan melihat dari penampilan rapinya dan pakaian yang dikenakannya jelas-jelas terlihat merupakan pakaian yang mahal.
Dasar kalian, benar-benar cari mati berani menatap Cladia dengan pandangan seperti itu di hadapan Ornado, Laurel berkata dalam hati sambil berusaha menahan tawanya melihat bagaimana ketiga rekannya terlihat begitu salah tingkah dan sedikit pucat menyadari bahwa wanita yang baru dipandangi mereka dengan tatapan penuh kekaguman ternyata sudah memiliki seorang suami yang terlihat begitu tampan dan berwibawa dan juga terlihat…, begitu kaya.
“Eh, salam kenal Pak Ornado, senang berkenalan dengan Anda dan istri Anda,” Arnold segera mengucapkan salam perkenalan sekaligus berusaha mengalihkan padangan matanya agar tidak lagi melihat kepada Cladia.
Alih-alih tertawa geli, akhirnya Laurel hanya bisa tersenyum sambil memberikan kode lewat mata dan gerakan kepalanya kepada ketiga temannya agar segera meninggalkan mereka jika tidak ingin menambah masalah, sebelum Ornado mengambil tindakan karena merasa istrinya merasa tidak nyaman.
“Kalau begitu kami permisi dulu. Ok Laurel, kami ke kantin dulu ya,” Laurel buru-buru mengangguk mendengar perkataan Feri untuk segera pergi meninggalkan mereka ke kantin.
Dave yang sedang berjalan beriringan ke arah mereka bersama Leo sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya melihat pertistiwa barusan dari jarak yang cukup jauh. Walaupun Dave tidak bisa mendengar jelas apa saja pembicaraan mereka tapi Dave sudah bisa mengira-ira apa yang sedang terjadi barusan.
Dasar anak-anak, selalu tidak bisa menahan diri melihat wanita cantik. Hari ini akhirnya mereka kena batunya karena berani mencoba mendekati wanita kesayangan Ornado, Dave berkata dalam hati sambil menahan senyum gelinya dan kembali berjalan mendekat ke arah Ornado, Cladia dan Laurel berdiri.
“Leo, untuk pembicaraan kita barusan kita teruskan setelah jam istirahat ya,” Leo langsung mengangguk mendengar perkataan Dave.
“Ok, kalau begitu, aku pergi dulu. Lagian sepertinya tamu yang kamu bicarakan tadi sudah datang,” Leo menepuk bahu Dave pelan sebelum akhirnya berjalan ke arah lain meninggalkan Dave yang kembali berjalan mendekat ke arah Ornado, Cladia dan Laurel.
“Siang Ad, Cladia. Maaf buat ketidaknyamanan barusan karena tindakan konyol para pegawaiku,” Mendengar permintaan maaf dari Dave mewakili para pegawainya, Ornado hanya tersenyum kecil.
“Tidak masalah, toh mereka punya mata. Aku tidak bisa menghalangi mata orang lain mengagumi sesuatu yang cantik dan mempesona. Asal mereka tidak berusaha menyentuh apalagi mengganggunya,” Ornado berkata sambil tangannya bergerak pelan, menarik kepala Cladia ke dada bidangnya dan mengecup lembut puncak kepala Cladia, menunjukkan bahwa dia begitu mencintai dan melindungi Cladia.
“Al…,” Cladia berbisik pelan menyebutkan nama Ornado, membuat Dave sedikit terkikik geli karena melihat aura protes dari nada panggilan Cladia kepada Ornado karena tindakan mesranya di depan Laurel dan Dave, walaupun sebenarnya untuk beberapa lama ini Dave sudah mulai terbiasa melihat bagaimana sikap mesra Ornado kepada istrinya di depannya.
“Eh, Ad, apa kamu tidak jadi menjenguk istri kolegamu?” Tiba-tiba saja Laurel teringat sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Ornado sudah muncul di dekat mereka.
“Tidak, ternyata dia baru saja keluar dari rumah sakit satu jam yang lalu. Nanti biar James menjenguknya di rumah mereka,” Ornado menjawab sambil memasukkan tangan kanannya ke saku celana jasnya dengan tangan kirinya masih melingkar di pinggang Cladia.
__ADS_1