CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
KEBERADAANMU SELALU MENARIKKU UNTUK MENDEKAT


__ADS_3

"Kak," Suara panggilan dari Freya dan Evelyn yang memanggil mereka dengan bersamaan membuat Dave dan Laurel langsung menoleh ke arah mereka.


"Kak Dave dan Kak Laurel darimana saja? Kami mencari kalian kemana-mana," Dave menarik nafas dalam-dalam mendengar perkataan Evelyn, sepertinya sejak tadi pagi kedua adiknya itu memiliki hobi baru, mengganggu saat-saat berduanya dengan Laurel.


"Kami sedang mencari udara segar di luar, kenapa kalian mencari kami?" Dave mewakili Laurel menjawab pertanyaan Evelyn.


"Kak, mama dari tadi menelponku berkali-kali, mencari Kak Laurel, aku berusaha menghubungi handphone Kakak tapi Kak Laurel tidak mengangkatnya. Kalau tahu Kakak pergi dengan Kak Dave aku bisa menelpon Kak Dave," Freya berkata sambil mengkerutkan sedikit wajahnya karena mamanya yang sedari tadi terus menelponnya menanyakan tentang Laurel.


"Iya, sebentar lagi kakak akan telepon mama," Laurel bangkit dari duduknya diikuti oleh Dave, dan berjalan kembali ke arah villa.


“Bos, Laurel, darimana saja?” Nia yang sedang berdiri di dekat gerbang villa bersebelahan dengan Indah dan Mira, menikmati suasana indah lampu-lampu kota yang berada dibawah pegunungan itu langsung menyapa Laurel dan Dave yang baru saja sampai di gerbang villa.


Evelyn dan Freya yang awalnya berjalan di belakang kedua kakaknya langsung berjalan mendahului mereka menuju ke bangunan villa utama untuk melanjutkan kegiatan mereka menonton film yang tadinya sedang seru-serunya tetapi harus mereka tinggalkan karena Mama Denia yang begitu mengkhawatirkan Laurel meminta mereka mencari keberadaan Laurel, membuat mereka berdua harus berkeliling mencari Laurel.


“Tadi maunya menemani Feri dan Lusiana berbelanja, tapi aku pulang duluan, baru ingat aku ada janji untuk menelpon mamaku,” Nia tersenyum mendengar penjelasan Laurel, tapi melihat saat ini Laurel memakai jaket yang tadinya setahu Nia dipakai oleh Dave, Nia sedikit mengernyitkan dahinya, namun Nia hanya menyungingkan senyum di bibirnya tanpa ada niat untuk mengorek lebih dalam dan bertanya kepada Laurel lebih lanjut.


“Aku masuk dulu ya, mau menelpon mamaku. Bos, terimakasih untuk jaketnya,” Laurel berpamitan dengan tangannya bersiap melepaskan jaket Dave dari tubuhnya.


“Pakai saja dulu, nanti kamu letakkan saja di sofa ruang tamu villa, toh kita tinggal di bangunan yang sama,” Mendengar perkataan Dave, Laurel membatalkan niatnya untuk melepas jaket di tubuhnya, karena memang dia sendiri masih merasakan hawa dingin di sekitarnya.


“Kalau begitu saya pergi dulu bos, terimakasih. Aku pergi ke dalam dulu ya semua," Laurel menepuk lembut bahu Nia dan Indah sebelum melangkah pergi.

__ADS_1


Mira yang melirik ke arah Dave hanya bisa menahan senyumnya, melihat bagaimana tatapan mata Dave yang terlihat jelas tidak mau lepas dari sosok Laurel yang berjalan menjauh, menunjukkan betapa laki-laki itu terlihat tidak rela jika sosok Laurel lepas dari pandangannya.


# # # # # # #


Laurel mengerjap-ngerjapkan matanya, diliriknya Mira yang masih tertidur di sampingnya sambil tersenyum. Tidak heran jika Mira masih tertidur dengan wajah terlihat lelah setelah tadi malam dia sebagai panitia harus menemani beberapa orang yang bergadang sampai pukul 3 dini hari, sedangkan Laurel memilih untuk masuk ke kamarnya setelah jarum jam menunjukkan pukul 12 malam.


Laurel tahu jelas Mira baru masuk ke kamar tepat pukul 3 dini hari, karena kebiasaan Laurel, selelap apapun saat dia tertidur, jika ada seseorang yang membuka pintu kamarnya pasti dia akan terbangun, begitu juga tadi ketika Mira masuk ke kamarnya, walaupun sudah berusaha dengan begitu hati-hati membuka pintu, tetap saja Laurel terbangun dan secara otomatis langsung melirik ke arah jam yang ada di dinding kamar tersebut, jarum pendek tepat menunjuk di angka 3 dan jarum panjang tepat menunjuk di angka 12.


Laurel kembali melirik ke arah jam dinding yang terpasang di kamar yang ditempatinya saat ini, jarum pendek menunjukkan angka 5, dan jarum panjang menunjuk ke angka 4. Aurel yakin bukan hanya Mira, banyak dari teman-temannya yang semalam ikut bergadang pasti masih menikmati perjalanan mimpi mereka di pulau kapuk (kasur).


Dengan gerakan pelan agar tidak membangunkan Mira, Laurel berjalan ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar itu, mencuci mukanya dan menyikat giginya supaya terlihat segar, walaupun karena udara dingin yang masih begitu terasa membuatnya enggan untuk mandi. Laurel memilih untuk menikmati suasana pagi dan menunda kegiatan mandinya setelah udara sedikit lebih bersahabat padanya, toh sepagi ini dia bisa memastikan belum ada seorangpun yang terbangun dari tidurnya, jadi dia merasa tidak perlu takut keluar dari kamarnya dengan masih memakai pakaian tidurnya.


# # # # # # #


Laurel begitu menikmati pemandangan sambil sesekali menggerak-gerakkan tubuhnya, tangan dan kakinya sambil menghirup udara segar, sehingga tidak menyadari bahwa seseorang yang ada di lantai dua mengamati apa yang sedang dilakukan Laurel dengan senyum geli di wajahnya.


Mau tidak mau lama kelamaan Laurel merasakan ada seseorang yang sedang mengawasinya, dan dengan spontan dia mengalihkan pandangannya ke arah dimana dia merasa seseorang sedang mengawasinya, ke arah lantai dua bangunan itu. Begitu matanya memandang ke atas, Laurel langsung melihat sosok Dave yang menopangkan kedua lengannya yang terlipat di depan tubuhnya ke atas pagar pengaman lantai dua dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, menikmati pemandangan di lantai bawah, sosok Laurel yang masih mengenakan baju tidurnya.


Saat Laurel memandang ke arahnya, sambil tersenyum Dave melambaikan tangan ke arah Laurel yang langsung kembali mengalihkan pandangannya ke arah kolam renang, karena Laurel benar-benar terkejut, tidak menyangka bahwa dia akan bertemu Dave sepagi ini dengan kondisi masih memakai pakaian tidurnya dan belum mandi.


Melihat reaksi Laurel, Dave hanya bisa terkikik pelan, dan langsung berjalan menuruni tangga mendekat ke arah Laurel yang masih mengenakan piyamanya (piama atau piyama adalah sejenis pakaian malam, biasanya terdiri dari dua potong pakaian, walaupun ada juga yang terdiri dari satu potong. Biasanya digunakan oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa terutama di daerah dingin yang sebenarnya merujuk pada celana panjang bertali pinggang yang longgar, yang biasanya digunakan untuk tidur).

__ADS_1


Mendengar suara langkah-langkah Dave yang mendekat ke arahnya, membuat Laurel sedikit menelan ludahnya, karena secara otomatis tubuhnya memberikan reaksi berupa debaran halus di dadanya begitu menyadari kehadiran laki-laki itu.


“Pagi Laurel, apa tidurmu nyenyak semalam?” Begitu ada di dekat Laurel, Dave langsung mengambil posisi berdiri di samping Laurel, dengan kepalanya mengarah ke arah Laurel, sekilas pandangan matanya menatap tubuh Laurel yang mengenakan piyama bewarna biru laut, yang tampak begitu pas dengan warna kulit putih yang dimiliki Laurel, membuatnya terlihat begitu menarik walaupun dalam balutan piyama yang berupa baju tidur berlengan panjang dipadukan dengan celana panjang yang terlihat longgar bermotif bunga-bunga bewarna kuning dan merah.


Dave sedikit menahan nafasnya melihat bagaimana sosok Laurel yang selalu membuatnya terpesona, tidak perduli apapun pakaian yang dia kenakan, bagaimanapun penampilan Laurel. Dave melirik wajah Laurel yang tampak masih polos tanpa sentuhan make up sedikitpun, tapi tetap saja baginya tetap terlihat begitu cantik dan membuat dadanya berdebar-debar.


“Sepertinya pakaian apapun yang kamu kenakan tetap membuatmu terlihat menarik,” Mendengar kata-kata Dave, Laurel hanya bisa diam tanpa membalasnya, karena jujur saja dia sedikit malu dengan penampilannya pagi ini dengan piyamanya yang terlihat begitu santai, sedangkan Dave yang berdiri di sebelahnya tampak begitu tampan dengan pakaian slim fit berkerahnya yang bewarna abu-abu dipadukan dengan celana jeansnya, yang jelas-jelas selain membuat Dave terlihat mempesona tapi juga tampil rapi sepagi ini, menunjukkan dengan jelas bahwa laki-laki itu sudah mandi, tidak seperti dirinya.


Ah, lagi-lagi penampilanku saat ini seperti langit dan bumi jika dibandingkan dengan Dave, Laurel berbisik dalam hati.


Tapi siapa sangka sepagi ini dia sudah bangun dan rapi seolah-olah mau bersiap berangkat ke kampus atau ke kantor, disaat yang lain masih tertidur justru dia sudah mandi dan berpakaian rapi, Laurel kembali berbisik dalam hati, sedikit menyesal kenapa dia tadi tidak memaksakan dirinya untuk mandi dan berganti pakaian sebelum memutuskan keluar dari kamarnya.


"Apa yang kamu lamunkan sepagi ini?"


"Ah..., eh..., tidak ada, hanya sedang menikmati udara segar pagi ini," Dave sedikit menganguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum mendengar jawaban Laurel. Diliriknya gelas berisi teh hangat yang ada di tangan kanan Laurel, dan tanpa meminta ijin pada Laurel, Dave langsung meraih gelas yang ada di tangan Laurel dan langsung meneguk isinya, membuat Laurel terperanjat kaget.


"Teh buatanmu ya? Enak, panas dan manisnya pas, sesuai seleraku," Setelah memuji teh Laurel, Dave kembali menghirup teh hangat dari gelas yang baru saja direbutnya dari tangan Laurel, membuat pipi Laurel sedikit memerah, baik karena pujian Dave maupun tindakan Dave yang meminum teh hangat bekasnya dengan wajah terlihat begitu menikmati minuman itu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2