
“Kebetulan tadi Leo mencarimu kesini untuk melihat keadaanmu dan Laurel setelah kejadian semalam, sekalian papa ajak makan bersama. Ternyata kamu sudah seperti anak perawan mau pergi berkencan saja, mandimu lama sekali,” Mendengar perkatan papanya Dave hanya bisa meringis sambil melirik ke arah Laurel yang langsung berusaha mengalihkan wajahnya agar tidak terlihat semburat merah di wajahnya karena merasa tersindir oleh kata-kata Augistin Shaw yang begitu mengena.
Dan tanpa sepengetahuan siapapun, setelah menyelesaikan kata-katanya, ternyata Augistin Shaw langsung mendapat cubitan di pahanya dari Mama Rosalia yang menjadikan cubitan itu sebagai tanda agar Augistin Shaw tidak melanjutkan sindirannya kepada Dave yang sudah mulai terlihat gerah karena salah tingkah. Mendapat peringatan keras dari istri tercintanya, hanya bisa membuat Augistin Shaw berdehem pelan, sebagai ganti dari meringis akibat menahan sakit, karena tidak mungkin seorang Augistin Shaw menunjukkan sikap tidak berwibawa di depan anak-anaknya.
“Okelah, sebaiknya kita segera mulai acara makan pagi kita sebelum semua naga di perut kita memberontak karena protes,” Mendengar candaan dari Augistin Shaw untuk mencairkan suasana yang terlihat tegang barusan, candaan yang tidak biasanya dilakukan oleh Augistin Shaw membuat yang lain langsung menyungingkan senyum di wajahnya dan mulai mengambil makanan yang terhidang di depan mereka dan menikmatinya.
Sambil menikmati makan pagi yang benar-benar membuat mulut dan perut dimanjakan karena banyaknya menu yang telah disiapkan oleh Mama Rosalia bersama para pelayan yang dibawanya tadi, mereka membicarakan detail tentang kejadian yang menimpa Laurel dan Dave tadi malam. Augistin Shaw tampak terkejut mendengar cerita Dave tentang bagaimana sosok seorang Orando Xanderson yang merupakan pewaris tunggal Grup Xanderson ternyata adalah orang yang sudah banyak membantu, bahkan menyelamatkan Dave dan Laurel.
“Ornado Xanderson? Papa tidak menyangka hubungan kalian sedekat itu. Waktu kamu menyampaikan salam darinya, waktu itu Papa pikir hanya karena kebetulan kalian bertemu saat Laurel menggantikan saudaranya untuk sementara waktu sebagai dokter pribadi di keluarga istri Ornado Xanderson,” Dave tersenyum melihat wajah serius papanya saat membicarakan tentang Ornado Xanderson yang tadi diceritakan oleh Dave telah menyelamatkannya dan Laurel.
“Hubungan kami cukup dekat, karena Laurel merupakan teman sepermainan Ornado dan istrinya Cladia ketika masih kecil. Bahkan hubungan Ornado Cladia dan Laurel sudah seperti kakak beradik. Sudah beberapa kali kami saling mengunjungi dan saling bertemu untuk berlatih taekwondo dan berenang bersama, bahkan siang sebelum terjadinya penculikan Ornado dan istrinya juga makan siang bersama kami di sini,” Augistin Shaw mengangguk anggukkan kepalanya sambil mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan dari Dave, tidak menyangka hubungan Dave dan Ornado sedekat itu.
“Ternyata dunia ini begitu sempit ya. Tidak disangka di negara ini kita bertemu dengan orang-orang yang awalnya kita kenal di negara asal kita. Alberto Xanderson, ayah dari Ornado Xanderson, merupakan sosok pengusaha hebat, namun dibandingkan dengan putra tunggalnya, Ornado Xanderson, sepertinya kehebatannya jadi tenggelam,” Augistin Shaw berkata sambil tersenyum.
“Kita sudah lama sekali melakukan kerjasama dengan Grup Xanderson, bahkan sudah terhitung lebih dari 30 tahun. Mereka merupakan rekan bisnis yang selama ini begitu menjaga etika bisnis dalam bekerja sama, dan merupakan rekan bisnis terbesar kita. Hampir 70 persen bahan baku mentah untuk produk makanan hasil produksi kita, kita kirimkan ke pabrik makanan mereka. Benar-benar tidak menyangka ternyata sampai di generasi bawah kami, justru kalian saling berhubungan bahkan bersahabat sedekat itu, padahal biasanya jika sudah turun ke generasi berikutnya hubungan bisnis sedikit merenggang. Lain kali aku harus bertemu secara pribadi dengan Alberto Xanderson untuk mengucapkan terimakasih karena anaknya sudah menyelamatkan anak dan menantuku,” Rosalia tersenyum mendengar kata-kata Augistin Shaw yang diucapkan sambil mengernyitkan dahinya menunjukkan dia begitu serius dengan rencana yang baru dia ucapkan tadi untuk menemui Alberto Xanderson.
“Sejak Ornado menikah dan memutuskan untuk tinggal di Indonesia karena istrinya, sepertinya papanya juga sering berkunjung ke sini. Aku akan menitipkan pesan kepada Ad agar memberiku kabar jika papanya berkunjung ke sini sehingga Papa bisa menemuinya,” Mendengar penawaran Dave, Augistin Shaw langsung tersenyum dengan wajah mengiyakan.
Bagi Augistin Shaw sepertinya akan menyenangkan sekali bisa bertemu dan sedikit berbincang dengan salah satu rekan bisnis yang sudah lama tidak ditemuinya, sejak Alberto memutuskan mundur dari pucuk kepemimpinan tertingginya di Grup Xanderson dan menyerahkannya kepada Ornado lima tahun lalu.
“Kak, bukannya Ornado Xanderson juga mempunyai usaha di bidang fashion? Aku dengar salah satu butik terbesar di kota ini adalah miliknya. Temanku begitu senang berbelanja di sana, katanya pernah sekali dia melihat Ornado Xanderson masuk ke butik itu bersama seorang wanita yang sangat cantik dan anggun, apa itu istrinya? Aku berusaha mencari info tentang istri Ornado, sepertinya tidak terlalu banyak info mengenai istrinya, yang ada justru artikel-artikel tentang kehebatan Ornado. Dan dia selalu terlihat begitu tampan,” Mendengar perkataan Evelyn, Dave dan Laurel sedikit terkikik geli, apalagi saat Evelyn menyebutkan bahwa Ornado adalah seorang lelaki yang begitu tampan, ekspresi Evelyn menunjukkan bahwa dia begitu mengagumi Ornado.
“Iya, bahkan dalam waktu dua hari ini Ad dan Cladia istrinya akan terbang ke Italia untuk menghadiri even peluncuran produk baru mereka. Kamu tahu Amadea kan? Model terkemuka dari Italia? Dia adalah saudara sepupu Ornado dan menjadi salah satu model utama yang akan menampilkan rancangan gaun dan perhiasan di even peluncuran produk baru mereka,” Dave menambahkan cerita tentang Ornado dan Cladia yang sukses membuat mata Evelyn semakin berbinar-binar.
Tanpa sadar ketika Evelyn menceritakan tentang Ornado dan memujinya, Laurel melirik ke arah Leo. Saat itu jika Laurel tidak salah lihat, Laurel merasa melihat Leo sedikit menahan nafasnya saat Evelyn memuji-muji sosok Ornado. Memang bagi Leo adalah sesuatu yang aneh mendengar Evelyn memuji kehebatan ataupun wajah tampan laki-laki selain kedua kakaknya, Dave dan Bryan, apalagi laki-laki yang sudah menikah. Sejak mengenal Evelyn, belum pernah sekalipun Leo melihat Evelyn menyebutkan nama seorang laki-laki dengan mata berbinar, menunjukkan bahwa dia begitu kagum, seperti yang barusan dia tunjukkan ketika dia menyebutkan nama Ornado. Walaupun Leo merasa kekaguman Evelyn terhadap sosok Ornado hanya sekedar kekaguman karena kehebatan dan kesuksesannya di dunia bisnis, tapi bagi Leo yang tidak pernah melihat Evelyn melakukan itu, tindakan Evelyn terasa begitu aneh bagi Leo.
__ADS_1
“Kak Dave! Lain kali ajak aku dong untuk bertemu dengan Ornado Xanderson. AKu ingin melihat sosoknya dari dekat. Apa betul seperti kata orang dia begitu hebat dan tampan,” Dave langsung melotot mendengar perkataan Evelyn.
“Untuk apa kamu begitu penasaran dengan suami orang?”
“Ist…, apa Kak Dave pikir aku ingin bertemu dengannya untuk mengejarnya sebagai seorang gadis yang jatuh cinta padanya? Aku hanya penasaran saja seperti apa sosok pengusaha hebat yang akhir-akhir ini begitu menggemparkan dunia bisnis. Aku berharap bisa belajar banyak darinya,” Evelyn berkata sambil melirik sekilas ke arah Leo yang tampak sedang menikmati makanan di piringnya, seolah dia tidak mendengar apapun yang sedang dikatakan Evelyn tentang kekagumannya kepada sosok Ornado sebagai pebisnis muda yang sukses merajai dunia.
Lagipula, sudah ada sosok laki-laki yang begitu membuatku kagum dan jatuh cinta. Kekagumanku terhadap Ornado sama dengan kekagumanku dengan kedua kakakku Dave dan Bryan yang hebat dalam menjalankan pekerjaan mereka. Tapi kekagumanku terhadap Kak Leo, selalu saja berhasil membuat jantungku berdebar-debar dan hatiku kacau. Setiap kali berada di dekatnya selalu saja membuat tanganku berkeringat dingin dan gugup, tapi entah kenapa aku justru ingin selalu berada di dekatnya, menikmati keberadaannya walaupun harus dengan sembunyi-sembunyi aku memandangi wajahnya, Evelyn berkata dalam hati dan buru-buru mengalihkan lirikannya ke tempat lain karena dia tidak ingin seorangpun tahu apa yang baru saja dia lakukakan.
“Baguslah kalau begitu. Ternyata sekarang kamu sudah mulai tertarik untuk terjun ke dunia bisnis,” Dave berkata sambil meminum air putih di gelasnya.
“Kalau begitu belajarlah dengan cepat agar kamu bisa membantu kedua kakakmu. Selain itu, cepatlah bawa laki-laki yang kamu sukai ke rumah besar. Supaya kami bisa menilai apa laki-laki itu pantas untukmu,” Mama Rosalia langsung memotong pembicaraan tentang keinginan Evelyn untuk bertemu Ornado.
Mendengar perkataan mamanya sontak membuat Evelyn langsung memajukan bibirnya ke depan, setelah itu Evelyn yang duduk di samping mamanya langsung memegang tangan mamanya.
“Hahh…,” Mendengar kata-kata Evelyn, Mama Rosalia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.
“Kalian ini.... Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan anak-anakku. Kenapa sepertinya jodoh kalian ini sulit sekali didapatkan. Urusan Dave bersama Laurel sudah beres, sedang Bryan masih sibuk bersenang-senang dan tidak pernah serius dengan wanita manapun. Si Evelyn, sudah berumur dua puluh tahun lebih tapi belum pernah sekalipun menunjukkan tanda-tanda pernah menyukai seorang pemuda sekalipun,” Mama Rosalia berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat yang lain langsung tertawa geli.
“Jangan terlalu dipikirkan. Kalau sudah jodoh tidak akan kemana. Lagipula, anak-anak kita begitu tampan dan cantik. Kalau mereka mau mereka dengan mudah akan membuat seseorang jatuh cinta. Kita tinggal menunggu waktu saja sampai hari mereka tidak bisa lagi lari karena sudah jatuh cinta dengan seseorang. Lihatlah contoh nyata di depanmu. Salah satu anakmu yang akhirnya berhasil menemukan dan mendapatkan cinta sejatinya,” Augistin Shaw berkata sambil mengelus lembut pundak istrinya yang langsung tersenyum mendengar kata-kata suaminya yang bijaksana.
“Ah, sudahlah, yang penting sudah ada salah satu anakku yang menikah dan akan memberikanku cucu. Sementara ini, itu sudah lebih dari cukup,” Akhirnya Mama Rosalia menghentikan keluhannya tentang jodoh anak-anaknya.
Untuk beberapa saat ke depan, mereka yang ada di meja makan itu membicarakan hal-hal ringan, seolah sengaja tidak lagi mengungkit tentang kejadian kemarin agar tidak membuat pikiran dan ingatan Laurel terfokus pada kejadian kemarin. Beberapa pembicaraan lucu justru terjadi saat mereka sedang membicarakan beberapa kejadian di restauran Evelyn.
Bahkan cerita-cerita itu kembali mengingatkan Laurel bagaimana Dave yang waktu itu sengaja mencari alasan bertemu teman bisnisnya di restauran Evelyn untuk sekaligus bisa mengawasi pertemuan antara Laurel dan Arnold yang saat itu benar-benar membuat Dave cemburu dan hampir saja berbuat nekat untuk mendekat ke arah Laurel yang duduk manis di depan Arnold dan ingin menarik pergelangan tangan gadis itu agar menjauh dari Arnold. Apalagi melihat bagaimana Arnold sudah menyiapkan cincin untuk menyatakan cintanya kepada Laurel, membuat Dave saat itu cukup sulit untuk menahan dirinya agar tidak membawa pergi Laurel dari hadapan Arnold. Untung saja penolakan Laurel saat itu akhirnya dapat membuat hati Dave lebih tenang, meredam rasa cemburu yang membara di hati Dave.
__ADS_1
“Permisi Tuan Dave…,” Tawa ramai di ruang makan sedikit terhenti melihat Bi Yuni yang tiba-tiba saja mendekat ke arah Dave.
“Ada apa Bi Yuni?” Bi Yuni yang baru saja memasuki ruang makan, berjalan mendekat ke arah Dave yang menganggukkan kepalanya, memberi tanda agar Bi Yuni mendekat ke arahnya.
“Ada Non Mira sedang ada di ruang tamu, katanya mau bertemu dengan Tuan. Katanya ada hal penting yang mau disampaikan ke Tuan Dave,” Dave melirik ke arah Leo yang langsung mengangkat kedua bahunya melihat kode dari Dave yang menunjukkan tanda tanya kepada Leo kenapa tiba-tiba pagi ini Mira ingin bertemu dengannya, sedangkan semua urusan rumah sakit sudah Dave serahkan kepada Leo dengan sengaja, karena Dave ingin mengambil hari liburnya untuk menemani Laurel.
“Bagaimana Tuan Dave?” Bi Yuni yang sedang menanti jawaban dan perintah selanjutnya dari Dave bertanya dengan tubuhnya yang sedikit membungkuk di samping posisi duduk Dave.
“Ehmmm, Bi Yuni ajak ke ruang makan saja Mira sekarang,” Bi Yuni langsung menganggukkan kepalanya mendengar perintah Dave, dan langsung berjalan ke arah ruang tamu rumah kaca untuk mempersilahkan Mira menemui Dave di ruang makan.
“Pagi Bos,” Mira yang baru saja masuk ke ruang makan langsung menyapa Dave.
“Eh, Mir, ayo makan sama-sama di sini,” Begitu melihat sosok Mira, Mama Rosalia langsung mengajaknya untuk makan bersama.
“Tidak Tante, Mira sudah sarapan tadi di rumah,” Dengan senyum di wajahnya, Mira langsung menolak ajakan Mama Rosalia yang masih terhitung tantenya, setelah itu Mira kembali mengarahkan pandangannya kepada Dave.
“Hari ini aku dan Laurel tidak masuk kerja. Urusan rumah sakit bisa kamu selesaikan dengan dokter Leo,” Dave berkata sambil mendongakkan kepalanya ke arah Mira.
“Ini bukan urusan rumah sakit Bos. Ada sepasang suami istri ngotot minta bertemu dengan Bos dan dokter Laurel. Bagian front office rumah sakit sudah menjelaskan kalau hari ini Bos dan dokter Laurel tidak masuk kerja tapi mereka tetap ngotot ingin bertemu dengan Anda berdua. Katanya urusan pribadi, bukan urusan pekerjaan,” Mendengar perkataan Mira, Laurel jadi ikut mendongakkan kepalanya memandang ke arah Mira, berusaha menebak siapa yang berencana menemui mereka berdua sepagi ini dan urusannya tidak ada hubungannya dengan rumah sakit.
“Apa kamu sudah bertanya kepada bagian front office, siapa mereka? Dan ada keperluan apa sehingga bersikeras untuk bertemu dengan kami berdua?” Begitu mendengar pertanyaan Dave, Mira langsung menganggukkan kepalanya.
“Menurut info yang saya dapat dari front office, mereka berdua adalah Bapak Pramono Agung bersama istrinya, Ibu Lia,” Yang lain langsung terbeliak kaget mendengar keterangan dari Mira, terutama Dave dan Laurel yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya begitu mendengar kabar bahwa kedua orangtua Dicky ingin bertemu dengan mereka berdua.
Dengan cepat Dave yang duduk di samping Laurel segera mendekatkan diri ke arah Laurel dan melingkarkan lengannya ke bahu Laurel untuk menenangkan Laurel yang dari gerak tubuhnya langsung menunjukkan rasa tidak tenang begitu mendengar siapa yang datang. Mata Augistin Shaw dan Mama Rosalia langsung saling berpandangan, begitu juga antara Evelyn dan Leo, mereka juga tampak terkejut dan saling berpandangan dengan wajah bertanya-tanya.
__ADS_1