CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
BERJALAN KE ARAHMU


__ADS_3

"Tidak apa, mungkin karena hujan kemarin sore, uhuk...," Dave sedikit terbatuk, dan Laurel tahu saat ini Dave benar-benar menahan dirinya agar tidak terlihat sakit.


"Apa perlu kita hentikan dans...,"


"Tidak, temani aku menyelesaikan satu lagu ini," Mendengar sanggahan dari Dave, Laurel hanya bisa terdiam, yang bisa dia lakukan hanya berusaha memperlambat gerakan dansa mereka. Sekilas Laurel melirik ke arah wajah Dave yang mulai mengeluarkan titik-titik keringat di dahinya, dan Laurel bisa memastikan bahwa itu adalah keringat dingin.


"Harusnya bos beristirahat," Dave tersenyum mendengar perkataan Laurel yang menunjukkan perhatiannya, walaupun dalam hati dia ragu apakah jika saat ini yang ada di hadapan Laurel bukan dirinya Laurel tidak akan seperhatian ini. Mengingat sifat Laurel yang mudah akrab dengan orang rasanya mustahil mengharapkan gadis itu hanya memberikan perhatian padanya.


"Setelah ini aku akan berpamitan untuk beristirahat, tapi saat ini aku tidak mau mengecewakan gadis yang sudah memenangkan undian untuk berdansa denganku malam ini," Laurel tersenyum mendengar perkataan Dave, membuat lesung pipit di pipinya muncul dengan jelas di pipinya dan terlihat begitu menggoda, dan hampir saja membuat Dave tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekatkan wajahnya untuk menciumnya.


"Saya justru akan kecewa jika karena saya bos memaksakan diri dan bertambah sakit," Dave tertawa pelan, rasanya nyaman sekali malam ini dia bisa mengobrol santai dengan Laurel.


"Tenang saja, disini yang memiliki status sebagai seorang dokter bukan hanya Laurel Tanputra," Laurel tersenyum lebar mendengar candaan Dave. Sebentar kemudian Dave teringat kejadian kemarin sore di taman rumah sakit, membuat wajah Dave berubah menjadi kembali serius.


"Dokter Laurel, aku minta maaf untuk kejadian kemarin sore, semoga kamu tidak merasa tidak nyaman karena tindakan tidak sopanku kemarin sore di taman," Laurel tersenyum, karena dibandingkan dengan merasa takut atau tidak nyaman dia lebih merasa sedih melihat kondisi Dave kemarin sore, dan Laurel sedikit berangan-angan apakah sebenarnya kata-kata Dave kemarin sore merupakan pernyataan suka padanya, sehingga dia tidak diijinkan untuk melihat pria lain? Tapi buru-buru Laurel menyingkirkan pikiran itu.


"Tidak bos, tidak apa-apa, apapun masalah yang sedang bos hadapi semoga bos bisa segera mendapat titik terang penyelesaiannya," Laurel tersenyum tulus, membuat Dave semakin sulit untuk tidak terus menatap wajah cantik di depannya. Rasanya dia tidak akan pernah menyesal menambatkan hatinya pada Laurel, gadis yang selalu tersenyum dengan wajah cerianya, yang membuat dunianya menjadi ikut ceria. Selama ini sebagai anak pertama di keluarga Shaw dan memiliki kecerdasan jauh di atas rata-rata membuat papanya begitu mengandalkannya, membentuknya menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan harus bersikap dewasa untuk bisa menjadi panutan bagi kedua adiknya, membuatnya menjadi pemimpin yang sukses, berwibawa, tapi lebih banyak memendam, menahan perasaannya dan lebih banyak diam karena tanggung jawab yang diembannya, membuatnya menjadi orang yang sulit untuk mengungkapkan perasaannya.


Untuk beberapa lama mereka berdua begitu menikmati waktu dansa mereka sambil mengobrol hal-hal ringan yang membuat mereka saling melempar senyum, membuat beberapa orang terlihat begitu iri melihat mereka berdua, sampai mereka tidak sadar alunan musik telah terhenti, membuat Dave tanpa sadar sedikit menahan nafasnya karena merasa sedikit kecewa karna ternyata waktu terasa begitu cepat sekali berlalu saat dia sedang bersama dengan Laurel.


Dengan wajah enggan Dave melepaskan genggaman tangan kanannya pada tangan kiri Laurel dan tangan kirinya dari pinggang Laurel, dan seperti janjinya pada Laurel, tidak berapa lama kemudian MC memberikan pengumuman tentang permintaan maaf dari Dave karena tidak bisa ikut melanjutkan pesta karena kurang enak badan dan mohon ijin untuk meninggalkan pesta lebih dahulu.

__ADS_1


# # # # # # #


Sebagian besar tamu sudah meninggalkan ruangan pesta, begitu juga Laurel sedang bersiap-siap untuk pulang ketika tiba-tiba Mira mendekat ke arahnya.


“Dokter Laurel,” Laurel menolehkan kepalanya begitu mendengar sapaan dari Mira.


“Maaf, sepertinya tidak sopan, tapi bisakah dokter membantu saya sekali ini saja?” Laurel mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Mira.


“Maaf, bukannya bermaksud untuk tidak sopan kepada dokter Laurel, tapi saya tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi, selain saya dan dokter Leo yang pernah mengunjungi rumah pribadi bos di rumah sakit hanya dokter Laurel. Sedari tadi bos belum makan sama sekali, bisakah dokter Laurel mengantarkan sup dan lauk ini ke rumah bos? Anak saya di rumah sedang sakit, suami saya sudah menunggu di luar untuk menjemput saya,” Mendengar itu Laurel memandang sekeliling, mencari sosok Leo.


“Maaf dok, dokter Leo sudah pulang duluan sedari tadi, katanya ada undangan pesta di tempat lain, beliau harus membagi waktunya,” Laurel menarik nafas panjang, mencoba berpikir untuk mengiyakan atau menolak, tapi melihat kondisi Dave tadi sewaktu mereka berdansa, akan jadi masalah kalau dengan kondisinya dia tidak memaksakan dirinya untuk makan. Memikirkan itu ada rasa tidak rela dalam hati Laurel kalau sampai ada sesuatu yang terjadi pada Dave, entah itu karena kasihan, atau karena Dave adalah pemimpinya, atau karena…, dia harus jujur bahwa dia menyukai laki-laki itu, bahkan rasa suka yang dirasakannya jauh lebih besar dari saat dia menyukai Devan dulu.


“Tapi, apakah rumah bos tidak terkunci? ini sudah malam, beliau juga kurang enak badan,” Mira tersenyum mendengar pertanyaan Laurel, diambilnya sesuatu dari dalam kantongnya.


“Ini kunci kantor bos, semoga rumahnya tidak terkunci, nanti kalau pintu rumahnya terkunci dokter letakkan saja makanannya di kantor bos, saya akan hubungi bos,” Dengan ragu-ragu Laurel menerima kunci dan tas plastik yang berisi kotak makanan untuk Dave.


"Apa menurutmu benar-benar tidak apa-apa jika aku menerima kunci ini?" Laurel bertanya sambil matanya menatap ke arah kunci yang sudah ada di tangannya.


"Saya berani mempertaruhkan posisi pekerjaan saya disini, kalau dokter Laurel yang mengantar makanan ini bos tidak akan menolak, apalagi marah, saya jamin," Laurel sedikit mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Mira, dia tahu Dave terkenal sebagai pemimpin yang hampir-hampir tidak pernah marah, tapi rasanya ada sesuatu yang disembunyikan Mira darinya.


“Maaf dok, saya harus buru-buru, terimakasih untuk bantuannya,” Tanpa menunggu jawaban dari Laurel dan untuk menghindari Laurel menolak, Mira langsung berjalan dengan bergegas keluar ruangan, membuat Laurel tidak lagi memiliki kesempatan untuk menolak permintaan Mira.

__ADS_1


“Laurel, ayo kita pulang,” Lusiana yang baru saja kembali dari toilet langsung mendekat ke arah Laurel.


“Sebentar, aku harus mengantar ini ke ruangan bos, tadi Mira minta bantuanku,” Lusiana tersenyum, jujur saja sebenarnya sebagai teman dia bisa saja menawarkan bantuan dengan mengantar Laurel, tapi kali ini rasanya bantuannya justru tidak akan membantu jika dia ingin adanya kemajuan hubungan antara Laurel dan Dave.


“Maaf ya, aku tidak bisa membantu menemanimu, di rumah adikku sedang sendirian, kasihan kalau aku harus membiarkan adikku yang sedang hamil sendirian,” Laurel tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Lusiana.


“Tidak apa, pulanglah duluan, aku akan segera mengantar ini dan pulang ke rumah juga,”


“Ok, sampai jumpa senin ya,” Lusiana menepuk bahu Laurel lembut sebelum akhirnya berjalan meninggalkan ruangan pesta.


Setelah Lusiana pergi, Laurel bergegas berjalan ke arah kantor Dave, diliriknya sekilas jam di tangannya, tepat jam 21:35. Dengan hati-hati dibukanya pintu kantor Dave, dengan sedikit ragu Laurel berjalan ke arah pintu rumah kaca milik Dave. Dengan pelan di dorongnya pintu kaca tersebut, yang ternyata tidak dikunci. Begitu Laurel memasuki ruang tamu, Laurel sedikit terkejut melihat sosok Dave yang tertidur di sofa ruang tamu dengan masih memakai kemeja resmi, dengan tuksedonya tergeletak di atas meja ruang tamu.


Dengan berusaha tidak mengeluarkan suara Laurel meletakkan tas plastik berisi kotak makanan, dan meraih tuksedo Dave, melipatnya dengan rapi dan meletakkannya kembali ke atas sofa yang ada di sisi lain.


“Uhuk…,” Laurel langsung menoleh mendengar suara batuk dari Dave. Ketika Laurel baru saja meletakkan tuksedo Dave di sofa, Dave baru saja membuka matanya, dan begitu melihat sosok Laurel, Dave terlihat sedikit terkejut dan mencoba untuk bangun dari tidurnya di sofa.


“Eh, bos…, tidak perlu bangun, saya cuma mengantar makanan,” Laurel mendekat ke arah Dave, mencegahnya untuk bangun.


“Sepertinya kamu lupa kesepakatan kita tentang tata cara kita saling memanggil saat hanya berdua,” Laurel tersenyum simpul mendengar Dave yang mengingatkannya tentang hal itu, sempat-sempatnya dalam kondisi sakit Dave masih mengingat hal-hal seperti itu.


“Maaf Dave, aku masih belum terbiasa,” Laurel berkata sambil melihat ke arah Dave yang menjentikkan kedua jarinya, membuat lampu ruang tamu yang awalnya redup menjadi menyala dengan terang benderang. Begitu Dave berusaha untuk bangun dari tidurnya, dengan spontan Laurel langsung meraih bahu Dave dan membantunya duduk, sekilas Dave memandang ke arah tangan Laurel yang memegang bahunya, setelah itu Dave berusaha memalingkan wajahnya agar Laurel tidak melihat senyum di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2