CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
KEBENARAN YANG TERBUKA


__ADS_3

Laurel menarik nafas lega melihat Mama Rosalia mulai tersadar dari pingsannya, Evelyn dan Freya yang sedari tadi menunggu di ruang rawat inap VVIP rumah sakit itu langsung bangkit dari duduk mereka begitu melihat Mama Ros mulai membuka matanya.


“Ma, mama sudah sadar?” Evelyn langsung meraih tangan Rosalia dan menggenggamnya dengan erat, menunjukkan bahwa dia benar-benar bersyukur mamanya sudah tersadar kembali, sedang Mama Rosalia hanya bisa tersenyum dengan lemah, matanya langsung menatap ke arah Laurel yang berdiri di sampingnya.


"Syukurlah ma, untung ada Kak Laurel yang langsung menangani mama," Rosalia tersenyum mendengar perkataan Evelyn.


“Kenapa mama bisa pingsan Laurel?” Laurel tersenyum mendengar pertanyaan Mama Rosalia yang masih dengan suara terdengar begitu lemah.


“Mama mengalami anafilaksis, kata Evelyn sebelum pingsan mama sempat meminum obat anti nyeri. Sepertinya ke depannya mama harus menyingkirkan obat nyeri jenis itu dari kotak obat Mama Ros dan harus konsultasikan dulu ke dokter jika mama berencana mengkonsumsi obat-obatan tertentu,”


(Anafilaksis merupakan kondisi alergi obat yang menimbulkan gejala yang serius dan membahayakan penderitanya atau reaksi alergi yang tergolong berat karena dapat mengancam nyawa penderitanya. Reaksi alergi ini berkembang dengan cepat dan membutuhkan penanganan medis segera ketika terjadi. Syok anafilaktik terjadi dalam hitungan detik atau menit setelah penderita terpapar oleh penyebab alergi (alergen). Alergen adalah zat apa pun yang dapat menjadi penyebab terjadinya reaksi alergi dalam tubuh penderita. Reaksi anafilaksis terjadi ketika sistem imun tubuh merespons alergen yang dianggap berbahaya secara berlebihan, sehingga mengakibatkan tekanan darah turun tiba-tiba/syok. Syok anafilaktik merupakan keadaan gawat darurat yang didiagnosis berdasarkan gejala dan tanda-tanda yang ditemukan saat pemeriksaan fisik. Penting untuk segera dilakukan penanganan terlebih dahulu sebelum dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya, karena gejalanya memburuk sangat cepat dan membahayakan. Syok anafilaktik dapat mengakibatkan komplikasi berupa gagal ginjal, aritmia, serangan jantung, kerusakan otak, dan syok kardiogenik).


“Syukurlah mama segera dibawa ke rumah sakit sebelum anafilaksi menyerang jantung dan otak mama,” Laurel meneruskan bicaranya, Mama Rosalia menggerakkan tangannya ke arah Laurel, memberi tanda agar Laurel lebih mendekat ke arahnya, membuat Laurel dengan sedikit ragu bergerak mendekat. Begitu Laurel berada di dekatnya, Rosalia langsung meraih tangan Laurel dan menggenggamnya dengan erat.


“Terimakasih sudah menyelamatkan mama, mama tadi merasa nyeri di bagian bahu, jadi mama pikir obat anti nyeri apapun bisa mama minum untuk meredakan nyerinya,” Laurel tersenyum sambil tangan kirinya menepuk lembut tangan Rosalia yang menggenggam erat tangan kanan Laurel.


“Mama Ros tenang saja, Laurel pasti melakukan yang terbaik yang Laurel bisa. Tapi sekarang Mama masih perlu beristirahat, jangan terlalu banyak bicara,” Laurel melirik ke arah jam dinding di kamar tersebut.

__ADS_1


“Sudah jam 11 malam, Laurel akan pulang ke rumah, besok pagi Laurel akan kembali menjenguk mama Ros,” Rosalia mengangguk pelan, rasanya dia begitu senang melihat wajah menantunya malam ini, karena sebelum keberangkatannya ke Kalimantan Dave sempat bercerita tentang Laurel yang sudah menerima cintanya.


Rosalia begitu bahagia membayangkan kehidupan bahagia anaknya Dave ke depannya bersama Laurel yang sudah begitu lama dicintai anak pertamanya itu, apalagi mendengar perkataan Evelyn bahwa Laurel yang sudah menyelamatkannya malam ini, menambah rasa bahagianya melihat sosok Laurel di dekatnya malam ini.


"Evelyn, aku pulang dulu, tolong jaga mama Ros baik-baik, kalau ada apa-apa sewaktu-waktu kamu bisa menghubungiku. Ayo Frey, kita pulang dulu," Evelyn tersenyum mendengar kata-kata Laurel, Freya segera berjalan mendekat ke arah kakaknya.


"Iya kak, terimakasih buat bantuan kakak malam ini," Laurel tersenyum, tangannya menepuk lembut pundak kanan Evelyn sebelum berjalan meninggalkan ruangan tempat Rosalia dirawat.


# # # # # # #


Pagi ini Laurel sengaja berangkat lebih awal dari biasanya, karena sebelum memulai kerjanya Laurel ingin mengunjungi Rosalia, melihat bagaimana keadaannya.


Laurel sedikit mengernyitkan dahinya mencoba berpikir kenapa pagi-pagi sekali Dave datang ke rumah sakit, padahal harusnya baru nanti siang dia kembali dari Kalimantan, dan sejak kemarin malam tidak seperti biasanya Dave tidak menghubunginya sama sekali. Malam kemarin Laurel juga sengaja tidak menghubungi Dave karena rasa lelahnya sepulang dari rumah sakit dan sehari sebelumnya Dave sempat bercerita pada Laurel bahwa dia sedang benar-benar sibuk selama di Kalimantan sehingga Laurel tidak ingin mengganggu pekerjaannya.


Laurel mengamati Dave dari jauh, melihat dari pakaian yang dikenakannya dan wajah lelah Dave, terlihat bahwa Dave baru saja melakukan perjalanan yang tidak dekat dari tempat lain dan belum sempat mampir ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian, membuat Laurel merasa semakin penasaran dan dengan sedikit bergegas mengikuti langkah-langkah Dave dan Bryan, sehingga tanpa sadar tidak melihat Leo yang awalnya berencana pulang setelah mendapat jadwal jaga malam, yang berjalan di belakang Laurel memutuskan untuk mengikuti mereka juga, karena jujur saja Leo mengkhawatirkan sesuatu akan terjadi pagi ini. Kebenaran yang kemungkinan tidak bisa lagi disembunyikan oleh Dave.


"Ma, bagaimana mama bisa sembarangan minum obat seperti itu?" Begitu memasuki ruangan tempat mamanya dirawat Bryan langsung mengomel.

__ADS_1


Begitu Dave sampai di dekat Rosalia, dia langsung mengambil posisi duduk di samping tempat tidur pasien tempat mamanya terbaring dan Dave langsung meraih tangan mamanya dan menggenggamnya dengan erat, sedang Bryan yang juga baru saja mendarat dari Irlandia berdiri di dekat mereka sambil tersenyum lega mengamati wajah mamanya yang terlihat sudah lebih segar dibanding dengan di foto kemarin malam yang dikirim oleh Evelyn, walaupun begitu memasuki kamar tempat mamanya dirawat tadi Bryan langsung mengomel, menunjukkan dia begitu khawatir terhadap kondisi mamanya, sehingga semalam dia memutuskan untuk langsung terbang ke Indonesia dengan pesawat jet pribadi.


"Ma, apa mama baik-baik saja? Sudah kubilang konsultasikan dulu semua obat yang akan mama minum kepadaku," Dave berkata sambil mencium tangan mamanya yang ada di genggaman tangannya dengan lembut.


"Kak Laurel...," Evelyn yang kebetulan melihat ke arah pintu masuk langsung berbisik lirih sambil membeliakkan matanya melihat wajah pucat Laurel yang baru saja mendengar bagaimana Dave memanggil Rosalia, membuat Dave, Bryan, Augistin Shaw (papa Dave) sontak mengarahkan pandangannya ke arah pintu mengikuti pandangan mata Evelyn.


"Laurel...," Dave berbisik lirih, dan tanpa sadar langsung melepaskan tangan mamanya dan segera bangkit berdiri memandang ke arah Laurel dengan tidak kalah kaget, sedang Laurel yang benar-benar tidak menyangka dengan apa yang barusan dilihat dan didengarnya dengan reflek berjalan mundur dengan kakinya yang tiba-tiba terasa begitu lemas, membuatnya hampir saja terjatuh, dan dengan sigap Leo yang berdiri di belakang Laurel langsung membantu menopang tubuh Laurel dengan kedua tangannya agar tidak terjatuh di lantai.


"Laurel...," Dave kembali menyebutkan nama Laurel dengan suara lirih. Laurel buru-buru mengumpulkan kekuatannya, melepaskan tubuhnya dari Leo dan berlari menjauh, disusul oleh Leo, membuat Dave langsung bergerak untuk mengejarnya, tapi dengan cepat tangan kanan Augistin langsung menarik lengan kiri Dave, menahannya untuk tidak mengejar Laurel.


"Dave, mamamu sedang sakit," Rosalia langsung menarik tangan kiri Augistin yang berusaha menghalangi Dave meninggalkannya.


"Aku sudah baik-baik saja. Biarkan Dave mengejar istrinya, bagaimanapun Laurel adalah istri Dave. Bagi seorang suami, istri harus menjadi yang terutama dibanding yang lain," Augistin menarik nafas dalam-dalam, akhirnya dengan berat hati dilepaskannya tangan Dave, membiarkannya berlari mengejar Laurel.


“Dasar anak nakal,” Setelah Dave berlari menyusul Laurel, Augistin Shaw langsung berdesis pelan, membuat tangan Rosalia yang memegang tangan Augistin tersenyum sambil menggerak-gerakkan tangan suaminya.


“Kamu tahu, suami istri itu merupakan belahan jiwa, bagaimana seseorang bisa hidup bahagia jika jiwanya hanya tinggal setengah saja. Dave sudah lama kehilangan setengah dari jiwanya, dia sudah cukup menderita selama ini, kita sebagai orangtua harus mendukung dia mendapatkan apa yang selama ini sudah hilang dari hidupnya,” Augistin Shaw menarik nafas dalam-dalam, lalu menepuk-nepuk tangan Rosalia yang sedang memegang tangannya sebagai tanda dia setuju dengan apa yang baru saja dikatakan istrinya, lagipula mana bisa dia menolak permintaan wanita yang sudah puluhan tahun menjadi belahan jiwanya, memberikan banyak kebahagiaan dan tiga orang anak yang hebat baginya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2