CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
KEINGINAN DICKY


__ADS_3

Dengan gerakan pelan Laurel membuka kedua matanya, berusaha mengamati tempat di mana dia sedang berada sekarang. Sepanjang perjalanan, laki-laki yang sudah membawanya dan dengan sengaja menutup matanya, mengikat kedua tangannya, membuat Laurel benar-benar buta arah, tidak dapat mengetahui bahkan menebak tempat dia disekap saat ini.


Di tempat dia berada saat ini Laurel bisa mendengar suara cuitan burung dan tidak ada sama sekali suara kendaraan yang lewat. Dari apa yang ditangkap panca inderanya Laurel merasa yakin dia sedang berada di sebuah bangunan yang terletak di daerah yang cukup terpencil.


Setelah lewat beberapa saat, laki-laki yang membawanya membuka kain yang menutup mata Laurel, namun tanpa melepas ikatan tangan Laurel. Begitu Laurel sudah benar-benar membuka matanya, dilihatnya sosok laki-laki memakai jaket kulit bewarna hitam yang tadi membawanya berdiri tegak di depannya.


“Selamat datang di tempat peristirahatan kita Laurel,” Mendengar suara sapaan dari laki-laki yang berada di depannya. Suara dari seorang pria yang terdengar sedikit berat. Laurel berusaha menyipitkan matanya, berusaha mengamati dan menebak laki-laki yang sampai detik ini masih menutup wajahnya dengan sebuah masker bewarna hitam.


Laurel sedikit mengernyitkan dahi, mencoba mengingat suara dari laki-laki di depannya yang tampaknya pernah dia dengar. Melihat wajah Laurel yang terlihat sedang berpikir, dengan gerakan pelan laki-laki itu melepas masker di wajahnya. Begitu masker di wajah laki-laki terbuka semuanya, mata Laurel sedikit terbeliak melihat wajah tampan Dicky dengan tatapan mata tajam dan dinginnya.


“Dicky…,” Mendengar bibir Laurel menyebutkan namanya, Dicky berjalan mendekat ke arah Laurel, tangan kanannya langsung meraih dagu Laurel dan mengangkatnya ke atas agar mata Laurel menatap wajahnya.


“Bahkan sampai detik inipun, kamu tetap membuat rasa cintaku tidak memudar sedikitpun. Bahkan pengkhiatanmu bersama laki-laki itu tetap tidak mampu menghapuskan rasa cintaku padamu,” Laurel langsung menggerakkan wajahnya ke samping begitu mendengar kata-kata Dicky, menunjukkan bahwa Laurel tidk suka apalagi merasa tersanjung mendengar pernyataan cinta dari Dicky barusan.


Dengan gerakan cepat Dicky kembali mengarahkan wajah Laurel ke arahnya. Tatapan mata Dicky yang terlihat begitu dingin, membuat Laurel sedikit bergidik, namun dengan sekuat tenaga Laurel berusaha menahannya agar Dicky tidak melihat ketakutan di matanya, sehingga membuat Dicky bertambah berani untuk mengintimidasinya.


Sedikit banyak Laurel pernah belajar untuk membaca dan memprediksi sifat seseorang melalui gerakan tubuh, wajah maupun kata-katanya. Orang yang suka mengintimidasi seperti Dicky justru akan semakin senang jika tindakan dan ancaman yang dilakukannya membuat orang lain merasa gugup, walaupun orang seperti Dicky juga tidak akan suka menghadapi orang ynag berani melawannya. Dan Laurel berusaha agar Dicky tidak semakin menjadi jika melihat dia terlihat ketakutan, namun juga berusaha untuk tidak memancing kemarahan Dicky.


“Apa maumu Dic? Aku tidak pernah sekalipun membuat masalah denganmu. Bahkan seinagatku kita bukan orang yang cukup saling mengenal apalagi cukup akrab. Kenapa kamu selalu berusaha mengancamku?” Bibir Dicky menyeringai mendengar apa yang ditanyakan oleh Laurel kepadanya.


“Dewi Parwati, jangan berpura-pura tidak bersalah, apalagi berpura-pura tidak mengenaliku, titisan Dewa Siwa yang adalah suamimu sendiri,” Mendengar perkataan Dicky, Laurel mulai mengingat setiap kartu-kartu ucapan yang diberikan Dicky untuknya, yang selalu menuliskan tentang Dewa Siwa dan Dewi Parwati.

__ADS_1


Beberapa lama setelah hampir setiap hari Laurel mendapatkan bunga tulip merah dan kartu ucapan itu, Laurel sengaja menyempatkan diri untuk mencari dan mempelajari tentang cerita Dewa Siwa dan Dewi Parwati, sehingga Laurel cukup mengerti tentang apa yang sedang dibicarakan oleh Dicky. Dengan sedikit ragu Laurel melirik ke arah wajah Dicky, berusaha mencari cara agar Dicky mau melepaskannya.


“Dicky, kamu adalah Dicky, putra dari Pramono Agung. Sadarlah, kamu bukan titisan Dewa Siwa, dan aku juga bukan titisan Dewi Parwati. Aku Laurel Tanputra,” Mata Dicky melotot mendengar perkataan Laurel yang berusaha mengucapkannya dengan nada selembut mungkin.


Ahh…, aku harus membuat Dicky percaya bahwa aku bukan Dewi Parwati, dan dia bukan Dewa Siwa, seperti yang selama ini ada di angan-angannya, dan aku harus berusaha menjelaskannya seolah-olah aku benar-benar tahu tentang cerita Dewa Siwa dan Dewi Parwati, tanpa membuatnya marah, Laurel berkata dalam hati sambil berusaha memutar otak dengan cepat agar bisa membuat Dicky yakin selama ini dia sudah salah.


“Kalau memang aku adalah titisan Dewi Parwati yang merupakan adhi sakti Dewa Siwa, pasti sejak lahir aku sudah mengenal Dewa Siwa. Dan jika kamu memang titisan Dewa Siwa, pasti sejak pertama kita bertemu pasti aku juga sudah memiliki perasaan cinta padamu, dan ingatan tentang masa lalu Dewi Parwati aku akan ingat dengan jelas,” Laurel berusaha menjelaskan dengan bahasa yang dia tahu tentang hubungan antara Dewa Siwa dan Dewi Parwati yang sempat dia pelajari karena rasa penasarannya waktu itu, walaupun tidak banyak yang dia tahu tentang cerita itu karena dia hanya membacanya sekilas dan terpotong-potong.


“Kamu berbohong padaku. Kamu adalah titisan Dewi Parwati istriku. Kamu sengaja membuatku bingung karena kamu sudah mengkhianatiku, bahkan berani menikahi laki-laki lain,” Dicky berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dia percaya selama ini tidak salah dan apa yang baru saja dikatakan oleh Laurel adalah bohong.


“Kamu tahu hukuman berat apa yang akan menimpaku kalau aku benar-benar adalah Dewi Parwati yang berani mengkhianati Dewa Siwa,” Dicky tertegun sejenak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Laurel,membuat Laurel berharap Dicky mulai sadar dari halusinasinya.


“Aku tidak percaya, para Dewa tidak menghukummu karena mau memberikan sekali lagi kesempatan kepadamu untuk kembali kepadaku,” Laurel sedikit menahan nafasnya mendengar kata-kata Dicky yang sepertinya tidak bisa menerima penjelasan apapun darinya, membuat Laurel sedikit frustasi.


Laurel berusaha melirik ke sekeliling, menebak dia sedang ada dimana dan apa yang dia lakukan agar bisa terlepas dari Dicky. Dari bentuk bangunan dan udara sejuk yang ada di sekelilingnya, Laurel mulai bisa mengira-ira bahwa dia sedang berada di sebuah bangunan rumah atau villa di daerah dataran yang cukup tinggi, di kelilingi oleh pohon-pohon tinggi yang bisa dia lihat dari balik jajaran kaca jendela kecil yang berada di bagian atas ruangan itu, membuat udara di ruangan kosong yang sedang dia tempati bersama Dicky terasa segar. Posisi Laurel yang duduk di sebuah kursi dengan tangan terikat di belakang membuat Laurel beberapa kali mencoba melepaskan tangannya saat tatapan mata Dicky sedang menatap ke arah lain, sedang tidak mengawasinya.


“Jawab aku sekarang! Apa yang akan kamu pilih! Menjadi istriku kembali atau membakar dirimu sendiri agar kamu bisa segera bereinkarnasi kembali,” Laurel manarik nafas panjang mendengar ancaman dari Dicky.


Untuk beberapa saat Laurel terdiam, tidak menjawab pertanyaan Dicky. Dan tindakan Laurel itu ternyata cukup membangkitkan emosi Dicky. Sehingga mata Dicky melotot ke arah Laurel sekaligus terdengar suara dengusan yang menunjukkan bahwa suasana hati Dicky semakin memburuk melihat bagaimana Laurel tetap tidak memperdulikannya.


“Ayo ikut aku!” Dicky menarik lengan Laurel dengan sedikit kasar, dan langsung menyeretnya ke luar dari ruangan yang sepertinya dari desain ruangan dan penempatnya merupakan sebuah bangunan untuk garasi mobil.

__ADS_1


Tanpa mengeluarkan suara protes atau pertanyaan apapun, Laurel berjalan mengikuti Dicky yang wajahnya tampak kesal karena Laurel tidak menjawab pertanyaannya sama sekali terhadap pilihan yang dia tawarkan kepada Laurel.


Begitu sampai di luar ruangan, mata Laurel kali ini benar-benar terbeliak melihat di halaman belakang rumah tempat Dicky menyekapnya terlihat timbunan kayu dengan nyala api yang cukup besar. Tidak jauh dari api yang sedang menyala terlihat tumpukan kayu kering lain dan di sisi lain berjajar beberapa jurigen plastik. Melihat pemandangan di depannya itu Laurel hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.


Ternyata kamu benar-benar serius untuk membuatku membakar diriku jika aku tidak mau menikah denganmu. Tapi bagiku, ancamanmu tidak akan pernah membuatku mengkhianati Dave, Laurel berkata dalam hati sambil berusaha mengendalikan debaran di dadanya yang menunjukkan bahwa dia cukup takut dengan situasi yang sedang dihadapinya sekarang.


“Tetaplah di sini! Jika kamu berani melarikan diri, aku tidak akan segan-segan akan langsung membunuhmu dengan tanganku sendiri,” Dicky berkata dengan nada sedikit keras, setelah itu berjalan mendekati tumpukan kayu yang berada tidak jauh dengan kayu yang sudah terbakar.


Dengan gerakan cepat Dicky melempar beberapa kayu kering ke arah nyala api yang sedang membakar tumpukan kayu lainnya, membuat kobaran api semakin besar. Setelah itu Dicky berjalan mendekati jurigen-jurigen plastik yang berjajar rapi, kemudian mengambil dua jurigen dengan tangan kanan kirinya dan kembali mendekat ke arah Laurel yang hanya bisa terdiam terpaku dengan tangan masih terikat.


Aku tidak mungkin berlari dengan kondisi tangan terikat, apalagi dengan bayi di perutku. Aku tidak berani mengambil resiko itu, membahayakan diriku sendiri bagiku tidak masalah, tapi aku tidak mungkin membahayakan bayiku, Laurel berkata dalam hati dengan sedikit putus asa, karena tidak melihat kemungkinan dia bisa melarikan diri dari Dicky dengan kondisinya sekarang. Mata Laurel mengikuti apa yang sedang dilakukan Dicky yang tampak serius membuat api semakin membesar, dan Laurel yakin dengan tubuh terguyur bensin, tidak butuh waktu lama untuk membuat api sebesar itu membakar tubuh seorang manusia.


“Sekali lagi aku bertanya tentang apa yang akan kamu pilih saat ini! Menikah denganku atau membakar dirimu sendiri!” Dicky berkata dengan tatapan mata dingin dan tajamnya menatap dalam-dalam ke arah Laurel yang tetap mencoba untuk tenang.


Dengan gerakan cepat yang tidak disangka-sangka oleh Laurel, Dicky meletakkan salah satu jurigen di tangannya, lalu membuka tutup jurigen yang ada di tangannya yang lain dan langsung menyiramkan cairan yang ada di dalam jurigen itu ke dalam tubuhnya sendiri setelah itu dengan kasar melempar jurigen bekas yang sudah kosong ke sembarang arah. Bau tajam dari bensin segera tercium oleh hidung Laurel setelah apa yang dilakukan Dicky kepada tubuhnya sendiri.


“Aku tidak akan memilih satupun diantara apa yang baru saja kamu tawarkan. Aku tidak akan mengkhianati suamiku. Dan aku tegaskan sekali lagi aku bukan Dewi Parwati. Membakarku juga tidak akan pernah membuatku bereinkarnasi seperti yang kamu inginkan. Lebih baik kamu menyadarkan dirimu sendiri, bahwa apa yang selama kamu yakini itu hanya pikiranmu saja, hanya halusinasimu,” Dicky tertawa keras mendengar jawaban dari Laurel.


“Tanpa kamu jelaskan, aku sudah tahu jawabanmu. Ternyata kamu lebih memilih laki-laki kurang ajar itu. Laki-laki yang sudah berani-beraninya menikahimu. Merebutmu dari tanganku, mengubah takdir kita pada pertemuan kita di jaman ini,” Dengan gerakan cepat Dicky membuka jurigen yang tadi diletakkannya dan langsung membukanya dengan cepat dan mengguyur tubuh Laurel dengan cairan bensin yang ada di dalamnya.


Walaupun Laurel sudah bisa menyangka apa yang akan dilakukan Dicky dengan jurigen berisi bensin itu, tapi tetap saja tubuh Laurel tersentak kaget melihat dengan tidak perduli Dicky menguyur tubuhnya dengan bensin, bahkan ada aura kegembiraan dan bahagia di wajah Dicky yang merasa dia akan segera bereinkarnasi dengan cara membakar diri bersama Laurel. Dan berharap untuk ke depannya mereka bisa terlahir kembali dan akhirnya bersatu sebagai suami istri di masa depan, di reinkarnasi mereka selanjutnya.

__ADS_1


“Jangan khawatir Dewi Parwati, aku akan sama-sama menemanimu menemui Dewa Agni. Kita akan sama-sama membakar diri agar bisa sama-sama bereinkarnasi dalam waktu yang bersamaan juga dan bersatu kembali. Kali ini, di kehidupan kita ke depannya, aku tidak akan membiarkan seorangpun merebutmu dariku lagi. Aku bersumpah!” Dicky berkata sambil dengan gerakan kasar menarik pergelangan tangan Laurel dan menariknya ke arah api yang sedang menyala.


(Dewa Agni adalah dewa yang bergelar sepabagi pemimpin upacara, dewa api, dan duta para Dewa. Kata Agni itu sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “Api”. Nama Lain : Anala, Abhimani, Atar, Brihaspati, Dhananjaya, Dhumektu, Pavaka, Saptajihva, Vahni, Vitihotra. Agni dilukiskan sebagai dewa yang badannya berwarna merah, rambutnya adalah api yang berkobar, berkepala dua dan selalu bersinar, berdagu tajam, bergigi emas, memiliki enam mata, tujuh tangan, tujuh lidah, empat tanduk, tiga kaki, dan mengendarai biri-biri. Ciri-ciri yang dipaparkan tersebut memiliki arti dan filsafat tersendiri. Kadang kala ciri-ciri Agni tersebut berbeda dengan ciri-ciri Agni di suatu wilayah tertentu, karena penggambarannya juga tergantung pada persepsi masyarakat setempat. Dewa Agni bergelar sebagai Dewa pemimpin upacara karena dia ahli dalam segala hal yang berkaitan dengan upacara keagamaan. Dewa Agni pula yang diminta hadir dalam suatu upacara (terutama Agnihotra) sebagai duta para Dewa yang mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan).


__ADS_2