
Laurel yang sedang duduk santai di pinggiran kolam renang sambil menemani Dave yang sedang asyik berenang bersama Evelyn dan Bryan melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya. Sebentar kemudian Laurel bangkit dari duduknya, berjalan mendekat ke arah pinggiran kolam renang sambil membawa kimono handuk/jubah mandi (Jubah mandi, sebuah garmen pakaian luar, berbahan kain seperti handuk yang dipakai oleh pria atau wanita, biasanya dipakai di sekitar rumah, kolam renang dan kamar mandi yang terkadang juga dipakai setelah membasuh badan atau mengeringkan badan) dan handuk kecil untuk Dave. Begitu melihat sosok Laurel mendekat ke pinggiran kolam renang, Dave langsung berenang mendekat ke arahnya.
“Apa sudah waktunya?” Dave yang melipat tangannya di depan tubuhnya dan menumpukan kedua lengannya di pinggiran kolam renang. Dave mendongakkan kepalanya sambil bertanya kepada Laurel.
“Masih lama, tapi kamu harus membersihkan diri dulu sebelum kita berangkat ke rumah mereka,” Mendengar apa yang dikatakan Cladia, Dave langsung mengangkat tubuhnya dengan kedua telapak tangan menumpu pada pinggiran kolam dan kakinya segera naik dari dalam kolam.
Begitu Dave sudah keluar dari kolam renangnya, Laurel langsung membuka kimono handuk dan memakaikannya ke tubuh Dave yang langsung tersenyum, melihat bagaimana Laurel yang selalu begitu perduli padanya, setelah itu mereka memilih untuk duduk berdua di kursi santai yang ada di pinggiran kolam renang sambil Dave mengeringkan rambutnya.
Melihat Dave menghentikan renangnya, membuat Evelyn dan Bryan ikut keluar dari kolam renang dan menyusul Laurel dan Dave untuk duduk bersantai sambil berselonjor di kursi dekat kolam renang.
“Kak, besok aku kembali ke Irlandia, apa ada sesuatu yang perlu aku bawa ke sana?” Dave yang duduk diantara Laurel dan Bryan menoleh ke arah Bryan.
“Tidak, hanya saja cek beberapa file dari emailku, aku sudah menemukan beberapa hal yang mencurigakan dari laporan keuangan terakhir yang dikirimkan oleh pihak audit,” Bryan menganggukkan kepalanya, baru saja dia mau melanjutkan perkataannya, Dave langsung mengalihkan pandangannya ke Evelyn, untuk menghindari Bryan melanjutkan pembicaraan yang akhirnya akan berlanjut ke pembicaraan tentang pamannya dan Devan di depan Laurel.
“Evelyn, bagaimana dengan restauranmu? Apa kamu belum tertarik untuk bergabung bersama kami di perusahaan?” Evelyn yang duduk di sebelah kanan Bryan mencebikkan bibirnya mendengar pertanyaan Dave.
“Tidak mau. Kalau aku bergabung dengan kalian, kalau nanti aku bisa menunjukkan performa yang bagus jangan-jangan nanti kalian membuatku terjebak di perusahaan sedang kalian bersantai-santai,” Bryan langsung tertawa mendengar perkataan Evelyn, dan tangan Bryan langsung bergerak mengacak rambut Evelyn yang masih basah setelah berenang.
“Benarkah karena alasan itu? Atau kamu memang tidak mau meninggalkan Indonesia karena ada yang menarik hatimu untuk memilih tetap di sini?” Bryan bertanya sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Evelyn langsung memukul bahu Bryan dengan tenaga cukup keras, membuat Bryan meringis.
“Memang siapa yang membuat Evelyn begitu sulit meninggalkan kota ini?” Dave bertanya dengan wajah pura-pura tidak tahu, karena sejak kecil walaupun dia begitu menyayangi kedua adiknya, namun hubungan Evelyn lebih dekat dengan Bryan dibandingkan mereka berdua dengan Dave, sehingga antara Bryan dan Evelin, diantara mereka berdua tidak ada rahasia.
Mungkin karena Dave dianggap adik-adiknya terlalu pendiam, sehingga membuat kedua adiknya merasa sungkan. Baru akhir-akhir ini setelah kehadiran Laurel membuat Dave lebih ceria, membuat Bryan dan Evelyn mulai berani menggoda kakak pertamanya itu.
“Masak Kak Dave tidak tahu?” Bryan yang masih meringis sambil mengelus-elus bahunya yang sakit akibat pukulan Evelyn memandang Dave dengan wajah menyelidik, mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya barusan, apakah benar Dave tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
“Dia orang yang Kak Dave…,”
“Kak Bryan!” Melihat Bryan serius hendak menyebutkan nama seseorang, dengan cepat Evelyn beranjak dari kursinya dan langsung mendekat ke arah Bryan dan dengan cepat membungkam mulut Bryan dengan telapak tangan kanannya, membuat Bryan langsung tegagap kaget karena tanpa sengaja selain menutup mulutnya, Evelyn juga menutup dan menekan hidung mancungnya sehingga tidak bisa bernafas.
Melihat apa yang sedang dilakukan Evelyn kepada Bryan sukses membuat Dave dan Laurel tertawa terbahan-bahak.
“E…, ev.., ve…, lyn,” Bryan menyebut nama Evelyn sambil berusaha keras melepaskan telapak tangan Evelyn dari mulut dan hidungnya. Begitu Evelyn melepaskannya, Bryan langsung menarik nafas dalam-dalam sambil memegang dadanya.
“Dasar Evelyn!” Bryan berteriak sambil bangkit dari duduk selonjornya di atas kursi, membuat Evelyn langsung berlari menjauh.
“Sudahlah, kalian jangan ribut seperti itu. Tanpa Bryan katakan aku juga tahu siapa yang disukai oleh Evelyn,” Dave berkata sambil mengangkat sedikit salah satu ujung bibirnya,membuat Bryan dan Evelyn melotot kaget.
“Benarkah Kak Dave tahu? Wahhhh…, percuma saja aku selama ini mati-matian membantu Evelyn menyembunyikannya. Tapi Kak Dave…, Kak Dave biasanya bukan orang yang suka mengamati sekitar Kak Dave, lalu bagaimana cara Kak Dave tahu masalah itu?” Bryan langsung memandang ke arah Laurel, membuat Dave tertawa lebar, melihat bagaimana Bryan dengan cepat bisa menebak bahwa hal-hal seperti itu pasti Dave mendapatkan infonya dari Laurel, yang sebagai perempuan pasti lebih peka.
“Sudahlah, aku dan kakakmu Laurel ada janji dengan seseorang siang ini. Kami harus segera bersiap-siap. Kalau kalian masih mau di sini, silahkan saja menikmati tempat ini,” Dave bangkit berdiri, dan dengan gerakan lembut langsung membantu Laurel untuk berdiri.
“Apa perlu aku menyebutkan namanya di depan kalian?” Bryan yang penasaran ikut berjalan ke arah Dave.
Mendengar pertanyaan Dave, Bryan dan Evelyn saling berpandang-pandangan, sedang Laurel hanya bisa tersenyum geli melihat ketiga saudara itu begitu ribut gara-gara masalah Evelyn.
“Bryan, kamu harus cepat-cepat menentukan pilihan hatimu kalau tidak ingin didahului oleh Evelyn. Dan Evelyn, kalau mau jadi kekasih seorang dokter, harus siap sewaktu-waktu ditinggalkan sendirian jika ada panggilan darurat dari rumah sakit, apalagi saat aku tidak ada berarti dia yang harus menggantikan posisiku di rumah sakit,” Mata Evelyn dan Bryan kembali melotot mendengar apa yang dikatakan Dave, yang jelas-jelas menunjukkan siapa yang dimaksud Dave tanpa harus menyebutkan namanya, yaitu Leo.
“Ahhhhh…, Kak Dave! Ternyata selama ini Kak Dave sudah tahu!” Evelyn langsung berteriak, membuat Dave dan yang lain langsung tertawa.
# # # # # # #
__ADS_1
Begitu mobil Dave dan Laurel memasuki halaman rumah Ornado dan Cladia, mata Laurel lagnsung menyapu ke sekelilingnya, mengamati sekaligus menikmati pemandangan rumah mewah dan indah tersebut.
“Wahhh…, benar-benar seperti istana,”
“Tentu saja, siapa yang tidak kenal Ornado Xanderson? Pewaris tunggal Xanderson Corporation, yang merupakan salah satu perusahaan terbesar di dunia internasional. Salah satu pemegang kendali perekonomian dunia,” Laurel mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum.
“Sesuai dengan ciri khas pemiliknya, rumah ini benar-benar menunjukkan siapa Ornado Xanderson, apalagi usaha keluarga Cladia yang berada di bidang perhiasan, juga merupakan salah satu perusahan perhiasan terbesar di Indonesia. Mereka berdua pasangan yang sangat cocok,” Laurel bergumam pelan.
“Apa kamu ingin rumah seperti ini?” Mendengar pertanyaan Dave, Laurel langsung tertawa pelan.
“Tidak sama sekali. Aku tahu kamu mampu memberiku rumah seperti ini, tapi rasanya justru akan membuatku stress karena bangunan rumah yang terlalu besar, membuat komunikasi antar penghuni pasti lebih sulit, apalagi kita berdua adalah dokter yang kadang jam kerjanya tidak mengenal waktu. Kasihan anak-anak kita kelak jika karena rumah yang terlalu besar membuat komunikasi kita dengan anak-anak kita kelak terhambat,” Dave tersenyum mendengar jawaban Laurel, diraihnya pergelangan tangan kanan Laurel yang duduk di sampingnya dan diciumnya punggung tangan Laurel dengan mesra.
Begitu Dave dan Laurel turun dari mobilnya, seorang laki-laki berpakaian rapi segera menyambut mereka.
“Selamat siang, dengan dokter Laurel?” Laurel langsung mengangguk mendengar pertanyaan laki-laki yang barusan sudah menerima informasi dari para penjaga di dekat pintu gerbang tentang kedatangan dokter Laurel yang sudah ditunggu-tunggu oleh Nyonya mereka.
“Selamat datang dokter, silahkan masuk,” Laki-laki itu segera membukakan pintu rumah, dan dua orang pelayan segera menyambut mereka, menggantikan laki-laki itu untuk mengiringi Dave dan Laurel ke arah ruang tamu.
“Silahkan Anda menunggu sebentar, saya akan segera panggilkan Nyonya Cladia,” Selesai berkata demikian, kedua pelayan itu segera meninggalkan Dave dan Laurel yang duduk di sofa ruang tamu, dan tak berapa lama kemudian dua orang pelayan sibuk menyuguhkan minuman, buah dan kue di meja yang ada di hadapan Dave dan Laurel.
Laurel memandang ke arah salah satu sisi dinding ruang tamu, di sana terpasang foto pernikahan Ornado dan Cladia berukuran sangat besar, foto mereka berukuran sebesar manusia aslinya. Melihat itu Laurel mengulum senyum di wajahnya.
Ornado, benar-benar tidak pernah berubah, selalu menjadikan Cladia sebagai fokus utama dalam kehidupannya, dimanapun dia tidak akan pernah membiarkan ruang kosong tanpa menunjukkan keberadaan Cladia di dekatnya, Laurel berbisik dalam hati.
Dave dan Laurel sedang mengamati percakapan di grup chat rumah sakit yang sedang ramai karena membicarakan tentang Lusiana dan Feri yang akan mengadakan acara pertunangan dalam waktu dua bulan ke depan ketika mereka mendengar suara langkah kaki. Begitu mendengar langkah kaki mendekat, Dave dan Laurel langsung menghentikan kegiatannya dan sama-sama bangkit dari duduknya. Dan begitu melihat sosok Cladia, Laurel langsung terbeliak, menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tidak bisa menyembunyikan rasa senang, bahagia bercampur kagetnya.
__ADS_1