
"Freya! Siapa nama almarhum suamiku?" Freya tersentak kaget mendengar suara Laurel dengan nada emosi begitu Freya mengangkat panggilan dari kakaknya, apalagi dari nada suaranya terdengar jelas bahwa Laurel sedang menahan tangisnya.
"Kak..., kenapa tiba-tiba kakak menanyakan hal itu?"
"Jangan katakan kamu tidak tahu! Jangan membohongi kakak lagi Frey. Siapa namanya?" Laurel berkata dengan suara sesengukan yang sudah tidak bisa ditahannya lagi.
"Dave..., Dave Alexander Shaw," Suara tangis Laurel sudah tidak bisa ditahannya lagi mendengar Freya menyebutkan nama Dave Alexander Shaw sebagai nama almarhum suaminya. Laurel begitu menginginkan kebenaran tapi ternyata kebenaran itu begitu menyakitkan baginya.
“Kak…,” Freya berbisik lirih memanggil nama Laurel.
“Kak…, maaf,” Freya berkata lirih dan tiba-tiba saja airmata ikut menetes di pipinya membayangkan kemarahan Laurel saat ini.
“Teganya kalian semua membohongiku untuk kesekian kalinya!” Laurel mematikan handphonenya, dengan bergegas dia berlari ke arah taman rumah sakit, memilih duduk di bagian paling pojok bagian dari taman itu sehingga sedikit terlindung dari pandangan orang lain yang mungkin lewat atau sedang berada di taman itu dan melihatnya.
Baru beberapa detik Laurel duduk, seseorang menyusulnya duduk di sampingnya, membuat Laurel langsung mengalihkan pandangannya dan dengan cepat berusaha menghapus airmatanya supaya orang tersebut tidak melihat wajah sembabnya karena airmata.
“Kalau mau menangis, menangis saja, kamu tidak perlu menahannya supaya kamu bisa merasa lega. Aku akan duduk di sampingmu, sehingga orang tidak akan bisa melihat kamu menangis. Jangan perdulikan aku, aku tidak akan melihat atau mendengarkan tangisanmu, kamu boleh menangis sepuasnya, anggap saja tidak ada orang lain di dekatmu,” Leo berkata dengan lembut, setelah itu dia menarik nafas panjang, seolah dia benar-benar mengerti apa yang sedang dirasakan Laurel sekarang.
Laurel sedikit menahan nafasnya mendengar perkataan Leo, kali ini lagi-lagi Leo muncul saat dia dalam keadaan sulit, walaupun keberadaan Leo hari ini membuatnya sedikit malu karena sudah dua kali ini Leo menemukan dia dalam kondisi menangis, dan lagi-lagi karena Dave, dan satu hal yang membuat Laurel nyaman saat bersama Leo, dia seringkali ada di dekatnya saat dia sedang dalam masalah, tapi tidak pernah sekalipun Leo meminta penjelasan padanya apa yang sedang terjadi, seolah-olah Leo benar-benar mengerti apa yang sedang dialaminya tanpa dia harus menjelaskan.
__ADS_1
Kenapa aku bodoh sekali, seharusnya dari pertama kali bertemu Evelyn harusnya aku sadar bahwa wajahnya begitu mirip dengan Dave, Laurel memaki dirinya sendiri dalam hati, begitu menyesal menyadari kebodohannya selama ini, tapi siapa sangka bahwa suaminya memalsukan kematiannya untuk dapat menjebaknya seperti ini?
Untuk beberapa saat Laurel berkutat dengan pikirannya, sedang Leo yang duduk di sampingnya memilih berdiam diri dengan menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jas dokternya dan mata menatap lurus ke depan tanpa bersuara ataupun bergerak, membiarkan Laurel meluapkan emosinya dengan tangisannya.
“Laurel, kita harus bicara,” Dave yang baru saja menyusul mereka dengan berlari, berkata sambil berusaha mengatur nafasnya. Mendengar perkataan Dave, Laurel tetap diam tidak bergeming, membuat Leo bangkit dari duduknya, mengambil posisi berhadap-hadapan dengan Dave.
“Laurel, aku akan jelaskan semuanya padamu,” Tanpa memperdulikan Leo yang berdiri di hadapannya, Dave menggerakkan kepalanya agar bisa memandang ke arah Laurel yang masih duduk termenung di tempatnya dengan wajah berpaling dari pandangan Dave.
“Beri Laurel waktu untuk menenangkan diri, sebaiknya kamu pergi sekarang,” Dave sedikit terbeliak mendengar perkataan Leo yang baginya terdengar lancang.
“Kamu tidak memiliki hak melarangku bicara dengan istriku sendiri,” Mendengar Dave menyebutkan dirinya sebagai istrinya, Laurel langsung bangkit berdiri.
“Aku tidak bersedia mendengar penjelasan apapun dari seorang pembohong,” Laurel berkata tanpa memandang wajah Dave sama sekali.
“Aku tidak butuh penjelasan apapun darimu Tuan Shaw, aku lebih percaya dengan apa yang sudah aku lihat dan sudah aku dengar. Kalau Tuan Shaw tidak mau pergi dari sini, jangan khawatir, aku yang akan pergi,” Tanpa menunggu reaksi dari Dave, Laurel dengan cepat berjalan bergegas meninggalkan tempat itu membuat Leo hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, sedang kedua tangan Dave mengepal dengan erat.
# # # # # # #
Laurel menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang menopang di meja rias kamarnya, saat ini dia berusaha benar-benar menenangkan emosi di dadanya. Kejadian tadi pagi begitu membuat pikirannya kacau sehingga dia memutuskan untuk meminta ijin meninggalkan rumah sakit lebih awal, dia tidak lagi perduli dengan segala peraturan, penalti, konsekuensi dari tindakannya tidak masuk kerja dengan alasan kepentingan pribadi, bahkan dia sengaja hanya memberikan info melalui pesan via handphone kepada Mira tanpa mengurus administrasi ijin untuk pulang lebih awal, karena baginya diijinkan atau tidak, dia akan tetap memilih untuk pulang, apalagi setiap ijin harus ditanda tangani oleh Dave sebagai kepala rumah sakit, satu-satunya orang yang paling tidak ingin ditemui Laurel untuk saat ini.
__ADS_1
Setelah kejadian tadi pagi begitu banyak panggilan telepon di handphone Laurel yang dengan sengaja dia abaikan, bahkan dengan sengaja dia mematikan handphonenya untuk dapat menenangkan pikirannya.
Hanya satu panggilan telepon yang dia terima sepanjang hari ini sebelum dia benar-benar mematikan handphonenya, dari Mama Denia, yang tentu saja memohon maaf atas tindakannya membantu Dave membohonginya selama ini. Laurel hanya bisa mengatakan bahwa dia memaafkan Mama Denia, walaupun untuk sekarang dia belum bisa seratus persen memaafkan apalagi harus berpura-pura menganggap tidak terjadi apa-apa.
Denia hanya bisa mengiyakan perkataan Laurel, bagaimanapun sejak awal dia adalah orang yang paling bersalah dalam kasus ini karena membiarkan pernikahan paksa ini terjadi, memaksa Laurel memikul tanggung jawab dan menjadikannya korban untuk membantu kondisi ekonomi keluarga disaat posisinya masih seorang gadis remaja, sedang dia sebagai seorang ibu tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak memiliki kemampuan lagi untuk menyelesaikan masalah keluarga mereka saat itu.
Laurel menarik nafas panjang sebelum akhirnya menjauhkan kedua telapak tangannya dari wajahnya, kepalanya sedikit mendongak ke atas, membuat matanya langsung menatap ke arah jam dinding hadiah pindah rumah dari Dave dan foto dirinya dalam gaun pernikahannya 7 tahun lalu, membuatnya mau tidak mau teringat akan kejadian tadi pagi dimana dia mengetahui tentang kebenaran yang benar-benar tidak disangkanya. Kebenaran yang membuatnya malu, sakit hati, tidak terima, sedih, merasa dipermainkan, dan berbagai perasaan lain yang bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya.
“Non,” Suara ketukan pintu dan panggilan dari Rita membuat Laurel terbangun dari lamunannya dan menoleh ke arah pintu.
“Masuk Rit,” Dengan perlahan Rita membuka pintu kamar majikannya sambil membawa nampan berisi makanan.
“Non, sudah sedari pagi tadi non mengurung diri di kamar, ini sudah sore, non harus makan kalau tidak nanti non sakit,” Laurel memandang wajah Rita dalam dalam, rasanya Rita merupakan seorang asisten rumah tangga yang tidak akan mungkin memiliki inisiatif sebesar ini.
“Siapa yang menyuruhmu mengantar makanan ke kamarku Rit?” Wajah Rita berubah sedikit pucat mendengar pertanyaan dari Laurel.
“Rit? Apa ada yang menyuruhmu?” Laurel berkata dengan pandangan mata penuh selidik, membuat Rita tidak berani menatap langsung ke arah mata Laurel.
“Ehmmm, anu..., Tuan Dave non, barusan Tuan menelpon menanyakan kabar nona dan meminta kami untuk lebih memperhatikan jadwal makan nona," Rita menjawab dengan suara lirih.
__ADS_1
“Tuan Dave? Hah!?” Laurel menarik nafas dalam-dalam sambil mendongakkan kepalanya ke atas.
Tentu saja! Dave! Dari cerita Freya dia menempati rumah ini sebelum aku kembali ke Indonesia, pasti semua pelayan di sini mengenal dia sebagai Tuan mereka! Apa sekarang kamu mau menunjukkan bahwa kamu memiliki kuasa atas aku dan tempat ini sebagai suamiku? Laurel merutuk dalam hati.