
“Ehmmm…,” Laurel langsung melirik ke arah Dave yang sedang berkonsentrasi dengan setir mobilnya begitu dari bibir Dave terdengar suara gumaman pelan.
“Kenapa Dave? Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu?” Dave yang baru saja membelokkan mobilnya ke kiri setelah keluar dari pintu gerbang rumah Ornado dan Cladia melirik pelan ke arah Laurel yang semenjak keluar dari rumah kedua sahabatnya tadi terlihat seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang berat.
“Tidak sih…, hanya saja…, ada sesuatu yang sepertinya mengganjal melihat Ornado dan Cladia. Mereka berdua sepertinya orang-orang baik, tapi kesan yang aku lihat hubungan mereka sebagai suami istri sepertinya terlihat canggung sekali. Seperti ada yang tidak beres,” Mendengar kata-kata Dave, Laurel menarik nafas dalam-dalam.
Matamu ternyata cukup tajam, bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres diantara mereka padahal kamu tidak mengenal mereka dan baru bertemu dengan mereka hari ini, Laurel berkata dalam hati sambil meneguk botol berisi air mineral yang baru dibukanya.
“Melihat mereka berdua orang baik-baik, rasanya tidak mungkin hubungan mereka terlihat dingin karena adanya orang ketiga, benar tidak? Apalagi kalau melihat Ornado, dari tatapan matanya dan gerak tubuhnya benar-benar terlihat dia begitu mencintai istrinya. Sepanjang menunggu hasil pemeriksaanmu, aku bisa melihat bagaimana Ornado sepertinya begitu khawatir dengan kondisi kesehatan istrinya,” Laurel mengangguk-angukkan kepalanya mendengar perkataan Dave.
“Seperti yang pernah aku bilang, di mata Ornado, hanya ada satu orang yang dianggapnya wanita, Cladia Sanjaya. Hari ini aku senang sekali bisa bertemu dengan Ornado, apalagi Cladia, tapi hari ini aku juga merasa sedikit sedih mendengar apa yang sudah dialami oleh Cladia selama kami berpisah,” Laurel menghentikan bicaranya sambil memandang ke arah Dave yang kembali melirik Laurel, menunggu Laurel melanjutkan bicaranya tentang Cladia.
“Cladia mengatakan padaku bahwa sejak kejadian lima tahun lalu, trauma yang dialaminya menyebabkan dia mengalami phobia terhadap laki-laki, kecuali dengan Jeremy, kakak kandungnya,” Mendengar penjelasan Laurel, Dave mengernyitkan dahinya.
“Termasuk dengan Ornado? Suaminya sendiri?” Dave bertanya sambil menggigit ujung bibir bawahnya, seolah-olah sedang berpikir keras tentang sesuatu.
“Iya, termasuk dengan Ornado. Mungkin karena itu kamu melihat bagaimana Cladia terlihat begitu canggung berada di dekat Ornado tadi, seperti dengan sengaja menjaga jarak, bahkan dari posisi duduk mereka di depan kita tadi, benar-benar terasa ya kalau Cladia begitu menghindari kontak fisik dengan Ornado?” Dave mengangukkan kepalanya dengan pelan sebagai tanda setuju dengan yang dikatakan Laurel barusan.
“Aku berharap Cladia segera sembuh dari phobianya. Cladia orang yang baik, dia berhak untuk bahagia setelah banyak hal buruk yang sudah dialaminya di masa-masa remajanya,” Laurel berkata dengan suara lirih, menunjukkan dia begitu bersimpati terhadap kondisi Cladia.
“Walaupun sulit, aku rasa masih ada kemungkinan Cladia sembuh, apalagi kalau aku lihat Ornado begitu mencintai Cladia, dia pasti akan melakukan segala cara untuk mendukung dan menyembuhkan Cladia. Dan walaupun merasa tidak nyaman, sepertinya di depan orang lain Cladia tetap berusaha untuk menunjukkan sikap menghargai dan hormatnya kepada suaminya. Paling tidak, tindakan Cladia itu menunjukkan bahwa Cladia mengakui status Ornado sebagai suaminya. Itu langkah awal yang bagus untuk Ornado ke depannya bisa lebih dekat dengan Cladia,” Dave langsung menanggapi perkataan Laurel dengan cepat.
__ADS_1
“Ahhh…, mulai sekarang aku harus sering-sering menghubungi mereka agar bisa membantu kesembuhan Cladia,” Laurel berkata sambil membuka layar handphonenya, menyimpan dan memberi nama Cladia ke nomer handphone Cladia yang tadi melakukan miscall padanya untuk saling bertukar nomor hanpdhone.
"Semoga saja mereka bisa menikmati kebahagiaan secepat mungkin," Laurel kembali berkata dengan nada pelan.
“Eh, Dave. Bagaimana menurutmu Ornado? Selama tadi kami di kamar, apa saja yang kalian bicarakan? Ceritakan padaku,” Dave tersenyum mendengar pertanyaan Laurel, yang terlihat sekali dari wajahnya begitu bersemangat menanyakan pendapatnya tentang Ornado dan sepertinya Laurel begitu berharap ke depannya Dave dan Ornado bisa menjadi teman baik.
“Laki-laki hebat yang menarik, sepertinya kami akan bisa menjadi teman baik, apalagi tadi kami berdua sudah membuat janji untuk saling bertemu, untuk berlatih taekwondo bersama. Ah…, akhirnya setelah sekian lama. Aku menemukan kembali teman untuk sama-sama berlatih taekwondo,” Laurel terkikik geli mendengar apa yang dikatakan Dave, sekaligus merasa senang melihat Dave terlihat merasa nyaman bersama dengan Ornado. Ke depannya dengan hubungan Dave dan Ornado yang baik, akan membuat Laurel bisa kembali dekat dengan Cladia, saat ini, itu yang ada di pikiran Laurel dan membuatnya tersenyum bahagia.
“Mo cuisle, mumpung kita ada di luar sekarang, ada tempat yang mau kamu kunjungi atau kamu mau membeli sesuatu sebelum kita pulang ke rumah?” Laurel langsung teringat sesuatu mendengar pertanyaan Dave.
“Bagaimana kalau kita mengunjungi Tante Lina? Aku baru ingat, di pesta pernikahan kita kemarin dia tidak datang. Tante juga tidak menjelaskan apapun alasan tentang ketidakhadirannya di pesta kita,” Dave sedikit menahan nafasnya mendengar permintaan Laurel.
“Kenapa Dave? Apa kamu keberatan? Tante Lina adalah satu-satunya keluarga papa yang selalu mendukungku. Dia sudah banyak membantuku saat aku berada di Amerika dan tidak memiliki apapun. Bahkan aku berharap suatu ketika aku bisa membalas kebaikan Tante Lina,” Dave memperlambat laju mobilnya, lalu menoleh ke arah Laurel.
“He-em,” Laurel mengeluarkan suara pelan sambil mengangguk dengan semangat, membuat Dave hanya bisa mengangkat bahunya.
“Ok, aku akan antar kamu ke sana,” Dave kembali menambah kecepatan mobil nya.
Ada baiknya kamu melihat sendiri dan menilai sendiri, bukan mendengar penjelasan dariku. Mungkin setelah sekian lama, sudah waktunya kamu tahu tentang kebenaran yang ada selama ini, Dave berbisik dalam hati sambil matanya menatap lurus ke depan, mencoba berkonsetrasi terhadap kemudi mobilnya.
# # # # # # #
__ADS_1
Saat mobil mereka memasuki Tante Lina, Laurel sedikit mengernyitkan alisnya karena merasa sedikit heran. Setelah membantu keuangannya selama di Amerika kurang lebih 2-3 tahun, Tante Lina selalu mengatakan maaf kepadanya karena kondisi keuangannya yang menurun drastis membuatnya tidak lagi bisa membantunya. Namun jika Laurel melihat kondisi rumah Tante Lina sekarang, sepertinya jauh dari kata kekurangan, justru saat ini yang dilihatnya adalah sebuah rumah mewah yang hampir tidak dikenalinya lagi setelah sekian lama tidak berkunjung di tempat ini.
“Selamat sore pak, ada yang bisa kami bantu?” Seorang penjaga pintu dengan pakaian satpam mendekat ke arah mobil Dave dan menyapa ramah kepada Dave yang menurunkan kaca mobilnya.
“Siang pak, kami mau bertemu dengan Tante Lina,” Laurel langsung mendekatkan kepalanya ke arah Dave agar satpam itu bisa melihat wajahnya dan mendengar perkataan Laurel, mewakili Dave untuk mengatakan tujuan kedatangan mereka.
“Maaf, tapi apa Bapak dan Ibu sudah membuat janji dengan beliau?” Laurel sedikit mengernyitkan dahinya, sejak kapan keamanan di rumah tantenya terlihat begitu ketat sejak kapan begitu sulit untuk bertemu dengan tantenya.
“Apakah harus membuat janji dulu pak? Bisa minta tolong sampaikan ke beliau, saya keponakannya, Laurel, ingin bertemu,” Mendengar permintaan Laurel, satpam itu terlihat terdiam, merasa ragu-ragu untuk bertindak, sampai ada seseorang laki-laki berumur sekitar 60 an berjalan mendekat.
Begitu melihat ada mobil berhenti di depan pintu gerbang dan melihat satpam terlihat kikuk, laki-laki itu langsung berjalan mendekat ke arah mereka. Dengan pelan laki-laki itu mendekatkan kepalanya ke arah jendela mobil Dave yang terbuka.
“Non Laurel?” Laki-laki berumur 60 an itu tampak begitu kaget melihat sosok Laurel yang duduk di dalam mobil, di samping Dave.
“Eh, Pak To?” Laurel langsung tersenyum ceria melihat kehadiran laki-laki yang dipanggilnya dengan sebutan “Pak To” itu. Laki-laki yang merupakan penjaga rumah Tante Lina sejak lama, bahkan sejak Laurel masih balita, Pak To adalah salah seorang yang selama ini dipercaya oleh Tante Lina untuk menjaga dan mengatur para pelayan di rumah Tante Lina.
“Pak To kenal dengan Bapak dan Ibu ini? Mereka meminta ijin untuk bertemu dengan Bu Lina,” Pak To langsung tertawa mendengar pertanyaan dari satpam tersebut.
“Ah…, kenapa Non Laurel harus minta ijin mau mengunjungi tantenya. Ayo-ayo…, persilahkan mereka masuk. Ibu pasti senang bertemu dengan Non Laurel setelah lama tidak bertemu,” Pak To langsung memberi perintah kepada satpam yang bertugas menjaga pintu untuk membukakan pintu. Dan satpam itu hanya bisa menuruti perintah Pak To.
Saat Pak To membukakan pintu rumah untuk mempersilahkan Laurel dan Dave untuk masuk, kebetulan Tante Lina sedang berada di ruang tamu dengan dua orang wanita yang tidak dikenal oleh Laurel. Mendengar pintu rumah terbuka, Tante Lina langsung mengalihkan pandangan matanya dari kedua tamunya kea rah Laurel.
__ADS_1
“La..., La…, Lau…, rel?” Tante Lina begitu kaget melihat kedatangan Laurel yang tiba-tiba, bahkan dia tidak dapat menyembunyikan rasa kagetnya sehingga menyebutkan nama Laurel dengan terbata-bata.
“Selamat sore Tante Lina…,” Tanpa menunggu lama, Laurel berjalan dengan sedikit cepat ke arah tantenya dan langsung memeluknya dengan begitu erat, sedang Tante Lina tanpa disadari oleh Laurel wajahnya berubah sedikit pucat begitu melihat kehadiran Laurel di rumahnya, dan Dave dengan jelas dapat melihat perubahan itu.