CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
BERUSAHA MENJAUH DARIMU


__ADS_3

Laurel baru saja selesai memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit dan keluar dari mobilnya, ketika tiba-tiba seseorang langsung menarik lengannya, membuatnya tersentak kaget.


“Lus, aku kira siapa,” Lusiana langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir mendengar Laurel memanggil namanya, dan dengan cepat menarik tangan Laurel ke arah ruangan kantornya yang kebetulan letaknya dekat dengan pintu masuk dari tempat parkir mobil ke dalam gedung rumah sakit.


“Jelaskan sekarang apa yang terjadi?” Begitu masuk ke dalam kantornya, Lusiana langsung mengunci pintu kantornya dari dalam.


“Apalagi yang perlu aku jelaskan? Kemarin sudah aku tuliskan semuanya di pesanku,” Laurel mengernyitkan dahinya melihat wajah Lusiana yang terlihat begitu bersemangat pagi ini.


“Aku masih belum percaya. Bos? Bos adalah suamimu yang selama ini mengaku telah meninggal?” Dengan malas Laurel menganggukkan kepalanya, membuat mata Lusiana melotot.


“Hebat! Aku benar-benar tidak menyangka ternyata kalian sudah menikah! Selamat ya,” Lusiana berkata sambil tertawa senang, membuat Laurel melotot dengan wajah tidak suka.


“Apa maksudmu dengan hebat? Selamat?” Mendengar pertanyaan Laurel dengan nada marah, Lusiana tersenyum malu-malu dengan menggaruk sedikit rambut di kepalanya.


“Ah, kamu tahu bos kita adalah laki-laki idaman bagi banyak wanita, dan ternyata dia adalah suamimu, hebat,”


“Hentikan candaanmu, kamu tahu apa yang sudah dilakukan dia padaku, dia sudah membohongiku habis-habisan, apanya yang hebat? Bahkan saat menikah dengannya dia memaksaku menandatangani surat nikah bukan karena aku yang menginginkan pernikahan itu,” Lusiana tersenyum mendengar perkataan Laurel yang terlihat masih dipenuhi dengan emosi.


“Lalu, menurutmu bagaimana seharusnya sebuah pernikahan itu?” Laurel mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Lusiana.


“Menikah bagiku harus didasari oleh rasa saling cinta, tidak dipaksakan seperti ini,”

__ADS_1


“Tepat sekali! Dan sekarang, siapa pria yang kamu cintai?” Laurel sedikit tersentak, merasa terjebak oleh kata-katanya sendiri.


“Sudah, aku tidak mau membahas masalah ini, aku mau mengakhiri semuanya,” Lusiana berjalan mendekat ke arah Laurel, lalu menepuk-nepuk bahunya dengan lembut.


“Tidak apa, sekarang kamu masih dipenuhi emosi. Aku tahu kita para wanita paling gampang emosi jika merasa direndahkan, dibohongi. Saat ini kamu belum bisa berpikir jernih. Aku tahu kamu merasa sakit hati dan tidak terima telah dibohongi oleh bos, tapi lihat dari sisi lainnya, sebelum kamu tahu kebenaran ini, kamu benar-benar sudah jatuh cinta padanya. Aku yakin bos melakukan semua ini karena dia benar-benar mencintaimu, aku pikir itu alasan kuat untuk memaafkannya dan kalian bisa mulai kehidupan baru kalian sebagai suami istri yang saling mencintai dan…,”


“Jangan harap!” Laurel langsung memotong perkataan Lusiana.


“Ah, sudahlah, untuk saat ini lebih baik kita tidak membicarakan ini sampai hatimu benar-benar sudah tenang dan otakmu sudah benar-benar dingin. Jangan mengambil keputusan saat emosi kalau tidak ingin menyesal di kemudian hari,” Lusiana memeluk bahu Laurel dan mengajaknya keluar dari ruangannya.


# # # # # # #


“Semoga cepat pulih,” Laurel berkata pelan sambil berusaha menyungingkan senyum di wajahnya, membuat Rosalia yang sudah bersiap untuk pulang ke rumah berjalan mendekat ke arahnya, menepuk bahunya lembut.


“Lebih baik Mama Ros memikirkan kesehatan mama, semoga cepat pulih, jangan lupa menyingkirkan semua analgesik (obat pereda nyeri) yang dapat menimbulkan alergi pada mama, jangan sampai kejadian berbahaya seperti ini terjadi untuk kedua kalinya ya ma,” Rosalia tersenyum lembut mendengar perkataan Laurel yang begitu menunjukkan perhatian kepadanya, tapi Rosalia sadar betul dengan Laurel tidak menjawab pertanyaannya tentang Dave, saat ini Laurel benar-benar tidak ingin membahas masalah Dave sama sekali.


“Dave benar-benar mencintaimu, dan mama pastikan cinta Dave bukan suatu kebohongan, mama harap kamu memberi kesempatan kepada Dave dan…,” Rosalia langsung menghentikan bicaranya begitu melihat sosok Dave, Bryan dan Augistin, tiga pria tampannya berjalan masuk ke ruang rawat inapnya.


“Semoga cepat sehat kembali,” Begitu Laurel melihat sosok ketiga pria itu, terutama Dave, Laurel segera menjauhkan tubuhnya dari Rosalia, menganggukkan kepalanya sebagai tanda berpamitan kepada Rosalia dan langsung bergerak untuk meninggalkan ruang rawap inap tersebut, sebentar kemudian juga menganggukkan kepalanya ke arah Augistin sebagai tanda hormat, lalu berjalan melewati Dave yang ada di dekat pintu tanpa menoleh ke arah Dave sama sekali, sedang Dave sejak dia datang di ruangan itu matanya tidak pernah lepas menatap sosok Laurel, mengikuti setiap gerakan yang dilakukan Laurel sampai akhirnya Laurel berjalan melewatinya tanpa perduli dan menjauh dari pandangan matanya.


Melihat kejadian itu Bryan hanya bisa menggaruk-garuk keningnya yang sebenarnya tidak gatal dan Augistin menepuk-nepuk pundak Dave lembut melihat apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


“Jangan khawatir, tunjukkan ketulusanmu, papa yakin dia akan menyerahkan dirinya kepadamu dengan sukarela, wanita saat sedang dipenuhi kemarahan lebih suka memakai perasaannya daripada logika saat memutuskan sesuatu, kalau kamu mencintai seorang wanita, maka kamu harus bersabar menghadapinya,” Dave menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia memaksakan untuk tersenyum kepada mamanya yang memandangnya dengan tatapan sendu karena mengingat hubungan anaknya dengan Laurel yang kembali memburuk, padahal kali ini dia benar-benar berharap Laurel bisa mencintai Dave dan selalu berada di sisi Dave, karena rasanya sebagai mama dia sudah cukup ikut menderita melihat bagaimana Dave yang tersiksa selama 7 tahun ini tanpa Laurel di sisinya. Sudah sekian lama dan Rosalia ingin seharusnya sekarang waktunya Dave untuk bahagia.


# # # # # # #


Siang ini rasanya Laurel benar-benar tidak ingin melangkahkan kakinya ke dalam ruangan itu lagi, ruangan Dave, tapi sejak kejadian kemarin pagi, dia sudah memutuskan bahwa hari ini dia harus bertemu Dave dan mengakhiri semuanya dengan menyerahkan surat pengunduran dirinya, dan mengembalikan semua yang diberikan Dave padanya.


Laurel menyentuh liontin yang tergantung di kalung yang saat ini masih melingkar di lehernya, tanpa sadar airmata Laurel menetes saat jari-jari tangannya membuka liontin itu dan melihat inisial huruf D dan L yang menyatu di dalamnya. Dia teringat saat Dave mengalungkan kalung itu di lehernya, teringat bagaimana lembutnya Dave memperlakukan dia, tapi saat dia mengingat kemarahan di hatinya, dengan cepat dia berusaha menghapuskan ingatannya tentang Dave.


Kemarahan yang ada di dadanya begitu besar, bagi Laurel kemarahannya saat ini mungkin jauh lebih besar daripada cintanya kepada Dave, tapi entah mengapa bahkan sejak kejadian kemarin harusnya dia langsung melepaskan kalung itu dari lehernya, tapi sampai detik ini dia masih membiarkan kalung itu melingkar di leher jenjangnya.


Sambil menarik nafas dalam-dalam, kedua tangan Laurel bergerak ke tengkuknya (bagian belakang lehernya) dan melepaskan pengait pada kalung itu sehingga terlepas dari lehernya, dengan erat digenggamnya kalung tersebut di telapak tangannya sebelum akhirnya dimasukkannya ke dalam amplop bersama surat pengunduran dirinya. Saat ini yang dia inginkan adalah menjauhkan dirinya dari Dave dan mencoba untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Jika suatu hari kelak hatinya sudah lebih tenang, dia baru akan memikirkan lagi apa yang akan dia putuskan tentang hubungannya dengan Dave.


# # # # # # #


Laurel menarik nafas dalam-dalam, untuk beberapa detik dia berdiri di depan pintu kantor Dave, mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan laki-laki itu siang ini.


“Masuk,” Begitu mendengar suara sahutan dari dalam, Laurel yang baru saja mengetuk pintu ruangan Dave dengan pelan membuka pintu ruangan itu. Dave yang awalnya terlihat sibuk membaca file-file yang ada di depannya langsung mengangkat kepalanya begitu mendengar suara pintu dibuka, dan sebuah senyuman di bibirnya langsung tersungging menyambut kedatangan Laurel, membuat Laurel menarik nafas panjang, melihat bagaimana Dave bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa kemarin, matanya tetap menatapnya dengan lembut dan mesra, wajahnya juga tetap menyambutnya dengan senyum manis di bibirnya, seolah-olah Dave tidak merasa telah melakukan kesalahan apapun padanya.


Laurel sedikit mendengus kesal, karena melihat bagaimana Dave membuat suasana seolah-olah siang ini dia sengaja datang ke sini untuk menemui kekasihnya, atau…, lebih tepatnya, menemui suaminya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2