CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
MENUNGGUMU


__ADS_3

"Sore, waktunya kita pulang," Laurel menyapa dan langsung berjalan sambil berdiri di tengah-tengah Nia dan Lusiana sambil kedua tangannya memeluk mereka, membuat Lusiana dan Nia langsung memandang wajah Laurel dengan tertawa sambil mengernyitkan alis mereka.


"Wooou, sore ini sepertinya Laurel ceria sekali? Apa sedang menang undian?" Nia berkata sambil melirik ke arah Lusiana yang langsung pura-pura tidak dengar, karena dia tahu pasti besok pagi Dave kembali ke Indonesia. Walaupun tidak tahu dengan pasti apa keputusan Laurel, tapi melihat wajah Laurel yang terlihat bahagia, sedikit banyak Lusiana percaya Laurel pasti juga menantikan kedatangan Dave.


"Masak sih? Bukannya aku sama seperti biasanya? Memang apanya yang beda denganku hari ini?" Laurel mencubit lengan Nia pelan.


"O, ya? Benarkah begitu?" Nia memandang Laurel sambil tersenyum menggoda, karena memang sore ini dilihatnya Laurel terlihat jauh lebih ceria dari biasanya.


"Memangnya kenapa? Memangnya setiap hari wajahku tidak bisa tersenyum seperti hari ini?" Lusiana terkikik mendengar perkataan Laurel, akhirnya Lusiana tidak tahan juga untuk tidak menggoda Laurel.


"Besok hari yang sudah lama kamu tunggu kan?" Wajah Laurel langsung memerah mendengar pertanyaan Lusiana.


"Memang besok ada sesuatu yang penting? Ayolah, kalian jangan bermain rahasia-rahasian kepadaku," Nia bergantian memandangi wajah Laurel dan Lusiana dengan wajah penasaran.


"Laurel harus membayar janjinya kepada seseorang besok. Eh, aku harus pergi duluan, jam tangan Feri tertinggal di rumahku ketika Feri mampir memberikan obat untuk adikku kemarin malam," Lusiana buru-buru berjalan menjauh sebelum Nia bertanya lebih dalam lagi, membuat Nia langsung mengarahkan pandangannya kepada Laurel dengan serius, mencoba menyelidik apa yang sebenarnya terjadi karena kata-kata Lusiana barusan tentang Laurel sedikit mengganggu pikirannya, membuatnya begitu penasaran.


"Eh, ada apa sebenarnya Laurel? Memang ada apa besok?" Laurel berusaha mengalihkan pandangannya, tapi Nia langsung bergerak mendekat ke arah Laurel dan mengambil posisi berdiri di hadapan Laurel.


"Ayolah ada apa? Ceritakan padaku," Laurel sedikit tersenyum dengan wajah berusaha tenang.


"Ehem, tidak apa-apa, ada seseorang temanku akan datang dari tempat jauh besok," Nia mengernyitkan dahinya sambil menggerakkan kepalanya ke samping, dari wajahnya dia tampak belum puas dengan jawaban Laurel tapi melihat sosok Roy dan Arnold yang berjalan mendekat ke arah mereka membuat Nia sedikit berpikir apakah dia tetap bertanya lebih lagi kepada Laurel.


"Siapa? hanya sekedar teman biasa atau teman istimewa?" Semburat merah sedikit menghiasi pipi Laurel mendengar pertanyaan Nia.


"Teman," Laurel berusaha meyakinkan Nia yang baru saja mencoba mengorek informasi lebih lagi tapi Roy dan Arnold yang mendekat ke arah mereka membuatnya membatalkan niatnya.

__ADS_1


"Sore Laurel, Nia, kalian sudah mau pulang?" Roy yang lebih dahulu menyapa mereka langsung berhenti begitu dia dan Arnold berada di dekat Laurel dan Nia.


"Iya, sebelum hujan turun lagi, mendungnya sudah gelap sekali," Arnold melirik ke arah Laurel yang kulitnya belum secerah biasanya, masih ada sedikit warna pucat pada kulitnya.


"Apa kamu masih kurang enak badan?" Laurel tersenyum mendengar pertanyaan Arnold, sejak kejadian dia menolak Arnold, laki-laki itu tidak terlalu banyak bicara padanya, tapi laki-laki itu juga tidak berusaha menghindarinya, sepertinya Arnold masih berusaha berteman dengannya, membuat Laurel merasa lega karena yang terjadi beberapa waktu lalu tidak merusak hubungan pertemanan mereka.


"Aku sudah jauh lebih baik, cuma harus tetap menjaga kondisiku agar tidak terkena flu lagi, sunggguh merepotkan dalam kondisi tidak fit berinteraksi dengan pasien, takut mereka tertular juga," Roy tersenyum mendengar perkataan Laurel yang begitu perduli dengan pekerjaan dan pasiennya.


"Kau yang terbaik!" Roy mengacungkan jempolnya, memberikan pujian kepada Laurel dengan tulus, karena sejak awal Laurel bergabung sudah memberikan banyak kontribusi pada rumah sakit ini dalam menangani penyakit. Memang mau tidak mau harus diakui latar belakang pendidikan Laurel di Harvard apalagi dengan nilai cumlaude membuatnya menjadi dokter yang memiliki kemampuan jauh di atas rata-rata para sejawatnya yang memiliki latar belakang sama-sama dokter spesialis penyakit dalam.


"Eh, Laurel, masalah kemarin di grup, aku harap jangan diambil hati semua perkataan yang tidak penting,"


"Eh," Laurel langsung mengalihkan pandangannya ke arah Arnold yang sepertinya berusaha menghiburnya karena kejadian kemarin sore.


"Tenang saja, aku tidak ambil hati semua perkataan itu kok, anggap saja angin lalu, dimanapun kita berada pasti ada pro dan kontra, tidak mungkin semua orang menyukai kita kan? Kita hanya bisa berusaha menjadi yang terbaik, masalah orang tetap mencaci maki kita itu hak mereka, pilihan kita untuk tetap menjadi orang baik,"


"Ah, senang sekali mendengar kata-kata bijakmu dokter Laurel," Laurel langsung menoleh kaget ke arah Leo yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat mereka sambil kedua tangannya dimasukkan ke dalam jas dokternya, tersenyum dan menatap lembut ke arahnya. Jujur saja bagi Leo mendengar kata-kata Laurel barusan membuatnya semakin kagum kepada gadis itu.


Apa sejak 7 tahun lalu Dave sudah melihat sisi mengagumkan dirimu seperti hari ini sehingga dia bersikeras mempertahankan cintanya padamu sampai sekarang? Leo berbisik lirih dalam hati sambil mencoba mengalihkan pandangan matanya kepada yang lain agar dia tidak semakin terpaku mengagumi sosok Laurel.


Laurel dengan sembunyi-sembunyi sedikit menarik nafasnya melihat Leo. Sejak awal kedatangannya di rumah sakit ini, seringkali Leo membantunya, bahkan jika diingat-ingatnya saat dia menghadapi masalah entah kebetulan atau tidak, seringkali ada Leo di dekatnya, seperti saat dia menangis karena kata-kata Dave malam itu, saat Hana mengancamnya, dan saat hujan kemarin. Bahkan, saat dia membantu Leo di acara baksos beberapa waktu lalu Laurel bisa melihat bagaimana Leo merupakan sosok seorang yang begitu perhatian dan ringan tangan dengan orang-orang di sekitarnya, merupakan pemimpin yang begitu cocok dipasangkan dengan Dave yang walaupun dikenal dengan kebaikan dan murah hatinya tapi jauh lebih banyak diam saat di dekat orang lain.


Sepertinya Dave beruntung sekali memiliki wakil seperti dokter Leo di rumah sakit ini, karakter mereka berdua benar-benar saling melengkapi satu dengan yang lain, Laurel berkata pelan dalam hati.


"Sore dok," Nia, Arnold dan Roy langsung menyapa Leo yang langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum untuk membalas sapaan mereka bertiga.

__ADS_1


"Maaf dok, kami pamit pulang duluan ya," Leo kembali menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Laurel mewakili yang lain untuk berpamitan pulang. Setelah berpamitan kepada Leo, mereka segera berjalan ke arah parkiran, diikuti oleh pandangan mata Leo yang terpaku pada sosok Laurel yang berjalan menjauh. Setelah mereka menghilang dari padangan matanya, telapak tangan kanan Leo memegang tengkuk lehernya sendiri sambil menarik nafas panjang dengan sedikit mendongakkan kepalanya, berusaha mengurangi rasa nyeri di dadanya.


# # # # # # #


Laurel baru saja menyelesaikan mandinya, dengan langkah santai dia berencana keluar dari kamarnya, berjalan menuju meja makan, ketika di dengarnya nada panggilan telepon dari handphonenya, membuatnya kembali menutup pintu kamarnya dan meraih handphonenya yang tergeletak di atas nakas. Begitu melihat nama Dave di layar handphonenya tanpa sadar bibir Laurel langsung menyungingkan senyum manis.


"Hallo," Begitu mendengar suara ceria Laurel, Dave sedikit menahan nafasnya sebelum mulai berbicara.


"Apa kabarmu? Apa kamu ada waktu sekarang?" Laurel mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Dave, karena Dave menanyakan waktunya seolah-olah Dave sedang meminta waktunya untuk bertemu, sedangkan dia tahu jadwal kepulangan Dave baru besok pagi.


"Ah, aku berencana makan malam, tapi kalau kamu ingin menyampaikan sesuatu aku harus mengisi daya dulu handphoneku, baterainya hampir habis. Aku akan ambil chargerku dulu,"


"Tidak perlu, kamu tutup saja handphonenya, aku ada di depan pintu rumahmu sekarang," Mata Laurel langsung terbeliak mendengar perkataan Dave.


"Ah, yang benar saja, tunggu! Aku akan mengganti pakaianku dulu. Aku akan minta orang untuk mempersilahkanmu masuk," Dengan tergesa-gesa Laurel membuka lemari pakaiannya, menarik salah satu pakaiannya.


"Tidak perlu terburu-buru, aku akan menunggumu di depan pintu," Tanpa menunggu respon dari Laurel, Dave mengakhiri panggilan teleponnya.


Kabar tentang kondisi kesehatanmu dan foto-foto itu mau tidak mau memaksaku mempercepat kepulanganku, aku tidak akan memberikan kesempatan seseorang mengambil kesempatan merebutmu saat aku tidak ada, Dave berbisik dalam hati sambil memandang ke arah buket bunga yang ada di tangannya dengan senyum tersungging di bibirnya membayangkan wajah cantik Laurel yang sudah hampir seminggu ini tidak dilihatnya.


Sekilas Dave sedikit menundukkan kepalanya, dilihatnya layar handphone yang dia pegang di tangan kirinya, dilihatnya wallpaper (istilah wallpaper dan screeen saver sering sekali kita jumpai pada sebuah benda elektronik yang memiliki perangkat monitor, khususnya komputer dan handphone. Banyak handphone yang dapat diubah atau dimodifikasi desain latar belakang layarnya. Desain latar belakang layar ini sering disebut wallpaper. Wallpaper akan muncul pada layar dalam, keadaan normal, sedangkan screen saver akan muncul dalam mode penghemat layar) handphonenya. Dave kembali tersenyum mengamati foto Laurel dan dia yang sedang berdansa saat perayaan ulang tahunnya beberapa waktu lalu di layar handphonenya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2