
"Apa istrimu? Kamu pikir kami percaya? Kalau memang istrimu masak kamu membiarkan dia berjalan sendirian malam-malam begini?" Laki-laki tertawa sinis, setelah itu mendengus dan menoleh ke arah temannya yang masih tampak meringis karena pergelangan tangannya yang kesakitan.
"Tom! Pria ini benar-benar tidak tahu diri, ayo kita hajar dia!" Pria yang dipanggil Tom yang tadinya meringis kesakitan berusaha menahan temannya untuk mendekati Dave, karena dia tahu seberapa kuat lawan yang sedang mereka hadapi saat ini, tapi tanpa memperdulikan peringatan dari Tom, laki-laki itu mendekat ke arah Dave yang masih memeluk Laurel.
Dengan gerakan cepat laki-laki itu bergerak ke arah Dave sambil mengepalkan tinjunya, namun belum sampai dia mendekat ke arah Dave, dengan cepat Dave menggerakkan kaki kanannya melakukan gerakan Aidan Dollyo Chagi (dalam taekwondo tendangan Aidan Dollyo Chagi adalah tendangan dengan ke arah depan dengan menggunakan kaki bagian depan ke arah perut lawan) dengan tangan kirinya masih memeluk Laurel untuk melindunginya, membuat lawannya sedikit terlempar ke belakang dan langsung jatuh terduduk, namun dengan cepat dia kembali bangkit berdiri, berencana untuk membalas Dave.
"Sial!" Laki-laki itu mengumpat dan kembali mendekat ke arah Dave.
"Hentikan!" Sebuah teriakan menghentikan gerakan laki-laki itu untuk kembali mendekati Dave yang sudah dalam posisi siap untuk kembali menyerang laki-laki itu.
Kedua laki-laki yang tadinya mengejar Laurel menoleh ke arah asal suara. Dua pria berumur paruh baya mendekat ke arah mereka dengan sedikit berlarian, dan begitu matanya melihat ke arah Dave, kedua pria paruh baya itu segera menganggukkan kepala sebagai tanda hormat.
"Apa yang sudah kalian berdua lakukan!" Salah satu dari pria paruh baya itu memarahi kedua pemuda mabuk di depan Dave.
"Dasar tidak tahu diri! Cepat minta maaf pada Tuan Shaw!" Salah satu pria lainnya yang baru datang langsung memukul kepala kedua pemuda itu, yang tampak begitu kaget begitu orang itu menyebutkan nama Tuan Shaw.
"Maafkan tindakan kasar warga kami Tuan Shaw," Dengan gerakan cepat kedua tangan pria paruh baya itu menjewer telinga kedua pemuda itu dan mengajaknya mendekat ke arah Dave.
"Pak RT...," Kedua pemuda itu berkata sambil meringis menahan sakit karena jeweran dari pak RT.
"Untung ada seorang warga yang lewat memberitahukan apa yang baru saja kalian lakukan!" Laki-laki yang datang bersama Pak RT mengomeli kedua pemuda mabuk itu.
"Ayo segera minta maaf kepada Tuan Shaw dan...," Pria paruh baya yang dipanggil Pak RT itu menggantung perkataannya sambil melirik ke arah gadis cantik yang masih berada dalam pelukan Dave, karena walaupun Laurel sedari tadi sudah berusaha menjauh dari tubuh Dave, tangan kiri Dave dengan erat masih menahannya untuk tetap berada dalam pelukannya.
__ADS_1
"Istriku," Dave menjawab cepat kata-kata pria paruh baya itu, membuat kedua pria paruh baya yang mendengarnya langsung membeliakkan matanya, dan langsung memandang ke arah kedua pemuda mabuk tadi dengan pandangan tajam dan marah.
"Maaf Tuan Shaw, maaf Nyonya Shaw, maafkan kami," Dengan cepat kedua pemuda itu meminta maaf dengan wajah sedikit ketakutan. Di daerah itu hampir semua orang tahu dan mendengar tentang keluarga Shaw walaupun sebagian besar dari mereka mungkin belum pernah bertemu secara langsung dengan para anggota keluarga Shaw kecuali beberapa penduduk dan para aparat desa itu.
Keluarga Shaw merupakan keluarga kaya yang memiliki lebih dari 50% tanah di di desa itu. Selain kawasan villa pribadi, mereka juga memiliki ratusan hektar tanah pertanian yang dikerjakan oleh warga sekitar, bahkan kawasan pertokoan yang tadi hendak dikunjungi Laurel pun merupakan tanah milik keluarga Shaw yang dipinjamkan secara cuma-cuma kepada warga setempat untuk memajukan perekonomian desa itu, membuat keluarga Shaw begitu dihormati oleh warga desa itu, karena sudah banyak membantu warga disana.
"Dasar tukang mabuk! Kalian merusak citra desa ini!" Laki-laki paruh baya yang tadinya datang bersama pak RT kembali memarahi kedua pemuda itu.
"Pak RT, biar saya membawa mereka berdua, selamat malam Tuan Shaw," Mendengar pria itu berpamitan Dave hanya mengangguk pelan, membiarkan mereka bertiga berlalu dari hadapannya, meninggalkan pak RT yang wajahnya menunjukkan penyesalan atas kejadian barusan, sedang Laurel melirik ke arah wajah dan tatapan mata Dave yang sudah mulai terlihat lebih tenang.
"Maaf atas kejadian barusan Tuan Shaw, saya berjanji kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi,” Pak RT menyatakan permintaan maafnya kepada Dave dengan matanya yang terlihat merasa bersalah memandang ke arah Laurel yang menggerakkan tubuhnya, melepaskan diri dari pelukan Dave.
“Maaf Nyonya, semoga keadaan Nyonya tidak apa apa dengan kejadian ini,” Laurel hanya bisa mengangguk untuk menanggapi perkataan pak RT.
“Baik pak, kami permisi dulu,” Dave segera berpamitan kepada Pak RT.
“Selamat malam Tuan Shaw, selamat menikmati liburan bersama keluarga,” Pak RT segera membalas perkataan Dave, setelah itu Dave langsung menepuk bahu Laurel lembut dan membalikkan tubuhnya diikuti oleh Laurel, bersiap kembali ke villa.
Untuk beberapa saat baik Dave maupun Laurel berjalan beriringan dengan saling berdiam diri. Beberapa saat kemudian Dave melirik ke arah Laurel yang terlihat melipat kedua tangannya di depan perutnya, membuat Dave langsung melepaskan jaket yang dikenakannya dan menutupkannya ke tubuh Laurel.
Setelah mereka berjalan beberapa langkah, Laurel menghentikan langkahnya, sekitar 50 meter sebelum mereka mencapai gerbang villa keluarga Shaw, tampak deretan kursi beton di pinggiran jalan. Tanpa mengatakan apapun Laurel mendekati kursi beton itu dan duduk disana untuk menenangkan diri sebelum kembali bergabung dengan teman-temannya yang lain. Melihat apa yang dilakukan Laurel, Dave sedikit menarik nafas panjang dari langsung mengambil posisi duduk di samping Laurel.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kata Mira kamu pergi bersama Lusiana dan Feri, kenapa kamu kembali ke arah villa sendirian? Dimana mereka berdua?” Karena tidak tahan dengan udara dingin yang menerpanya, Laurel memegang jaket Dave, memasukkan kedua tangannya ke lengan jaket tersebut, kemudian memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam kantung jaket, setelah itu baru dia menjawab pertanyaan Dave.
__ADS_1
“Tadinya aku memang bersama mereka, tapi aku jadi seperti obat nyamuk di tengah-tengah mereka, sepertinya dari awal Feri ingin pergi berdua dengan Lusiana, tapi Lusiana terus memaksaku untuk ikut, akhirnya aku pamit meninggalkan mereka agar tidak mengganggu mereka, dan sepulangnya dari sana dua orang mabuk itu berusaha menggangguku,”
“Hahhhh…,” Dave manarik nafas panjang mendengar penjelasan Laurel.
Untung saja aku datang tepat pada waktunya, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika aku terlambat sedikit saja, aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika sampai ada sesuatu yang buruk terjadi padamu, Dave berkata dalam hati sambil melirik ke arah Laurel yang sedikit menundukkan wajahnya, masih berusaha keras untuk menenangkan hatinya setelah peristiwa tadi.
“Apa kamu baik baik saja? Apa ada yang terluka?”
“Hmm?” Laurel menengadahkan wajahnya melihat ke arah wajah Dave yang sedikit menundukkan wajahnya untuk memandang Laurel.
“Iya, aku baik-baik saja. Kenapa tadi tiba-tiba kamu ada di sana?” Laurel yang masih memandang ke arah Dave bertanya dengan sedikit mengernyitkan dahinya.
“Tadi handphonemu yang kamu tinggalkan di ruang tamu villa terus berbunyi, ada panggilan telepon dari Mama Denia,” Laurel tersentak, baru saja dia teringat kalau dia memang ada janji untuk menelpon Mama Denia malam ini. Sekilas Laurel menahan nafasnya mendengar dengan fasih Dave memanggil nama mamanya dengan sebutan Mama Denia, seolah-olah mempertegas posisinya sebagai menantu resmi dari mamanya.
“Aku menanyakan keberadaanmu kepada Mira, katanya kamu sedang ke pertokoan bersama Feri dan Lusiana,” Dave merogoh kantong celananya, mengambil handphone Laurel dan menyodorkannya ke arah Laurel, membiarkan Laurel berpikir bahwa memang karena ingin menyerahkan handphone itu maka dia menyusul Laurel, walaupun alasan sebenarnya karena memang dia sedikit mengkhawatirkan Laurel, tidak ingin membiarkan Laurel lepas dari pandangan matanya.
Masalah beberapa pemuda yang kadang terlihat mabuk di daerah itu memang sudah menjadi cerita lama, bahkan sejak Dave masih remaja, bahkan sewaktu berlibur di sini, saat Dave masih SMA pun pernah ada para pemuda mabuk yang tidak mengenal keluarganya berusaha merampoknya saat dia berjalan-jalan di daerah persawahan untuk menikmati suasana pedesaan, tapi bagi Dave yang sedari kecil sudah mempelajari taekwondo, bukan hal sulit baginya untuk menghajar mereka. Namun biasanya mereka tidak berani mengganggu pendatang, apalagi orang-orang yang terlihat di dekat daerah villa keluarga Shaw.
Dave melirik ke arah Laurel, menyadari bahwa gadis di sampingnya memang terlihat sangat cantik. Seperti perkataan kebanyakan orang di sekitarnya, dengan kecantikan dan pesonanya, Laurel memang lebih pantas menjadi seorang artis daripada dokter, tidak mengherankan kedua pemuda mabuk itu berusaha mengganggunya, jangankan orang mabuk yang dalam kondisi setengah sadar dan tidak, dia yang tidak dalam kondisi mabuk saja tergila-gila seperti orang mabuk karena gadis yang sedang duduk di sampingnya sekarang.
Dave menyadari sepenuhnya pesona istrinya tidak dapat dipungkiri kadang bisa membuat pria yang bertemu dengannya lupa diri.
“Terima kasih buat handphonenya, dan terima kasih juga sudah menolongku,” Begitu menerima handphone dari tangan Dave, Laurel kembali mengarahkan pandangannya ke depan, membuat Dave tersenyum.
__ADS_1
Tanpa kamu mintapun menjagamu adalah kewajibanku sebagai suamimu, Dave berbisik dalam hati, rasanya ingin sekali tangannya merengkuh tubuh gadis di sampingnya dan membawanya ke dalam pelukannya, apalagi dilihatnya Laurel sedikit menggigil menahan dinginnya angin yang bertiup semilir menyapa tubuh mereka walaupun Laurel sudah mengenakan jaket yang diberikannya tadi, tapi melihat ada dua sosok manusia yang mendekat ke arah mereka membuat Dave membatalkan niatnya, menarik kembali tangan kirinya yang awalnya sudah bergerak ke arah punggung Laurel, bersiap untuk memeluk tubuh istrinya.