CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
MENDEKAT KE ARAHMU


__ADS_3

"Maaf kalau saya mengganggu pertemuan kalian. Lebih baik saya pergi dulu sekarang. Saya akan kembali jika bos sudah selesai dengan tamu anda," Laurel berencana untuk kembali keluar dari ruangan Dave, namun dengan cepat Dave menarik lengannya, membuat Laurel sedikit tersentak, sejak kapan Dave menjadi begitu berani melakukan kontak fisik dengannya, seolah hubungan mereka sekarang cukup dekat untuk membuat Dave dengan santai menarik lengannya di depan banyak orang.


"Boss? She calls you boss? Are you serious Dave?" (Bos? Dia memanggilmu bos? Kamu serius Dave?) Jhon langsung berkomentar sambil tertawa begitu mendengar Laurel memanggil Dave dengan panggilan bos, membuat Bryan langsung menarik lengan Jhon, memberi tanda agar Jhon tidak melanjutkan kata-katanya.


"Mereka masih ada kesibukan lain, kamu tidak perlu pergi, mereka akan segera pergi karena ada yang harus diselesaikan," Dave sedikit menarik tangan Laurel agar mendekat ke arahnya, seolah-olah takut Laurel tiba-tiba meninggalkan ruangannya, setelah itu Dave buru-buru melepaskannya kembali untuk menghindari Laurel merasa tidak nyaman.


"Ok kak, kami pergi dulu, sampai ketemu nanti sore di rumah besar," Dave mengangguk mendengar perkataan Bryan, sedang Jhon tersenyum ke arah Laurel sambil melambaikan tangannya ke arah Laurel dan Dave.


"See you again Laurel Shaw, upst, sori, I mean Laurel Tanputra, beautiful name," Dave langsung melotot mendengar Jhon dengan sengaja menyebutkan nama Laurel dengan sebutan Laurel Shaw, membuat Jhon mengatupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya menunjukkan permintaan maafnya, dengan senyum terkulum di bibirnya. Bryan segera menarik tangan Jhon untuk segera menjauh dari Dave dan Laurel sebelum dia mengeluarkan kata-kata yang lain di depan Laurel dan Dave.


"Most beautiful girl I've ever seen. She looks good and smart. I understand now why Dave loves her so much," (Gadis tercantik yang pernah aku lihat. Dia terlihat baik dan cerdas. Aku mengerti sekarang kenapa Dave begitu mencintainya). Bryan tersenyum mendengar perkataan Jhon setelah keluar dari ruangan Dave.


Sekalipun Bryan belum pernah bertemu dengan Laurel, hanya melihatnya melalui foto, tapi tentang cinta kakaknya kepada gadis itu, Bryan tahu dengan pasti bagaimana Dave begitu mencintai kakak iparnya itu, bahkan demi gadis itu Dave mengorbankan dirinya untuk memenuhi keinginan papanya, untung saja sekarang dia sebagai adik bisa membantu kakaknya di Shaw Corporation, sehingga sedikit banyak mengurangi beban Dave, sehingga Dave tetap bisa menikmati pekerjaannya sebagai dokter.


"Selain rekan bisnis dia teman akrabku, dia terlalu suka bercanda, maaf kalau ada kata-katanya yang kadang terdengar sembarangan," Laurel hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan dari Dave.


"Tadi pagi setelah apel pagi Mira memberitahuku untuk kesini siang ini. Apa ada masalah?" Dave tersenyum melihat wajah tegang dari Laurel, ada sedikit rasa bersalah karena selama ini membuat Laurel tidak nyaman saat dia memanggilnya ke kantor.


"Ikutlah denganku," Dave berjalan ke arah rumah pribadinya, dengan perlahan Laurel mengikuti di belakangnya dengan langkah pelan, saat ini dadanya sedikit berdebar-debar karena memasuki rumah Dave berarti kembali mengingatkannya akan kejadian sabtu malam itu. Melihat wajah tenang Dave, Laurel semakin gugup, karena dengan wajah tenangnya Laurel berpikir bahwa kejadian sabtu itu tidak berarti apa-apa bagi Dave, sedang baginya, dia begitu sulit melupakan kejadian malam itu.


Entah sejak kapan terjadi, tapi hari ini Laurel baru menyadari bahwa untuk berapa lama ini dia tidak lagi melihat tatapan tajam dan dingin Dave ke arahnya, yang ada justru tatapan mata yang terlihat tenang bahkan kadang terlihat begitu lembut baginya, membuat dia semakin tidak nyaman, ada ketakutan yang besar di hati Laurel, takut jika semakin hari rasa sukanya kepada Dave semakin besar, sehingga tidak dapat dia kendalikan lagi.


"Ayolah, kenapa denganmu hari ini? Apa kakimu sakit untuk berjalan? Perlu bantuanku?" Dave yang melihat Laurel begitu ragu-ragu melangkah ke arah rumahnya berkata sambil membalikkan tubuhnya agar dapat melihat ke arah Laurel.

__ADS_1


"Ti..., tidak, aku baik-baik saja," Mendengar suara Laurel yang terdengar gugup membuat Dave semakin ingin menggodanya, walaupun dalam hati dia sama sekali tidak keberatan jika dia harus benar-benar menggendong Laurel, bahkan dia akan melakukan itu dengan senang hati.


"Kenapa denganmu? Apa kamu takut aku menerkammu? Apa bagimu aku segalak itu?" Dave tersenyum geli melihat Laurel yang semakin salah tingkah karena perkataannya barusan, membuat Dave kembali melangkah mendekat ke arah Laurel yang sedikit menundukkan wajahnya.


"Nona Laurel Tanputra, aku membutuhkan bantuanmu siang ini, apa kamu mau membantuku?" Dave berkata sambil dengan kedua tangannya terlipat di depan dadanya, kepalanya sedikit menunduk ke samping agar dapat melihat wajah Laurel yang tertunduk dengan sedikit semburat merah terlihat di pipinya, membuat Dave semakin ingin menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, kembali merasakan sentuhan lembut bibirnya seperti malam itu.


"I.., iya Dave. Apa yang bisa kubantu?" Laurel memberanikan diri mengangkat kepalanya sambil tersenyum.


Ah, sampai kapan kamu menyiksaku dengan senyum manismu itu, kenapa semakin hari kamu terlihat semakin cantik dan begitu menggoda, Dave manahan nafasnya sebentar.


"Ayolah, ikut dulu denganku," Dave kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah rumahnya, membuat Laurel akhirnya berjalan mengikuti di belakangnya.


"Siang Tuan, siang Non," Bi Yuni langsung menyapa mereka berdua begitu mereka memasuki rumah. Dave berjalan ke arah sebuah ruangan yang berisi sebuah meja bulat besar dan 10 buah kursi di sekelilingnya.


"Bi, meja makan disini terlalu besar, pindahkan makan siang kami ke dekat dapur," Dave bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu, ke arah dapur, dan langsung duduk di meja makan berukuran lebih kecil yang terbuat dari marmer utuh, dengan bentuk seperti meja bar memanjang dengan kursi-kursi tinggi. Begitu Dave duduk di salah satu kursi itu Laurel menyusul duduk berhadapan dengannya. Dave tersenyum, jika dia duduk di meja makan di ruang makannya jika Laurel duduk di hadapannya maka duduk mereka akan berjarak lebih dari 2 meter, tapi dengan duduk di meja di dekat dapur, dia bisa duduk berhadap-hadapan dengan Laurel dengan jarak kurang dari 1 meter.


"Apa yang bisa kubantu siang ini?" Dave tersenyum mendengar pertanyaan Laurel.


"Temani aku makan siang," Laurel sedikit terbeliak mendengar perkataan Dave, bagaimanapun dia telah menghabiskan banyak waktunya untuk memikirkan kemungkinan terburuk kenapa Dave memanggilnya siang ini dan ternyata Dave hanya memintanya untuk menemaninya makan.


"Aku hanya mau mengucapkan terimakasih karena bantuanmu hari sabtu kemarin," Laurel sedikit meringis mendengar perkataan Dave, apapun itu, posisinya disini hanya sebagai anak buah Dave, mana ada kuasa untuk membantahnya.


"Tidak perlu repot-repot, kalaupun bukan aku pasti yang pegawai yang lain akan melakukan hal yang sama seperti yang sudah aku lakukan, apalagi kalau dokter Hana tahu...,"

__ADS_1


"Aku tidak mengharapkan Hana yang membantuku malam itu," Dave langsung memotong perkataan Laurel, membuat Laurel terdiam, tidak meneruskan kata-katanya. Dave melirik ke arah Laurel, mencoba menerka apa yang ada di pikiran Laurel tentang Hana.


"Bagaimana menurutmu Hana? Apa dia pernah mengatakan sesuatu yang tidak pantas padamu? Atau bahkan mengancammu?" Laurel tersenyum mendengar pertanyaan Dave.


"Tidak, dia tidak mengatakan apa-apa," Laurel berkata sambil menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya, membuat Dave mengernyitkan keningnya, karena dari wajah Laurel terlihat dia berusaha menutupi sesuatu, lagipula sore itu jelas-jelas Dave melihat Hana mengatakan sesuatu kepada Laurel di taman rumah sakit.


"Aku tidak tahu apa yang Hana katakan padamu, tapi aku pastikan, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Hana selain hubungan kerja dan teman satu alumni di SMA, dan ke depannya aku tidak berencana memiliki hubungan lebih dari itu dengan Hana," Laurel terlihat kikuk mendengar perkataan Dave yang membuatnya berharap bahwa kata-kata Dave menunjukkan bahwa justru dialah gadis yang saat ini sedang disukai oleh Dave, bukan Hana.


"Sepertinya dokter Hana begitu menyukaimu, dia juga gadis yang cantik dan anggun, semua orang di rumah sakit ini tahu kalian terlihat dekat dan dimana ada kamu seringkali ada dokter Hana. Kalau kalian menjadi pasangan pasti banyak dan yang akan mengagumi kalian. Tidak ada salahnya kamu mempertimbangkan keberadaan dokter Hana," Dave yang baru saja hendak memasukkan potongan daging di mulutnya memandang Laurel dalam-dalam.


"Apa itu kata hatimu? Itu yang kamu inginkan?" Laurel terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari Dave barusan, tanpa disadarinya ada rasa nyeri di dadanya begitu dia membayangkan Dave dan Hana menjadi sepasang kekasih.


"Kalaupun itu yang kamu inginkan, maaf, aku terpaksa mengecewakanmu, karena aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Hana," Dave berkata sambil tersenyum, membuat Laurel sedikit mengalihkan wajahnya agar Dave tidak bisa melihat tarikan nafas lega yang baru saja dia lakukan.


"Minggu depan aku akan ke Irlandia untuk beberapa hari, jika kamu tidak keberatan aku ingin berapa hari ini kamu menemaniku makan siang sebagai ucapan terimakasihku," Laurel sedikit terbeliak mendengar permintaan dari Dave.


"Eh, tidak perlu, aku serius, aku membantu dengan tulus, tidak ada niat meminta timbal balik atau ucapan terimakasih,"


"Aku tahu, cuma aku baru saja menyadari kalau nafsu makanku membaik setiap ada kamu menemaniku makan. Aku perlu menjaga pola makanku agar bisa benar-benar pulih sebelum berangkat ke Irlandia. Kalau kamu tidak mau menganggap ini sebagai ucapan terimakasih anggap saja ini sebagai perintah dari pimpinanmu," Setelah mengucapkan kata-katanya dengan cuek Dave menikmati makan siangnya dengan lahap.


"Hah?" Laurel terperangah mendengar kata-kata Dave, antara ingin tertawa geli karena alasan yang terlalu dibuat-buat oleh Dave, tapi juga ada rasa bingung apa maksud Dave dengan semua ini.


Kamu bukan tipe laki-laki yang bermulut manis, tapi kata-katamu kadang membuat situasi menjadi tidak jelas sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku, Laurel berkata dalam hati, tapi akhirnya dia memilih untuk tidak terlalu memikirkannya lagi, diambilnya lauk dari piringnya dan mulai menikmati makan siangnya bersama Dave.

__ADS_1


__ADS_2