
"Ah, menurut perasaanku hari ini terasa panjang sekali," Ornado berkata sambil menyeruput coklat hangat dari gelas keramik yang ada di tangannya.
Mendengar kata-kata Ornado, Dave yang juga sedang menikmati coklat panasnya bersama Laurel langsung tersenyum. Tidak berapa lama kemudian Ornado meletakkan gelas berisi coklat hangatnya yang masih setengahnya, lalu mencomot sepotong roti yang ada di depannya dan langsung menikmatinya.
"Ad, kami benar-benar berterimakasih untuk bantuanmu hari ini. Kalau tidak ada kamu, mungkin malam ini baik aku ataupun ataupun Dave tidak bisa kembali pulang dengan selamat," Laurel berkata sambil memandang ke arah Ornado dengan wajah diliputi oleh rasa terimakasih yang tidak terkira, membuat Ornado hanya tersenyum kecil.
"Apakah seorang kakak dan adik akan saling mengucapkan terimakasih saat salah satu membantu yang lain?" Cladia tersenyum dengan bangga mendengar jawaban Ornado atas pernyataan terimakasih Laurel.
Cladia melirik ke arah wajah Ornado yang terlihat santai, tidak menunjukkan bahwa dia baru saja melakukan tindakan yang cukup heroik saat berusaha menyelamatkan Laurel dan Dave. Terselip rasa bangga di hati Cladia melihat bagaimana suaminya begitu menghargai hubungan persahabatan mereka. Begitu perduli dan bersedia melakukan apapun untuk orang-orang yang disayanginya, walaupun secara ikatan darah baik Dave maupun Laurel tidak memiliki hubungan apapun baik dengannya maupun dengan Ornado.
Cladia sedikit tersentak ketika tiba-tiba saja matanya yang sedang melirik ke arah Ornado bersitatap dengan mata biru Ornado yang tiba-tiba saja menggerakkan wajahnya ke arah Cladia dan memandang ke arah Cladia. Cladia hanya bisa tersenyum dengan gugup untuk menutupi rasa kaget dan salah tingkahnya karena jelas-jelas Ornado menangkap basah dia yang sedang mengamati wajah suaminya dengan sembunyi-sembunyi.
"Apa ada sesuatu yang salah dengan wajahku? Sepertinya kamu masih belum merasa bahwa wajah tampanku sudah menjadi milikmu sepenuhnya. Kenapa kamu harus dengan sembunyi-sembunyi mengagumi wajah tampanku?" Ornado berkata sambil tertawa, lalu tangannya bergerak dengan cepat meraih kepala Cladia untuk mendekat ke arah wajahnya dan langsung mencium kening Cladia dengan mesra. Dan tindakan itu jelas-jelas membuat Laurel dan Dave langsung tersenyum geli.
"Ah, Laurel, aku senang sekali kondisimu baik-baik saja walaupun tanganmu sedikit terluka," Dengan cepat Cladia berkata untuk mengalihkan perhatian Ornado sekaligus menutupi betapa jantungnya berdetak dengan begitu keras akibat tindakan Ornado.
Selain itu Cladia sengaja dengan buru-buru menjauhkan wajahnya dari Ornado sebelum laki-laki itu melakukan hal yang lebih sehingga membuat wajahnya akan semakin memerah dan terasa panas. Kondisi phobia Cladia terhadap laki-laki masih belum sembuh 100 persen, sehingga seringkali masih membuat Cladia bersikap kikuk jika berada di dekat Ornado walaupun untuk beberapa waktu ini Cladia sudah mengalami kemajuan yang cukup signifikan, sudah mulai terbiasa menerima perlakuan mesra dari Ornado melalui sentuhan-sentuhan lembut dan ciuman-ciuman mesranya.
"Tenang saja Cla, berkat Ornado, semuanya baik-baik saja sekarang. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika tidak ada kalian berdua yang menolong kami," Laurel berkata sambil tersenyum, Dave ikut menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Laurel.
Sekilas Dave melirik ke tangan Laurel yang masih terlihat sedikit memar, namun sudah lebih baik dari sebelum Lusiana mengoleskan obat. Luka-luka gores bekas tali yang mengikat pergelangan tangan Laurel tadi juga sudah diobati dengan baik oleh Lusiana. Lusiana sengaja menggunakan salep yang mengandung zat aktif yaitu heparin natrium yang biasa digunakan untuk menyembuhkan bengkak, keseleo, gatal dan memar.
(Heparin natrium bekerja dan meresap sangat cepat pada jaringan tubuh yang sakit. Mampu mencegah pembekuan darah dan membantu proses penguraian protein plasma darah agar lebih cepat terserap).
Untuk luka gores Laurel, Lusiana mengoleskan salep yang mengandung povidone iodine yang memiliki sifat antiseptik dan antimikroba yang bergungsi untk menghambat perkembangan bakteri sehingga resiko infeksi pada luka dapat ditekan.
Melihat luka yang ada di pergelangan tangan Laurel membuat Dave menarik nafas dalam-dalam. Ingatannya tentang kejadian hari ini membuat dadanya masih terasa bergetar hebat. Membayangkan kembali tentang kejadian yang tadi sempat dialami Laurel, membayangkan ketakutan yang dialami Laurel saat bersama Dicky, membuat Dave hatinya seperti di aduk-aduk. Andaikata saja bisa, dia berharap dia bisa menggantikan posisi Laurel untuk menjalani hal mengerikan itu.
Ada rasa tidak rela yang begitu besar di hati Dave melihat bagaimana Laurel harus mengalami kejadian seburuk itu, apalagi mengingat saat ini Laurel sedang mengandung. Selama ini Dave begitu berusaha membuat nyaman dan Laurel bahagia agar bayi dalam kandungannya berkembang dengan baik dan sehat, tapi kejadian hari ini benar-benar membuat Dave jika saja diperbolehkan ingin sekali meluapkan kemarahannya kepada Dicky. Namun Dave tahu dengan kondisi kejiwaan Dicky rasanya percuma dia marah dan kecewa.
__ADS_1
"Tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi Cla. Sekarang aku baik-baik saja. Tidak ada luka yang terlalu serius karena tindakan cepat Ornado tadi, sehingga Devan pun tidak mendapat kesempatan untuk melakukan sesuatu yang buruk kepada kami," Cladia tersenyum sambil menarik nafas lega mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Laurel.
Beberapa saat sebelumnya, saat Laurel menceritakan tentang kejadian yang menimpanya, mulai dari Dicky yang menculiknya sampai dengan Devan yang menyelamatkannya dan membawanya ke rumahnya, membuat Cladia sesekali harus menahan nafasnya dan beberapa kali membeliakkan matanya. Bagi Cladia apa yang baru saja dialami oleh Laurel adalah hal yang benar-benar menakutkan baginya, apalagi kondisi Cladia yang memiliki phobia terhadap laki-laki. Membayangkan jika dia berada di posisi Laurel, Cladia tahu pasti dia tidak akan sanggup menghadapi tekanan seperti itu. Melihat wajah tegang bahkan cenderung takut saat Cladia mendengar cerita dari Laurel, membuat Ornado sesekali mengelus lembut bahu Cladia yang berada di pelukannya dan beberapa kali Ornado mencium puncak kepala Cladia untuk membuatnya lebih tenang.
"Bagaimana denganmu Dave? Apa yang terjadi sehingga kamu bisa terlambat sampai di villa Dicky?" Ornado bertanya dengan lengan tangannya masih melingkar di bahu Cladia.
Ornado begitu penasaran kenapa Dave bisa begitu terlambat menyusul Laurel di villa Dicky sedangkan semua informasi keberadaan Laurel dengan cepat selalu dia infokan kepada Dave. Di samping itu Ornado sudah mempertimbangkan kecepatan mobil yang dikendarai Dicky jauh di bawah kecepatan mobil yang digunakan Dave, jadi menurut Ornado seharusnya Dave bisa datang sedikit lebih awal di villa itu dibanding Devan, atau paling tidak bersamaan dengan Devan. Ornado sendiri tidak bisa langsung ke lokasi karena dia harus mempersiapkan kemungkinan terburuk sehingga dengan sengaja membawa tim dokter dari rumah sakit Dave dan menyiapkan pasukan pengawal khususnya yang sudah terlatih menghadapi situasi seperti yang terjadi tadi.
"Seperti katamu, Dicky bukan sekedar pria dengan kecenderungan gangguan identitas disosiatif, tapi dia juga pria dengan tingkat intelegensinya yang tinggi. Sepertinya walaupun dia bukan orang yang tangkas dalam bergerak, otaknya cukup encer dalam menyiapkan semuanya," Dave menjelaskan sambil tangannya menepuk-nepuk pelan paha Laurel yang sedang menyandarkan kepalanya ke bahu Dave karena mulai merasa lelah.
(Tingkat intelegensi merupakan proses yang terjadi pada diri individu yang tidak dapat diamati secara aktual. Oleh karena itu diperlukan suatu konsep hipotetik mengenai proses yang terjadi pada diri individu untuk mengarahkan dinamika tingkah laku individu yang bersangkutan. Tingkat intelegensi dapat diukur dengan kecepatan memecahkan masalah-masalah tersebut. Intelegensi secara umum dapat juga diartikan sebagai suatu tingkat kemampuan dan kecepatan otak mengolah suatu bentuk tugas atau keterampilan tertentu. Kemampuan dan kecepatan kerja otak ini disebut juga dengan efektifitas kerja otak).
"Ternyata ada dua jalan menuju perkebunan teh, penduduk setempat mengatakan bahwa petunjuk jalan akan menunjukkan ke arah jalan paling cepat dan cukup mudah dilalui. Tetapi ternyata Dicky sudah mengubah petunjuk arah jalan sehingga kami harus melalui rute yang lebih panjang sekaligus medannya cukup sulit kami lalui, belum lagi di tengah jalan ada sebuah mobil pick up berhenti dan sopirnya menghilang entah kemana, sehingga kami tidak bisa lewat untuk sementara waktu. Dan aku yakin itu merupakan salah satu trik licik dari Dicky," Laurel dan Cladia sedikit terbeliak mendengar bagaimana Dave sempat masuk dalam jebakan yang disiapkan oleh Dicky.
"Kamu sendiri, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Bagaimana mungkin kamu bisa muncul di rumah Devan secepat itu? Seharusnya jika kamu menyusulku ke villa dengan mengatur kedatangan pasukan khususmu dan tim dari rumah sakit, kamu harusnya datang jauh setelah aku," Ornado tertawa kecil mendengar pertanyaan Dave.
"Aku sengaja tidak menyusulmu ke villa. Karena saat aku hendak menyusulmu ke sana timku mengabarkan bahwa kamu sudah memutar arah, setelah sebelumnya ada beberapa mobil lain yang berjalan meninggalkan villa itu. Dari info yang aku dapat menebak bahwa Devan juga menyusul Laurel ke sana, jadi aku sudah memperkirakan kalau Devan yang akhirnya membawa Laurel pergi dari villa Dicky. Karena itu aku langsung mencari info tentang rumah Devan dan meluncur ke rumah Devan, lalu dengan cepat mengatur pasukanku di sana," Dave mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan Ornado.
"Tentu saja aku bukan orang bodoh yang akan bertindak tanpa persiapan matang. Bagaimanapun aku mengunjungi sarang musuh. Aku harus menyiapkannya dengan matang dan harus tahu seberapa besar kekuatan musuhku sebelum aku menantangnya," Ornado bekata sambil sedikit terkikik geli.
"Laurel, harusnya kamu berterima kasih padaku bukan hanya karena telah membawa kembali Dave ke sisimu dengan selamat. Tapi kamu juga akhirnya bisa melihat dengan mata kepala sendiri dan mendengar dengan jelas begitu besarnya cinta priamu yang tadi hampir saja mengorbankan nyawanya untukmu," Setelah mengatakan itu Ornado langsung tertawa sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Laurel dan Cladia cukup kaget ternyata Ornado dengan sengaja tidak langsung menyelamatkan Dave, padahal sejak Devan datang di rumahnya Ornado sudah berada di lokasi yang sama, namun justru sengaja membiarkan terjadinya adegan drama antara Dave, Devan dan Laurel.
Mendengar penjelasan Ornado Laurel langsung bangkit dari duduknya, mendekati Ornado dan bermaksud memukuli Ornado yang hanya bisa menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan kepalanya untuk menahan pukulan dari Laurel tanpa berusaha melawannya, dengan tawanya yang terdengar semakin keras.
"Dave! Apa kamu akan membiarkan penyelamatmu dipukuli sampai mati oleh istrimu?" Ornado berkata dengan tawa gelinya yang terdengar keras.
"Kamu pantas mendapatkannya!" Akhirnya Laurel berkata sambil mencubit lengan Ornado dengan gemas.
Dave yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Laurel langsung memeluk tubuh Laurel dari belakang sambil tersenyum. Mendapatkan pelukan dari Dave secara otomatis Laurel menghentikan cubitannya di lengan Ornado yang justru tertawa melihat pelototan mata dari Laurel.
__ADS_1
"Sudahlah, bagaimanapun dia sudah meyelamatkan nyawa kita," Dave berbisik lembut ke telinga Laurel dengan senyum masih menghiasi wajah tampannya, membuat Laurel yang berencana kembali mencubit Ornado menghentikan tindakannya, setelah itu Laurel mencibirkan bibirnya ke arah Ornado yang masih tertawa tergelak berhasil membuat Laurel jengkel.
"Ayolah, jangan membuat dirimu sendiri terlalu lelah," Dengan lembut Dave langsung menarik tubuh Laurel untuk menjauh dari Ornado yang langsung mengedipkan sebelah matanya kepada Dave yang hanya bisa tersenyum pasrah melihat Ornado sukses mengerjainya dan Laurel malam ini.
"Dave, ingat janjimu tadi padaku," Begitu Dave dan Laurel kembali duduk di hadapan Ornado dan Cladia, Ornado langsung mengingatkan Dave tentang janji yang diucapkannya tadi di halaman rumah Devan.
"Memang kamu berjanji apa kepada Ad?" Laurel langsung bertanya sambil memandang ke arah Dave dengan wajah serius, sedang Cladia memandang wajah Ornado dengan wajah bertanya-tanya.
"Aku berjanji kepada Ad untuk memenuhi permintaannya karena sudah menyelamatkan nyawaku," Mendengar penjelasan dari Dave, baik Laurel maupun Cladia semakin bingung, sedang Ornado tetap terlihat santai dengan senyum di wajah tampannya.
"Memang apa yang mau kamu minta kepada Dave, Al?" Cladia bertanya sambil matanya menatap dalam-dalam ke arah Ornado.
Hati Cladia mulai berusaha menebak-nebak apa yang diinginkan Ornado dari Dave. Mencoba berpikir keras apa yang dimiliki oleh Dave yang Ornado tidak bisa memilikinya? Rasanya tidak ada.
"Ah..., aku sudah bilang kepada Dave tadi menunggu kehadiran para istri agar aku bisa menyampaikan permintaanku kepada Dave malam ini," Ornado berkata sambil menepuk-nepuk lembut punggung telapak tangan Cladia yang berada di atas pahanya.
"Aku akan meminta sesuatu kepada Dave untuk masa depan anak-anak kita," Ornado berbisik pelan ke arah telinga Cladia yang langsung kembali berusaha menebak dengan keras apa yang akan diminta Ornado dari Dave.
"Al..., jangan bilang kalau...," Cladia tidak meneruskan bicaranya, justru matanya langsung memandang ke arah perut Laurel lalu ke arah perutnya sendiri, membuat Ornado kembali tersenyum sambil tangannya bergerak mengelus lembut kepala Cladia.
"Benar..., bolehkan? Kamu tidak keberatan kan?" Ornado kembali berbisik lembut ke telinga Cladia yang hanya bisa tercengang memikirkan apa yang akan diminta Ornado dari Dave dan Laurel, sedang Dave dan Laurel hanya bisa saling berpandang-pandangan melihat tingkah aneh dari Cladia dan Ornado yang saling berbisik.
"Ad? Memang apa yang kamu inginkan dari Dave?" Laurel berkata sambil matanya fokus menatap wajah Ornado yang tampak sedikit menahan nafasnya sebelum memulai bicaranya.
"Aku mau ke depannya ada salah satu anak kalian yang menjadi menantuku," Baik Laurel maupun Dave langsung terbeliak mendengar permintaan Ornado barusan, sedang Cladia yang sudah bisa menduga permintaan Ornado barusan hanya terdiam, memilih untuk menunggu reaksi dan jawaban dari Dave dan Laurel.
"Ad, kamu ini ada-ada saja. Anak-anak kita belum lahir, bahkan perut Cladia dan perutku saja belum menunjukkan tanda-tanda membesar kenapa kamu sudah bercanda seperti itu?" Laurel langsung berkata sambil menahan senyumnya mendengar permintaan Ornado.
“Ad, ini sudah bukan lagi jaman Siti Nurbaya, apalagi nanti di jaman anak-anak kita,” Laurel kembali menambahkan kata-katanya.
__ADS_1
"Aku tidak bercanda. Memang kenapa dengan perjodohan? Aku sudah dijodohkan dengan Cladia sejak aku berumur dua belas tahun. Bahkan saat itu Cladia masih berumur enam tahun. Dan sekarang buktinya kami bisa hidup bahagia. Tidak selamanya dijodohkan itu sesuatu yang buruk. Toh kalian sebenarnya juga dijodohkan walaupun awalnya atas permintaan Dave sendiri ke orangtuanya, sedangkan kami dijodohkan oleh orangtua kami sejak kecil. Kita sama-sama tahu kita berdua sama-sama dijodohkan walaupun dengan cara yang berbeda,” Ornado langsung menyanggah perkataan Laurel, sedang Dave masih berdiam diri, belum mengeluarkan pendapatnya melihat Ornado dan Laurel masih saling beradu pendapat.