
“Anggap saja ini gaji selama cutimu,” Laurel melotot ke arah Dave sambil memanyunkan bibirnya.
“Mana ada orang cuti di gaji dengan sebuah rumah mewah?” Dave tertawa mendengar protes dari Laurel.
“Tergantung siapa yang mau menggajimu dan siapa yang memberimu ijin cuti,” Laurel menarik nafas panjang mendengar perkataan Dave yang tersenyum geli melihat wajah putus asa Laurel yang tidak bisa membalas perkataannya.
“Ayo, ikutlah denganku sebentar,” Dave kembali menarik pergelangan tangan Laurel ke sisi lain rumah itu, sedang Freya dan Mama Denia lebih memilih untuk berkeliling di bagian lain, mengamati rumah baru mereka.
Dave membuka pintu sebuah ruangan, begitu pintu terbuka, Laurel melihat sebuah kamar berukuran luas, walaupun tidak seluas kamar mereka di rumah kaca, tapi ukuran kamar tersebut tentu saja jauh lebih besar dari ukuran kamar yang biasa dipakainya bersama Freya. Di salah satu pojok ruangan terlihat sebuah piano yang terlihat masih begitu mengkilap, dan di sebelahnya tergantung sebuah gitar. Kedua alat musik itu terlihat jelas masih baru.
Ruangan kamar itu dipenuhi oleh walpaper dinding bewarna biru, di tengah-tengahnya terdapat sebuah tempat tidur berukuran besar dengan warna senada dengan dinding kamar tersebut, dan dari ukurannya Laurel bisa melihat itu adalah tempat tidur yang terlihat baru dengan ukuran custom size (secara umum, pengertian dari custom size adalah sesuatu yang dibuat secara khusus, ukuran dari suatu benda sesuai dengan keinginan pembeli, dan tentu saja dengan harga khusus juga).
Selain itu sejak awal memasuki rumah ini, Laurel melihat semua perabotan di rumah ini menunjukkan tanda-tanda bahwa semuanya merupakan perabotan baru. Dan dari pengamatan Laurel, sepertinya ini semua ruangan di rumah ini tidak berbau cat, walaupun penampilan seluruh rumah ini tampak kalau baru saja selesai di renovasi, menjadi seperti rumah yang baru dibangun.
“Aku tahu kamu menyukai warna biru. Untuk sementara aku sengaja tidak membiarkan pekerja mengecat semua ruangan rumah ini, agar tidak mengganggu kehamilanmu. Karena itu aku lebih memilih menggunakan wallpaper dinding untuk membuat warna dinding menjadi menarik sebagai ganti cat. Nanti kalau kita sudah kembali ke rumah kita, aku akan siapkan orang untuk merenovasi dan cat ulang rumah ini,” Laurel langsung menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Dave.
"Buat apa membuang-buang uang, sedangkan dengan wallpaper dinding ini sudah cukup membuat rumah ini terlihat begitu indah dan nyaman," Dave sedikit mengacak rambut Laurel dengan lembut.
(Sejumlah penelitian menemukan bahwa ibu hamil yang menghirup banyak solven yang biasa terkandung dalam cat dinding, berisiko mengalami keguguran, melahirkan bayi dengan kelainan bawaan atau akan mengalami gangguan kemampuan belajar nantinya. Pada ibu hamil yang memasuki kehamilan trimester pertama, terlalu banyak menghirup bau cat dapat meningkatkan risiko gangguan sistem saraf dan sistem ginjal pada bayi).
"Sekali-sekali kamu harus membelanjakan uang yang aku punya agar aku bisa merasa menjadi seorang suami yang bertanggung jawab, memenuhi semua kebutuhanmu, termasuk kebutuhan jasmani," Laurel tersenyum geli mendengar perkataan Dave.
"Aku belum ada kebutuhan yang membuatku harus menggesek kartu darimu. Jangan khawatir, kalau suatu ketika aku membutuhkan sesuatu jangan kaget jika tiba-tiba tagihan kartu kreditmu membludak," Dave tertawa mendengar ancaman dari Laurel.
"Siapa takut? Coba saja, aku akan menantikan saat-saat itu," Laurel hanya bisa tersenyum kecil mendengar tanggapan Dave, sejenak kemudian wajah Laurel berubah serius.
“Kenapa kamu dengan susah payah membeli rumah ini? Apa kamu merasa benar-benar tidak nyaman berada di rumah lama kami yang mungkin bagimu seperti sebuah gubuk?” Dave meraih bahu Laurel yang berdiri di sampingnya dan memeluk bahunya dengan erat.
“Siapa bilang aku tidak mau tinggal di sana? Aku membeli rumah ini bukan sekedar karena tidak mau tinggal di sana. Tapi apa kamu merasa nyaman kalau gara-gara kehadiran kita di rumah ini Freya dan Mama menjadi tidak nyaman karena harus berbagi tempat tidur karena kita memonopoli tempat tidurmu? Apa kamu tega melihat mereka berdua tidur berdesak-desakan? Karena setahuku ukuran tempat tidur Mama Denia hanya berukuran kecil,” Laurel mengernyitkan dahinya. Apa yang dikatakan Dave ada benarnya. Bukan saja ukuran tempat tidur, ukuran kamar Mama Denia juga lebih kecil dibanding kamar yang biasa digunakan oleh Laurel dan Freya, tapi tetap saja Laurel merasa Dave tidak perlu betindak sejauh ini.
“Selain itu…, aku juga tidak mau mereka mendengar suara kegiatan yang kita lakukan di kamar, kamu tahu, antar ruang di rumah lamamu yang kecil membuat dinding di rumah lamamu tidak kedap suara, antar ruangan bisa mendengar dengan jelas apa yang terjadi di ruang sebelahnya,” Dave berbisik lembut, membuat Laurel membeliak kaget.
“Memang apa yang akan kita lakukan? Ingat calon anak kita masih terlalu muda usianya,” Dave mengernyitkan dahinya mendengar teguran dari Laurel.
__ADS_1
“Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Banyak kegiatan yang bisa kita lakukan bersama di kamar kita, salah satunya, aku ingin bermain gitar dan menyanyikan lagu nina bobo untuk bayi kita dalam perutmu. Bahkan aku sengaja meletakkan sebuah piano di kamar ini memangnya buat apa? Aku akan memainkan lagu tidur untuk bayi kita sebelum dia tertidur,” Dave berkata sambil tersenyum menggoda.
“Jangan-jangan…, kamu memikirkan hal lain? Kamu ingin melakukan kegiatan lain bersamaku?” Mendengar godaan Dave, Laurel segera mengalihkan wajahnya agar tidak terlihat oleh pandangan mata Dave yang langsung tertawa senang karena berhasil membuat wajah Laurel memerah.
# # # # # # #
Laurel dan Dave baru saja keluar dari kamar yang akan mereka tempati selama di rumah ini, ketika tiba-tiba sebuah suara bel rumah berbunyi. Dengan bergegas Freya langsung berlari ke arah pintu depan rumah dan membukanya. Mata Freya langung menoleh ke arah kiri, ke arah rumah lamanya. Di depan pintu rumah lamanya tampak seorang wanita dan salah seorang pengawal Dave berdiri di sana.
“Kak Renata!” Freya langsung berteriak memanggil Renata yang langsung menoleh begitu mendengar suara panggilan dari Freya. Freya langsung melambaikan tangannya, memberi tanda kepada Renata agar berjalan ke arah depan rumah baru mereka.
Renata dengan sedikit berbegas berjalan ke arah Freya. Begitu tahu bahwa Renata mengenal keluarga tuannya, pengawal Dave segera membiarkan Renata untuk memasuki gerbang rumah dimana Freya sudah menunggu bersama Laurel dan Dave yang langsung menyusul keluar begitu Freya meneriakkan nama Renata.
"Masuk Kak Renata," Freya lagnsung membukakan pintu gerbang rumah baru mereka dan mempersilahkan Renata untuk masuk. Begitu melihat sosok Laurel, Renata langsung tersenyum lebar dan memeluk tubuh Laurel dengan erat.
"Lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu selama 7 tahun ini? Kamu sudah banyak berubah, terlihat begitu cantik dan terlihat dewasa. Rasanya lama sekali berpisah denganmu. Aku benar-benar merindukan saat-saat kita masih sama-sama muda dan menghabiskan waktu bersama," Renata langsung mengeluarkan semua kata-kata yang sudah lama ditahannya begitu melihat sosok Laurel, yang merupakan salah satu saudara yang cukup dekat dengannya sejak mereka kecil, dan kebetulan mereka juga memiliki cita-cita yang sama untuk bisa menjadi seorang dokter.
"Aku juga begitu merindukan suara bisingmu," Laurel berkata sambil tertawa, membuat Renata langsung terkikik dan melepaskan pelukannya, sekilas diliriknya Dave yang berdiri di samping Laurel.
"Katamu kamu tidak mengenal Renata?" Dave tersenyum mendengar bisikan Laurel.
"Mengenal artinya dekat dan sering berkomunikasi, aku hanya tahu, pernah bertemu sekali di pernikahannya ketika mengantar Freya dan Mama Denia, dan satu dua kali berhubungan lewat telepon untuk membicarakan tentang kamu, tapi aku tidak kenal," Dave membalas kata-kata Laurel dengan balik berbisik ke telinga Laurel sambil tersenyum, membuat Laurel sedikit mencubit pinggang Dave karena merasa sudah dikerjai oleh Dave soal Renata.
"Masuklah, kenapa kalian mengobrol di depan rumah?" Mendengar perintah dari Mama Denia, Renata langsung menoleh dan berjalan ke arah Mama Denai dan memeluknya sambil mencium kedua pipinya.
"Apa kabar Tante?" Mama Denia segera menarik lengan Renata untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di sampingnya, disusul oleh Laurel yang juga langsung mengambil posisi duduk di samping Renata sehingga Renata duduk di antara Laurel dan mamanya.
"Sudah lama kamu melupakan Tante ya? Tidak pernah berkunjung ke sini walaupun Laurel juga sudah kembali ke Indonesia sejak beberapa bulan lalu," Renata tersenyum mendengar kata-kata Mama Denia.
"Maaf..., maklum Tante, sejak aku melahirkan beberapa bulan lalu, suamiku begitu sulit memberiku ijin untuk keluar rumah jika bukan untuk menyelesaikan kewajibanku di tempat kerja. Ini juga aku betul-betul merayunya agar diijinkan kemari, karena dalam beberapa minggu ini aku harus pergi Australia bersama suamiku untuk mengecek usahanya di sana sekaligus mengunjungi keluarga besar suamiku di sana," Freya dan Dave yang duduk di hadapan mereka hanya terdiam sambil mendengarkan pembicaraan Renata dengan Mama Denia dan Laurel.
"O, ya? Berapa lama kamu akan berada di sana?" Laurel menatap wajah Renata dengan tatapan mata kaget.
"Aku belum tahu, tapi ada kemungkinan besar, jika semuanya lancar, kami sedang mempersiapkan untuk pindah ke sana,"
__ADS_1
"Pindah? Kamu serius?" Renata mengangguk mantap mendengar perkataan Laurel.
"Tapi kami belum bisa memastikan kepindahan kami. Kami masih ingin melihat dulu kondisi di sana, jadi tolong jangan diberitahukan kepada saudara atau kenalan kita yang lain," Renata berkata dengan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya sebagai tanda memohon, membuat yang lain tersenyum melihat gaya Renata.
"Sebenarnya aku datang ke sini selain ingin bertemu dengan kalian, aku juga sedang butuh bantuanmu Laurel," Renata berkata sambil memandang wajah Laurel dalam-dalam.
"Aku?" Renata langsung mengangguk mendengar pertanyaan Laurel.
"Aku perlu bantuan darimu, karena hanya namamu yang ada dipikiranku, yang kemungkinan besar bisa membantuku," Laurel mengernyitkan dahinya mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Renata, karena benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan Renata.
"Apa yang bisa kubantu? Kalau aku bisa pasti aku bantu,"
"Kalau memungkinkan, selama aku berada di Australia dan belum ada keputusan, bisakah kamu menggantikan posisiku sementara sebagai dokter pribadi keluarga Sanjaya?" Laurel melotot mendengar pertanyaan dari Renata.
"Keluarga Sanjaya? Apa maksudmu adalah Jeremy Sanjaya dan Cladia Sanjaya? Teman masa kecilku?" Renata mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum, dia tahu Laurel pasti akan mengabulkan permintaannya jika itu menyangkut tentang Cladia yang selama ini sudah dianggapnya seperti adik kandungnya sendiri.
"Akhirnya kamu mengetahui keberadaan mereka? Apa Cladia baik-baik saja sekarang?"
"Beberapa lama ini aku menjadi dokter pribadi keluarga mereka. Sudah lama aku ingin memberitahukanmu tentang keberadaan mereka, tapi karena aku terlalu sibuk, seringkali aku lupa mengatakannya padamu. Aku sudah menceritakan kepada Jeremy tentang rencanaku pergi ke Australia untuk beberapa lama, namun dia belum tahu aku juga ada rencana untuk pindah ke Australia. Dia memintaku menemukan dokter pengganti yang bisa dipercaya, karena kondisi Cladia saat ini yang masih belum bisa pulih dari traumanya sejak kejadian pembunuhan sahabatnya 5 tahun lalu. Jeremy begitu hati-hati dalam memilih dokter keluarganya,"
"Aku mau, aku mau menggantikanmu. Katakan saja kapan kamu membutuhkanku untuk menggantikanmu jika diperlukan mereka, aku pasti akan mengaturkan waktuku untuk bertemu dengan mereka berdua. Aku harap aku bisa segera bertemu dengan Jeremy dan Cladia. Ingin tahu tentang kabar mereka berdua," Renata tersenyum melihat binar bahagia di mata Laurel.
"Berita baik yang mungkin kamu belum dengar. Cladia sudah menikah dengan Ornado Xanderson. Kamu ingat Ornado kan? Ornado sekarang tinggal di Indonesia, di kota ini bersama Cladia," Kali ini mata Laurel benar-benar terbeliak mendengar berita itu.
"Cladia akhirnya menikah juga dengan Ornado? Aku benar-benar ikut bahagia mendengarnya. Mereka berdua itu seperti sepasang jodoh sejak kecil, seolah-olah sejak kecil mereka sudah ditakdirkan untuk menjadi sepasang suami istri," Laurel berkata dengan senyum mengembang di bibirnya dan mata yang terlihat begitu bahagia, membuat Dave ikut tersenyum melihat bagaimana wajah ceria Laurel dengan senyum manis yang membuat lesung pipitnya muncul dan menambah aura kecantikannya.
"Maksudmu Ornado Xanderson pemilik Grup Xanderson dari Italia yang belum lama ini membuka cabang perusahaan di kota ini?" Laurel langsung menoleh dengan wajah heran mendengar pertanyaan dari Dave tentang Ornado.
"Darimana kamu mengenal Ornado?" Dave tersenyum melihat Laurel begitu kaget.
"Tentu saja aku kenal walaupun belum pernah bertatap muka langsung dengannya, karena biasanya yang berurusan dengannya adalah Bryan. Perusahaan makanan miliknya yang ada di Italia merupakan customer (pelanggan) terbesar dari perusahaan kami. Bahkan kami menjadi salah satu tamu kehormatan saat acara pernikahan mereka sekitar 2-3 minggu lalu. Hanya saja yang menghadiri pesta itu Bryan dengan mengajak Evelyn. Kalau saja aku tahu kamu begitu ingin bertemu dengan Cladia dan kamu mengenalnya, aku sendiri yang akan menghadiri pesta pernikahan itu dengan mengajakmu. Sayangnya waktu itu aku tidak tahu kalau kamu mengenal baik istri Ornado Xanderson," Dave berkata sambil memandang ke arah Laurel yang awalnya menggigit bibir bawahnya, namun kemudian tersenyum.
"Tidak apa-apa. Yang penting ke depannya aku memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengan mereka. Aku begitu merindukan mereka. Aku ingin sekali bertemu dengan Cladia dan Ornado...," Laurel tersenyum, membayangkan betapa menyenangkannya bisa bertemu dengan teman-teman masa kecilnya yang sudah seperti saudara sendiri baginya.
__ADS_1