CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
PARA SAHABAT


__ADS_3

“Tuan Shaw…,” Dave sedikit tersentak mendengar panggilan dari Detektif Eka.


“Pak Eka, Anda coba perhatikan jarak rumah kami dan komplek rumah susun ini. Dengan mengendarai sepeda motor, maksimal 1 jam orang tersebut akan sampai. Tetapi, istri saya selalu menerima bunga itu sekitar pukul tujuh pagi. Kalau memang pelaku minta bunga selalu dikirim tepat pukul 5, kenapa bunga tersebut baru sampai ke tujuan sekitar pukul tujuh?” Detektif Eka menyodorkan selembar kertas ke kosong ke arah Dave.


"Itu yang sedang saya pikirkan Tuan Shaw," Detektif Eka mulai mencorat coret kertas di depannya.


"Ini lokasi rumah susun, ini lokasi rumah Anda, waktu yang diperlukan sekitar satu jam untuk mencapai rumah susun ke rumah Anda. Ada kemungkinan pelaku bukan berasal dari warga yang menempati salah satu rumah susun itu, hanya saja supaya memudahkan, alamat tujuan awal yang dipakai adalah satpam di komplek rumah susun itu. Jadi dengan kata lain pelaku membutuhkan waktu untuk mencapai rumah susun, mengambil bunga, baru melakukan pengiriman ke rumah Anda," Detektif Eka menjelaskan analisanya sambil mencorat-coret kertas di depannya.


"Bagaimana kalau kejadiannya adalah, pelaku yang sebenarnya hanya memerintahkan melalui telepon? Sedang orang yang tinggal di rumah susun itu adalah orang suruhan pelaku? Dan sebelum dia mengirimkan bunga mungkin dia harus mengambil kartu ucapan yang mungkin berada di lokasi lain, atau bahkan rumah pelaku yang sesungguhnya?" Detektif Eka mengernyitkan dahinya sambil memandang ke arah Dave. Penjelasan Dave terlihat masuk akal juga, dan Detektif Eka tidak menyangka seorang kepala rumah sakit bisa berpikir sedetail itu. Ah, Detektif Eka baru teringat telah melupakan satu hal bahwa laki-laki yang sedang duduk di hadapannya sekarang bukan hanya sekedar seorang kepala rumah sakit, namun juga salah satu pemilik Shaw Corporation dan memiliki kekuasaan tertinggi di Shaw Corporation.


"Sejak kejadian penusukan istriku 3 minggu lalu, pelaku sudah tidak pernah mengirimkan bunga lagi, tapi aku yakin pelaku yang masih berkeliaran di luar sana sedang menyusun rencana untuk kembali menyerang istriku," Detektif Eka terdiam mendengar penjelasan Dave.


"Bagaimana kalau kita berusaha paling tidak menemukan dahulu siapa pesuruh yang menjadi kaki tangan pelaku? Kita coba pesan bunga ke salah satu toko bunga itu, dikirimkan sesuai dengan alamat biasanya, mencoba untuk menirukan kebiasaan pelaku, kita akan lihat siapa yang akan mengambil bunga itu. Dari situ kita akan bisa lanjutkan penyelidikan," Detektif Eka menggangukkan kepalanya, tanda setuju dengan ide rencana yang disampaikan oleh Dave.


# # # # # # #


“Laurel…,” Kali ini Laurel hanya bisa terdiam mendengar namanya dipanggil oleh Lusiana yang sedari tadi bersama Nia dan Indah begitu penasaran menunggunya untuk bercerita tentang bagaimana hubungannya dengan Dave selama ini, apa yang terjadi diantara mereka berdua sampai mereka menikah. Tampak sekali walaupun Lusiana sudah pernah mendengar cerita itu dari bibir Laurel, dia tidak merasa bosan jika harus mendengar lagi dari awal cerita tentang kisah cinta sahabatnya yang baginya selain mendebarkan tapi juga begitu romantis.


“Ayolah Laurel, ceritakan sedikit kepada kami, sejak kamu kembali masuk kerja setelah sembuh dari lukamu, belum pernah ada kesempatan kita berempat mengobrol seperti hari ini,” Nia yang duduk di samping Laurel memegang tangan Laurel yang ada di pangkuannya, sedang Indah dengan mata berbinar menunggu bagaimana Laurel menjawab berbagai pertanyaan dari mereka, seperti seorang anak kecil sedang menanti mamanya membacakan cerita dongeng untuknya.

__ADS_1


Sejak Laurel kembali bekerja di rumah sakit setelah sembuh dari luka akibat penusukan sore itu baru hari ini dia bisa makan bersama teman-temannya di kantin. Dan, setelah menyelesaikan makan siangnya, baik Nia, Lusiana dan Indah langsung menyeret Luarel ke arah taman rumah sakit, duduk di salah satu gazebo yang ada di sana untuk bisa mengorek cerita heboh tentang status Laurel sebagai istri bos mereka.


Mereka bertiga tidak menyia-nyiakan kesempatan hari ini karena tahu betul sejak pukul 9 Dave sudah tidak lagi berada di rumah sakit. Jika tidak, mereka tahu tidak akan bisa dengan mudah mendapatkan kesempatan untuk menyandera Laurel dan mengajaknya mengobrol, karena sejak Laurel kembali bekerja dan semua para pegawai mengetahui status Dave dan Laurel, tampak sekali Dave begitu memonopoli Laurel, seolah-olah tidak mengijinkan orang lain untuk menyita waktu Laurel.


Di luar jam kerja Dave akan langsung membawa Laurel bersamanya, sehingga tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk sekedar mengobrol dengan Laurel, apalagi kebetulan jadwal piket mereka beberapa hari ini berbeda dengan Laurel, sehingga kesempatan untuk saling bertemu semakin minim.


“Aku begitu penasaran bagaimana teman kita ini bisa mendapatkan hati laki-laki tertampan yang pernah aku kenal,” Nia berkata sambil memegang dagu Laurel yang berusaha mengalihkan pandangannya ke tempat lain karena malu.


“Bagaimana bisa selama ini kamu menyembunyikan statusmu sebagai istri Bos dengan begitu baik? Sampai kami hampir-hampir tidak percaya ketika mendengar kabar bahwa Bos memberikan pengumuman di depan banyak orang bahwa kamu adalah istrinya yang sah ketika dokter Arman dan dokter Hana mencoba untuk membullymu,” Nia berkata sambil pikirannya kembali ke siang itu dimana Dave yang awalnya tidak ada sejak pagi tiba-tiba siang itu dilihatnya berlarian dari arah tempat parkir mobil dengan buru-buru tanpa memperdulikan sapaannya, sehingga membuatnya begitu penasaran dan ikut berlari mengikuti di belakangnya, sehingga Nia bisa dengan jelas melihat bagaimana Dave yang langsung ke arah taman dan menyelamatkan Laurel dari tuduhan dokter Arman dengan mengumkan status Laurel sebagai istrinya.


“Aku benar-benar tidak menyangka, bagaimana selama ini aku berusaha menjodoh-jodohkanmu dengan Bos, padahal kamu sudah memiliki Bos sebagai suamimu,” Indah ikut menimpali kata-kata Nia, kembali membayangkan kejadian di kantin saat Bos meminum air dari gelas bekas Laurel yang membuat Indah begitu senang karena menurutnya saat itu Dave sedang menunjukkan bahwa Dave mulai menyukai Laurel, padahal ternyata saat itu Laurel sudah menjadi istri Dave.


“Saat pertama kali bergabung dengan rumah sakit ini, dan saat kejadian di kantin siang hari itu, Laurel belum tahu kalau Bos adalah suaminya,” Nia dan Indah terbeliak kaget mendengar penjelasan Lusiana yang membuat mereka benar-benar kaget. Bagaimana seorang istri tidak mengenal suaminya? Memangnya saat menikah mereka saling memakai topeng di wajah mereka?


Mendengar bagaimana Lusiana menjelaskan tentang ketidaktahuan Laurel tentang statusnya ketika pertama kali memasuki rumah sakit ini membuat wajah Laurel sedikit memerah. Laurel kembali mengingat bagaimana saat pertama kali datang di rumah sakit ini dia seringkali harus merasa jengkel bahkan tidak nyaman dengan sikap Dave yang dingin dan seolah-olah sengaja untuk selalu mencari-cari kesalahannya, namun di sisi lain sikap Dave begitu hangat kepada para pegawainya yang lain. Saat itu Laurel ingat betul bagaimana Dave seringkali mencari banyak alasan agar Dave bisa memanggil Laurel untuk datang ke kantor Dave dan menegurnya untuk alasan-alasan yang kadang tidak masuk akal, sehingga sempat membuat Laurel berpikir bahwa Dave begitu membencinya dan dia benar-benar tidak tahu karena apa.


Laurel hanya bisa tersenyum jika teringat kejadian-kejadian di masa lalu itu, apalagi sekarang dia baru menyadari bahwa sikap dingin Dave terhadapnya merupakan salah satu bentuk perlindungan diri dari Dave agar bisa mengendalikan dirinya sendiri saat berada di dekat Laurel. Wajah Laurel semakin memerah ketika mengingat bagaimana sekarang Dave memperlakukannya dengan begitu lembut dan mesra, jauh melebihi apa yang pernah dia pikirkan dan impikan tentang sosok laki-laki yang akan menjadi suaminya di masa depan, bahkan Laurel bisa memastikan bahwa Devan pun tidak akan bisa bersikap selembut dan semesra Dave.


“Apa sebenarnya yang terjadi dengan kalian berdua? Kalau benar apa yang dikatakan oleh Lusiana, pasti ada cerita besar yang sudah terjadi tentang pernikahan kalian, apalagi kami sempat dengar dari Mira sepertinya dalam waktu dekat kalian akan membuat pesta perayaan pernikahan kalian. Memangnya ketika kalian menikah dulu, kalian tidak melakukan pesta resepsi?” Laurel menggeleng mendengar pertanyaan Nia, membuat Nia semakin penasaran dengan kisah pernikahan Dave dan Laurel.

__ADS_1


“Sebenarnya kapan sih kalian menikah?” Indah jadi ikut penasaran melihat jawaban Laurel.


“Tujuh tahun lalu,” Laurel menjawab singkat.


“Hah?” Baik Indah maupun Nia langsung terbeliak kaget mendengar jawaban Laurel.


Laurel menarik nafas panjang, mau tidak mau akhirnya Laurel menceritakan dengan detail tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Dave sejak 7 tahun lalu sampai dengan sekarang. Dengan serius Nia dan Indah mendengarkan cerita Laurel. Bahkan, Lusiana yang sudah pernah mendengarkannyapun tetap dengan serius mendengarkan tentang kisah Laurel yang baginya cukup memberinya inspirasi. Dari kisah cinta Dave dan Laurel, Lusiana belajar bagaimana saling menghargai pasangannya, saling mencintai dan bahkan saling melindungi.


“Wahhh…, tidak aku sangka..., Bos kita yang super tampan, super kaya, baik hati..., ternyata Bos adalah laki-laki yang sangat sabar, setia dan juga..., romantis…. Demi cintanya rela menunggu cintamu selama 7 tahun tanpa melirik perempuan lain. Kamu benar-benar beruntung Laurel,” Nia berkata sambil kedua tangannya saling menggenggam dan berada di depan dadanya, dengan mata berbinar-binar dan senyum manis di wajahnya, menunjukkan bahwa dia begitu terkagum-kagum dengan sosok Dave.


“Aku sudah bilang kan dari awal memang hanya Laurel yang pantas untuk disandingkan dengan Bos. Dari awal aku tidak pernah setuju Bos bersama gadis lain, bahkan dokter Hana,” Indah berkata sambil tersenyum puas, seolah-olah dia sudah menjadi ahli nujum yang begitu pandai meramal.


"Laurel, Bos orang yang begitu pendiam, bagaimana caramu menaklukan hatinya? Apa..., saat bersamamu Bos juga tetap jadi sosok yang pendiam seperti saat di rumah sakit?" mendengar pertanyaan polos dari Indah, Laurel spontan melotot.


Pendiam? Darimananya pendiam? Di rumah bahkan dia tidak pernah dapat mengendalikan tubuhnya yang selalu aktif kesana kemari agar bisa sedikit lebih diam, apalagi jika kami sedang berduaan, Laurel berkata dalam hati sambil meringis, apalagi mengingat bagaimana setiap kali ada kesempatan Dave tidak akan pernah membiarkan dirinya untuk tidak menyentuh Laurel, bahkan seringkali Laurel harus mengabulkan keinginan Dave untuk melakukannya lebih dari sekali dalam semalam.


"Itu rahasia rumah tangga kami, yang pasti Bos adalah suami terbaik bagiku," Akhirnya Laurel hanya bisa menjawab begitu untuk menghindari teman-temannya semakin dalam mengorek info tentang kehidupan pribadinya bersama Dave yang untuk saat ini ingin dia nikmati hanya berdua dengan Dave.


“Ah, bahagianya menjadi dirimu Laurel, aku harap aku juga akan memiliki kisah cinta seromantis dirimu…,” Nia memandangi wajah Laurel dengan tatapan antara kagum, iri, sekaligus ikut bahagia.

__ADS_1


“Aku doakan supaya keinginanmu segera terkabul Nia,” Nia dan yang lain, termasuk Laurel langsung tersentak kaget mendengar suara Dave yang sudah mengenakan snellinya (snelli adalah doctor’s white coat alias jas dokter, bewarna putih, merupakan barrier terluar terhadap cairan tubuh pasien dan cairan lain, misalnya saja darah, air ketuban, dahak dan lain-lain) tiba-tiba saja sudah berjalan dari arah balik gazebo dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam celana panjangnya, membuatnya terlihat begitu berwibawa sekaligus begitu tampan.


__ADS_2