
Begitu Laurel dan Dave keluar dari kamar mereka dan berjalan ke arah meja makan, Rita langsung mendekat ke arah kedua majikannya yang sedikit membuatnya mengernyitkan dahi, karena tidak seperti biasanya, kedua majikannya keluar secara bersamaan dari kamar utama dengan wajah yang terlihat begitu bahagia, karena setahunya sejak Dave memutuskan pindah di rumah ini, dia selalu tidur di kamar yang ada di sebelah kamar utama. Tapi, tentu saja Rita tidak berani untuk bertanya atau mencoba menyelidiki apa yang sudah terjadi kepada kedua majikannya.
“Pagi Tuan, pagi Non,”
“Pagi Rit,” Laurel langsung mewakili mereka berdua untuk menjawab sapaan dari Rita.
“Non, Nyonya Denia ada disini, sedang ada di dapur menyiapkan sarapan buat Tuan dan Non Laurel,” Mendengar info itu, tubuh Laurel sedikit bergerak ke samping untuk melihat keberadaan mamanya yang ada di dapur.
Laurel langsung tersenyum begitu dilihatnya sosok Mama Denia yang sedang sibuk menata masakan yang dibawanya dari rumah ke atas piring saji. Dave yang awalnya berdiri di samping Laurel bergerak mendekat ke arah Rita dan membisikkan sesuatu yang membuat Rita langsung tahu kenapa kedua majikannya hari ini terlihat begitu bahagia.
“Minta tolong Ujang pagi ini memindahkan semua pakaian dan barang-barangku ke kamar Nona Laurel,” Mendengar perintah Dave yang diucapkan sambil berbisik, Rita langsung mengangguk cepat dengan wajah ikut bahagia.
"Pagi Mam...," Begitu berada di dekat mamanya, Laurel langsung memeluk tubuh mamanya dari samping dan mencium pipinya, sedang Dave yang berdiri sedikit di belakang mereka sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya, hanya bisa tersenyum melihat kemesraan kedua orang ibu dan anak itu.
"Tumben pagi sekali mama kesini, diantar siapa?" Mama Denia tersenyum mendengar pertanyaan Laurel.
"Freya ada perlu dengan temannya yang kebetulan rumahnya dekat dengan rumah ini, jadi sekalian mama ikut kesini untuk menjengukmu," Mama Denia berkata sambil kedua telapak tangannya menepuk lembut pipi Laurel.
"Apa kondisimu sudah membaik?" Laurel tersenyum sambil mengangguk mendengar pertanyaan mamanya.
"Besok aku sudah mulai masuk kerja lagi Ma," Mendengar apa yang dikatakan Laurel, Mama Denia langsung menggerakkan tubuhnya ke samping, matanya memandang ke arah Dave dan Laurel bergantian, seolah menuntut penjelasan atas kebenaran kata-kata Laurel barusan.
"Aku sudah sehat Ma, lagipula benar-benar membosankan berada di rumah sepanjang hari tanpa melakukan apa-apa," Mendengar itu mata Mama Denia langsung melirik ke arah Dave yang langsung tersenyum.
__ADS_1
"Tenang saja Ma, aku akan menjaga anak kesayangan Mama ini selama bekerja. Aku jamin kejadian seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi," Dave berkata sambil lengannya menarik pinggang Laurel agar mendekat ke arahnya, lalu memeluknya dengan erat, membuat Mama Denia yang melihat itu langsung tersenyum.
Bagaimana Mama Denia tidak percaya bahwa Dave begitu berusaha menjaga Laurel, bahkan sejak kejadian penusukan hari ini jumlah tenaga keamanan di rumah ini ditambahkan 3 kali lipat dari semula, dan Mama Denia juga mendengar di rumah sakit pun Dave juga menambahkan jumlah personil security. Untuk tenaga pelayan Dave juga menambahkan 2 orang lagi, selain untuk membuat Laurel lebih nyaman, dia juga merasa kehadirannya di rumah ini pasti membuat pelayan yang ada semakin repot sehingga butuh tenaga bantuan.
"Ah, kamu ini, ada Mama," Laurel berbisik pelan dengan kepala mendongak dan kakinya berjinjit agar bibirnya bisa mendekat ke arah telinga Dave yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya, membuat mau tidak mau sekilas Mama Denia melihat sesuatu di balik kerah baju Laurel yang sudah berusaha Laurel sembunyikan dengan baik tapi jika diamati dengan teliti, orang dewasa yang sudah pernah menikah akan bisa menebak apa yang sudah terjadi diantara mereka, sehingga Laurel harus berusaha keras menyembunyikannya dari orang lain. Melihat itu membuat Mama Denia hanya bisa tersenyum geli sekaligus bahagia.
"Sudah, kita sarapan dulu yuk," Mama Denia buru-buru mengalihkan pandangannya dari leher Laurel dan meraih piring saji berisi lauk yang ada di meja dapur, membawanya ke arah meja makan.
# # # # # # #
"Laurel, nanti malam ada undangan pesta ulang tahun pernikahan Om Pram dan Tante Lia, apa kalian berdua bisa datang?" Mendengar pertanyaan dari mamanya, Laurel langsung melirik ke arah Dave.
"Tergantung kondisi Laurel Ma. Sebenarnya hari ini aku cuti, tapi aku perlu ke rumah sakit karena Mira baru saja memberikan kabar ada salah seorang pasien mengalami emboli serebral (penyumbatan otak yang disebabkan oleh bekuan darah, lemak, atau gelembung gas dalam aliran darah). Sudah ditangani oleh dokter lain, tapi aku harus mengecek kondisi pasien pasca operasi, karena salah satu anak dari pasien merupakan teman SMA ku dulu. Dia merasa lebih yakin jika aku ikut memberikan analisa hasil pemeriksaan pada pasien," Dave langsung melirik balik ke arah Laurel yang tersenyum.
"Kalau begitu tidak ada masalah Ma, nanti malam kami akan usahakan hadir, berikan saja alamat rumah Tante Lia padaku. Mama perlu kami jemput atau berangkat sendiri kesana?" Laurel berkata sambil menyendokkan lauk dari atas piring saji ke atas piring Dave, membuat Denia tersenyum melihat bagaimana Laurel melayani Dave di meja makan.
"Ma, mumpung aku cuti dan Laurel belum masuk kerja, kami akan sama-sama ke rumah sakit, setelah itu kami akan pergi mengunjungi rumah besar," Laurel sedikit tersentak mendengar ajakan Dave baik ke rumah sakit maupun ke rumah besar.
"Memang hari ini ada acara apa di rumah besar? Dan kenapa aku harus ikut denganmu ke rumah sakit hari ini?" Laurel berkata sambil mengelus tengkuknya dengan tangan kanannya, merasa tidak nyaman dengan ajakan Dave yang langsung memegang tangan kiri Laurel dan menggenggamnya.
"Kenapa? Apa sedikitpun kamu tidak penasaran ingin tahu tentang rumah dimana aku selama ini dibesarkan? Sudah lama Mama ingin aku mengajakmu kesana, bagaimanapun kamu menantu pertama di Keluarga Shaw. Sejak awal mama begitu menyukaimu, dia ingin kamu mengenal keluarga kami dengan lebih baik lagi," Laurel terdiam mendengar perkataan Dave, membuat Dave menepuk-nepuk lembut tangan kiri Laurel yang berada dalam genggaman tangannya.
"Apa yang kamu takutkan? Ada aku yang akan menemanimu, tidak akan ada seorangpun yang akan berani mengusikmu di sana. Lagipula di sana hanyalah rumah keluarga, bukan tempat pembantaian. Justru ke depannya kamu yang akan menjadi nyonya rumah di sana," Laurel menghela nafasnya, tetap tidak menjawab, hanya menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, membuat Dave tahu, walaupun tidak menjawab iya, tapi Laurel setuju dengan ajakannya meskipun dengan berat hati.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan menunggumu pulang dari rumah sakit baru kita ke rumah besar bersama-sama," Laurel berkata lirih sambil mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya, membuat Dave tersenyum geli melihat sikap gelisah dari Laurel.
"Kenapa denganmu hari ini Laurel? Kemana perginya Laurel yang biasanya tidak takut apapun? Laurel yang biasanya dengan berani menantang orang-orang yang mencoba menjatuhkannya? Terlalu lama jika aku harus kembali menjemputmu ke rumah. Lagipula, ini hari liburku, aku tidak akan tahan berlama-lama berpisah dari istriku," Laurel yang baru saja mengunyah makanannya langsung tersedak mendengar perkataan Dave, membuat Mama Denia berusaha menahan senyum gelinya.
"Hati-hati," Dave dengan gerakan cepat langsung mengambil gelas berisi air di depannya, dengan tangan kiri menyodorkan gelas itu di bibir Laurel, sedang tangan kanannya menepuk lembut punggung Laurel.
# # # # # # #
Begitu Dave dan Laurel memasuki area rumah sakit, beberapa orang pegawai yang berpapasan dengan mereka langsung menyapa dan menunjukkan rasa hormat mereka dengan menganggukkan kepala mereka kepada Dave dan Laurel, membuat Laurel yang belum terbiasa merasa sedikit salah tingkah.
"Kamu tunggu aku di rumah, setelah selesai aku akan segera ke sini untuk menemuimu," Dave sengaja membawa Laurel ke rumah kacanya untuk beristirahat sambil menunggunya kembali dari mengecek kondisi pasiennya.
Setelah Dave pergi meninggalkannya di rumah kaca, Laurel melangkah ke arah tangga, dengan hati-hati dibukanya pintu kamar yang merupakan kamar Dave, bukan kamar yang dulu pernah dia tempati ketika menginap di sini ataupun ketika dia baru saja sadar dari kejadian penusukan beberapa waktu lalu. Sudah lama dia begitu penasaran dengan tatanan kamar yang disukai oleh Dave.
Begitu Laurel membuka pintu kamar Dave, bau segar pengharum ruangan segera menerpa hidungnya. Mata Laurel memandang ke sekeliling kamar Dave. Dengan ruangan seluas itu Dave sepertinya sengaja untuk tidak menempatkan banyak perabotan di kamarnya, justru kamarnya terkesan kosong dengan penataan yang terkesan modern, minimalis, sekaligus mewah, didominasi warna biru dan abu-abu, menggambarkan dengan jelas pemilik kamar ini adalah seorang pria yang maskulin.
(Maskulin \= Maskulinitas (disebut juga kejantanan atau kedewasaan) adalah sejumlah atribut, perilaku, dan peran yang terkait dengan anak laki-laki dan pria dewasa. Ciri-ciri yang melekat pada istilah maskulin adalah keberanian, kemandirian dan ketegasan. Ciri-ciri ini bervariasi dan dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya).
Sambil tersenyum Laurel mendekat ke arah tempat tidur berukuran besar yang ada di tengah-tengah ruangan itu dan duduk di atasnya. Mata Laurel yang awalnya mengamati sekeliling, tiba-tiba saja terpaku pada sebuah album foto yang tergeletak di atas nakas di samping kanan tempat tidur Dave, membuat Laurel langsung menggerakkan tangannya untuk meraih album foto itu. Di bagian depan album foto tertulis "Our Moments" yang ditulis dengan tinta bewarna emas.
Laurel hanya bisa tersenyum melihat isi dari album foto itu. Sepertinya Dave dengan sengaja mengumpulkan foto-foto mereka berdua mulai dari masa kecil mereka. Di lembar pertama, terdapat foto dua orang bayi yang disusun secara berjejer, dengan keterangan di atasnya : Usia 1 hari. Laurel dapat memastikan bahwa salah satu foto bayi itu adalah fotonya, sedang yang satunya, dia sudah dapat menebak bahwa itu adalah foto Dave ketika masih bayi.
Foto-foto itu terus berlanjut mulai dari mereka berdua bayi, saat mereka usia batita, usia balita, kanak-kanak, remaja, sampai mereka berdua menjalani wisuda. Semua foto-foto itu dipasang saling bersebelahan, di sebelah kiri selalu terpasang foto Laurel, sedang di sebelah kanan foto Dave, dan di beberapa lembar terakhir dari album foto itu, terlihat foto Laurel dengan gaun pernikahannya, dan di sampingnya terdapat foto Dave dengan jas pengantin bewarna putih. Walaupun mereka tidak pernah membuat foto pernikahan bersama, tapi Dave menyusun foto mereka dalam posisi berjajar, menunjukkan bahwa Dave tidak pernah menggangap pernikahan mereka hanya sekedar di atas kertas. Dan memang pada kenyataannya selama ini, sejak Laurel menandatangani surat nikah mereka, Dave selalu menganggap Laurel adalah istrinya.
__ADS_1
Laurel memandangi foto-foto pernikahan Dave yang mengenakan jas bewarna putih, yang menunjukkan senyum bahagia di wajahnya. Tanpa sadar jari-jari tangan kanan Laurel mengelus foto-foto Dave sambil sesekali dia menahan nafasnya.
Aku tidak pernah menyangka bahwa keputusanku untuk melarikan diri darimu 7 tahun lalu adalah tindakan terbodoh yang pernah aku lakukan selama hidupku. Aku benar-benar mencintaimu Dave, terimakasih untuk kesetiaan dan cintamu yang begitu besar untukku, Laurel berkata dalam hati sambil tetap memandangi dan mengagumi foto-foto Dave saat mengenakan jas pengantinnya yang terlihat begitu tampan, sehingga Laurel benar-benar tidak menyadari jika seseorang tiba-tiba sudah mengambil posisi duduk di sebelahnya dan langsung memeluk pinggangnya dari samping, bahkan langsung menciumi ceruk lehernya dengan mesra.