
Laurel merasakan getaran yang begitu hebat di dadanya ketika bibir Dave mulai menyentuh bibirnya, bukan sekedar sentuhan seperti malam itu, dimana secara tidak sengaja dia terjatuh di atas tubuh Dave dengan bibir menempel pada bibir Dave.
Kali ini sentuhan ini begitu berbeda, dengan perlahan dan lembut Dave yang memiringkan kepalanya sambil menunduk, membiarkan bibirnya mengecup bibir Laurel pelan, namun Dave tidak berhenti sampai disitu, membuat mata Laurel sedikit terbeliak karena kaget, dengan spontan Laurel berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah Dave, tapi tangan kanan Dave yang berada di tengkuk Laurel justru menarik kepala Laurel untuk lebih mendekat ke arahnya.
Tangan kiri Dave yang berada di pinggang Laurel naik ke atas dan mengelus lembut punggung Laurel, seolah berusaha menenangkan Laurel yang terlihat begitu kaget karena tindakannya yang langsung mencium bibir Laurel, sekaligus menenangkan hatinya sendiri, karena setelah sekian lama dia begitu merindukan keberadaan Laurel, kejadian saat ini bagi Dave benar-benar seperti mimpi, bisa merasakan bibir lembut Laurel, memeluk tubuh Laurel dan merasakan kehangatannya.
Bibir Dave yang awalnya hanya mengecup lembut bibir Laurel bergerak lebih dalam lagi dengan membuka sedikit bibirnya, lalu menekan bibir bawah Laurel dengan menggunakan kedua bibirnya dan menghisapnya lembut. Laurel yang awalnya berusaha menjauh tanpa sadar menghentikan gerakannya, mata Laurel yang awalnya terbeliak, perlahan-lahan mengecil dan akhirnya Laurel menutup matanya, membiarkan Dave mencium bibirnya, menghisap dan me..lumatnya, dan Laurel mulai membiarkan dadanya yang berdebar semakin berdetak keras dan mulai menikmati ciuman Dave yang terasa begitu lembut dan membuatnya semakin sadar bahwa ke depannya dia akan semakin sulit untuk tidak semakin jatuh cinta pada laki-laki itu.
Dave membiarkan dadanya berdetak dengan irama keras yang tidak lagi bisa dia kendalikan, membuat seolah-olah waktu 7 tahun lebih yang sudah dia lewati tidak berarti apa-apa, kepedihan yang pernah dia alami selama 7 tahun itu tiba-tiba menghilang begitu saja saat ini, bahkan membuatnya tidak bisa mengingat lagi rasa sakit yang pernah dia rasakan, tergantikan oleh rasa bahagia yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata, apalagi melihat dan merasakan bagaimana Laurel membiarkan dia mencium bibirnya tanpa adanya penolakan lagi.
Untuk beberapa saat mereka begitu menikmati ciuman mereka sampai Laurel tersadar akan sesuatu dan langsung mendorong tubuh Dave untuk menjauh dengan kedua telapak tangannya mendorong dada Dave ke depan.
“Dave…,” Dave yang awalnya sedikit kaget karena dorongan tangan Laurel dan berpikir bahwa Laurel marah karena kelancangannya mencium bibirnya tersenyum begitu melihat wajah Laurel yang tidak menunjukkan sikap marah, justru terlihat begitu salah tingkah dengan wajah merah padam karena malu.
“Bagaimana kita bisa lupa diri, melakukan hal seperti itu di tempat umum seperti ini?” Laurel memandang ke sekelilingnya, seperti seorang pencuri yang baru saja melakukan aksinya dan takut tertangkap oleh orang lain.
Mendengar perkataan Laurel yang terlihat gugup sambil mengamati sekelilingnya, Dave langsung tertawa geli.
“Dave…, jangan tertawa, tidak lucu jika orang melihat kita seperti anak muda yang tidak bisa mengendalikan diri,”
“Maksudmu, apa sebaiknya sekarang kita kembali ke villa agar bisa melanjutkan apa yang baru saja kita lakukan? Kita lanjutkan di kamar?” Mendengar pertanyaan Dave wajah Laurel semakin memerah sekaligus terasa panas.
“Dave…, jangan bercanda,” Mendengar suara lirih Laurel mengatakan itu membuat Dave menghentikan tawanya, dengan lembut tangan kanannya bergerak ke arah kepala Laurel dan mengelusnya kepala sebelah kiri Laurel dengan lembut.
__ADS_1
“Tidak ada seorangpun yang bekerja pagi ini, Evelyn sengaja meminta para pekerja baru kesini setelah istirahat makan siang,” Laurel membeliakkan matanya mendengar itu, lagi-lagi…, semua sudah direncanakan. Laurel menarik nafas dalam-dalam, terlalu banyak orang yang mendukung Dave, mana bisa dia melarikan diri dari Dave.
“Terimakasih untuk hadiahmu hari ini,” Dave berkata lembut kepada Laurel, membuat gadis itu langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain karena saat ini dia masih sibuk mengendalikan debaran dalam dadanya, ciuman yang baru saja dialaminya bersama Dave merupakan pengalaman yang belum pernah dia alami selama ini, dan membuatnya begitu salah tingkah dan gugup, dan Dave cukup bisa melihat dengan jelas bagaimana Laurel terlihat begitu salah tingkah di hadapannya saat ini.
“Apa ini ciuman pertamamu?” Mendengar pertanyaan Dave, wajah Laurel kembali memerah, dengan pelan Laurel menggelengkan kepalanya, membuat Dave sedikit tersentak, karena menurut info dari Freya, Laurel hanya pernah berpacaran dengan satu orang, Devan, dan mereka belum pernah berciuman sama sekali, karena selain saat itu mereka berdua masih sangat muda, Laurel merupakan gadis yang begitu patuh dengan aturan ketat mamanya tentang bagaimana harus menjaga jarak antara laki-laki dan wanita yang belum menikah, walaupun status mereka saat itu sudah menjadi sepasang kekasih.
“Kedua, yang pertama kamu sudah mengambilnya saat kamu sakit malam itu,” Dave terdiam sesaat, dan begitu dia ingat tentang kejadian malam itu, malam saat Laurel terjatuh di atas tubuhnya, Dave tersenyum lembut, benar-benar bahagia mengetahui bahwa baik bagi dia maupun Laurel, sama-sama mengalami ciuman pertama pada malam itu.
“I Love you mo cuisle,” Dave berbisik lirih ke arah Laurel yang hanya bisa tertunduk tanpa berani menatap ke arah Dave karena sampai saat ini dia masih belum bisa mengusai diri dari rasa gugupnya akibat ciuman Dave tadi.
“Ayo kita kembali ke villa, sudah hampir waktunya acara disana dimulai, Freya dan Evelyn pasti sudah menunggu kita juga,” Dave bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Laurel, membuat Laurel terdiam sesaat, kemudian dengan sedikit ragu, tangan kirinya menerima uluran tangan dari Dave, yang langsung menariknya, membantunya untuk bangkit berdiri.
# # # # # # #
“Kalian dari mana saja? Kenapa tiba-tiba menghilang?” Mendengar pertanyaan Laurel yang lebih menyerupai omelan, baik Evelyn dan Freya sedikit bingung untuk menjawabnya, walaupun sebenarnya Laurel sudah tahu apa yang terjadi hari ini kedua adiknya itu ikut andil di dalamnya.
“Ehmmm…,” Evelyn bergumam pelan.
“Kami tadi ke kebun stroberi kak, karena Evelyn penggemar berat buah stroberi,” Freya langsung menjawab pertanyaan Laurel ketika dilihatnya Evelyn sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan Laurel.
“Iya kak, aku ingin sekali membuat cake stroberi dan jus stroberi untuk kalian yang sedang berlibur nanti siang, apalagi Kak Dave sudah mengundang chef terbaik di kota kita, rugi sekali kalau kita tidak memanfaatkan hasil kebun kita,” Laurel melirik sekilas ke arah kantung plastik bewarna putih yang ada di tangan Evelyn, yang berisi stroberi, namun dengan jumlah sesedikit itu, mana mungkin mereka akan membuat cake stroberi dan juice stroberi untuk semua orang yang ada.
“Kalian ini, tidak ada gunanya berusaha membodohi kakak, lain kali jangan iseng seperti itu,” Laurel mengacak rambut di kepala Evelyn, lalu berjalan ke arah sisi lain mobil untuk segera naik ke mobil, meninggalkan Evelyn dan Freya yang berwajah bingung karena kebohongan mereka diketahui oleh Laurel, sedang Dave hanya bisa menahan senyum dengan tangan kanannya dia letakkan di bibirnya untuk menyembunyikan usahanya menahan senyum.
__ADS_1
Melihat senyum tertahan di wajah Dave, Evelyn memandang wajah kakaknya dalam-dalam, diikuti Freya yang juga memandang Dave dengan penuh selidik, membuat dengan cepat Dave berdehem kecil dan memasang wajah serius.
“Aku tidak mengatakan apa-apa pada kakakmu Laurel, kalian pikir dia gadis bodoh yang tidak bisa menebak tindakan kalian? Kalian terlalu meremehkan kami sebagai dokter yang lulus dari Harvard,” Freya dan Evelyn hanya bisa menarik nafas panjang mendengar perkataan Dave, saat ini hanya berharap kalau Laurel benar-benar tidak akan memarahi mereka kali ini.
“Ayo, kita kembali ke villa, kalian bisa lakukan apa yang kalian suka, aku dan kakakmu Laurel harus mengikuti acara bersama karyawan yang lain,” Dave berkata sambil berjalan mendekati pintu mobil sebelah kanan, namun langkahnya tertahan oleh Evelyn yang tiba-tiba saja bergerak, berdiri di depan Dave.
“Kak, apa semuanya berjalan dengan lancar?” Evelyn bertanya kepada Dave sambil melirik ke arah Laurel yang sudah duduk di kursi di sebelah sopir di dalam mobil.
“Apa yang kamu harapkan terjadi diantara kakak dan kakak iparmu?” Evelyn tersenyum geli mendapat pertanyaan balik dari Dave.
“Kami sih sebagai adik hanya bisa membantu, masalah hasil, harus kakak sendiri yang bertindak. Jangan bilang rencana kami pagi ini gagal karena Kak Dave tidak bertindak apa-apa,” Dave tersenyum sambil mengacak rambut Evelyn tanpa merespon perkataan Evelyn.
“Kak, kenapa kalian semua selalu menganggapku anak kecil. Katakan padaku apa yang terjadi, paling tidak aku ingin tahu apa rencana yang aku susun semalam bersama Freya berhasil? Membawa hasil?” Dave mendekatkan bibirnya ke telinga Evelyn.
“Urusan orang dewasa, anak sekecil kamu dilarang mendengarkan,” Dengan sedikit tertawa geli, Dave langsung berjalan, membuka pintu mobil dan masuk, membiarkan Evelyn dengan wajah penasaran memberengut karena Dave tidak mau menceritakan apa yang terjadi untuk mengurangi rasa penasarannya, sedang Freya hanya bisa mengulum senyum di bibirnya, paling tidak melihat bagaimana wajah bahagia Dave, dia bisa menilai semua berjalan dengan lancar, atau bahkan mungkin hubungan mereka sudah selangkah lebih maju dari kemarin.
“Apa yang kalian bicarakan di luar? Kenapa lama sekali baru masuk ke mobil?” Begitu Freya, Evelyn dan Dave masuk ke mobil, Laurel langsung bertanya, membuat Evelyn memberi tanda melalui spion kepada Dave agar Dave yang bertanggung jawab untuk menjawab pertanyaan Laurel.
“Tidak ada, hanya saja mereka menanyakan tentang tehmu tadi pagi, penasaran kenapa aku begitu menyukai teh buatanmu tadi pagi,” Mendengar perkataan Dave, mata Laurel melotot kaget dan langsung menatap Dave dalam-dalam, dan dari pandangan itu Dave bisa membaca bahwa Laurel sedang menanyakan apakah dia memberitahu kepada kedua adiknya tentang peristiwa ciuman yang mereka lakukan di perkebunan apel tadi, karena masalah teh, tentu saja Freya dan Evelyn tidak tahu apa-apa.
Melihat wajah gusar Laurel, Dave tersenyum geli, membuat Evelyn dan Freya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat tindakan kedua kakaknya.
“Kakak berdua, daripada kalian saling berpandang-pandangan tidak jelas di depan kami, lebih baik mulai sekarang kalian berdua tinggal serumah saja supaya kalian bisa melakukan apapun yang kalian suka mulai sekarang,”
__ADS_1
“Apa?” Baik Dave dan Laurel berkata bersamaan dan langsung menoleh ke belakang memandang ke arah Freya yang tertawa melihat wajah kedua kakaknya yang langsung merah padam karena malu akibat kata-katanya barusan.