CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
KUNJUNGAN MENDADAK


__ADS_3

"Dave...," Bibir Laurel berbisik lirih mendengar suara ketukan di pintu kamar mereka, sedang Dave masih memenjarakan tubuhnya diantara kedua lengannya yang kokoh, sehingga Laurel tidak bisa bergerak turun dari tempat tidur untuk membuka pintu kamar dan melihat siapa yang sedang mengetuk pintu.


"Ah...," Bibir Dave mengeluarkan suara lenguhan pendek dengan kepalanya tertunduk dengan wajah frustasinya yang membuat Laurel justru terkikik geli, melihat bagaimana kecewanya wajah Dave ada seseorang yang mengganggu acaranya pagi ini bersama Laurel setelah hampir dua bulan sejak dia mengetahui kehamilan Laurel, Dave tidak berani meminta haknya sebagai suami kepada Laurel, dan berusaha keras menahan hasratnya yang seringkali begitu sulit dia kendalikan saat berada di dekat istri tercintanya.


"Tunggu sebentar Bi Yuni!" Laurel sedikit berteriak untuk menanggapi ketukan di pintu kamarnya sambil matanya melirik ke arah wajah Dave yang terlihat dengan ogah-ogahan mengubah posisinya kembali berbaring di tempat tidurnya dengan wajah kesal.


"Jangan berwajah jelek seperti itu Dave. Setelah ini bisa kita lanjutkan lagi acara kita. Kamu bilang hari ini kita akan menghabiskan waktu kita berduaan saja kan sepanjang hari ini?" Laurel berkata sambil berbisik lembut ke arah telinga Dave yang dengan cepat justru langsung menyergap kepala Laurel dan menariknya untuk mendekat ke arah wajahnya dan langsung mencium bibirnya dengan penuh gairah, membuat Laurel sedikit kewalahan.


"Da...,ve...," Tanpa memperdulikan bisikan pelan Laurel yang menyebutkan namanya, Dave terus mencium Laurel dalam-dalam, melummat dan menghisap bibir tipis Laurel, lalu sedikit menggigit bibir bawah Laurel yang langsung membuatnya sedikit terbuka karena kaget dan membuat Dave tersenyum dan langsung menggunakan kesempatan itu untuk mengeksplore bagian dalam bibir istrinya dengan penuh gairah.


Untuk beberapa saat Dave terus mencium bibir Laurel dengan tangannya bergerak menyusuri dan menjelajah tubuh mulus Laurel, mengelus dan memijat dengan lembut bagian-bagian sensitifnya, membuat gairah Laurel begitu terpancing dan Laurel hampir saja tidak bisa menahan diri untuk tidak mendesah dan mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh Dave. Namun begitu mengingat ada Bi Yuni masih berada di balik pintu menunggu respon mereka, Laurel segera menyadarkan dirinya sendiri untuk menguasai dirinya. Namun sebelum dia kembali menyebutkan nama Dave dan memintanya untuk berhenti, tiba-tiba saja Dave menghentikan semua ciuman dan sentuhan-sentuhan mesranya.


“Sesuai dengan yang barusan kamu katakan…, kalau kita berhenti sekarang, setelah ini kita lanjutkan lagi. Ingat…, seperti katamu tadi…, sepanjang hari ini,” Dave berkata sambil bangkit dari tidurnya, dan dengan sedikit bergegas mendekat ke arah pintu setelah dengan cepat berusaha merapikan piyama tidur dan rambutnya dengan ujung-ujung jarinya, membiarkan Laurel yang masih berada di tempat tidur namun sudah bergerak dalam posisi duduk di pinggiran tempat tidur.


“Ada perlu apa Bi Yuni?” Bi Yuni langsung tersenyum sambil sedikit mengangguk memberi hormat begitu melihat sosok majikannya membuka pintu kamar untuknya.


“Maaf mengganggu Tuan Dave. Di bawah…, Ada Nyonya Rosalia dan Tuan Augistin,” Dave langsung terbeliak kaget mendengar bahwa kedua orangtuanya sepagi ini tiba-tiba saja sudah berkunjung ke rumahnya.

__ADS_1


Tidak terkecuali Laurel yang mendengar perkataan Bi Yuni dari tempatnya duduk di pinggiran tempat tidur. Mata Laurel langsung membulat sempurna karena melotot akibat rasa kagetnya mendengar kedatangan kedua mertuanya sepagi ini. Dengan buru-buru Laurel langsung bangkit dari duduknya dan dengan bergegas mendekat ke arah pintu kamarnya.


“Dave! Mana Laurel? Bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja?” Tidak begitu lama kemudian terdengar teriakan nyaring dari Mama Rosalia yang tiba-tiba saja sudah menaiki tangga dan sudah mencapai setengahnya hendak menuju ke kamar Dave dan langsung mencerca Dave dengan berbagai pertanyaan begitu melihat sosok Dave yang menyembul dari balik pintu kamarnya.


Dave yang menoleh ke arah tangga dan melihat mamanya naik menuju kamarnya langsung berjalan keluar dari kamarnya dan menyusul mamanya, menuruni tangga. Begitu melihat Dave masih mengenakan piyama dengan rambut terlihat sedikit berantakan, membuat Mama Rosalia mengarahkan pandangan matanya ke arah pintu kamar Dave kembali.


Begitu melihat sosok Laurel yang melongokkan kepalanya dari pintu kamarnya, Mama Rosalia langsung tersenyum cerah, walaupun sebelumnya sekilas senyum geli tersungging di wajahnya karena melihat kondisi Laurel yang juga masih mengenakan piyama tidurnya dengan rambut terlihat sedikit berantakan, padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul 8 pagi. Sedangkan menurut pengalaman Mama Rosalia, Dave sejak kecil sudah terbiasa untuk bangun sebelum pukul 5 pagi, begitu juga yang Mama Rosalia tahu tentang Laurel.


“Eh, tumben Mama dan Papa berkunjung ke sini sepagi ini?” Dave bertanya sambil memijat tengkuknya dan matanya melirik ke arah ruang tamu dimana papanya terlihat sedang duduk di sofa sambil memandang ke arah mereka. Wajah Dave dengan jelas menunjukkan bahwa dia merasa sedikit canggung karena tidak menyangka dia telah membiarkan kedua orangtuanya menunggu lama karena sedikit kegiatan panas yang hampir saja dia lakukan bersama Laurel di kamar barusan, sehingga membuatnya menunda-nunda untuk membuka pintu kamarnya yang sudah diketuk oleh Bi Yuni sedari tadi.


“Tentu saja Mama dan Papa khawatir dengan info yang diberikan Leo tentang kabar penculikan Laurel kemarin malam. Kalau saja Leo memberitahu kami sejak kemarin, pasti Mama dan Papa akan langsung kesini malam itu juga!” Mama Rosalia berkata dengan wajah terlihat tegang mengingat cerita Leo tentang kejadian tadi malam yang pagi tadi disampaikan langsung oleh Leo kepada Mama Rosalia dan Augistin Shaw. Tadi pagi sebelum berangkat ke rumah sakit Leo dengan sengaja mampir ke rumah besar dan memberitahukan kepada kedua orangtua Dave tentang kejadian yang menimpa Laurel dan Dave kemarin malam.


“Kamu ini Dave! Kejadian sebesar itu kenapa tidak langsung memberitahu Mama dan Papa! Kenapa justru dari Leo kami tahu! Dasar anak nakal! Apa kamu pikir kamu akan terus menyembunyikannya dari kami kalau Leo tidak memberi kami kabar? Dasar kamu ini! Bagaimana bisa kamu membiarkan istrimu yang sedang hamil mengalami hal mengerikan seperti itu! Kenapa tidak menjaganya dengan baik! Awas kalau karena kamu tidak becus menjaga istrimu terjadi sesuatu dengan calon cucuku!” Mama Rosalia mengomel sambil sesekali memukuli bahu Dave yang hanya bisa tersenyum dan menerima pukulan dari mamanya dengan pasrah walaupun hanya sekedar pukulan pelan yang tidak sungguh-sungguh dilakukan Mama Rosalia untuk menyakitinya, hanya untuk menunjukkan protesnya kepada Dave.


“Ma…, yang penting sekarang semua baik-baik saja. Lebih baik beri waktu aku dan Laurel sebentar untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah itu kita bisa mengobrol tentang kejadian tadi malam. Aku akan jelaskan apapun yang ingin Mama ketahui tentang kejadian kemarin.” Mendengar permintaan Dave, Mama Rosalia langsung menghentikan omelannya, dan sebentar kemudian justru merasa malu karena sadar sudah mengganggu pagi Dave dan Laurel yang sepertinya baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya tidak diganggunya.


“Maaf…, apa kehadiran kami pagi ini mengganggu kegiatan kalian di kamar barusan?” Dave langsung tersenyum dengan wajah kikuk mendengar pertanyaan mamanya yang begitu tepat sasaran.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan mertuanya itu, tanpa sadar wajah Laurel langsung terasa panas dan memerah, dia sungguh berharap Dave tidak akan membuka rahasia mereka tentang apa yang telah terjadi antara dia dan Dave di dalam kamar barusan. Tapi tentu saja Dave tidak akan berani jujur tentang itu walaupun kepada mamanya sekalipun. Rahasia di tempat tidur mereka, tentu saja hanya Dave dan Laurel yang berhak tahu dan menikmatinya.


“Ah, tidak ma. Kami sedang bersantai tadi, karena hari ini kami berencana tidak bekerja dulu. Laurel juga sedang butuh istirahat setelah kejadian kemarin,” Dave berusaha menjelaskan tanpa menyinggung adegan romantis mereka yang terputus pagi ini karena kehadiran kedua orangtuanya yang terlalu tiba-tiba datang berkunjung sepagi ini.


“Oke, oke. Kalau begitu, kalian mandi dulu, setelah itu kita mengobrol di bawah,” Mama Rosalia berkata sambil memiringkan kepalanya ke samping yang terhalang oleh tubuh Dave agar bisa memandang ke arah wajah Laurel dan tersenyum kepada menantu kesayangannya itu.


“Oke Dave, Mama akan menunggu di bawah bersama papamu. Ayo, cepat mandi sana, supaya setelah itu kita bisa sarapan bersama-sama,” Setelah berkata-kata, Mama Rosalia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan menuruni tangga, kembali mendekat ke arah Augistin Shaw yang masih duduk di sofa dengan wajah datar, hanya mengawasi apa yang terjadi tanpa berkomentar sama sekali, tapi begitu melihat sosok Laurel dan Dave yang sepertinya baik-baik saja, tanpa diketahui oleh yang lain, Augistin Shaw menarik nafas lega.


Begitu melihat mamanya sudah menuruni tangga untuk duduk di sofa bersama papanya, menunggu dia dan Laurel mandi dan bersiap, Dave langsung membalikkan tubuhnya dan menaiki tangga rumah kacanya, kembali menuju kamarnya. Dave hampir saja langsung masuk ke kamar ketika tiba-tiba teringat tentang sesuatu begitu melihat keberadaan Bi Yuni di depan pintu kamarnya.


"Bi Yuni, tolong siapkan minuman hangat, dan tambahkan porsi makanan untuk sarapan kami berempat," Sebelum kembali masuk ke kamarnya, Dave memberikan perintah kepada Bi Yuni.


"Maaf Tuan Dave, tapi tadi sewaktu Nyonya Rosalia dan Tuan Augistin datang mereka membawa beberapa pelayan kemari dan mereka sudah diperintahkan oleh Nyonya Rosalia untuk menyiapkan makan pagi," Dave mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan dari Bi Yuni.


Pantas saja aku mendengar sedikit suara ribut dari arah dapur dan bau sedap masakan dari sana. Ah, Mama, selalu memberikan perhatian berlebihan untuk anak-anaknya. Tapi apa boleh buat, mama pasti begitu khawatir dengan Laurel setelah mendengar cerita dari Leo, Dave berkata dalam hati sambil melirik ke arah mamanya yang sudah terlihat mengobrol dengan santai bersama papanya.


"Ok kalau begitu Bi. Bi Yuni tolong bantu mereka saja mengatur meja makan. Aku dan Nona Laurel akan segera bersiap untuk turun,"

__ADS_1


"Baik Tuan Dave," Bi Yuni segera berkata menjawab perintah dari Dave sekaligus menganggukkan kepalanya.


Tanpa menunggu Bi Yuni pergi, Dave langsung memasuki kembali kamarnya dan menutup rapat-rapat pintu kamarnya, setelah itu langsung menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan keras melalui sela-sela bibirnya, menunjukkan dia merasa begitu lega setelah kembali masuk ke kamarnya, seperti seorang pemuda yang baru saja berhasil melarikan diri dari interogasi orangtuanya karena ketahuan berani berkencan diam-diam tanpa ijin orangtuanya dengan gadis pujaan hatinya. Melihat tindakan Dave, Laurel langsung tersenyum geli.


__ADS_2