CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
DUDUK BERDUA DENGANMU


__ADS_3

“Selamat siang bos,” Mira langsung mengangguk untuk memberikan tanda hormat dan menyapa Dave yang baru saja datang.


“Siang Mir, kenapa kalian belum melakukan check in? Aku duluan ya,” Tanpa menunggu jawaban dari Lusiana dan Laurel, Dave meraih koper yang awalnya dipegang oleh Odi, menerima sebuah amplop dari Mira dan memasuki gedung bandara untuk melakukan check in.


“Mir…?” Mendengar Laurel memanggil namanya dengan wajah bertanya-tanya, Mira hanya bisa tersenyum.


“Maaf dok, saya hanya menjalankan tugas saya. Saya harus kembali ke rumah sakit, selamat menikmati perjalan anda,” Setelah selesai  berpamitan, Mira segera membalikkan badannya untuk berjalan menjauh, untuk kembali ke rumah sakit, tapi baru dua langkah, Mira menoleh kembali ke arah mereka berdua.


“Eh, maaf, saya lupa sesuatu, nomor kursi dokter Laurel bersebelahan dengan bos, sedang dokter Lusiana akan duduk di belakang anda dan bos. Jangan khawatir dok, bos tidak akan mabuk naik pesawat, kali ini anda akan baik-baik saja duduk di sebelah beliau,” Setelah mengatakan itu Mira langsung berjalan meninggalkan mereka, membiarkan Laurel yang terlihat sedikit jengkel dengan apa yang baru saja terjadi, karena keberadaan Dave tentu saja merusak rencana awalnya yang ingin menenangkan diri selama 2 hari ini.


Lusiana hanya bisa tersenyum, karena bagaimanapun dengan adanya hubungan istimewa antara Dave dan Laurel, dia pun ikut merasakan upgrade fasilitas yang dia dapatkan, termasuk perubahan tiket pesawat dari ekonomi menjadi first class, juga reservasi hotel mewah yang dia dapatkan.


# # # # # # #


Dengan sedikit ragu Laurel memandang ke arah kursi kosong yang ada di samping Dave yang sudah duduk di kurisnya, dengan masih memakai kacamata hitamnya dan membaca sebuah majalah kesehatan yang dia letakkan di atas pahanya.


“Maaf, ada yang bisa kami bantu? Apa ada masalah dengan nomer kursi di boarding pass (Boarding pass wajib dimiliki oleh setiap penumpang tanpa mengenal batasan umur. Boarding pass adalah tiket untuk masuk ke dalam pesawat yang berisi informasi seperti nama penumpang, tujuan, nomor pesawat, nomor kursi tempat duduk, boarding gate, bandara kedatangan hingga nomor tiket. Tidak hanya itu, pada boarding pass tersebut juga tertulis angka, huruf dan beragam kode yang memiliki artinya masing-masing) anda?” Seorang pramugari mendekat ke arah Laurel yang tampak berdiri beberapa saat di samping kursinya.


“Ah, tidak…, ini nomer kursi saya,” Pramugari itu tersenyum mendengar jawaban Laurel dan langsung mengarahkan telapak tangannya ke arah kursi kosong di samping Dave.


“Kalau begitu silahkan duduk, semoga anda menikmati perjalanan ini,” Laurel mengangguk dan memilih untuk segera duduk di kursinya sebelum timbul pertanyaan lagi dari orang lain, diliriknya Dave yang masih dalam posisi membaca majalah di depannya tapi terlihat jelas sedang menahan senyum di bibirnya.

__ADS_1


Begitu Laurel duduk di sampingnya, Dave langsung menutup majalah kesehatan di atas pahanya, meletakkan di atas meja di depannya dan melepas kacamata hitamnya, kemudian dengan mata birunya memandang ke arah Laurel yang sengaja menatap lurus ke depan, seolah-olah tidak menyadari ada seseorang yang duduk di sampingnya, membuat Dave justru tersenyum simpul dan semakin ingin menggoda Laurel.


“Kenapa dengan wajahmu hari ini? Kenapa terlihat tidak secerah biasanya?” Laurel hanya bisa menahan nafasnya mendengar pertanyaan Dave.


“Tidak, tidak ada yang berubah, wajahku dari lahir memang sudah seperti ini,” Laurel menjawab pertanyaan Dave dan dengan sengaja tidak menoleh ke arahnya.


“Iya, aku percaya, sepertinya sejak lahir kamu sudah dilahirkan dengan kecantikan yang bisa merusak jantung orang lain,” Mendengar perkataan Dave, Laurel langsung menoleh ke arah Dave.


“Karena dengan kecantikanmu bisa membuat jantung berdebar tidak terkendali, tentu bahaya jika seseorang mengalami itu,” Dave berkata dengan suara lirih, membuat Laurel sedikit melotot mendengar perkataan Dave.


“Tuan Shaw, seperti orang yang tidak pernah berolahraga, kalau jantung kita tidak sekali-sekali kita buat berdetak lebih cepat seperti saat kita berolahraga, justru akan berbahaya, semakin besar resiko jantungnya tidak sehat,” Dave tersenyum mendengar balasan dari Laurel, dan dengan cepat Dave mendekatkan bibirnya ke arah telinga Laurel.


“Kalau begitu, bisakah kamu sering-sering membantuku agar jantungku berdetak dengan keras agar terlatih dan sehat?” Mendengar bisikan Dave, wajah Laurel langsung memerah. Melihat itu Dave hanya bisa tersenyum geli dan menjauhkan kembali kepalanya dari Laurel.


Satu hal yang membuat Laurel bertambah jengkel sebenarnya adalah tentang orang-orang di sekitar mereka yang begitu mendukung Dave, termasuk Freya dan Mama Denia yang setelah dia mengetahui tentang Dave sebagai suaminya, mereka seringkali membicarakan tentang kebaikan dan perhatian Dave terhadap Freya dan Mama Denia, bahkan saat Laurel masih berada di Amerika. Membuatnya seolah-olah menjadi anak nakal yang suka menentang orang tua, sehingga tidak ada yang mendukungnya sama sekali, sedang Dave adalah anak kesayangan yang selalu menurut dan patuh kepada orangtua sehingga semua orang menyayangi dan mendukungnya.


Laurel yang sibuk dengan pikirannya sendiri sambil memejamkan mata akhirnya tidak bisa menahan kantuknya, sehingga tanpa sadar dia tertidur. Dave yang awalnya sibuk dengan majalahnya kembali, menoleh kaget begitu merasakan ada yang menyentuh bahunya. Mata Dave langsung mengamati kepala Laurel yang terkantuk-kantuk bergerak ke kanan dan ke kiri sehingga sempat menabrak bahunya.


Melihat kondisi Laurel yang mulai tertidur dengan kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, dengan lembut Dave yang duduk di sebelah kanan Laurel meraih kepala Laurel, menyandarkannya di bahu kirinya. Setelah itu Dave menutup majalah bisnisnya, meraih tangan kanan Laurel yang awalnya berada di atas perut Laurel, menggenggam telapak tangan Laurel dengan tangan kirinya dan menumpangkannya di atas sandaran kursi yang ada di antara tempat duduk mereka, dan dengan lembut tangan kanan Dave menepuk-nepuk tangan Laurel yang ada dalam genggamannya, membuat tanpa sadar dalam tidurnya Laurel tersenyum dan semakin lelap tertidur.


# # # # # # # #

__ADS_1


Begitu terbangun dari tidurnya, Laurel sedikit terkejut menyadari posisi tidurnya yang begitu nyaman bersandar pada bahu Dave dengan tangan kanannya dan tangan kiri Dave saling berpegangan. Laurel sedikit menengadahkan kepalanya, dan lagi-lagi dia kembali terkejut menyadari Dave yang ikut tertidur dengan posisi kepala Dave menempel di kepalanya, membuat mereka seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta sedang melakukan perjalanan berdua.


Dengan perlahan-lahan dan hati-hati, Laurel menjauhkan kepalanya dari kepala Dave, begitu berhasil menjauhkan kepalanya, Laurel berusaha menarik tangan kanannya yang berada dalam genggaman tangan kiri Dave, namun begitu dia berusaha menariknya, genggaman tangan Dave justru semakin erat, membuat Laurel dengan spontan melirik ke arah Dave yang menyungingkan senyum di wajahnya, membuat Laurel langsung tersadar bahwa Dave hanya berpura-pura tertidur.


“Dave, lepaskan tanganmu,” Laurel mendekatkan kembali kepalanya ke kepala Dave dan berbisik pelan ke arahnya.


“Tidak mau,” Dave menjawab pelan dengan matanya tetap terpejam, membuat Laurel  kembali berusaha menarik kembali tangannya, namun tangan kiri Dave tetap menahannya untuk tetap berada di dalam genggamannya.


“Dave, malu dilihat orang,” Laurel kembali berbisik pelan, berharap Dave mau melepaskan tangannya.


“Aku lepas dengan satu syarat,”


“Apapun, tapi lepaskan tanganku,” Laurel berkata pelan sambil sedikit melirik ke kanan dan ke kiri, sedikit menarik nafas lega karena dengan tiket first class yang dia dapat, dia dan Dave duduk di kursi yang benar-benar nyaman dan terjamin privasinya, sehingga tidak akan mengganggu ataupun terganggu oleh penumpang lain, namun tetap saja dia merasa tidak nyaman karena sesekali terlihat kru pesawat yang melewati tempat duduk mereka, dan beberapa sempat melirik ke arah kedua tangan mereka yang saling berpegangan.


“Cium aku kalau kamu ingin aku melepaskan tanganmu,” Laurel tersentak kaget mendengar permintaan Dave yang benar-benar tidak masuk akal baginya.


“Dave, jangan bercanda,” Mendengar protes Laurel, Dave hanya tersenyum dengan matanya tetap terpejam.


“Aku tidak bercanda, kalau tidak mau, duduklah dengan tenang, perjalanan kita hampir sampai, tinggal 15 menit lagi,” Setelah menyelesaikan kata-katanya, Dave sedikit memiringkan tubuhnya ke arah kanan, dan menarik tangan kirinya yang masih menggenggam tangan kanan Laurel ke perutnya, menempelkannya disana, membuat Laurel hanya bisa menarik nafas dalam-dalam tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2