
Laurel yang sedang berdiri menikmati suasana hening dan matahari yang masih malu-malu untuk menampakkan diri pagi itu di balkon kamar Dave sedikit tersentak menyadari seseorang meletakkan sebuah jaket di tubuhnya dan memeluknya dari arah belakang dengan erat, membuat tubuhnya terasa begitu hangat.
"Good morning mo cuisle...," Laurel langsung tersenyum mendengar sapaan yang terdengar lembut di telinganya dari Dave yang sedang memeluknya dengan erat dari belakang sambil membiarkan kepalanya bersandar pada bahu Laurel dengan mesra, dengan ujung dagunya menempel di bahu Laurel, membiarkan hidungnya yang mancung menarik nafas dalam-dalam menikmati udara segar yang bercampur dengan bau tubuh Laurel yang bagi Dave seperti bayi karena setelah hamil sepertinya Laurel suka sekali mengolesi tubuhnya dengan minyak kayu putih.
"Good morning Dave," Laurel membalas sapaan Dave dengan lembut sambil tangan kanannya bergerak ke arah wajah Dave dan mengelusnya lembut dengan mata Laurel tetap memandang ke depan, menikmati warna cantik matahari yang belum sepenuhnya terbit, menimbulkan rona warna merah dan oranye di langit.
"Apa yang sedang kamu lamunkan sepagi ini? Apa tidurmu nyenyak tadi malam?" Selesai mengucapkan pertanyaannya Dave menggerakkan wajahnya ke arah wajah Laurel dan mencium pipi Laurel yang terasa dingin, membuat Dave sedikit menjauhkan tubuhnya dari Laurel, membenahi letak jaket yang tadi ditutupkannya ke tubuh Laurel agar jaket tersebut lebih rapat menutup tubuh Laurel.
"Hari masih terlalu pagi, ayolah, masuk ke kamar kembali, pipimu sudah sedingin kulkas," Dave merengkuh bahu Laurel dan membalikkan tubuhnya agar kembali masuk ke dalam kamar. Melihat Dave mengkhawatirkannya Laurel hanya bisa tersenyum dan menuruti keinginan Dave untuk membawanya kembali ke dalam kamar dan mengambil posisi duduk di sofa yang membuatnya bisa tetap memandang ke arah warna langit melalui kaca jendela kamar Dave yang dibiarkan oleh Dave terbuka sedikit agar tidak terlalu banyak angin yang masuk dan menerpa tubuh Laurel.
Tidak berapa lama Laurel duduk di atas sofa yang ada di kamar Dave, seseorang mengetuk pintu kamar Dave. Dave yang awalnya hendak meletakkan kembali remote alat pemutar musik yang ada ditangannya setelah menyalakan alat pemutar musik, menoleh ke arah pintu.
"Masuk," Begitu pintu dibuka, tampak seorang pelayan membawa sebuah nampan berisi dua gelas keramik. Dave langsung memberi tanda agar pelayan itu mendekat ke arahnya.
"Tuan Dave, ini coklat panasnya," Dave langsung meraih segelas coklat panas dari atas nampan dan menyodorkannya kepada Laurel, setelah itu dia mengambil miliknya sendiri.
"Apa adalagi yang diperlukan oleh Tuan Dave?"
"Tidak ada, kamu bisa meninggalkan tempat," Dengan sedikit membungkukkan tubuhnya dan menganggukkan kepalanya pelayan itu keluar dari kamar Dave.
"Minumlah coklat panasmu untuk menghangatkan tubuhmu," Laurel tersenyum sebelum akhirnya meniup pelan coklat panas di gelasnya dan menyeruputnya pelan.
Dave yang duduk di samping Laurel menyilangkan kakinya di atas kakinya yang lain dengan lengan tangan kirinya lurus di atas sandaran sofa, di belakang punggung Laurel, sedang tangan kanannya memegang gelas berisi coklat panas dan menikmati.
"Bagaimana tidurmu semalam? Apakah tidurmu nyenyak?" Dave kembali bertanya sambil melirik ke arah wajah Laurel yang langsung menoleh untuk memandang wajah suaminya. Jujur saja karena kejadian sepanjang hari kemarin, Dave begitu mengkhawatirkan kondisi Laurel. Dave benar-benar tidak ingin kejadian kemarin membuat Laurel tidak tenang, apalagi tidak bahagia.
"Tidak terlalu nyenyak, tapi tetap nyaman karena setiap aku terbangun dan membuka mata, aku bisa melihat wajahmu di sampingku," Laurel berkata sambil bergerak mendekat ke arah Dave, menyandarkan kepalanya di bahu Dave setelah meletakkan gelas berisi coklat panas yang tinggal setengahnya di atas meja di depannya.
Melihat Laurel bersandar di bahunya, Dave menggerakkan lengannya tangan kirinya yang awalnya lurus di atas sandaran kursi bergerak melingkar di bahu Laurel dan mengelus lembut lengan kiri atas Laurel. Laurel tersenyum sambil bibirnya mengikuti suara penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu lembut yang sempat populer saat dia masih kecil, lagu-lagu yang populer di tahun delapan puluh hingga sembilan puluhan.
"Ternyata kamu suka lagu-lagu lama juga?" Dave bertanya sambil tersenyum melihat bagaimana Laurel begitu menikmati lagu-lagu yang dia putar bahkan ikut menyanyikan lagu-lagu tersebut.
"Sejak kecil aku suka mendengarkan lagu-lagu ini bersama papa dan mama, sambil menghabiskan waktu bermain di ayunan depan rumah," Dave meraih remote alat pemutar musiknya dan mengecilkan volume suaranya, membuat Laurel langsung menghentikan nyanyiannya, menganggkat kepalanya dari bahu Dave dan memandang ke arah Dave yang langsung tersenyum geli melihat tatapan Laurel dengan wajah bertanya-tanya, seolah hendak menyatakan protes karena Dave menurunkan volume suara lagu yang sedang asyik diikutinya.
"Lebih indah mendengarkan suaramu daripada penyanyi aslinya," Perkataan Dave sukses membuat Laurel menggerakkan tangannya ke arah pinggang Dave dan menggelitiknya.
"Jangan mengejekku," Laurel menghentikan gelitikannya setelah puas melihat wajah Dave yang terlihat begitu tersiksa karena geli.
"Aku masih ingat kata dokter Hana di acara liburan kita di vila waktu itu, katanya sewaktu di SMA kamu sempat bergabung dengan grup band dan menjadi vokalisnya," Dave tertawa kecil mendengar itu.
"Aku serius mo cuisle, suaramu tidak kalah bagusnya dengan penyanyi aslinya, untungnya kamu tetap menjadi dokter, tidak menjadi artis," Laurel tertawa mendengar pujian Dave sambil memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Kalau aku benar-benar menjadi artis mungkin kita tidak akan bertemu,"
"Siapa bilang? Kalau sudah berjodoh, bagaimanapun kita menghindar Tuhan pasti mempertemukan kita. Mungkin kalau kamu jadi artis aku akan menjadi dokter kecantikanmu," Laurel kembali tertawa geli mendengar candaan dari Dave, diraihnya remote dari tangan Dave dan kembali menambahkan volume dari alat pemutar musiknya.
Laurel menyanyikan beberapa lagu yang begitu dikenal dan dihafalnya, lagu-lagu romantis milik Celine Dion, Trisha Yearwood, dan Shania Twain begitu fasih dinyanyikannya, sambil sesekali Laurel menggoda Dave dengan ciuman dan pelukannya saat lirik dari lagu-lagu itu merupakan kata-kata romantis seperti lirik dalam lagu the power of love - Celine Dion, how do I live - Trisha Yearwood, ataupun you're still the one - Shania Twain. Tindakan mesra dan manja Laurel sukses membuat Dave harus beberapa kali menahan nafasnya sambil menggigit bibir bawahnya dengan senyum di wajahnya, membuat Laurel semakin terlihat begitu semangat menggoda Dave yang terlihat begitu berusaha untuk mengendalikan dirinya, menahan hasratnya atas Laurel.
Laurel menghentikan tindakannya untuk menggoda Dave setelah terdengar suara Peter Cetera menyanyikan lagu glory of love, karena tiba-tiba Dave ikut menyanyikan lagu itu dengan suara indahnya sambil memandang ke arah Laurel dengan tatapan mesranya, seolah kata-kata dari lagu itu merupakan ungkapan hati Dave setelah beberapa peristiwa tidak mengenakkan yang sempat dialami Laurel, terutama saat Dave menyanyikan bagian akhir dari lagu itu.
You keep me standing tall, you help me through it all
(Kamu membuatku berdiri tegak, kamu membantuku melalui semuanya)
I’m always strong when you’re beside me
(Aku selalu kuat saat kau di sisiku)
I have always needed you, I could never make it alone
(Aku selalu membutuhkanmu, aku tidak akan pernah bisa melaluinya sendiri)
I am a man who will fight for your honor
(Aku lelaki yang akan bertarung demi kehormatanmu)
I’ll be the hero you’re dreamin’ of
(Aku akan menjadi pahlawan yang kau impikan)
We’ll live forever, knowin’ together
That we did it all for the glory of love
(Bahwa kita melakukan semuanya untuk kemenangan cinta)
Like a knight in shining armor from a long time ago
(Seperti ksatria baju besi yang bersinar dari jaman dahulu)
Just in time I will save the day
(Tepat pada waktunya aku akan menyelamatkan hari itu)
__ADS_1
Take you to my castle far away
(Membawamu ke kastilku yang jauh)
I am a man who will fight for your honor
(Aku lelaki yang akan bertarung demi kehormatanmu)
I’ll be the hero you’re dreamin’ of
(Aku akan menjadi pahlawan yang kau impikan)
We’ll live forever, knowin’ together
That we did it all for the glory of love
(Bahwa kita melakukan semuanya untuk kemenangan cinta)
Laurel tertegun dengan wajah memerah mendengar Dave menyanyikan lagu itu, dan tanpa sadar airmatanya menetes, karena bagi Laurel, kata-kata di dalam lagu itu bagi Laurel bukan sekedar kata-kata manis dari Dave untuknya, mengingat bagaimana selama ini Dave begitu melindunginya dan selalu berada di sekitarnya, selalu menjaganya, apalagi mendengar perkataan dari Augistin Shaw tadi malam tentang bagaimana sosok Dave yang selama ini bahkan tanpa Laurel sadari selalu berusaha menjaganya walaupun tanpa sepengetahuannya.
Bahkan ingatan Laurel kembali kepada beberapa kejadian saat Dave selalu ada di saat-saat gentingnya, saat di villa ada pemabuk yang mencoba mengganggunya setelah dia meninggalkan Lusiana dan Feri, kejadian saat Hana dan dokter Arman begitu memojokkannya di depan semua orang, malam itu saat kaki tangan Dicky berusaha menyerangnya, dan kejadian kemarin yang masih begitu segar di ingatannya saat Meria berencana memukulnya dengan vas bunga.
"I love you Dave," Begitu Dave selesai menyanyikan lagu itu, Laurel langsung memeluk Dave dari samping dan mencium pipi Dave dengan penuh perasaan bersyukur karena keberadaan Dave sebagai suami yang begitu mencintai dan memujanya, juga selalu menjaganya.
"Mo cuisle, denyut nadiku, belahan jiwaku," Dave berkata sambil membalas pelukan Laurel, menggerakkan tangannya ke arah dagu Laurel, menggerakkan wajah Laurel ke arah wajahnya dan mencium bibir Laurel dengan mesra untuk waktu yang tidak sebentar, membiarkan denyut jantungnya berdetak dengan keras dan tidak beraturan karena adanya sosok wanita yang begitu dicintai dan selalu diinginkannya melebihi apapun juga.
# # # # # # #
"Kakak..., cantik sekali...," Freya dan Evelyn yang hari itu bertugas sebagai bridesmaid di acara pesta perayaan pernikahan Dave dan Laurel hari ini tampak begitu terpesona melihat penampilan Laurel dalam balutan gaun pengantinnya.
(Bridesmaid adalah pengiring pengantin adalah anggota dari pesta pengantin wanita dalam upacara pernikahan tradisional Barat. Seorang pengiring pengantin biasanya seorang wanita muda, dan seringkali teman dekat atau kerabat. Dia menghadiri pengantin wanita pada hari pernikahan atau upacara pernikahan, membantu pengantin wanita di sepanjang acara, bahkan mendampinginya di pelaminan, sedang untuk pengiring pengantin pria biasa disebut dengan groomsmen).
Laurel hanya tersenyum mendengar pujian dari kedua adiknya yang baginya juga terlihat cantik dengan gaun mereka yang bewarna emas dengan rambut tersanggul rapi. Freya mendekat ke arah Laurel dan menyentuh lembut tangan Laurel dan menggenggamnya.
"Kakak..., jangan lupa untuk bahagia," Freya memeluk tubuh Laurel dengan mata berkaca-kaca karena rasa bahagia yang memenuhi dadanya, bersyukur karena saat semua kesedihan, rasa bersalah, ketidakbahagiaan dan rasa tertekan yang pernah dialami Laurel selama tujuh tahun lalu sudah menghilang seperti asap diterpa angin, tidak bersisa sedikitpun.
"Hei, jangan menangis, nanti make upmu rusak," Laurel berkata sambil membalas pelukan Freya dengan hangat sambil mengelus punggung Freya lembut, menunjukkan bahwa Laurel juga begitu menyayangi Freya.
"Kakak..., terimakasih sudah menjadi kakak yang begitu baik buatku. Aku benar-benar menyayangi kakak," Freya berkata sambil melepaskan pelukannya dari Laurel dengan mata yang tampak begitu memerah menahan tangisnya agar tidak turun dan membuat rusak dandanan cantiknya sebagai bridesmaid.
"Hei!" Laurel menepuk-nepuk kedua pipi Freya pelan dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu terlihat sedih? Padahal Kakak sudah menikah dengan kakak iparmu sejak tujuh tahun lalu, bahkan beberapa waktu ini kami sudah bersama? Kenapa hari ini kamu terlihat cengeng?" Laurel berkata sambil menahan senyum geli, membuat bibir Freya memberengut.
"Kakak..., tujuh tahun lalu aku masih terlalu kecil, mana mengerti rasanya melepas kakakku satu-satunya untuk menjadi milik orang lain. Setelah melihat Kakak hari ini dengan gaun pengantin, aku baru sadar seharusnya dulu aku lebih menyayangi kakak, karena setelah ini pasti waktu Kakak akan lebih banyak habis untuk suami dan anak-anak Kakak," Laurel tersenyum, rasanya ingin sekali mengacak rambut Freya, tapi tentu saja dia tidak bisa melakukan hal itu jika tidak ingin membuat tatanan rambut Freya yang membuatnya terlihat anggun dan cantik menjadi berantakan.