
Siang itu kantin terlihat ramai karena kebetulan di jam istirahat selain para pegawai tampak banyak para pengunjung lain yang menghabiskan waktu di kantin rumah sakit, entah mereka merupakan penjenguk atau orang yang bertugas menjaga pasien, sehingga mau tidak mau tidak seperti biasanya, Laurel, Nia dan Lusiana harus duduk bersama dengan dokter Arman, Raga, Mira dan beberapa pegawai pria lainnya karena kursi lain sudah penuh.
“Siang dok,” Baik Lusiana, Nia dan Laurel menyapa ramah dokter Arman yang terlihat cuek dan terlihat tidak membalas teguran mereka.
“Selamat siang dokter Nia, dokter Laurel dan dokter Lusiana,” Melihat dokter Arman tidak membalas sapaan ketiga temannya, Raga buru-buru membalasnya karena merasa tidak enak.
“Maaf ya harus mengganggu kenyamanan kalian menikmati makan siang, kami terpaksa bergabung di meja ini karena tempat lain sudah penuh.” Lusiana mewakili mereka bertiga untuk ijin bergabung di meja dokter Arman, Raga, Mira dan beberapa pegawai pria lain.
“Silahkan dok, jangan sungkan-sungkan, memang hari ini tumben sekali kantin full,” Raga berkata dengan tersenyum ramah.
“Ehemm, kok tumben dokter Laurel tidak bersama dengan dokter Leo atau dokter Arnold dan dokter Feri?” Baru saja Lusiana, Nia dan Laurel duduk, Arman sudah mulai mengeluarkan kata-kata sindirannya, membuat Lusiana sedikit melotot, tapi dengan cepat tangan Laurel menepuk pahanya, memberi tanda agar Lusiana tidak terpancing emosi karena kata-kata Arman.
“Tidak dok, bagi saya makan dengan siapa saja ok kok, tidak baik pilih-pilih teman dok,” Laurel menjawab pertanyaan Arman dengan tersenyum, membuat Arman sedikit menggerakkan bibirnya membentuk senyum sedikit sinis.
“Hah, aku pikir dengan rumor makan siang dokter Laurel dengan bos, dokter Laurel akan bisa mendapat posisi sebagai Nyonya pimpinan rumah sakit ini, ternyata memang itu sekedar rumor, sampai hari ini hubungan kalian tetap sebatas bos yang baik dan karyawannya. Untungnya dari awal aku yakin bos akan menikah dengan gadis dari luar rumah sakit ini, jadi tidak terlalu percaya dengan gosip tentang kalian berdua. Seharusnya para pegawai perempuan di rumah sakit ini yang memimpikan bos akan melirik ke arah mereka segera menghentikan mimpi konyolnya,” Lusiana sudah mengepalkan tangannya, dengan bibir sedikit mendesis karena jengkel dan bermaksud membalas kata-kata sinis Arman, tapi dengan cepat baik Nia maupun Laurel kembali menepuk lembut pahanya agar Lusiana tidak terpancing untuk membalas perkataan dokter Arman.
“Jangan terlalu dianggap serius dok rumor seperti itu, justru akan membuat dokter sakit kepala, tidak baik terlalu percaya dengan rumor,” Laurel segera menjawab pernyataan Arman dengan tetap tersenyum.
“Baguslah, harusnya gadis-gadis lain belajar dari dokter Laurel yang sadar diri tidak bermimpi menjadi cinderella kesiangan,” Dengan cuek Arman berkata sambil menikmati makanan di depannya, membuat yang lain hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Sebenarnya aku punya keponakan yang cantik, dan pastinya dari keluarga kaya juga, sepertinya dia gadis yang paling cocok jika disandingkan dengan bos, sayangnya aku belum punya kesempatan untuk membahas masalah ini dengan bos. Eh, Mir, kamu kan yang paling tahu jadwal bos, kira-kira kapan bos kembali? Biar aku bisa minta waktunya untuk bertemu dengan keponakanku,” Mira tersenyum sambil melirik ke arah Laurel mendengar perkataan Arman.
“Maaf dokter Arman, saya tidak berhak membocorkan info tentang jadwal bos, lagipula, selama ini saya belum pernah dengar bos mau diperkenalkan dengan seseorang untuk tujuan perjodohan, lain cerita jika itu urusan bisnis keluarganya dan rumah sakit,” Mira menjawab sambil tetap menikmati makan siangnya.
“Ah, itu kan pendapat pribadimu, paling tidak aku harus mencoba dulu, masak aku harus menyerah sebelum memulai, apalagi jelas-jelas selama ini belum pernah ada gadis yang dekat dengan bos, berarti kesempatan untuk aku jadi paman dari pimpinan rumah sakit ini masih terbuka lebar,” Nia dan Lusiana sedikit tersentak sekaligus berusaha menahan tawanya mendengar angan-angan dokter Arman, sedang Laurel lebih memilih pura-pura tidak mendengar perkataan dokter Arman dan lebih memilih untuk sibuk menikmati makanan di depannya.
“Bukan sekedar pimpinan rumah sakit ini dok, tapi bos juga BOD dari Shaw Corporation, perusahaan farmasi terbesar di Irlandia, selain itu merupakan perusahan pemasok bahan-bahan kimia utama untuk perusahaan obat-obatan dan makanan di berbagai negara, termasuk perusahaan milik Grup Xanderson dari Italia yang bergerak di banyak bidang, diantaranya properti, fashion, manufaktur. Dokter Arman tahu kan Grup Xanderson yang merajai dunia bisnis di berbagai belahan dunia?” Mira justru semakin menekankan posisi hebat Dave di depan dokter Arman, membuat yang lain semakin menahan tawanya.
Dokter Arman ini benar-benar tidak sadar diri dengan ucapannya, aku jamin dia akan menjadi orang yang paling shock jika mendengar siapa sebenarnya dokter Laurel bagi bos, Mira berkata dalam hati sambil tersenyum simpul melihat wajah dokter Arman yang terkagum-kagum mendengar cerita Mira tentang Dave, sedang Laurel memilih untuk tidak lagi memperdulikan apa yang dibicarakan oleh dokter Arman.
# # # # # # #
“Selamat ya, semoga kalian selalu bahagia, bahkan aku tidak sabar menunggu berita baik kapan kalian menikah, supaya mulut-mulut nyinyir di tempat ini bisa segera berhenti mengolok-olokmu,” Laurel tertawa mendengar perkataan dari Lusiana yang sejak mencuatnya foto-fotonya bersama Leo terlihat sinis menghadapi orang-orang yang berusaha menyudutkan Laurel di rumah sakit, terutama dokter Arman yang dengan terus terang setiap ada kesempatan berusaha menjatuhkan mental Laurel di depan orang banyak.
“Apa kamu ada waktu? Bagaimana kalau kita keluar makan berdua sore ini?” Laurel melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5, dan hari ini kebetulan dia sedang bebas, tidak ada tugas piket malam, jadi tidak ada salahnya menghabiskan waktu luang dengan sahabat-sahabatnya, apalagi mumpung Dave masih berada di Kalimantan, sepulangnya Dave dari Kalimantan Laurel tidak yakin dia akan bisa memiliki banyak waktu luang bersama teman-temannya.
Lusiana baru saja mau menjawab ajakan Laurel sekaligus menanyakan hal lainnya kepada Laurel ketika di dengarnya ada suara nada panggilan dari arah handphone Laurel yang tergeletak di meja, Laurel langsung mengangkat panggilan telepon begitu terlihat nama Freya terlihat di layar handphonenya.
“Hallo, tumben masih sore kamu menelponku Frey? Ada masalah?”
__ADS_1
“Kak…,” Laurel sedikit mengernyitkan keningnya mendengar suara Freya yang tidak seperti biasanya, terdengar begitu gugup dan bingung.
“Kenapa Frey? Apa terjadi sesuatu dengan mama?”
“Eh, anu…, bukan mama kak, tapi mama Evelyn,”
“Kenapa dengan Mama Ros Frey?”
“Mama Ros pingsan, sekarang sedang perjalanan dibawa ke rumah sakit tempat kakak bekerja,” Laurel langsung bangkit dari duduknya begitu mendengar info dari Freya kalau mama almarhum suaminya pingsan.
“Apa? Mama Ros pingsan?” Laurel tersentak kaget, walaupun Mama Ros merupakan mama dari almarhum suaminya, tapi sejak mereka berkenalan mereka menjalin hubungan yang cukup baik, apalagi Evelyn dan Freya bersahabat karib, sedang mama Ros dan Mama Denia sudah seperti saudara, bahkan mereka sering melakukan perjalanan keluar kota bersama untuk berlibur. Walaupun Laurel lebih sering berhubungan dengan Evelyn, tapi keberadaan Mama Ros yang cukup dekat dengan keluarganya yang lain membuat Laurel juga merasa dekat dengannya.
“Iya kak, Evelyn baru saja menelponku dan mengabarkan hal itu,”
“Ok, aku akan ke IGD sekarang untuk mengecek kondisinya,” Tanpa menunggu jawaban Freya, Laurel segera menutup handphonenya, Lusiana yang semenjak tadi hanya melihat dan mengamati apa yang terjadi langsung mendekati Laurel yang tampak resah setelah menerima panggilan telepon barusan.
“Ada apa Laurel?”
“Mama almarhum suamiku pingsan, sekarang dalam perjalanan kesini, maaf Lus, aku harus ke IGD sekarang,” Lusiana mengangguk mengiyakan. Laurel langsung keluar dari kantornya dan dengan cepat dia berlari ke IGD.
__ADS_1
(Instalasai Emergency/Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah salah satu bagian di dalam sebuah rumah sakit yang menyediakan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cidera, yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya. DI IGD terdapat dokter dari berbagai spesialisasi bersama sejumlah perawat dan dokter jaga. Instalasi Gawat Darurat berfungsi memberikan pelayanan medis yang sifatnya gawat dan darurat selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Pasien dengan penyakit akut yang amsuk ke IGD dapat dikategorikan menjadi kasus gawat dan darurat, gawat tapi tidak darurat, darurat tapi tidak gawat, tidak gawat dan tidak darurat. Gawat adalah keadaan yang berkenaan dengan suatu penyakit atau kondisi lainnya yang mengancam jiwa, sedangkan darurat adalah keadaan yang tiba-tiba terjadi dan tidak dapat diperkirakan sebelumnya, merupakan sesuatu yang bersifat segera atau mendesak seperti suatu kecelakaan. Kasus-kasus yang terjadi di IGD terjadi secara tiba-tiba tanpa mengenal waktu dan memerlukan pertolongan yang cepat dan tepat, sehingga IGD yang ideal benar-benar tergantung kepada sumber daya manusia, sistem dan tata cara kerja yang tertata baik, fasilitas pemeriksaan untuk mendukung proses diagnosa, ketersediaan obat dan bahan medis yang memadai, alur keluar masuk pasien yang tertata rapi dan jelas, kamar operasi yang siap pakai serta dukungan ambulans yang berfokus pada keselamatan pasien).