CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
LAKI-LAKIKU YANG PENCEMBURU


__ADS_3

“Aku merasa ada yang aneh dengan cara Dicky memandangmu,” Dave berbisik pelan ke arah Laurel yang sedang berdansa dengannya dengan posisi kepalanya bersandar pada dada bidang Dave, beberapa kali Dave menundukkan kepalanya untuk mencium puncak kepala Laurel, menunjukkan dia begitu menyayangi wanita yang ada dalam pelukannya sekarang.


Mendengar perkataan Dave barusan, Laurel sedikit mendongakkan kepalanya sambil tersenyum. Laurel memandang wajah Dave dalam-dalam, diamatinya mata biru milik suaminya yang begitu dia sukai. Mata indah yang seringkali membuat jantungnya berdebar tidak karuan saat pemilik mata itu menatapnya.


“Apa kamu sedang cemburu Dave?” Dave menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Laurel. Selama dia hidup belum pernah sekalipun dia mengaku kepada seseorang saat dia cemburu atau tidak suka dengan keberadaan seseorang, dan sekarang wanita di depannya sedang mengujinya dengan pertanyaan tentang apakah dia sedang cemburu atau tidak.


“Sepertinya hari ini aku sedang sedikit sial, bagaimana bisa dalam sehari aku bisa bertemu dengan dua orang pria yang tergila-gila pada istriku, bahkan salah satu dari mereka mencoba merebut kesempatanku untuk berdansa dengan wanitaku. Bahkan bukan hari ini saja, sejak pertama kali kamu memasuki rumah sakit, aku sudah melihat begitu banyak mata laki-laki yang memandangmu dengan tatapan ingin memilikimu. Bukan hanya para pegawai pria, tapi para pasien, bahkan sampai cucu pasien segala,” Laurel hanya bisa meringis mendengar perkataan Dave, apalagi perkataan Dave barusan mengingatkannya pada Nenek Nuri dan cucunya, yang jujur saja beberapa waktu ini sudah tidak pernah lagi dia lihat.


“Aku juga tidak nyaman dengan keberadaan mereka Dave. Jangan khawatir, bagiku hanya ada satu laki-laki yang bisa membuatku tergoda dan perduli dengan keberadaannya, Tuan Dave Alexander Shaw,” Dave tersenyum mendengar perkataan Laurel yang baginya cukup menghibur, karena bagaimanapun baik Devan maupun Dicky, kehadiran mereka dan para pria lain yang dia tahu bagaimana cara mereka menatap istrinya benar-benar membuatnya terganggu dan merasa tidak rela.


“Ngomong-ngomong Dave, sebenarnya bagaimana caramu untuk mengatasi Nenek Nuri waktu itu? Aku dengar dari Indah kamu mengajak mereka ke kantor dan berbicara secara pribadi kepada mereka,” Dave tersenyum mendengar pertanyaan Laurel, tidak menyangka ternyata Laurel masih mengingat kejadian itu dan bahkan masih penasaran dengan apa yang sudah dia lakukan kepada Nenek Nuri dan cucunya.


“Tidak banyak yang aku katakan, aku hanya katakan suami dokter Laurel sudah berpesan melalui aku, kalau sebaiknya cucu Nenek Nuri menghentikan keinginannya untuk menikah dengan dokter Laurel, karena suami dokter Laurel tidak segan-segan sebagai orang yang memiliki kekuasaan di Keluarga Shaw akan menghentikan pasokan bahan baku utama ke pabrik keluarga mereka. Aku hanya mengatakan kenyataan yang ada, karena kebetulan aku tahu pasokan bahan baku utama pabrik mereka berasal dari perusahaan kami,” Mata Laurel membulat mendengar perkataan Dave.


“Haruskah kamu sampai mengancam mereka seperti itu? Toh belum tentu juga mereka serius,” Dave sedikit mengernyitkan dahinya mendengar kata-kata Laurel.


“Serius atau hanya main-main, aku tidak akan pernah membiarkan seorang laki-laki mesum seperti itu mendekati istriku, bahkan walau dia hanya mencuri pandang ke arahmu dengan tatapan mesumnya seperti waktu itu. Siapa laki-laki di dunia ini yang rela membiarkan pria lain menatap dengan penuh nafsu istri yang dicintainya?” Laurel berusaha menahan senyumnya melihat wajah serius Dave saat mengatakan itu, bahkan bukan hanya serius, ada nada yang menunjukkan Dave begitu berusaha menahan amarahnya saat mengatakan bahwa cucu Nenek Nuri sudah memandangnya dengan tatapan mesum.


Melihat amarah di mata Dave, membuat Laurel teringat saat pertama kali Nenek Nuri mengajak cucunya untuk menemuinya dan penyakit asam lambungnya sempat kambuh, membuat Dave menyeretnya ke rumah kaca dan memberinya obat. Laurel menatap lembut ke arah Dave, bagaimana di masa lalu dia begitu sering menyalah artikan tindakan Dave kepadanya, bahkan sempat berpikir bahwa Dave begitu membencinya tanpa alasa yang jelas. Dan tentu saja Laurel tidak menyangka jika hari ini dia harus mengakui bahwa dia sangat mencintai laki-laki yang saat ini sedang memeluk dan mengajaknya berdansa dengan mesra, seolah kesalahpahaman, ketidakpercayaan, penantian, kesepian, sakit hati tidak pernah terjadi diantara mereka berdua di masa lalu.


Dave sedikit tersentak ketika menyadari Laurel mempererat pelukannya, untuk beberapa detik ke depan, kekagetan di wajah Dave berubah menjadi senyuman bahagia, sedang Laurel sendiri kembali menyandarkan kepalanya ke dada bidang Dave sambil sedikit menahan nafasnya.


Aku mau melupakan segala hal yang menyakitkan di masa lalu dan mulai berpikir untuk masa depan kita dengan menikmati semua proses yang akan terjadi di depan kita, I love you Dave, Laurel berkata dalam hati dengan senyum bahagia menghiasi bibir tipisnya.


Begitu satu lagu selesai, Dave langsung melirik jam di pergelangan tangannya, lalu dengan gerakan cepat tangannya meraih tangan Laurel, mendekat ke arah Tante Lia yang kebetulan sedang berbincang dengan Mama Denia.

__ADS_1


“Maaf ma, Tante, kami akan pulang duluan,” Tante Lia dan Mama Denia langsung menoleh mendengar perkataan dari Dave.


“Acara masih setengah jalan, apa ada masalah?” Dave langsung menggeleng mendengar pertanyaan Mama Denia.


“Malam ini Laurel masih perlu banyak istirahat karena besok dia sudah mulai masuk kerja lagi,” Mama Denia melirik ke arah Laurel yang terlihat baik-baik saja, tapi ketika mata Mama Denia melihat sosok Dicky yang berjalan mendekat ke arah mereka, dengan cepat Mama Denia mengangguk.


Mama Denia teringat kejadian tadi siang, dimana Tante Lia mengingatkan tentang sesuatu yang membuat Mama Denia terkejut, karena Tante Lia menceritakan bagaimana sampai detik ini Dicky masih begitu menyukai Laurel. Tante Lia menjelaskan kembali tentang bagaimana Dicky yang begitu menyukai Laurel sejak Laurel masih SMA, ketika main di rumah Mama Denia dan melihat foto-foto Laurel yang terpasang di dinding rumah mereka saat itu. Saat itu Tante Lia bahkan sempat berencana untuk melamar Laurel untuk Dicky, tapi Mama Denia menegaskan bahwa Laurel akan menikah dengan laki-laki lain yang akan membantunya menyelesaikan studinya sekaligus membeli rumah peninggalan suaminya dengan harga jauh di atas harga pasaran. Membuat Tante Lia saat itu cukup kaget, karena selama ini Mama Denia memang tidak pernah menceritakan kepada orang lain bahwa Laurel akan menikah, apalagi dengan seorang pria asing yang belum dikenalnya.


Setelah Laurel meninggalkan Dave di hari pernikahannya, Tante Lia sempat berusaha meyakinkan Mama Denia agar lebih baik membuat Laurel dan suaminya bercerai, dan berusaha mendekatkan Dicky dengan Laurel. Namun, dengan tegas saat itu Mama Denia menolak, karena sudah cukup rasa bersalah yang begitu besar menghantui perasaannya karena memaksa Laurel menikah dengan orang asing, bagaimana bisa dia berpikir untuk menceraikan Dave dan Laurel lalu menikahkan kembali Laurel dengan Dicky yang juga merupakan orang asing bagi Laurel yang tidak mengenalnya sama sekali.


Beruntung sekali hubungan mereka membaik sekarang. Dave sudah berhasil membuat Laurel memilih untuk berada di sisinya, aku selalu berdoa untuk kebahagiaan mereka berdua, Mama Denia bergumam pelan di dalam hati, merasa bahagia melihat perkembangan hubungan antara Dave dan Laurel yang sebelumnya selalu membuatnya tidak tenang dan terus merasa bersalah. Mama Denia mulai bisa menghapuskan rasa bersalah yang selama ini selalu menghantuinya setelah melihat Laurel sudah mulai bisa menerima Dave beberapa waktu lalu.


“Kalau begitu bawa Laurel pulang Dave, biarkan dia beristirahat dengan tenang di rumah,” Dave langsung mengangguk pelan mendengar perintah dari Mama Denia.


“Kalau begitu, kami permisi dulu, selamat untuk wedding anniversary nya Tante Lia. Semoga pernikahan Tante dan Om Pram tetap langgeng dan diberikan umur panjang untuk Tante Lia dan Om Pram,” Laurel segera berpamitan sambil memeluk lengan kanan Dave yang berdiri di samping kirinya.


“Kenapa denganmu? Sepertinya kamu takut sekali dengan Dicky?” Begitu mereka berdua sudah meninggalkan gedung hotel tempat pesta diadakan dengan mengendarai mobil Dave, Dave langsung bertanya kepada Laurel tentang Dicky, karena Dave bisa melihat dengan jelas wajah tidak nyaman Laurel bahkan lebih ke arah ketakutan setiap melihat ke arah Dicky.


“Tidak, kenapa harus takut pada laki-laki setampan Dicky?” Dave langsung menatap Laurel tajam mendengar perkataan Laurel barusan, dan itu justru membuat Laurel tertawa sehingga lesung pipit di pipinya ikut andil bagian menambah kecantikan Laurel.


“Lihat ke depan Dave, kamu sedang menyetir,” Laurel berkata sambil berusaha menghentikan tawanya.


Tanpa mengatakan apapun, tiba-tiba Dave mengurangi kecepatan mobilnya, menyalakan lampu sein (Lampu sein berfungsi sebagai indikator pada kendaraan ketika berbelok yang dibuat dengan tujuan untuk mengurangi risiko kecelakaan. Lampu sein sekarang ini menjadi salah satu kelengkapan yang harus dimiliki oleh semua kendaraan. Lampu ini umumnya berwarna kuning yang akan menyala berkedip-kedip ketika dihidupkan) mobilnya dan tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan, membuat Laurel memandangnya dengan heran.


“Siapa laki-laki yang barusan kamu bilang tampan Nyonya Shaw?” Begitu mobil telah berhenti Dave melepaskan sabuk pengamannya dan mendekatkan tubuhnya ke arah Laurel yang langsung meringis dan menjauhkan tubuhnya dari Dave yang terlihat menunjukkan wajah marah tanpa senyum.

__ADS_1


“Apa kamu cemburu Dave?”


“Kenapa kamu bertanya balik? Kamu belum menjawab pertanyaanku? Apa bagimu suamimu belum cukup tampan?” Laurel tersenyum mendengar pertanyaan Dave yang walaupun terlihat jelas Dave tidak serius dengan wajah marahnya, tapi jelas di matanya terlihat api cemburu.


Sejak pertama bertemu denganmu, matamu selalu tidak bisa menyembunyikan cemburumu jika aku sedang berada bersama laki-laki lain. Saat itu aku hanya berpikir bahwa aku hanya sedang berkhayal, menganggap diriku terlalu percaya diri sehingga salah mengartikan tatapan matamu, tapi hari ini aku tahu pasti bahwa selama ini apa yang aku lihat tidak salah, dan sekarang aku tahu alasannya, karena sejak awal kamu begitu mencintaiku, Laurel berkata dalam hati sambil memandang Dave dalam-dalam.


“Aku tidak akan berbohong tentang apapun di hadapanmu, jika aku menganggap sesuatu baik atau buruk, aku akan katakan terus terang padamu, begitu juga jika seseorang tampak cantik atau tampan, aku tidak akan berbohong kepadamu dengan mengatakan bahwa mereka tidak menarik atau bahkan jelek, hanya untuk menyenangkanmu atau takut membuatmu tersinggung. Tapi ada satu hal penting yang perlu kamu catat. Bagiku, hanya ada satu laki-laki paling tampan, hanya dia satu-satunya yang bisa membuatku hatiku bergetar, seorang laki-laki  yang begitu aku percaya, begitu aku inginkan, dan aku tidak akan bersedia berbagi dengan siapapun karena dia milikku, Dave Alexander Shaw,” Dave menahan nafasnya untuk beberapa saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Laurel kepadanya.


“Apa kata-kataku masih membuatmu ragu Mr. Shaw?” Mendengar pertanyaan Laurel, Dave hanya bisa menggigit bibir bawahnya tanpa bisa menjawab pertanyaan Laurel, dengan cepat Dave menjauhkan tubuhnya dari Laurel dan menghempaskan tubuhnya di kursi pengemudi, kembali ke posisinya semula.


“Aku memang laki-laki pencemburu yang selama ini tidak berani mengakui itu di hadapanmu. Aku selalu kehilangan kendali saat melihat laki-laki lain yang berusaha mencuri perhatianmu dariku, maafkan aku,” Laurel meraih tangan kiri Dave dan menggenggamnya dengan erat.


“Aku mencintaimu apa adanya dirimu. Kamulah yang mengajarkanku untuk itu, karena aku tahu kamu begitu mencintaiku apa adanya lebih dahulu. Ayolah, kita pulang, atau kamu sudah tidak ingin menagih janjiku untuk memanjakanmu malam ini,” Dave hanya bisa tersenyum sambil menyipitkan matanya mendengar perkataan Laurel yang jelas-jelas menggodanya. Tanpa menjawab perkataan Laurel, Dave langsung mengenakan sabuk pengamannya kembali, dan mengendarai mobilnya untuk segera kembali pulang ke rumah, membuat Laurel harus menahan tertawanya melihat itu.


Aku baru sadar sekarang, bahwa menggodamu adalah hal yang begitu menyenangkan dan membahagiakan, Laurel berkata sambil tertawa dalam hati, menyadari bagaimana dia begitu menikmati bisa menggoda Dave seperti itu.


# # # # # # #


“Good morning mo cuisle,” Begitu membuka matanya, suara lembut dari Dave langsung menyapa telinga Laurel.


“Good morning too Mr Shaw,” Laurel menjawab sapaan Dave sambil menggerakkan tubuhnya ke samping sampai dirasakannya tubuhnya yang masih terasa begitu lelah dan pegal, serasa baru saja selesai melakukan kerja bakti membersihkan seluruh halaman rumah sakit, setelah apa yang terjadi semalam.


“Kenapa dengan wajahmu?” Dave memandangi wajah Laurel yang terlihat meringis. Mendengar pertanyaan Dave, Laurel hanya bisa melirik ke arah Dave sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Ingatan Laurel kembali pada kejadian tadi malam, saat mereka baru saja pulang dari acara pesta wedding anniversary Tante Lia dan Om Pram. Begitu sampai di rumah dan mereka berdua memasuki kamar, begitu pintu kamar tertutup, Dave tidak lagi memberi kesempatan kepada Laurel untuk menghindar darinya, langsung menagih janji Laurel yang kembali dia ingatkan saat perjalanan pulang ke rumah. Dan untuk malam kemarin Laurel harus membiarkan Dave meminta jatahnya lebih dari sekali, yang membuat Laurel tidak menyangka bahwa efek lelahnya akan masih begitu terasa pagi ini, walaupun semalam dia sudah tertidur dengan begitu nyenyak karena terlalu lelah. Dan ternyata seperti tidak terjadi apa-apa, pagi ini Dave bukan hanya bangun lebih awal dibanding Laurel, tapi dari wajah Dave tidak terlihat tanda-tanda lelah sedikitpun, membuat Laurel hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Ah, lain kali aku harus berpikir ulang jika ingin menggodamu. Lebih baik aku tidak bertindak ceroboh dengan menyalakan api kalau aku tidak siap dengan akibatnya. Aku benar-benar tidak menyangka hobi olahraga dan latihan rutin taekwondomu membuat staminamu menjadi begitu luar biasa, Laurel berkata dalam hati sambil buru-buru mengalihkan wajahnya, menjauh dari jangkauan mata Dave agar suaminya tidak melihat saat ini dia kembali meringis karena mengingat apa yang telah terjadi diantara mereka berdua tadi malam.


__ADS_2