CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
SELALU TERGODA OLEHMU


__ADS_3

“Aku benar-benar mengenal papaku, dia orang yang dingin di luar, tapi begitu hangat di dalam. Dia seorang pria yang selalu membuatku kagum karena begitu mencintai mama dan kami anak-anaknya, walaupun dia bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya dengan mudah, dia bukan orang yang suka memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Dia seorang pria yang rela melakukan apapun untuk kebahagiaan keluarganya. Jangan takut, sebenarnya seperti mama, papa juga sangat menyukaimu. Terbukti dari ajakan papa menginap di rumah besar dan pesta barbeque. Semua orang di rumah besar tahu bahwa pesta barbeque di rumah besar hanya diijinkan dan diadakan oleh papa untuk menyambut kedatangan orang yang istimewa di Keluarga Shaw, karena sebenarnya papa orang yang tidak terlalu suka keramaian dan pesta,” Laurel tersenyum mendengar penjelasan dari Dave, ada sedikit rasa lega yang menyembul di hatinya, karena bagaimanapun selama ini dia merasa ada sedikit rasa takut bagaimana nantinya dia harus bersikap saat berada di tengah-tengah keluarga Shaw.


“Daripada memikirkan itu, pikirkan saja pesta pernikahan seperti apa yang kamu inginkan, aku akan berusaha mewujudkannya,” Laurel menatap ke arah Dave dengan mata berbinar.


“Benarkah?” Dave mengangguk pasti mendengar pertanyaan dari Laurel.


“Aku ingin pesta pernikahan sederhana, hanya mengundang teman dekat dan para kerabat dekat,” Dave langsung menoleh mendengar perkataan Laurel, bahkan sedikit menurunkan kecepatan mobilnya.


“Ah, kalau itu yang kamu minta rasanya akan sedikit sulit mengingat keluarga kami adalah Keluarga Shaw. Apalagi ini pernikahan pertama yang akan diadakan oleh keluargaku, selain aku anak pertama, memang belum ada pernikahan lain selain aku di generasiku di Keluarga Shaw,” Laurel sedikit memanyunkan bibirnya mendengar tanggapan dari Dave atas permintaannya.


“Sepertinya akan sulit menjadi orang normal jika sudah menjadi istrimu,” Dave menarik nafas dalam-dalam mendengar perkataan Laurel yang menurutnya lebih merupakan keluhan yang dia ucapkan karena ketidaknyamanannya.


“Maaf, untuk  itu aku tidak bisa banyak membantumu, tapi aku berjanji, akan berusaha sesedikit mungkin melibatkanmu dalam urusan bisnis Keluarga Shaw, agar kehidupanmu bisa seperti yang kamu inginkan,” Laurel tersenyum mendengar apa yang baru saja dikatakan Dave.


“Tidak sebanding dengan apa yang sudah kamu lakukan untukku. Sejak aku memutuskan untuk mengambil posisiku sebagai istrimu, itu artinya aku harus siap dan mulai belajar menerima konsekwensinya. Beri aku waktu, aku juga akan berusaha sebaik mungkin menjadi wanita yang pantas bersanding denganmu, dan menjadi istri yang bisa membantumu dengan baik," Laurel menggerakkan wajahnya ke arah Dave dan mencium pipi Dave sekilas, membuat Dave hanya bisa tersenyum, bukan hanya karena merasa bahagia karena keberadaan Laurel, tapi juga merasa bangga memiliki istri yang mau mengerti dirinya dan mau berusaha keras berubah untuk membantunya.


# # # # # # #


“Dave, tolong bantu aku,” Dave yang sedang mengancingkan kemejanya di walk in closet (walk in closet adalah suatu ruangan khusus yang dibuat untuk menyimpan pakaian dan aksesories yang biasa dipakai untuk sehari-hari seperti pakaian, dasi, sepatu, ikat pinggang dan sebagainya. Ruangan itu juga dapat digunakan untuk berpakaian dan berhias) yang ada di salah satu sisi kamar mereka langsung berjalan ke arah Laurel yang ada di depan cermin meja riasnya dalam posisi berdiri dengan tangan sibuk berusaha meraih resleting gaunnya di bagian belakang tapi tangannya tidak berhasil juga meraihnya. (Walaupun ada walk in closet di kamarnya, Laurel lebih suka berdandan di meja rias yang ada di dekat tempat tidurnya).


Begitu Dave mendekat ke arah Laurel yang berusaha menarik resleting gaunnya tapi tidak berhasil, Dave langsung tersenyum dan justru langsung memeluk tubuh Laurel dari belakang, membuat Laurel menggerakkan kepalanya ke samping.


“Butuh bantuan Nyonya?” Dave berbisik lembut ke arah telinga Laurel, dengan gerakan pelan, dilepasnya kedua tangannya yang tadinya memeluk Laurel, lalu Dave sedikit menjauhkan tubuhnya dari tubuh Laurel, sehingga Dave bisa melihat dengan jelas punggung putih Laurel yang terbuka dan di bagian atas terlihat bekas luka yang sudah mengering.


“Aku berharap segera menemukan siapa yang sudah berani melakukan ini padamu,” Dave menyentuh lembut bekas luka itu sambil menahan nafasnya.

__ADS_1


“Aku hanya ingin tahu sebenarnya aku salah apa pada orang itu sehingga dalam kurun waktu 7 tahun ini dia melakukan ini padaku hingga 2 kali, bahkan sepertinya di kejadian terakhir, aku melihat bagaimana matanya menatap aku, rasanya saat itu dia benar-benar ingin membunuhku,” Mendengar apa yang dikatakan Laurel, Dave langsung bergerak memeluk Laurel kembali dengan nafasnya yang sedikit memburu, membayangkan bagaimana orang itu sudah melukai wanita yang begitu dicintainya, bahkan berencana untuk membunuh Laurel, membuat dada Dave bergetar dan darahnya terasa mendidih.


“Aku akan berusaha keras untuk secepatnya menemukan orang itu, supaya tidak ada lagi yang bisa melukaimu seperti ini,” Laurel tersenyum, dielusnya lengan Dave yang melingkar di pinggangnya dengan lembut, berusaha menenangkan hati Dave yang mulai terlihat emosi, sehingga Laurel dapat membaca jelas dari tatapan Dave yang berubah menjadi begitu tajam.


“Aku percaya kamu bisa melindungiku. Tapi untuk sekarang tolong bantu aku mengenakan gaun ini,” Laurel berkata sambil tersenyum geli melihat Dave yang terlihat enggan bergerak dari posisi memeluknya walaupun Laurel sudah memintanya dengan lembut.


“Bolehkan kita membatalkan kedatangan kita ke pesta ini? Toh kita tidak terlalu mengenal mereka. Lebih baik kita melakukan kegiatan yang lain sekarang,” Dave berbisik lembut ke telinga kiri Laurel, kemudian diciuminya tengkuk (leher bagian belakang) Laurel dengan penuh gairah, membuat Laurel terkikik karena permintaan Dave.


“Tidak, kita sudah berjanji kepada mama. Aku hanya bisa menjanjikan kita bisa pulang lebih awal dari acara pesta, tapi tidak untuk permintaan tidak menghadirinya,” Dave menarik nafas panjang sambil bergumam pelan, kembali menjauhkan tubuhnya dari Laurel dengan berat hati.


“Ayolah Mr. Shaw, kita sudah terlambat ini,” Laurel berkata sambil menahan senyumnya melihat Dave hanya berdiri mematung di belakang tubuhnya sambil matanya menatap tanpa berkedip tubuh bagian belakang Laurel yang masih belum tertutup oleh gaunnya.


Akhirnya dengan gerakan pelan, tangan kiri Dave mulai memegang ujung resleting gaun Laurel yang berada di punggung bagian paling bawah, sejajar dengan pinggangnya, sedang tangan kanannya menarik pelan resleting itu ke atas. Laurel sedikit tersentak karena begitu resleting yang Dave tarik masih berada di pertengahan punggungnya, tiba-tiba saja Dave menghentikan gerakan tangannya menutup resleting gaun yang dikenakannya. Awalnya kedua tangan Dave bergerak mengelus lembut punggung Laurel yang masih belum tertutup gaun secara sempurna, dan sebentar kemudian kedua tangannya justru bergerak masuk ke dalam gaun Laurel, bergerak lembut dari mengelus punggung ke bagian tubuh Laurel yang lain.


“Dave…!” Laurel langung bergerak ke samping dengan wajah kaget, menjauhkan tubuhnya dari sentuhan tangan Dave yang mulai memegang bagian lain dari tubuhnya yang cukup sensitif dan pribadi, setelah itu dia langung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Dave.


“Sini, aku bantu,” Dave kembali mendekat ke arah Laurel, membuat Laurel melotot.


“Tidak, nanti tanganmu menjelajah ke tempat yang lain seperti tadi,” Dave langsung meringis mendengar teguran dari Laurel.


“Tidak, kali ini aku serius. Sini, biar aku yang melakukannya,” Tanpa menunggu jawaban dari Laurel, Dave langsung berjalan ke arah belakang Laurel, meraih resleting gaun istrinya dan menariknya ke atas, menutup tubuh Laurel dengan sempurna.


“Siapa suruh kamu memiliki tubuh yang begitu menggoda,” Dave berbisik pelan kepada Laurel yang langsung terbeliak dan langsung bergerak membalikkan tubuhnya kembali menghadap ke arah Dave begitu Dave selesai membantunya menarik resleting gaunnya dengan sempurna.


“Sayangnya untuk saat ini kamu harus menahan dirimu sampai malam nanti Dave,” Laurel mengecup ringan bibir Dave, membuat Dave hanya bisa menghembuskan nafasnya lewat hidung keras-keras.

__ADS_1


“Kamu memang paling jago untuk urusan menyiksaku mo cuisle,” Laurel tersenyum geli mendengar keluhan dari Dave, membuatnya semakin ingin menggoda Dave. Dengan gerakan pelan Laurel berjinjit dengan kedua tangannya memegang bahu Dave, lalu berbisik pelan di telinga kanan Dave.


“Sesuai perjanjian Mr. Shaw, nanti malam, bukan sekarang,” Setelah berbisik pelan, dengan cepat Laurel sengaja mencium mesra leher Dave, membuat laki-laki tersentak kaget dengan tindakan Laurel yang tidak disangka-sangkanya, sedang Laurel setelah melakukan itu buru-buru berlari menjauh dari Dave yang masih termangu di tempatnya, dan langsung keluar dari kamarnya, membuat Dave mengatupkan kedua giginya dengan erat sambil berdesis pelan, dengan salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas.


Andaikata kita tidak berjanji dengan Mama Denia, saat ini aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja. Kamu semakin lama semakin membuatku sulit untuk mengendalikan diriku, Dave berkata dalam hati sambil tersenyum melihat bagaimana Laurel menggodanya, dan mau tidak mau membuatnya harus membersihkan bekas lipstik di bibir dan lehernya.


# # # # # # #


Dave masih di dalam kamarnya, merapikan kemeja yang dikenakannya, dan kemudian meraih jasnya dan mengancingkannya ketika Laurel sudah berada di luar kamar dan bertemu Rita yang berjalan ke arahnya dengan sedikit tergesa-gesa, seolah-olah memang sebelumnya Rita sengaja mencarinya.


“Non Laurel…,”


“Iya, kenapa Rit?” Laurel langsung menyambut Rita dengan pertanyaan.


“Ada tamu yang ingin bertemu dengan Non Laurel,” Rita menjawab pelan, wajahnya terlihat ragu untuk meneruskan kata-katanya.


“Siapa Rit? Padahal aku dan Tuan Dave harus segera berangkat ke pesta, ”


“Itu…, anu non…, laki-laki yang kapan hari sempat kemari menemui Non juga,”


“Laki-laki?” Pikiran Laurel langsung melayang kepada Devan begitu mendengar perkataan Rita.


“Dimana tamunya sekarang?”


“Saya tidak mengijinkan tamunya masuk non, jadi saya biarkan menunggu di teras rumah,” Mendengar penjelasan Rita, Laurel berjalan ke arah teras rumahnya untuk menemui tamunya.

__ADS_1


Laurel langsung menarik nafas dalam-dalam begitu melihat sosok Devan yang berada di teras rumahnya dengan posisi membelakanginya. Rasanya benar-benar tidak nyaman bagi Laurel melihat sosok laki-laki itu kembali muncul di hadapannya. Karena itu, kehadirannya kali justru membuat Laurel begitu ingin menegaskan bahwa mereka tidak perlu untuk saling bertemu lagi di masa depan.


__ADS_2