
Laurel sudah benar-benar kehabisan akal dan tenaga, sehingga hanya bisa pasrah begitu hawa panas dari api yang berkobar mulai terasa semakin dekat dengannya. Mata Laurel terpejam dengan rapat, mencoba berharap datangnya sebuah keajaiban walaupun dia sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk dalam hidupnya.
"Dor! Dor! Dor! Dor!" Suara tembakan yang begitu memekakkan telinga dan terdengar lebih dari tiga kali berturut-turut membuat Laurel begitu terkejut dan langsung membuka matanya, apalagi dirasakannya tiba-tiba cengkeraman erat Dicky di pergelangan tangannya tiba-tiba terasa melonggar sampai akhirnya terlepas dengan sendirinya.
Wajah Laurel terlihat begitu kaget, matanya membulat sempurna karena terbeliak kaget, dan dengan gerakan reflek bibir Laurel terbuka dengan kedua telapak tangannya langsung menutupinya bibirnya yang terbuka dengan dadanya yang berdebar dengan kencang. Wajah Laurel terlihat pucat pasi karena melihat Dicky yang terjatuh dengan kaki dan lengannya bersimbah darah di samping bawah kaki Laurel.
Laurel berusaha mengendalikan dirinya yang begitu terkejut dengan apa yang terjadi di depannya, dengan sekuat tenaga dikumpulkannya kekuatannya. Dengan gerakan kaki terseret, Laurel mundur beberapa langkah ke belakang.
"Ah...," Suara erangan dari bibir Dicky yang menahan rasa sakit akibat tembusan timah panas di kaki dan lengannya membuat Laurel tersadar dari kagetnya, dan langsung tersentak kaget begitu merasakan ada seseorang memeluknya dengan erat dari arah belakang tubuhnya, karena dia sendiri sedang fokus melihat sosok Dicky yang baru saja tertembak.
"Untung saja kamu baik-baik saja Laurel," Begitu mendengar suara seorang laki-laki yang cukup dikenalnya, dengan gerakan cepat Laurel membalikkan tubuhnya dan langsung melepaskan pelukan orang yang baru saja menembak Dicky sambil melangkah mundur, buru-buru menjauh dari sosok itu.
"Laurel, apa kamu ada yang terluka?" Laurel kembali mundur begitu melihat Devan maju mendekat ke arahnya sambil tangan terulur ke arah Laurel, dengan matanya memandang Laurel dari ujung rambut sampai ke ujung kaki untuk memastikan Laurel baik-baik saja saat ini.
"Devan..., tolong jangan mendekat. Kita tidak sedang dalam hubungan yang pantas untuk melakukan pelukan seperti itu," Laurel berkata sambil matanya melirik ke arah Dicky yang mengerang kesakitan, dengan gerakan pelan Laurel berjongkok di samping Dicky, dan dengan gerakan cepat merobek pakaian yang dikenakan Dicky.
Setelah berhasil merobek pakaian Dicky, Laurel segera merentangkan kain itu, bersiap untuk membebat luka tembak pada lengan dan kaki Dicky. Sedangkan Devan yang awalnya hanya melihat apa yang dilakukan Laurel kepada Dicky sambil menyelipkan kembali pistol yang baru di digunakannya ke pinggangnya, di balik pakaian rapi yang dikenakannya, berjalan mendekat ke arah Laurel. Setelah itu dengan gerakan cepat, tangan Devan terulur ke arah tangan Laurel yang sudah bersiap membalut luka Dicky.
"Laurel! Apa yang kamu lakukan! Dia sudah berusaha menyakitimu! Untuk apa kamu begitu perduli padanya! Dia pantas mendapatkan itu karena sudah menyakitimu bahkan berniat membunuhmu! Dia sudah beruntung aku masih berbaik hati tidak menembak bagian vital tubuhnya!" Devan merebut kain yang berada di tangan Laurel.
Melihat tindakan Devan itu Laurel langsung bangkit dari berjongkoknya, berdiri berhadap-hadapan dengan Devan. Devan menarik nafas dalam-dalam melihat bagaimana seseorang yang hampir membunuhnya, namun Laurel tetap berniat untuk menolongnya.
"Kalau aku tidak menolongnya dia akan mati karena kehilangan banyak darah!" Laurel kembali merebut kain yang tadinya direbut oleh Devan, namun Devan tetap berusaha mempertahankannya agar Laurel tidak bisa merebutnya kembali.
"Devan! Aku tidak perduli, selama aku bisa menyelamatkan nyawa orang lain, aku akan melakukannya! Dan sebagai seorang dokter aku sudah mengucapkan sumpah untuk itu!" Laurel berkata dengan mata sedikit membeliak untuk menunjukkan bahwa dia sangat tidak menyukai apa yang sedang dilakukan Devan sekarang untuk menghalanginya menolong Dicky.
(Sumpah Dokter adalah sumpah yang dibacakan oleh seseorang yang akan menjalani profesi dokter secara resmi. Isi dari sumpah dokter:
__ADS_1
Saya bersumpah bahwa:
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya.
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter.
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan.
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik Kepartaian atau Kedudukan Sosial.
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya.
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.
Sekalipun diancam saya tidak akan mempergunakan pengetahuan Kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan.
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya).
Melihat bagaimana mata Laurel yang terlihat marah dan menentangnya membuat Devan sedikit tersentak, membuat tangannya yang memegang kain tadi melonggar. Melihat itu dengan cepat Laurel kembali merebut kain itu dari tangan Devan.
"Jangan keras kepala! Kondisimu juga belum tentu lebih baik darinya sekarang ini!" Dengan keras Devan menarik pergelangan tangan Laurel yang sudah bersiap untuk kembali berlutut di dekat Dicky untuk membalut luka Dicky, membuat Laurel tidak dapat mendekati Dicky yang wajahnya mulai memucat karena menahan sakit, dan kehilangan banyak darah.
“Devan!” Laurel menyebutkan nama Devan dengan matanya yang melotot karena marah, membuat Devan menarik nafas panjang sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
“Ah…, sudahlah. Kalau memang itu keinginanmu,” Devan mengangkat tangan kanannya dan melambai, memberi tanda kepada salah seorang pengawalnya untuk menddekat kepadanya.
Seorang lak-laki muda bertubuh tinggi besar berlari mendekat ke arah Devan begitu melihat kode isyarat dari tangan Devan. Laurel melirik ke arah dari mana laki-laki itu tadi berdiri menunggu perintah. Sekilas Laurel bisa melihat lebih dari 6 orang selain laki-laki yang baru saja mendekat ke arah Devan sedang berdiri di belakang posisi Devan seolah sedang menunggu perintah berikutnya dari majikannya.
“Ikutlah denganku ke tempat yang lebih aman, biar orangku yang mengantar Dicky ke rumah sakit,” Mendengar perkataan Devan, Laurel langsung mengarahkan pandangan matanya ke arah Devan.
“Apa kamu akan mengantarku pulang?”
“Aku tidak akan membiarkanmu tetap di tempat ini. Ikutlah denganku, aku akan membawamu ke tempat yang aman,” Laurel menarik nafas dalam-dalam sebelum merespon kata-kata Devan, karena tempat aman yang dikatakan Devan barusan pasti bukan rumah yang diinginkan Laurel.
Sejak awal dia keluar dari bangunan villa yang ada di tengah-tengah perkebunan teh itu, Laurel belum melihat sekalipun ada orang lain yang terlihat ataupun sekedar lewat. Bahkan setelah terdengar suara tembakan keras yang berasal dari pistol yang dipegang Devan, tidak ada orang selain para pengawal Devan yang datang ke tempat itu. Laurel sedikit menahan nafasnya, karena menyadari saat ini penawaran Devan untuknya adalah yang terbaik. Tanpa hanpdhone, tanpa uang, tanpa apapun selain pakaian yang melekat di tubuhnya, Laurel sadar jika dia menolak penawaran Devan, dia tidak tahu harus bagaimana dan kemana.
“Aku berjanji akan membiarkan orang-orangku mengantar Dicky ke rumah sakit untuk segera ditangani jika kamu bersedia ikut dengan aku meninggalkan tempat ini. Itu juga demi kebaikanmu. Tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan di tempat ini,” Devan berkata sambil melirik ke arah Dicky yang dari lukanya masih mengalirkan darah segar.
Mata Laurel yang ikut melirik ke arah Dicky membuat Laurel kembali menahan nafasnya. Untuk saat ini bagi Laurel penawaran Devan adalah yang terbaik yang bisa dia terima, dan dia sungguh berharap beberapa saat ke depan dia segera menemukan cara untuk dapat menghubungi Dave.
“Semakin lama kamu menunda jawabanmu, keselamatan Dicky semakin terancam,” Devan berkata sambil tersenyum, karena dia tahu sebentar lagi pasti Laurel akan mengiyakan penawarannya, melihat bagaimana wajah khawatir Laurel saat melirik ke arah Dicky.
Kamu tetap Laurel, Laurel kekasihku yang aku kenal sejak 10 tahun lalu. Gadis yang sangat cantik bukan hanya fisik tapi hatimu, membuatku begitu sulit melepasmu karena sampai saat ini aku tidak bisa menemukan gadis lain yang sepertimu, Devan berkata dalam hati dengan matanya tetap menatap ke arah Laurel, tatapan yang dipenuhi dengan kerinduan yang begitu besar.
“Baiklah, aku akan ikut denganmu pergi dari sini,”
“Good girl,” Devan berkata sambil menaikkan salah satu ujung bibirnya, merasa puas mendengar Laurel akhirnya mau menuruti keinginannya.
Sekarang kamu benar-benar bukan Devan yang aku kenal dulu. Devan yang selalu ceria dan tidak pernah bertindak kasar ataupun menyakiti orang lain karena selalu tidak tega melihat orang lain menderita. Devan yang akan sakit kepala bahkan muntah begitu melihat darah. Yang ada di hadapanku sekarang adalah seorang laki-laki berhati dingin dan keras, bahkan sekarang kamu dengan santainya bisa menembak seseorang tanpa ada rasa bersalah dan takut sama sekali di wajahmu, Laurel berkata dalam hati dengan kepalanya masih menoleh ke belakang, untuk memastikan bahwa Devan memegang janjinya.
Laurel sedikit bernafas lega melihat bagaimana dua orang pengawal Devan langsung bergerak mengangkat tubuh Dicky dan memasukkannya ke mobil. Akhirnya dengan langkah berat dan ragu Laurel berjalan menjauhi tempat itu, berjalan mengikuti Devan yang sudah lebih dahulu berjalan menjauh.
__ADS_1