CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
PENGAKUAN


__ADS_3

"Laurel...," Mendengar namanya dipanggil lembut oleh Arnold, Laurel buru-buru mengalihkan pandangannya dari sosok Dave yang sudah mengambil posisi duduk di dekat mereka, agar Arnold tidak curiga dan menoleh ke belakang. Tidak berapa lama kemudian tampak seorang laki-laki lain berjalan mendekat ke arah meja Dave dan duduk di depan Dave. Dan entah apa yang sedang dibicarakan mereka berdua, tapi dari raut wajah Dave terlihat begitu serius.


"Ya..," mendengar jawaban Laurel, Arnold memberikan kode kepada salah seorang waitress. Tidak lama kemudian seorang waitress datang dengan membawa sepotong kue berbentuk hati dan setangkai bunga mawar merah segar dan meletakkannya di atas meja, diantara Laurel dan Arnold.


Mata Laurel sedikit terbeliak menatap ke arah sepotong roti berbentuk hati yang ada di depannya, di atasnya terlihat sebuah cincin cantik tertancap di roti tersebut. Sebenarnya tanpa menunggu Arnold mengatakan sesuatu Laurel sudah bisa tahu apa maksud Arnold, tapi tetap saja bibir Laurel menanyakan niat Arnold dengan semua itu.


"Apa maksudnya dengan semua ini?" Sebenarnya Arnold ingin sekali meraih tangan Laurel, tapi tampaknya itu tidak mungkin, selain meja di depan mereka cukup jauh memisahkan duduk mereka, sedari tadi kedua tangan Laurel ada di atas pangkuannya, bukan di atas meja, membuat Arnold tidak mungkin untuk menjangkaunya.


"Laurel, kamu tahu, sejak pertama kali kita bertemu...," Arnold menarik nafas panjang, memegang dadanya sebentar, mengatur nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Sejak pertama kita bertemu aku sudah jatuh cinta padamu. Belum pernah ada gadis yang begitu membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak selalu berada di dekatnya," Laurel tersentak kaget, walaupun dia sudah bisa menebak arah pembicaraan Arnold sejak roti berbentuk hati itu ada di depannya dengan cincin di atasnya, tapi tetap saja ternyata dia tidak siap saat mendengar Arnold mengatakan itu dari bibirnya, apalagi diawasi oleh sepasang mata dari arah belakang Arnold. Entah kenapa Laurel merasa bukan suatu kebetulan Dave bertemu dengan seseorang di restoran yang sama dengannya dan Arnold, tapi tanpa disadari oleh dirinya sendiri Laurel menarik nafas lega ada Dave di dekatnya, jadi dia tidak merasa hanya berduaan dengan Arnold di tempat itu.


"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, pikirkan baik-baik, tapi kumohon berikan aku kesempatan untuk menunjukkan ketulusanku," Arnold mencabut cincin yang ada di atas roti berbentuk hati itu, membersihkannya dengan tissue dan menyodorkannya ke arah Laurel. Laurel terdiam melihat apa yang dilakukan Arnold, matanya memandang ke arah Arnold, tapi bukan sekedar Arnold, karena Dave duduk segaris lurus di depannya, mau tidak mau dia juga memandang ke arah Dave yang tampak duduk dengan menyilangkan kedua tangannya di depan perutnya, dengan kaki kanan menyilang, menumpu di atas kaki kirinya. Dengan tatapan tenang Dave memandang ke arah Laurel, seolah dia sedang duduk sendiri disana dan seolah ikut menunggu jawaban Laurel untuk Arnold, membuat Laurel sedikit gugup untuk mulai berbicara dan membuat laki-laki yang ada di hadapan Dave sedikit menoleh melihat ke arah Laurel dan Arnold karena penasaran kenapa konsentrasi Dave seperti terbagi, sedari awal mereka membahas bisnis mereka seringkali mata Dave terarah ke tempat lain, lebih tepatnya ke arah Laurel. Sekilas laki-laki yang bersama Dave melirik ke arah Laurel, dan setelah pandangan matanya kembali ke arah Dave, laki-laki itu tersenyum tipis ke arah Dave.


"Is it her?" (apakah itu dia?) Dave hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaan yang dibisikkan pelan oleh laki-laki yang ada di hadapannya, yang langsung tersenyum melihat anggukan kepala Dave.


"Arnold, aku bersyukur sekali bisa mengenalmu, tapi...,"


"Jangan diteruskan, aku mau kamu memikirkannya sebelum menjawabku. Aku tahu kita baru saja saling kenal, bahkan belum ada sebulan. Tapi aku tahu jelas hatiku, belum pernah aku merasa tertarik dengan seorang gadis bahkan sejak pertama kita bertemu," Laurel menarik nafas dalam-dalam.


"Aku tahu banyak laki-laki yang berusaha mendapatkan hatimu, tapi tolong, beri kesempatan buat kamu memikirkan apakah paling tidak ada sedikit rasa suka terhadapku, dari sedikit rasa suka itu aku akan membuatmu menyukaiku lebih banyak lagi sampai kamu jatuh cinta padaku," Laurel tersenyum mendengar kata-kata Arnold, jika saja laki-laki tampan di depannya sekarang ini pernah sekali saja membuatnya berdebar-debar, dia pasti akan mencoba mempertimbangkannya, tapi masalahnya, dia tidak pernah menganggap Arnold lebih dari seorang teman, sedekat apapun hubungan mereka selama ini, Laurel hanya menganggapnya teman.


“Maaf Arnold…,”


“Tidak, jangan mengatakan apa-apa, aku akan memberimu waktu beberapa hari untuk kamu memikirkannya, aku akan menunggu jawabanmu pada hari Jumat besok. Ini hari ulang tahunku, anggap saja kita sedang merayakan ulang tahunku. Untuk sekarang jangan pikirkan apa yang baru saja aku katakan. Temani aku makan malam hari ini,” Laurel menarik nafas panjang, diliriknya cincin yang berada di meja depan mereka.


“Cincin ini khusus aku belikan untuk hadiah pindah rumahmu, mungkin kamu tidak sadar aku sengaja belum memberimu hadiah pindah rumah kemarin,” Laurel menarik nafas panjang mendengar itu. Sepertinya terlalu banyak orang yang memberinya hadiah pindah rumah yang baginya terlalu mewah.


“Tidak, aku tidak bisa menerima hadiah yang terlalu bersifat personal seperti itu. Cincin itu harusnya diberikan kepada gadis yang akan menjadi kekasihmu,” Arnold tersenyum mendengar perkataan Laurel.

__ADS_1


“Dan aku berharap gadis itu adalah kamu. Ah, sudahlah, jangan membicarakan itu. Aku ingin memberimu waktu untuk berpikir, artinya malam ini jangan kamu pikirkan apa yang barusan aku katakan, kita nikmati saja makan malam kita sebagai perayaan ulang tahunku,” Laurel hanya bisa tersenyum dengan terpaksa mendengar perkataan Arnold, sebenarnya dia merasa benar-benar tidak nyaman makan berdua bersama Arnold, belum lagi tidak begitu lama Dave bangkit dari duduknya tanpa suara, diikuti laki-laki yang tadinya duduk di depannya, membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan tempat mereka duduk, sehingga Laurel kembali hanya berduaan dengan Arnold di tempat itu.


# # # # # # #


Jangan lupa untuk memberikan jawabanmu pada hari ini, Laurel mengernyitkan keningnya membaca pesan dari Arnold. Rasanya beberapa hari ini perasaannya benar-benar kacau karena harus menghadapi Arnold yang sejak malam itu selalu berusaha mendekatinya, sedangkan di lain sisi, selama beberapa hari ini kemanapun Arnold mengikutinya sepertinya Dave juga seringkali tiba-tiba muncul di tempat yang sama.


Walaupun Arnold memegang janjinya untuk tidak mengungkit masalah jawaban Laurel terhadap pernyataan cintanya sampai pada waktu yang telah ditetapkan, tapi di sela-sela waktu istirahatnya seringkali Arnold langsung mencarinya, entah itu di kantornya, entah itu di kantin saat makan siang. Dan entah itu hanya perasaan Laurel atau memang benar-benar tidak disengaja terjadi, setiap Arnold mengunjungi ruangannya, tidak berapa lama pasti Mira menyampaikan pesan dari Dave untuk menemuinya di kantor direktur, atau sewaktu dia makan siang di kantin dan Arnold duduk satu meja dengannya, Dave akan serta merta duduk di meja di sebelah kiri atau kanan meja tempatnya makan, membuatnya harus benar-benar berhati-hati saat mengeluarkan kata-kata.


Dan kejadian itu masih ditambah lagi dengan kiriman bunga tulip merah setiap hari ke rumahnya. Pengirim yang selalu menganggap dirinya Dewa Siwa dan dia sebagai Dewi Parwati yang dalam cerita pewayangan merupakan istri dari Dewa Siwa benar-benar membuatnya sakit kepala memikirkan siapa orang iseng yang sudah mengirimnya bunga setiap hari dengan kartu ucapan berisi kata-kata pernyataan cinta yang aneh.


“Dokter Laurel, hati-hati,” Karena terlalu fokus pada handphonenya Laurel hampir saja menabrak Leo.


“Eh, maaf dokter Leo, saya tidak melihat dokter,” Leo tersenyum melihat wajah Laurel yang tampak merasa bersalah.


“Sedang melamunkan siapa?” Laurel tersenyum mendengar pertanyaan Leo.


“Eh, tidak dok,” Leo tertawa geli melihat wajah Laurel yang terlihat sedikit memerah dan terlihat salah tingkah.


“Kalau saya bisa bantu, saya pasti bantu dok,”


“Ok, serahkan dokumen ini ke bos, harus kamu sendiri ya yang antar ke kantornya, ini dokumen penting,” Laurel menatap dalam-dalam wajah Leo, sedikit berpikir, kalau memang dokumen penting kenapa harus dia yang disuruh menyampaikan ke Dave, bukan Leo sendiri.


“Tenang saja, aku percaya padamu,” Tanpa menunggu respon dari Laurel, Leo mengarahkan amplop coklat yang dia pegang di tangannya ke arah Laurel tanpa meminta persetujuan dari Laurel.


“Pokoknya sekarang kamu serahkan ke bos, jangan lupa, ini hari ulang tahun bos, walaupun baru besok pesta ulang tahun bos diadakan, tapi hari ini ucapkan selamat ulang tahun untuknya,” Leo mengerlingkan matanya ke arah Laurel sebelum dia membalikkan tubuhnya untuk pergi ke kantornya sendiri, yang sebenarnya berada tidak jauh dari kantor Dave.


# # # # # # #


Dengan ragu-ragu Laurel mengetuk pintu kantor Dave, namun belum lagi dia mendengar suara perintah untuk masuk, terdengar suara yang cukup keras dari dalam ruangan Dave.

__ADS_1


“Prang!” Karena mendengar suara benda pecah dengan reflek Laurel membuka pintu ruangan Dave tanpa menunggu perintah untuk masuk, dan apa yang dilihatnya di ruangan itu sungguh membuat Laurel terbeliak.


Dilihatnya Dave dengan tangan kanannya sedang memegang tangan kiri Hana yang ada di atas kepalanya seperti posisi hendak meletakkan tangannya ke bahu Dave, dengan tubuh Dave berdiri bersandar pada meja kerjanya, sedang Hana ada tepat di depannya dengan tubuh berada begitu dekat dengan tubuh Dave, di bawah kaki Dave tampak pecahan gelas yang sepertinya tidak sengaja terjatuh saat mereka melakukan aksi yang saat ini cukup membuat Laurel shock.


Hana menoleh sekilas melihat suara pintu yang dibuka dengan tiba-tiba, dan tanpa disangka-sangka, begitu Hana melihat Laurel yang berdiri di depan pintu kantor Dave, dengan spontan Hana mencium pipi Dave.


“Selamat ulang tahun bos,” Melihat kejadian di depannya, Laurel semakin terbeliak, membuat kakinya mundur beberapa langkah ke belakang.


“Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu,” Dengan cepat Laurel membalikkan badannya dan berlari menjauh, membiarkan pintu kantor Dave tetap terbuka. Leo yang kebetulan baru saja berlarian menyusul Laurel karena ada satu dokumen lagi untuk Dave yang tertinggal, langsung mengernyitkan alisnya dan ikut melihat apa yang sedang terjadi di dalam ruangan Dave sehingga membuat Laurel begitu kaget dan langsung berlari menjauh.


“Dave…, Hana…,” Mendengar ada suara Leo memanggil nama mereka berdua dan berjalan mendekati mereka berdua, Hana langsung menyentakkan tangannya dari pegangan tangan Dave, dan tanpa kata-kata Hana langsung membalikkan badan, berjalan meninggalkan ruangan Dave dan menutup pintu kantornya.


“Gila! Dave! Apa yang barusan kamu lakukan dengan Hana? Di depan Laurel? Kamu benar-benar keterlaluan!” Dave menarik nafas panjang sambil memegang keningnya dengan telapak tangan kanannya.


“Tidak seperti yang kamu pikirkan Leo, bukan seperti itu kejadiannya,” Leo berjalan mendekat ke arah Dave dengan wajah dipenuhi emosi.


“7 tahun lebih kamu menunggunya! Dan sekarang kamu membuat semuanya berantakan hanya dalam hitungan detik. Kalau memang dari awal kamu mau melepaskannya, lakukan sejak dulu, bukan saat dia sudah kembali di sini!” Dave memejamkan matanya sesaat sambil menghela nafasnya.


“Ini hanya kesalahpahamam Leo, tidak seperti yang kamu lihat,” Dave berusaha menenangkan Leo yang terlihat begitu emosi.


“Salah paham? Membiarkan seorang gadis lain menciummu di depan istrimu kamu bilang itu kesalahpahaman?” Leo menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba menahan emosinya.


“Dengar Dave! Selama ini aku begitu mengagumi cintamu kepada Laurel selama 7 tahun ini, dengan tulus aku berusaha membantumu agar kamu bisa segera mendapatkan hati Laurel! Tapi dengan kejadian hari ini, aku katakan padamu! Awalnya aku menahan diri karena tahu bahwa Laurel adalah istrimu! Tapi mulai sekarang, mari kita bersaing dengan adil! Biar Laurel yang memutuskan untuk kembali ke sisimu atau aku yang akan membawanya ke sisiku!” Dave terbeliak kaget mendengar perkataan Leo barusan, dia benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata selama ini Leo pun menaruh hati kepada Laurel.


“Leo! Kamu tahu dia istriku! Jangan main-main!” Dave mencengkeram krah pakaian Leo, tapi dengan cepat Leo segera menyingkirkan kedua tangan Dave dari krah bajunya.


“Apa yang barusan kamu lakukan dengan Hana tidak menunjukkan sikap seorang pria yang sudah memiliki istri!” Dengan cepat Leo membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah pintu.


“Leo! Dengarkan aku! Dengar penjelasanku!” Leo menghentikan langkahnya sebentar, lalu menoleh ke arah Dave tanpa membalikkan tubuhnya kembali.

__ADS_1


“Coba saja kamu jelaskan kepada Laurel, bukan aku yang butuh penjelasanmu!” Setelah menyelesaikan kata-katanya, Leo langsung berjalan keluar, membiarkan Dave yang langsung mengepalkan tangannya dan meninju meja kerjanya dengan keras, membuat tangannya meninggalkan noda darah di meja kerja yang baru dipukulnya.


__ADS_2