
“Dimana Nia?” Laurel yang sudah mengenakan training dan kaos santai, siap untuk melakukan latihan voli menoleh ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari sosok Nia, yang sedari tadi tidak dilihatnya sejak terakhir mereka bertemu untuk makan siang bersama di kantin.
“Mencari siapa? Aku?” Arnold berjalan mendekat ke arah Laurel yang langsung tersenyum, dengan mata masih memandangi sekelilingnya untuk mencari Nia.
"Sembarangan saja, buat aku cari orang yang bukan satu tim denganku?" Laurel berkata sambil dengan senyum geli menghiasi wajahnya, mengingat saat dia diharuskan mendaftar ke tim voli oleh Dave dia berhasil juga membujuk Nia untuk bergabung bersamanya di tim voli.
"Aduh, pedas sekali bicaranya nona cantik satu ini. Kalau tahu ternyata akhirnya kamu mendaftar di tim voli, dari awal aku juga pasti akan ikut bergabung di tim voli," Arnold mengerdip-ngerdipkan matanya sambil mengarahkan kepalanya ke arah Laurel yang langsung tertawa.
"Jangan coba-coba, kalau tidak ingin tim voli dipermalukan karena memiliki pemain yang tidak capable (mampu)," Mendengar sindiran dari Laurel, Arnold langsung membusungkan dadanya sambil menepuk-nepuknya dengan telapak tangan kanannya.
"Sepertinya dokter cantik kita ini belum tahu kehebatanku di lapangan voli. Apa dengan bentuk tubuhku yang atletis belum bisa menunjukkan kalau aku seorang yang jago dalam olahraga?" Arnold mengerlingkan matanya ke arah Laurel dengan wajah penuh percaya diri.
“Rasa percaya diri yang berlebihan berbahaya lho,” Laurel menjawab pertanyaan Arnold dengan senyuman manis, membuat Feri yang sedang melewati mereka langsung ikut mendekat ke arahnya.
“Kalau begitu lebih baik kamu jangan dekat-dekat Arnold, karena kebiasaan buruk lebih mudah ditularkan daripada kebiasaan baik, ada baiknya kamu dekat denganku saja. Di rumah sakit ini kamu tahu julukanku, Feri Kusuma, dokter teralim di rumah sakit ini,” Feri berkata sambil tertawa terkekeh, apalagi melihat Laurel tampak membulatkan matanya mendengar perkataannya barusan, yang menurut Feri membuat wajah Laurel terlihat semakin manis dan menggemaskan.
“O, ya? Maaf tuan yang mengaku alim, aku belum pernah mendengar julukan itu, yang aku dengar justru dokter Feri Kusuma, penakluk para wanita, idola para suami,” Mendengar kata-kata Laurel, Roy yang baru saja datang langsung tertawa terbahak-bahak dan melingkarkan lengan tangan kanannya ke bahu Feri.
“Mantap Laurel, baru kali ini ada yang bisa memberikan julukan yang pas kepada Feri,” Mendengar komentar Roy, mata Feri langsung melotot menyatakan protesnya.
“Sial,” Feri langsung meninju lengan Roy yang masih terus tertawa karena kata-kata julukan yang diberikan Laurel untuk Feri.
__ADS_1
“Sebenarnya Fer, yang dikatakan Laurel benar juga, kenapa aku tidak pernah terpikir ya? Sejak kamu praktek, kamu selalu dicari-cari banyak wanita, mana ada pasien pria yang mencarimu? Kecuali mereka datang dengan istrinya untuk melakukan konsultasi masalah kehamilan atau kesuburan denganmu,” Feri tersenyum kecut mendengar godaan dari Roy.
“Kamu harusnya bersyukur Fer, karena kamu dokter kandungan, mana ada para suami yang protes walaupun kamu pegang-pegang istri mereka, justru kamu dibayar mahal untuk itu,” Arnold langsung menimpali perkataan Roy, membuat muka Feri memerah, sedang tawa Roy semakin menjadi mendengar apa yang dikatakan Arnold.
“Sembarangan saja, aku tidak pernah asal pegang ya, itu tuntutan profesi,” Mendengar protes dari Feri, Lusiana yang baru saja bergabung dengan mereka langsung menepuk-nepuk bahu Feri.
“Karena itu Fer, aku tidak pernah mau menikah dengan dokter spesialis kandungan sepertimu, daripada setiap hari makan hati takut kamu main mata dengan para ibu-ibu hamil yang menjadi pasienmu,” Laurel langsung tergelak mendengar sindiran Lusiana untuk Feri.
“Jangan percaya perkataan Lusiana Laurel, percayalah aku pria yang bertanggung jawab yang tidak akan mengkhianati istriku, apalagi kalau istriku adalah gadis secantik kamu, pasti mataku akan tertutup dengan sendirinya, hanya bisa melihat ke arahmu,” Tawa Laurel semakin lebar mendengar kata-kata rayuan dari Feri.
“Jangan perdulikan kata-kata Feri, lebih aman kalau kamu menikah dengan dokter anak sepertiku, yang pasti menyukai anak-anak, aku bisa jamin aku akan menjadi papa yang baik untuk anak-anak kita kelak,” Mendengar perkataan Arnold, tangan Lusiana langsung menampik tangan Arnold yang terlihat hendak menarik tangan Laurel.
“Apa itu benar? Jangan membuat kami patah hati,” Laurel tersenyum mendengar candaan Lusiana, dan langsung melangkah mundur menghindar dari ketiga dokter laki-laki tersebut, sehingga tanpa sadar tubuhnya menabrak tubuh seseorang yang berdiri di belakangnya, membuatnya begitu kaget dan hampir terjatuh, tapi untung saja dari arah belakang ada dua tangan yang segera memegang kedua bahunya, menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, membuat Laurel dengan spontan menoleh ke belakang sambil sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang sudah di tabraknya dan menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
“Maaf..., bos…,” Laurel buru-buru menjauhkan diri dari tubuh Dave sekaligus untuk melepaskan bahunya dari tangan Dave yang baru saja menopangnya, sekilas dilihatnya wajah Dave yang tetap datar sambil menatapnya, sedang Hana yang berada di sebelah Dave menatap tajam dan penuh selidik ke arah Laurel, menunjukkan bahwa dia tidak suka dengan apa yang barusan terjadi, tapi sedetik kemudian Hana tersenyum, meraih lengan Laurel, menjauhkannya dari tubuh Dave.
"Akhirnya kamu ikut dalam team voli ya?" Hana menarik lengan Laurel dan memeluknya, menariknya dengan gerakan anggun, seolah-olah sengaja mengajaknya menyingkir menjauhi Dave.
"Bos, ikut latihan juga?" Roy yang baru saja menyadari bahwa sore ini Dave mengenakan kostum untuk berolahraga langsung bertanya kepada Dave, membuat dokter-dokter yang lain mengarahkan pandangannya ke arah Dave, termasuk Laurel, dan mengamati apakah memang Dave berencana ikut salah satu tim yang akan ikut lomba, sedang Dave langsung tersenyum melihat pandangan heran dari para anak buahnya.
"Aku menggantikan dokter Leo, bergabung di tim voli campuran, karena dia merasa lebih cocok berada di tim bakti sosial," Mendengar penjelasan dari Dave semua dokter di tim voli bersorak senang, karena tim mereka diperkuat oleh Dave, yang selama ini terkenal selain jago taekwondo juga jago basket dan voli, yang sering dibuktikannya ketika para dokter menghabiskan waktu bersamanya di lapangan basket dan voli di lapangan belakang rumah sakit selama ini. Laurel sedikit mengernyitkan alisnya merasa heran dengan keputusan Dave yang kesannya hanya sebuah kebetulan, tapi sebenarnya Laurel tidak yakin bahwa itu hanya sekedar kebetulan.
__ADS_1
Sekilas Laurel melirik ke arah Hana yang menunjukkan wajah tegang sambil memandang ke arah Dave. Melihat itu Laurel hanya bisa menarik nafas panjang, bisa mengerti kalau dia ada di posisi Hana mungkin dia juga akan keberatan laki-laki yang disukainya lebih memilih bergabung dengan tim voli, bukan tim bakti sosial supaya bisa bersama dengannya dalam satu tim, apalagi sepertinya keputusan Dave untuk bergabung dengan tim voli terlihat begitu mendadak, seolah sedang menghindari seseorang, atau mungkin sedang mendekati seseorang, hanya Dave yang tahu jawabannya.
Tidak jauh dari tempat mereka ribut, Leo hanya bisa tersenyum sambil pura-pura mengalihkan pandangannya ke tempat lain karena Dave menjadikannya alasan untuk bergabung di tim voli, padahal jelas-jelas tadi pagi Dave yang minta dia mundur dari tim voli agar Dave bisa menggantikan posisinya. Leo tersenyum mengingat kembali kejadian tadi pagi di kantor Dave.
"Kenapa kamu tiba-tiba memanggilku? Kata Mira kamu ingin membahas masalah persiapan perlombaan minggu depan. Sejak dua hari lalu sejak dibentuk tim lomba, mereka sudah berlatih setiap sore," Dave mengetuk-ngetukkan bolpoinnya di atas meja kerjanya.
"Bagaimana perkembangan latihan mereka?" Leo menggerakkan bibirnya ke depan dan menaikkan kedua bahunya mendengar pertanyaan Dave.
"Sepertinya mereka terlihat bersemangat, apalagi tim voli, dengan bergabungnya Laurel di tim voli, sepertinya kita boleh optimis minimal juara 3 di tangan," Dave tersenyum mendengar penjelasan Leo tentang persiapan lomba untuk ulang tahun IDI minggu depan.
"Ada baiknya kamu mundur dari tim voli," Leo memandang ke arah Dave dengan wajah bertanya-tanya walaupun dia bisa langsung menebak kenapa Dave tiba-tiba memintanya keluar dari tim voli.
"Kenapa aku harus mundur dari tim voli?" Leo yang duduk di depan meja kerja Dave tersenyum melihat Dave terdiam, terlihat sedikit salah tingkah karena harus menjawab pertanyaan Leo barusan.
"Kamu bisa bergabung dengan tim bakti sosial, toh selama ini kamu seringkali bergabung dengan kegiatan sosial seperti ini, pengalamanmu pasti akan sangat membantu di tim bakti sosial," Leo langsung tertawa mendengar jawaban dari Dave, membuat Leo langsung berdiri, berjalan mendekat ke arah Dave, untuk kemudian Leo menepuk-nepuk bahu Dave.
"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, sikapmu bisa menyakitinya. Kalau dia menderita, aku bisa pastikan kamu akan lebih menderita. Aku lihat kamu terlalu keras padanya. Jangan sampai dia lari untuk kedua kalinya," Dave tersenyum mendengar perkataan Leo dan lebih memilih untuk diam daripada menanggapi perkataan Leo barusan.
__ADS_1