
Laurel berjalan mengikuti langkah-langkah Lusiana yang berjalan ke arah gerbang luar villa yang berada dekat dengan jalanan di depannya, karena sejak tadi Lusiana begitu ribut meminta Laurel untuk menemaninya membantu Feri untuk membeli makanan ringan, perintah dari panitia untuk acara bergadang malam ini.
"Hai Fer," Feri yang awalnya sedang menunggu Lusiana sambil memandang ke arah langit langsung membalikkan tubuhnya mendengar suara sapaan dari Lusiana. Laurel sedikit mengernyitkan alisnya melihat ekspresi wajah Feri yang terlihat kaget melihat kehadirannya bersama Lusiana.
Aduh, sepertinya aku merusak suasana, mungkin yang diharapkan Feri untuk membantunya hanya Lusiana, bukan aku, Laurel hanya bisa menggaruk-garuk keningnya melihat apa yang terjadi di depannya.
"Fer, aku mengajak Laurel sekalian, tidak apa-apa kan? Semakin banyak yang membantu semakin baik kan? Seharusnya aku mengajak Nia dan Roy juga," Dengan suara ceria seperti biasanya Lusiana langsung berbicara kepada Feri sambil menarik tangan Laurel yang sudah bersiap untuk membatalkan niatnya untuk ikut berbelanja.
"Eh, iya, tidak apa-apa," Feri menjawab pertanyaan Lusiana dengan sedikit memaksakan senyumnya, membuat Laurel semakin tidak enak hati, tapi untuk mengatakan kepada Lusiana bahwa dia ingin membatalkan niatnya untuk ikut juga tidak enak, terpaksa untuk sementara ini Laurel harus mengikuti keinginan Lusiana sambil memikirkan cara untuk bisa meninggalkan mereka berdua.
"Fer, ayo! Keburu malam," Lusiana yang sudah berjalan duluan sambil memeluk lengan kanan Laurel menoleh ke belakang dan langsung mengajak Feri yang terlihat masih terdiam di tempatnya berdiri. Mendengar ajakan Lusiana, Feri tersenyum dan berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
Untuk mencapai toko terdekat mereka harus berjalan kita-kita 1 km ke arah bawah, jalanan antara villa keluarga Shaw menuju pertokoan merupakan jalanan tanpa bangunan satupun, dengan kanan kiri berupa sawah yang ditanami sayur-sayuran yang tampak terawat dengan baik. Walaupun penerangan jalan hanya terlihat temaram, namun justru membuat pemandangan lampu-lampu kota yang ada di bawah pegunungan itu terlihat jelas, membuat suasana malam di tempat itu terlihat indah.
Suasana indah di sepanjang jalan itu membuat mereka menikmati jalan yang mereka bertiga lalui. Begitu mereka berjalan sejauh 1 km, terlihat toko-toko berjajar rapi, mulai dari toko souvenir, toko makanan, toko kebutuhan rumah tangga, toko sayur dan buah-buahan, toko snack, restoran, toko pakaian, cafe, bahkan sekedar warung kopi tempat para laki-laki terlihat bergerombol menikmati malam mereka sambil menikmati koneksi internet.
"Eh, Fer, apa banyak yang harus dibeli?" Feri menoleh mendengar pertanyaan Laurel.
"Memang kenapa?" Feri mengkerutkan keningnya mendengar pertanyaan Laurel.
"Maaf, sepertinya aku harus segera kembali ke villa, handphoneku tertinggal disana, padahal aku berjanji menelpon mamaku sebelum jam 9 malam ini, aku takut mamaku khawatir menunggu telepon dari aku," Mendengar perkataan Laurel, Lusiana memandang ke arah Feri.
"Apa tidak apa-apa hanya kita berdua yang berbelanja?" Lusiana memandang ke arah Feri sambil menunggu jawaban dari Feri, sehingga dia tidak melihat ketika Laurel memberi tanda ke arah Feri sambil mengerdipkan mata dan menganggukkan kepalanya, membuat Feri langsung tersenyum karena kode yang diberikan Laurel agar dia bisa segera pergi memberikan kesempatan pada Feri dan Lusiana untuk berduaan. Setelah mendapat isyarat dari Laurel, Feri langsung menoleh ke arah Lusiana.
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa, toh tidak banyak kok yang kita beli, sebagian snack sudah disiapkan oleh panitia, ini hanya tambahan saja," Lusiana mengerucutkan bibirnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu tersenyum.
"Maaf ya, tidak bisa membantu, aku kembali dulu ke villa ya, kalau butuh bantuan telepon aku, aku akan kembali kesini," Feri langsung melambai-lambaikan telapak tangan kanannya mendengar penawaran dari Laurel yang meletakkan tangan kanannya di antara telinga dan bibirnya dengan ketiga jari tengahnya dia lipat, membentuk tanda telepon.
"Tidak perlu, tenang saja, kami berdua akan membereskan semuanya, salam saja buat mamamu," Senyum lebar langsung terlihat di wajah Laurel mendengar perkataan Feri.
"Ok, aku pergi dulu ya," Laurel langsung membalikkan tubuhnya, bersiap berjalan kembali ke villa meninggalkan mereka berdua.
"Hati-hati Laurel!" Lusiana sedikit berteriak, tanpa menoleh Laurel mengangguk-anggukkan kepalanya dan terus berjalan kembali ke arah villa dengan langkah santai.
"Ok, apa yang harus kita beli sekarang Tuan Feri?" Feri tersenyum mendengar candaan Lusiana, tanpa menoleh ke arah Lusiana, Feri memandang ke arah seberang jalan tempat mereka berdiri, membuat Lusiana penasaran dan ikut mengarahkan pandangannya kesana.
"Wahhh, cantik sekali pemandangan di sana," Feri tersenyum mendengar perkataan Lusiana, tanpa meminta ijin pada Lusiana, tangan kanan Feri langsung menarik tangan kiri Lusiana, mengajaknya menyeberangi jalan untuk melihat pemandangan dari arah sana.
"Lihat di sebelah sana, lampu-lampu kota yang di sebelah sana jika kamu perhatikan seperti berbentuk buah apel," Lusiana terkikik sambil menganggukkan kepalanya.
"Dan lihat di sebelah sana, yang itu terlihat seperti bentuk buah nanas," Tawa Lusiana semakin lebar mendengar apa yang dikatakan Feri.
"Kelihatannya kamu benar-benar mengenal daerah ini?" Mendengar pertanyaan Lusiana, Feri sedikit berdehem.
"Sebenarnya, keluargaku juga memiliki sebuah villa di daerah sini juga, walaupun hanya villa kecil, jangan dibandingkan dengan villa keluarga Shaw," Lusiana membulatkan matanya tanda kaget mendengar perkataan Feri.
"O, ya? Aku baru tahu tentang itu, pantas saja kamu sepertinya benar-benar menguasai daerah ini,"
__ADS_1
"Villa keluargaku ada di bawah, setelah melewati deretan pertokoan ini, villa keluargaku ada di sebelah kanan jalan," Lusiana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku akan tunjukkan tempat di daerah ini yang memperlihatkan pemandangan indah lainnya," Lusiana langsung menganggukan kepalanya dengan wajah terlihat senang, membuat Feri sedikit tersenyum geli.
"Ayo," Feri langsung mengajak Lusiana kembali berjalan menyusuri daerah pertokoan, setelah sekitar 50 meter, terdapat jalan ke arah kiri, Feri langsung mengarahkan kakinya ke sana, diikuti oleh Lusiana.
"Hati, hati, jalannya agak menanjak," Feri meraih tangan Lusiana, membantunya untuk naik ke arah perbukitan kecil dengan hamparan rumput di depannya.
"Dari tempat ini langit terasa dekat dengan kita, lihat itu, banyak bintang yang terlihat besar jika kita lihat dari sini," Lusiana mengikuti tindakan Feri menengadahkan kepalanya ke langit, melihat banyaknya bintang yang bertebaran karena langit cerah malam ini.
"Wah, bintang-bintang itu terlihat indah, sayangnya dari bumi semua bintang terlihat sama warnanya," Feri menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Lusiana.
(Bintang paling panas bewarna biru, dan bintang bersuhu menengah bewarna putih, sementara bintang-bintang dingin bewarna merah. Saat ini diketahui bahwa warna bintang tergantung pada suhu permukaannya, namun sayangnya jika dilihat dari bumi bintang-bintang terlihat hampir sama, bewarna putih).
"Lihat bintang itu, terlihat paling besar ya?" Jari telunjuk tangan Feri menunjuk ke arah sebuah bintang yang terlihat menonjol diantara bintang lainnya karena terlihat sedikit lebih besar dari teman-temannya, membuat Lusiana mengangkat tangan kirinya dengan telapak tangannya dia buka lebar ke arah langit dan menggerak-gerakkannya ke kanan dan ke kiri, seolah sedang menyapa bintang yang ada di langit.
Untuk beberapa saat Lusiana membiarkan telapak tangan kirinya mengarah ke langit, sampai tiba-tiba dengan gerakan lembut Feri menggerakkan telapak tangan kirinya mendekat ke arah telapak tangan kiri Lusiana yang masih terangkat. Feri menempelkan telapak tangan kirinya ke telapak tangan kiri Lusiana, sedang tangan kanannya bergerak juga kesana, menyelipkan sesuatu di jari manis Lusiana yang langsung tersentak kaget karena tindakan Feri kepadanya.
Dengan wajah kaget yang menyebabkan dia tidak bisa berkata-kata Lusiana memandang ke arah tangan kirinya yang tiba-tiba saja sudah terpasang sebuah cincin indah di jari manis kirinya, di bagian tengah terlihat bentuk bintang di kelilingi oleh batu-batu permata yang tampak berkilauan. Setelah termenung untuk beberapa saat, Lusiana menoleh ke arah Feri yang langsung tersenyum dan memandang dengan lembut ke arahnya.
"Aku mencintaimu Lusiana,"
__ADS_1