
Dave melipat kedua tangannya di depan sambil menunggu Laurel menjawab pertanyaannya barusan. Laurel sendiri terlihat sedikit bingung dengan pesan dari mamanya yang baru diterimanya. Mamanya mengatakan bahwa baru saja dia sudah mendapatkan obat lambung yang dibutuhkannya dari seorang temannya yang kebetulan mampir ke rumah mengunjunginya. Laurel tahu sekali mamanya bukan orang yang pandai berbohong, karena itu Laurel merasa sedikit aneh dengan kata-kata mamanya. Mana mungkin ada kebetulan yang benar-benar aneh, disaat mamanya sedang membutuhkan obat ada teman yang berkunjung dan membawakannya obat lambung disaat yang bersamaan?
"Kenapa dokter Laurel? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan mamamu?" Laurel langsung menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Dave, dengan wajah masih sedikit bingung.
"Ok, mandilah dahulu, kami tunggu di gedung Bina Bersama," Tanpa menunggu jawaban dari Laurel, Dave berjalan melangkah meninggalkan Laurel yang tampak masih sedikit termenung memikirkan pesan dari mamanya. Begitu Dave sudah menjauh, Laurel segera melakukan panggilan kepada mamanya.
"Ma, siapa yang membelikan mama obat lambungnya? merk apa? Foto dan kirimkan biar aku cek obatnya," Begitu mamanya mengangkat telponnya Laurel langsung membicarakan masalah obat lambungnya.
"Eh, iya, mama akan kirimkan fotonya, jangan khawatir, kalau kamu masih ada kesibukan di rumah sakit, selesaikan saja urusanmu, mama sudah dapat obatnya," Laurel mengernyitkan alisnya.
"Ma, teman mama siapa yang tiba-tiba berkunjung dan membawa obat? Kenapa aneh sekali? Masak bisa kebetulan begitu?" Denia menahan nafasnya sedikit, mencoba menjawab pertanyaan Laurel dengan bijak agar Laurel tidak curiga, karena tidak mungkin dia menceritakan ada seseorang yang dengan sengaja mengirimkan kurir untuk memberikannya obat lambung kepadanya, walaupun Denia tahu pasti siapa yang sudah mengirimkan kurir itu, tapi dia tidak mungkin mengatakannya kepada Laurel.
"Ehmm...,sebenarnya sejak tadi siang teman mama mau berkunjung kesini, tapi dia baru bisa ke rumah kita sore ini, jadi sekalian mama minta tolong untuk membelikan mama obat," Walaupun Laurel merasa aneh, tapi akhirnya dia memutuskan percaya dengan jawaban mamanya karena dirasanya sedikit masuk akal.
"Kirimkan foto obatnya ke Laurel sekarang ya ma,"
"Ya.., ya..., mama kirimkan sekarang, mama tutup telponnya, mungkin kamu masih repot di sana,"
"Ok ma, sampai nanti malam, jangan terlambat untuk makan malam, makan yang lembut-lembut dulu ya ma sampai lambungnya enakan," Denia tersenyum mendengar kata-kata Laurel, sejak kecil Laurel merupakan anak yang baik, seperti anak kandungnya sendiri, begitu menyanyanginya. Hubungan mereka sempat renggang 7 tahun yang lalu karena kasus pernikahan Laurel, tapi untungnya kondisi itu tidak berlangsung lama. Denia tidak bisa membayangkan bagaimana menyesalnya dia jika sampai hubungan mereka tidak dapat kembali seperti dulu lagi.
__ADS_1
"Iya, iya, kali ini mama akan menuruti perintah dokter Laurel," Laurel tertawa mendengar kata-kata mamanya, senang sekaligus lega mendengar mamanya mau mendengar apa yang dikatakannya.
"Ok ma, Laurel harus mandi dulu ya," Laurel langsung menutup handphonenya begitu mendengar jawaban iya dari mamanya. Tidak menunggu lama mama Laurel mengirimkan foto obat yag diminta Laurel, membuat tanpa sadar Laurel kembali mengernyitkan alisnya.
Hanya suatu kebetulan apa memang teman mamanya yang mengirimkan obat memang benar-benar mengerti tentang obat-obatan membuat Laurel tidak habis pikir, karena foto obat-obatan yang dikirimkam mamanya menunjukkan jenis obat-obatan untuk penyakit lambung itu merupakan standar obat lambung yang biasa diresepkan oleh rumah sakit Anugrah Sejahtera tempatnya bekerja.
# # # # # # #
"Kenapa denganmu malam ini? Aku lihat sedari tadi kamu melamun terus," Nia menyodorkan sebuah pai buah ke arah Laurel yang melambaikan tangannya tanda dia menolak, sedang tidak ingin menikmati manisnya pai buah malam ini.
“Hei, kenapa denganmu? Apa kamu sedang diet?” Laurel tersenyum sambil menggeleng mendengar pertanyaan dari Arnold yang sedari tadi berusaha selalu berada di dekat Laurel.
“Telp saja, kalau kondisinya belum membaik ijin ke bos untuk pulang lebih dahulu,” Laurel meringis, tadi dia berencana untuk ijin tidak ikut saja dia sudah harus menerima tatapan dingin Dave, kalau dia harus menghadap yang dipertuan agung si mata elang untuk minta ijin pulang lebih dahulu, hanya dengan membayangkannya saja rasanya membuat Laurel harus menyerah sebelum maju perang. Lebih baik dia menelpon mamanya untuk mengetahui kabarnya.
“Permisi, aku akan keluar sebentar, menelpon mama,” Laurel melangkah keluar ruangan, Arnold yang hendak menyusulnya langsung ditahan oleh Lusiana, Nia pun langsung melotot ke arah Arnold, memberi tanda agar membiarkan Laurel sendiri dulu mengurus urusannya. Akhirnya dengan menarik nafas panjang Arnold memutuskan untuk duduk kembali ke kursinya.
“Dave, tidak bisakah untuk kali ini saja kamu membantuku?” Baru saja Laurel keluar dari ruangan, didengarnya suara Hana yang sedang berbicara dengan Dave di bawah pohon di dekat pintu masuk ruangan Bina Bersama.
“Maaf Hana, aku tidak mau menipu keluargamu,”
__ADS_1
“Tapi Dave, kalau kamu tidak membantuku kali ini, kedua orangtuaku akan bersikeras agar aku mencoba menjalin hubungan dengan Albert,” Dave tampak menarik nafas dalam-dalam mendengar perkataan Hana.
“Kalau memang kamu belum menjalin hubungan serius dengan orang lain, kenapa kamu tidak mencoba mengenal Albert lebih dahulu sebelum kamu memutuskan tidak menyukainya?” Hana menarik nafas panjang sambil matanya menatap ke arah Dave, mencoba mencari-cari jawaban atas pertanyaannya kenapa Dave tidak bisa melihat bahwa selama ini dia begitu menyukai Dave.
“Karena aku sudah menyukai seseorang,” Dave tersenyum mendengar jawaban Hana.
“Kalau begitu, ajak laki-laki itu menemui orangtuamu dan Albert seperti rencanamu tadi, jelaskan kepada mereka tentang kondisimu. Jangan memintaku berpura-pura menjadi laki-laki yang kamu sukai itu untuk menolak Albert,”
“Laki-laki itu tidak tahu aku menyukainya,” Dave menggerakkan kepalanya ke samping mendengar pengakuan Hana tentang laki-laki yang disukainya.
“Gadis seanggun dan selembut kamu, pasti laki-laki itu juga menyukaimu, aku akan mendoakan kebahagiaan kalian berdua,” Hana mendongakkan wajahnya agar bisa lebih jelas memandang wajah Dave yang memiliki tubuh jauh lebih tinggi darinya.
“Dave, sebenarnya…,”
Baru saja Hana hendak meneruskan kata-katanya, suara nada panggilan di handphone Laurel langsung membuat Hana dan Dave sedikit tersentak dan langsung mengarahkan pandangan mereka ke Laurel, membuat Laurel sedikit salah tingkah.
“Maaf, saya tidak sengaja keluar untuk menelpon orang rumah. Maaf, silahkan lanjutkan obrolan kalian,” Tanpa menunggu jawaban dari Dave dan Hana, Laurel segera berjalan ke arah lain menjauhi posisi mereka berdua untuk menerima panggilan telepon, melihat itu Dave langsung sedikit menundukkan kepalanya sebentar, kemudian memandang kembali ke arah Hana.
“Maaf Hana, sebagai teman aku tidak bisa membantumu kali ini, aku tidak ingin seseorang salah paham tentang hubungan kita,” Dave berjalan memasuki ruang pertemuan kembali, meninggalkan Hana yang tetap tidak bergeming dari posisinya sambil matanya memandang ke arah Laurel yang sedang melakukan panggilan telepon.
__ADS_1
Kamu hanya menganggapku teman, tapi apakah kamu juga menganggap Laurel hanya sebagai anak buahmu? Hana menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan rasa kecewa dalam hatinya karena penolakan Dave untuk berpura-pura menjadi pacarnya di depan kedua orangtuanya untuk menolak Albert, laki-laki yang hendak dikenalkan orangtuanya kepadanya, lebih tepatnya dijodohkan dengannya.