
Dave memandang ke arah Laurel dan Lusiana yang terlihat menikmati pemandangan di depannya. Dave sengaja mengajak mereka di daerah perbukitan di kota ini yang menunjukkan sisi lain kota ini saat malam hari, dengan lampu-lampu yang terpasang di sepanjang jalan dan dibentuk menyerupai berbagai bentuk baik bunga, hewan, maupun hati.
“Di daerah ini terkenal dengan pemandangan malamnya yang indah, juga daerah penyedia susu segar dan olahannya,” Dave mendekat ke arah mereka berdua dan menjelaskan tentang tepat wisata yang baru saja mereka datangi.
“Ayo, kita bisa duduk disana bersantai sambil menikmati minuman hangat,” Dave berkata sambil lengan tangan kanannya langsung melingkar ke bahu Laurel yang tadinya berdiri di sampingnya, membuat Lusiana sedikit menahan senyumnya karena melihat Laurel yang berusaha melepaskan diri dari lengan tangan Dave, tapi lengan Dave tetap menahannya sehingga Laurel tidak dapat berkutik lagi dan menyerah untuk melawan Dave, membuat Lusiana segera berjalan mendahului mereka untuk mencari tempat untuk duduk sambil menikmati pemandangan di sekitar tempat itu.
“Dave…, ingat ada Lusiana,” Begitu mereka berdua sedikit menjauh dari Lusiana, Laurel berbisik pelan ke telinga Dave.
“Memang kenapa dengan Lusiana?”
“Tidak enak dilihat Lusiana kalau sikapmu begini terus, kita kan sedang perjalanan dinas, dia juga anak buahmu,” Dave tersenyum mendengar kata-kata Laurel.
“Ini sudah jam 6 sore dokter Laurel, ini sudah di luar jam kerja, tidak ada yang melarangmu melakukan kegiatan pribadi di luar jam kerja, di luar jam kerja aku bukan bos Lusiana, apalagi bosmu, kita memiliki hubungan lebih dari itu, dan kamu tahu itu,” Laurel hanya bisa menghela nafasnya mendengar perkataan Dave yang tidak bisa disanggahnya.
“Lagipula, ke depannya kalau kita sudah mengumumkan tentang hubungan kita, semua anak buahku harus mulai membiasakan diri memperlakukanmu sebagai Nyonya Shaw, bukan lagi sekedar dokter Laurel Tanputra,” Laurel baru saja hendak menanggapi perkataan Dave, tapi mereka sudah berdiri di dekat Lusiana yang sudah duluan duduk, sehingga Laurel memilih untuk membatalkan apa yang mau dikatakannya kepada Dave.
“Ok, kalian mau memesan minuman apa? Sekalian pesan snack juga, kalau kalian mau makan malam disini sekalian juga boleh, kalau mau di tempat lain juga boleh,” Dave menjentikkan jarinya untuk memanggil pelayan di tempat itu, yang langsung datang ke tempat mereka duduk dan menyerahkan daftar menu ke hadapan mereka.
“Aku tidak terlalu suka susu segar, lebih baik aku memesan yoghurt (Yoghurt adalah produk fermentasi dari susu pasteurisasi dengan menambahkan bakteri lactobacillius bulgaricus yang dapat menghasilkan bakteri asam laktat dan asam asetat sehingga mengeluarkan cita rasa yang asam dalam proses fermentasi susu tersebut),” Laurel berkata sambil matanya memandang ke daftar menu, mencoba memilih menu yoghurt dengan rasa yang sesuai dengan seleranya.
“Dokter Lusiana, kamu pesan saja sesuai keinginan kamu,” Mendengar perintah Dave, Lusiana mengangguk, diliriknya buku menu yang ada di depannya, tak begitu lama akhirnya dia memutuskan untuk memesan susu segar coklat hangat.
# # # # # # #
Dave melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 8 malam, diliriknya wajah Laurel yang terlihat sedikit lelah, karena sedikit banyak datang bulannya mempengaruhi kondisi kebugaran tubuhnya.
“Ayo kita kembali ke hotel, supaya kalian bisa beristirahat, besok masih ada kegiatan pelatihan,” Dave bangkit berdiri, diikuti Lusiana dan Laurel, berjalan ke arah mobil untuk kembali ke hotel.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan mereka bertiga lebih banyak diam, Lusiana sibuk dengan handphonenya, saling mengirim pesan dengan Feri, Dave berkonsentrasi memegang kemudi, sedang Laurel mengarahkan pandangan matanya ke samping kirinya, menikmati suasana malam kota itu, lalu lintas tidak terlalu padat, tapi telihat cukup ramai, di beberapa sudut kota terlihat jajaran toko yang menjual makanan tradisional khas kota tersebut.
Begitu memasuki gerbang hotel, Dave melirik ke arah Laurel yang kebetulan terlihat sedang mengelus perutnya.
“Kenapa dengan perutmu? Apa ada masalah?” Laurel yang awalnya sengaja mengalihkan pandangannya ke samping kiri agar Dave tidak melihat dia sedang menggigit bibirnya menahan nyeri di perutnya langsung menoleh, mencoba langsung tersenyum agar Dave tidak bertanya macam-macam, tapi wajahnya Laurel Yang terlihat sedikit pucat tentu saja tidak bisa menipu Dave.
“Kenapa denganmu Laurel? Apa sakit perut karena datang bulanmu muncul lagi?” Lusiana yang duduk di belakang menggerakkan tubuhnya ke depan, tangannya mengelus bahu Laurel lembut.
Dave yang sudah sampai di depan lobi menghentikan mobilnya, dengan cepat turun dari mobil dan berlari ke sisi lain mobil, langsung melemparkan kunci mobilnya kepada petugas yang berdiri di dekatnya dan membukakan pintu mobil untuk Laurel.
“Aku tidak apa-apa, seharusnya aku tadi tidak meminum yoghurt, saat datang bulan aku paling tidak bisa meminum minuman dingin, kalau tidak ingin seperti ini,”
“Ayo kita cari minuman hangat untukmu, lagipula tadi kamu sepertinya belum memakan apapun di sana,” Lusiana meraih lengan Laurel, mengajaknya ke restoran hotel untuk mencari minuman hangat.
Dave langsung berjalan mendahului mereka berdua dan memesan minuman hangat dan makanan ringan untuk Laurel selagi mereka berdua mencari tempat untuk duduk.
Sebuah nada panggilan dari handphone Lusiana membuat Laurel dan Dave memandang ke arah Lusiana yang langsung menerima panggilan teleponnya.
“Hallo,” Setelah mendengar jawaban dari seseorang di seberang sana, wajah Lusiana langsung berubah ceria, membuat Laurel tersenyum, bisa menebak dengan pasti siapa yang sedang melakukan panggilan telpon dengan Lusiana.
Sebentar kemudian Lusiana menjauhkan handphonenya dari telinganya dan menutup handphonenya dengan telapak tangan kanannya.
“Maaf bos, Laurel, aku ke kamar duluan ya,” Dave dan Laurel langsung mengangguk mendengar Lusiana berpamitan pada mereka untuk lebih dahulu ke kamarnya.
“Siapa kira-kira yang sedang menelpon Lusiana? Wajah Lusiana terlihat bahagia sekali,” Dave bertanya sambil melirik ke arah makanan ringan yang ada di depan Laurel dan menyodorkannya ke arah Laurel agar Laurel mulai memakannya.
“Pasti Feri, siapa lagi kalau bukan kekasihnya yang satu itu?” Laurel menjawab pertanyaan Dave sambil menghirup kembali minuman hangat di gelas yang ada di tangannya, membuat Dave menatap tajam ke arah Laurel dengan wajah tidak percaya.
__ADS_1
“Feri? Dan Lusiana? Mereka berpacaran?” Laurel langsung menganggukkan kepalanya mengiyakan untuk menjawab pertanyaan Dave.
“Sejak kapan mereka berpacaran?” Laurel tersenyum melihat reaksi Dave yang terlihat kaget.
“Sejak mereka mengikuti acara liburan rumah sakit di villa waktu itu, Feri menyatakan perasaannya setelah aku meninggalkan mereka malam itu di daerah pertokoan,”
“O, ya? Akhirnya Feri si dokter teralim itu menemukan tambatan hatinya,” Dave berkata sambil terssenyum, ikut senang melihat anak buahnya menemukan kebahagiaannya.
Setelah beberapa lama mereka berdua mengobrol ringan tentang Lusiana dan Feri, Laurel melirik ke arah jam di tangannya.
“Dave, aku mau kembali ke kamar,” Dave menoleh ke arah Laurel dan mengamati wajahnya yang terlihat jauh lebih segar daripada tadi sebelum meminum minuman hangat.
“Ayo, aku antar ke kamarmu, kamu harus cepat beristirahat malam ini,” Laurel menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Dave.
Sesampainya di depan pintu kamar hotelnya, Laurel mengetuk pintu kamar itu namun tidak ada tanggapan dari Lusiana. Laurel mencoba mengetuknya beberapa kali lagi, tapi tetap tidak ada jawaban dan respon.
“Coba kamu hubungi lewat telepon,” Dave melirik ke arah handphone Laurel yang ada di tangannya. Dicobanya menelpon Lusiana berkali-kali tapi tidak diangkat, membuat Dave langsung menghubungi pihak hotel untuk meminta kunci cadangan.
Tidak berapa lama seseorang segera menyerahkan kunci cadangan kepada Laurel, tapi begitu Laurel mencoba membuka pintu kamar, ternyata terhalang oleh gerendel pintu (gerendel pintu adalah pengunci pintu yang dibuat dari logam, digunakan dengan cara menggeserkan (memutar) ke kanan atau ke kiri, bagian dari kunci tanpa anak kunci) yang dipasang dari dalam.
“Maaf Tuan, Nyonya, kita tidak bisa membukanya karena pintu dikunci dari dalam, kalau bukan karena alasan yang benar-benar penting, kami tidak berani mendobrak pintunya, mungkin Tuan dan Nyonya bisa mencoba menghubungi orang yang sedang ada di dalam kamar. Maaf kami permisi,” Mendengar itu Laurel langsung memandang Dave dengan wajah bingung.
“Dave? Bagaimana ini?” Dave menahan nafasnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Laurel.
“Mungkin Lusiana sudah tertidur dan lupa kamu masih di luar, terpaksa malam ini kamu ikut denganku, untuk malam ini kamu tidur di kamarku,” Mata Laurel langsung terbeliak mendengar apa yang baru saja dikatakan Dave, sedang Dave tanpa menunggu jawaban dari Laurel segera meraih tangan Laurel, mengajaknya untuk berjalan ke arah lift menuju kamarnya yang terpisah cukup jauh dari kamar Laurel dan Lusiana, berada di lantai paling atas, yang merupakan jajaran kamar hotel dengan type presidential suite room (Presidential suite room/ Penthouse room merupakan kamar dengan kelas tertinggi di hotel, dimana merupakan lantai teratas dari hotel. Dengan ruangan yang lebih besar, pemandangan dan perlengkapan terbaik yang ditawarkan sebuah hotel dan merupakan kamar termahal dari suatu hotel).
Maaf Laurel, aku harus berpura-pura tertidur dan tidak mengangkat handphoneku untuk memberimu waktu bersama bos, agar kalian bisa memiliki lebih banyak waktu berdua untuk saling mengenal, semoga apa yang kulakukan ini bisa membantu mempererat hubunganmu dengan bos, selamat menikmati malam indah bersama suamimu, Lusiana yang berdiri di balik pintu kamar hotelnya berbisik dalam hati sambil memandang ke arah handphonenya yang sejak dia selesai melakukan panggilan dengan Feri sengaja dia atur dalam mode silent.
__ADS_1