CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
UNGKAPAN HATI LEO


__ADS_3

“Kak Leo? Tumben ke sini tanpa memberi kabar lebih dahulu?” Evelyn bertanya dengan senyum di wajahnya.


Leo tidak menjawab pertanyaan Evelyn dengan kata-kata, hanya membalasnya dengan sebuah senyuman di bibirnya. James yang sudah masuk lebih dahulu ke kantor Evelyn langsung menoleh ke arah Evelyn dan Leo begitu mendengar Evelyn menyebutkan nama Leo.


“Hai Leo. Kamu sedang ada janji juga dengan Evelyn?” James langsung menyapa Leo dengan nada ramah.


Mendengar sapaan dari James, Leo langsung melangkahkan kakinya memasuki kantor Evelyn sambil mengangkat sebuah tas plastik di depan dadanya. Seolah-olah Leo sengaja menunjukkan kepada James bahwa memang ada suatu urusan antara dia dan Evelyn siang ini.


“Ah, Mamaku sengaja memintaku untuk mengantarkan ini ke Evelyn,” Leo berkata dengan santai sambil melirik ke arah Evelyn yang langsung mengernyitkan dahinya karena tidak biasanya Mama Leo meminta Leo mengirimkannya sesuatu apalagi di siang hari yang Evelyn tahu ini masih di dalam jam kerja Leo di rumah sakit, yang biasanya tidak mau diganggu gugat kecuali untuk urusan yang benar-benar penting dan mendesak.


“Ooo, iya,” James berkata sambil senyum tetap menyungging di bibirnya, tapi begitu melihat wajah canggung antara Leo dan Evelyn, senyum James berubah menjadi sebuah senyum dengan menahan tawa.


“Evelyn, bisa aku minta sekarang file yang diminta Dave dan Ornado?” James segera bisa menebak ada sesuatu yang sedang terjadi diantara dua orang yang sekarang ini sedang berdiri di hadapannya dengan wajah terlihat begitu kikuk dan satu sama lain berusaha mengalihkan pandangan matanya satu dengan yang lain.


“Oo…, iya…, Kak James…,” Melihat wajah gugup dan suara sedikit terbata-bata dari Evelyn benar-benar membuat James justru tergoda untuk mengerjai Evelyn dan Leo.


“Atau kamu sengaja mengulur waktu agar aku berlama-lama di kantormu? Mau aku temani makan siang ini? Haruskah kita makan di restauranmu atau kita harus makan keluar di tempat lain yang kamu inginkan untuk mencari suasana baru?” Mendengar penawaran dari James, sontak Evelyn membeliakkan matanya karena kaget mendengar ajakan makan siang yang diucapkan James tepat di depan Leo, yang siang ini cukup membuat Evelyn terkejut sekaligus senang dengan kedatangannya yang tiba-tiba ke kantor restaurannya.


Sedang Leo terlihat langsung terbatuk-batuk kecil karena tiba-tiba saja tenggorakannya terasa kering dan tidak nyaman begitu mendengar dengan santai dan percaya dirinya James mengajak Evelyn untuk makan siang bersama padahal ada dia yang sedang menunggu James menyelesaikan urusannya dan pergi dari sini. Dan tentu saja Leo mengharapkan itu terjadi secepat mungkin.


Mendengar penawaran James, Evelyn segera bergerak mendekati meja kerjanya dan membuka laci di bagian samping bawah meja kerjanya, dan mengambil sebuah amplop coklat besar yang cukup tebal dan tersegel rapi. Melihat itu James menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum. Andai saja mereka berdua adalah Ornado dan Cladia yang cukup dekat dengannya, James merasa dia pasti sudah tidak akan bisa menahan tawanya dan akan tertawa tergelak melihat dua orang yang tampak canggung dan tidak tahu apa yang harus mereka berdua lakukan, padahal sedari tadi James bisa melihat dengan jelas kedua orang itu beberapa kali saling mencuri pandang dengan tatapan yang James tahu itu adalah tatapan yang dipenuhi oleh rasa cinta satu sama lain.


Walaupun James belum pernah tahu apalagi merasakan apa itu cinta, baginya sudah lebih dari cukup melihat contoh nyata orang yang sedang jatuh cinta bahkan begitu tergila-gila oleh cinta yang membara kepada pasangannya. Ornado dan Cladia, bagi James sudah lebih dari cukup melihat apa itu cinta dari hubungan kedua orang itu, yang kadang membuatnya tak habis pikir bagaimana bisa karena cinta bisa mengubah sifat maupun sikap seseorang dengan begitu drastis. Ornado yang begitu lembut dan melindungi Cladia karena cintanya, dan Cladia yang dengan berani melawan ketakutan dan traumanya demi cintanya kepada Ornado.

__ADS_1


“Ok, aku ambil amplop ini ya,” Tanpa menunggu Evelyn menyerahkan amplop itu kepadanya, tangan James langsung meraih amplop yang awalnya masih berada di tangan Evelyn.


“Eh…, iya Kak James…,” Evelyn menjawab perkataan James, lagi-lagi dengan nada terbata-bata, membuat James akhirnya tertawa tergelak.


“Ah, sudahlah, sepertinya aku harus segera pergi dari sini. Silahkan kalian lanjutkan urusan kalian berdua dengan tenang. Dan jangan lupa…, tutup rapat-rapat pintu kantormu agar tidak ada orang iseng yang ingin mendengar sesuatu yang bisa dijadikan reality show,” James berkata sambil membalikkan tubuhnya, dengan tangan kanannya mengangkat tinggi amplop coklat di tangannya dengan suara tawa masih terdengar jelas dari bibirnya.


“Aku kembali dulu. Tenang saja, kamu pasti bisa melakukannya dengan baik,” James yang hampir saja mencapai pintu kantor Evelyn tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika melewati Leo dan berkata kepada Leo sambil menepuk bahunya dengan sedikit keras.


“Lakukan dengan baik. Semoga berhasil, atau aku akan segera menggantikan posisimu jika kamu gagal mendapatkan hati Evelyn. Pastikan kamu bisa merebut hatinya jika tidak ingin dalam waktu dekat hatinya menjadi milikku atau orang lain,” James berbisik pelan ke telinga Leo yang spontan membuat Leo membeliakkan matanya sedang Evelyn mengernyitkan dahinya berusaha menebak apa yang barusan dikatakan James kepada Leo sehingga wajah Leo terlihat begitu kaget dan sedikit memucat, karena Evelyn benar-benar tidak bisa mendengar apapun yang dikatakan James kepada Leo.


"Aku pastikan tidak akan ada laki-laki lain yang bisa mendapatkan kesempatan itu," Leo membalas bisikan James dengan tidak kalah pelan.


"Kalau begitu silahkan melanjutkan misimu. Semoga berhasil brother," James membisikkan kata-kata terakhirnya sambil mengerlingkan matanya ke arah Leo dan mengacungkan jempol tangannya di depan dadanya sebelum keluar dari kantor Evelyn yang terus mengamati apa yang dilakukan oleh kedua pria tampan itu di depannya.


Begitu James keluar dari ruangan kantor Evelyn, untuk beberapa saat terjadi suasana tegang antara Evelyn dan Leo. Sampai akhirnya Leo berjalan mendekat ke arah Evelyn yang masih berdiri terpaku di dekat meja kerjanya setelah menyerahkan amplop coklat permintaan dari Dave dan Ornado kepada James.


“Untukku Kak Leo?” Evelyn bertanya dengan matanya menatap ke arah kue chocolava itu dengan pandangan yang tampak jelas ingin segera melahap kue yang ada di depannya.


Melihat wajah ceria dan tampak begitu menginginkan untuk segera mencicipi kue itu membuat Leo tersenyum senang. Dengan perlahan Leo mengambil kotak plastik itu, mengeluarkannya dari tas plastiknya dan meletakkan kotak kue itu di hadapan Evelyn.


“Kalau bukan untukmu, untuk siapa lagi?” Leo berkata sambil membuka tutup dari kotak plastik tersebut yang langsung membuat Evelyn yang sudah duduk di kursi kerjanya langsung menarik nafas dalam-dalam karena bau coklat bercampur bau segar stroberi langsung tercium begitu Leo membuka penutup kotak itu, membuat Evelyn begitu menikmati bau itu.


“Aku boleh langsung memakannya sekarang Kak Leo?” Leo tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan dengan tangannya meraih salah satu dari kue chocolava yang berada di posisi paling tengah, dengan buah stroberi paling besar di atasnya, membuat Evelyn langsung menyunggingkan senyum lebar ke arah Leo yang langsung menyodorkan kue tersebut beserta sebuah sendok kecil di hadapan Evelyn.

__ADS_1


“Dari bau dan penampilannya pasti kue ini enak sekali,” Dengan mata berbinar Evelyn memotong kue itu dengan sendok dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya dan langsung menikmatinya.


“Emmmm…, benar-benar enak Kak Leo,” Evelyn berkata sambil mengecap-ngecapkan bibirnya dengan mata tertutup dan kepala sedikit mendongak ke arah tubuh Leo yang masih berdiri sedikit jauh darinya, benar-benar terlihat bahwa Evelyn begitu menikmati kue itu.


Melihat pemandangan di depannya Leo hanya bisa menelan ludahnya sambil sedikit mengalihkan pandangan matanya agar tidak terfokus pada wajah apalagi bibir Evelyn yang saat ini bagi Leo terlihat begitu menggoda dan membuat jiwa laki-lakinya benar-benar memberontak. Untuk mengendalikan dirinya Leo buru-buru berdehem pelan, membuat Evelyn langsung membuka matanya dan tersenyum geli, menyadari tindakan konyol yang baru saja dilakukannya di depan Leo.


“Maaf Kak Leo, aku jadi lupa diri gara-gara kue enak ini,” Evelyn berkata dengan senyum masih tersisa di wajah cantiknya.


Tangan Evelyn sudah bersiap untuk kembali memotong dan mengambil kue itu ketika dilihatnya sesuatu yang berkilau diantara coklat yang meleleh dari dalam kue chocolava yang sudah terpotong sebagian itu. Evelyn sedikit menyipitkan matanya untuk meyakinkan apa yang baru dilihatnya barusan. Dengan gerakan ragu-ragu Evelyn menggerakkan sendoknya, mengaduk-aduk coklat yang meleleh itu, berusaha menyingkirkannya untuk melihat benda yang berkilau di dalamnya.


Begitu mata Evelyn dengan jelas melihat benda apa yang berkilau barusan, mata Evelyn langsung terbeliak kaget dengan bibir sedikit terbuka karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di depannya sekarang. Mata Evelyn langsung menatap ke arah wajah Leo yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Evelyn. Dengan perlahan Leo meraih sendok yang ada di tangan Evelyn yang masih memandangnya dengan wajah tidak percaya.


Dengan sendok yang sudah diambilnya dari tangan Evelyn, Leo mengambil cincin yang tadinya berada di dalam kue chocolava yang baru dimakan oleh Evelyn. Begitu cincin itu berada di sendok, Leo langsung meraih tissue yang ada di meja Evelyn, membersihkan cincin itu menyemprotnya dengan cairan pembersih yang ada di meja Evelyn.


Evelyn hanya bisa mengamati apa yang dilakukan oleh Leo tanpa berkedip dengan hati yang begitu berdebar-debar tanpa bisa dia kendalikan lagi, bahkan membuatnya kehilangan kata-kata, bhakan hanya untuk menanyakan kepada Leo apa arti dari tindakan Leo, Evelyn tidak bisa mengeluarkan suaranya. Yang akhirnya hanya bisa membuat Evelyn mengamati wajah Leo yang sedang sibuk membersihkan cincin itu dengan pandangan mata yang mulai memerah dan terasa basah.


“Evelyn Devanie Shaw, maukah kamu menikah denganku?” Leo berkata sambil mengarahkan cincin berlian yang dipegangnya di depan wajah Evelyn dengan posisi berlutut di depan Evelyn yang masih duduk dengan kepala sedikit tertunduk, dan wajah tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, apalagi mendengar perkataan Leo yang baru saja diucapkannya dengan wajah serius.


“Kak Leo…,” Bibir Evelyn hanya berhasil menyebutkan nama Leo tanpa bisa melanjutkan lagi kata-katanya karena airmata bahagianya sudah membasahi pipinya dengan deras, membuat tenggorakannya tersekat dan begitu sulit untuk mengeluarkan suara.


“Evelyn Devanie Shaw, aku tidak akan pernah memintamu untuk menjadi kekasihku, karena aku merasa aku sudah cukup mengenalmu dan aku tidak ingin lagi membuang lagi waktuku tanpa kehadiranmu di sampingku. Ijinkan aku untuk memintamu menjadi istriku, satu-satunya wanita yang aku ingin menjalankan kehidupanku ke depannya bersamamu, menghabiskan sisa umurku denganmu, bersamamu, bersama anak-anak kita di masa depan,” Tangis  Evelyn langsung meledak mendengar pernyataan cinta Leo untuknya.


Melihat tangisan Evelyn, Leo meraih tangan Evelyn dan memasukkan cincin yang sedari tadi di pegangnya ke jari tengah Evelyn sebagai tanda pengikat bahwa mulai saat ini Leo memiliki komitmen terhadap Evelyn dan dengan segera akan menikahi gadis yang selama ini selalu dia anggap sebagai gadis kecil yang harus dia lindungi. Membuatnya tanpa sadar bahwa dalam hatinya yang paling dalam sejak dulu Leo selalu memperlakukan Evelyn lebih istimewa dibanding gadis manapun, bahkan orang lain seringkali melihat perlakuan Leo kepada Evelyn sudah seperti seorang laki-laki memperlakukan kekasihnya, sedang dia sendiri begitu tidak menyadari itu.

__ADS_1


Begitu Leo selesai menyematkan cincin di jari tengahnya, dengan cepat Evelyn memeluk tubuh Leo yang masih berlutut di hadapannya dengan erat. Dengan senyum lega di wajahnya, Leo membalas pelukan erat dari Evelyn sambil mengelus punggung Evelyn lembut dengan perasaan begitu bahagia setelah sepanjang malam sebelumnya dia tidak bisa tidur dengan pulas karena membayangkan bagaimana jika Evelyn menolak perasaannya.


NOTE: Untuk para pembaca setia terimakasih untuk dukungannya selama ini kepada novel ini. 3 hari lagi jumlah 10 pembaca dengan total vote terbanyak sejak novel ini diterbitkan akan mendapatkan souvenir, untuk memudahkan mengirimkan data alamat pengiriman bagi pembaca yang belum follow/ikuti author, silahkan follow/ikuti author agar kita bisa chat secara pribadi untuk info alamat pengiriman souvenir dengan cara klik gambar author, klik +ikuti. Setelah tgl 5 september jika ada pemenang yang tidak memberikan info alamat pengiriman, souvenir akan diberikan kepada peringkat di bawahnya. Terimakasih. Love you all😘😘😘


__ADS_2