CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
KEHIDUPAN BARU BERSAMAMU (2)


__ADS_3

"Apa yang sedang kamu lihat?" Laurel tersenyum mendengar pertanyaan dari Dave yang sedang memeluk tubuhnya dari samping dan sibuk menghujani wajah dan lehernya dengan ciuman mesra dan lembut. Laurel langsung meletakkan kembali album foto yang ada di pangkuannya ke atas nakas.


"Aku baru saja mengagumi ketampanan suamiku saat memakai jas pengantinnya 7 tahun lalu," Laurel sedikit menjauhkan tubuhnya dari Dave, membuat Dave menjauhkan bibirnya dari leher Laurel dengan enggan.


"Kita bisa mengulang lagi masa-masa itu. Kedepannya aku juga mau kamu mempersiapkan diri agar kita menyiapkan pesta pernikahan kita yang tertunda," Dave bangkit dari duduknya, berjalan ke arah salah satu almari yang ada di kamarnya dan membukanya.


Sebentar kemudian Dave meraih sebuah kotak yang dilapisi beludru dengan ukuran cukup besar dan kembali berjalan ke arah Laurel sambil membawa kotak itu. Begitu sampai di dekat Laurel, Dave meletakkan kotak itu di atas tempat tidur di samping Laurel duduk.


"Bukalah," Dave yang tiba-tiba berlutut dengan salah satu kakinya di hadapan Laurel berkata dengan pelan melihat wajah ragu Laurel yang hanya memandangi kotak itu, membuat Laurel dengan gerakan pelan dan masih sedikit ragu. Laurel membuka kotak itu, yang langsung membuat matanya terbeliak kaget.


Di dalam kotak tersebut terdapat gaun pengantin yang dikenakannya 7 tahun lalu dengan posisi terlipat rapi, dan di atas lipatan gaun itu terdapat kotak perhiasan yang terbuat dari kaca berisi kalung berlian, gelang, dan anting-anting yang dia kenakan 7 tahun lalu bersama dengan gaun pengantin itu.


Tangan Laurel mengelus gaun yang ada di depannya itu dengan lembut. Gaun itu masih terlihat begitu indah setelah tersimpan lebih dari 7 tahun, bahkan warna putihnya tidak memudar sama sekali. Laurel tidak yakin apakah gaun itu masih akan muat jika dia kenakan di tubuhnya, walaupun dia tahu tubuhnya tidak mengalami banyak perubahan setelah 7 tahun berlalu.


Tanpa disadari oleh Laurel, Dave meraih sebuah kotak kecil perhiasan bewarna emas yang ada di ujung kotak besar itu. Setelah itu, Dave membuka kotak kecil itu yang ternyata berisi dua buah cincin berlian di dalamnya, cincin pernikahan mereka, dan dengan gerakan lembut Dave meraih tangan kanan Laurel.


"Laurel Tanputra, menikahlah denganku, Dave Alexander Shaw. Aku akan mencintai, menjaga, membahagiakan, melindungi dan memujamu seumur hidupku. Kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang aku cintai selama hidupku baik dalam suka dan duka, sehat dan sakit. Tidak ada yang bisa memisahkan kita kecuali maut," Dave berkata sambil mengambil salah satu cincin dan memasangkannya ke jari manis manis Laurel. Airmata Laurel menitik mendengar janji yang baru saja diucapkan Dave kepadanya, dan dengan perlahan Laurel meraih cincin yang lain, menyematkannya di jari manis tangan kanan Dave.


"Aku, Laurel Tanputra, akan mencintai, menghargai, mempercayai, dan menjaga kehormatan suamiku, Dave Alexander Shaw seumur hidupku, dan kamu akan menjadi satu-satunya pria yang aku cintai dan aku percaya seumur hidupku, dalam kondisi apapun," Setelah mengucapkan janjinya Laurel langsung memeluk tubuh Dave yang masih berlutut dengan satu kaki di hadapannya dengan erat, diiringi airmata yang mengalir di pipinya, dan dengan lembut Dave langsung mengelus punggung Laurel.


"Maafkan aku mo cuisle, selama ini aku belum pernah melamarmu dengan benar. Kamu berhak mendapatkan yang terbaik sebagai wanitaku," Laurel yang masih belum bisa menghentikan tangisnya menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih berada di antara bahu dan leher Dave.


"Selama ini kamu sudah melakukan semua hal yang terbaik untukku, I love you Dave," Dave tersenyum sambil memejamkan kedua matanya, menikmati kehangatan tubuh dan nafas LaurelĀ  yang berada dalam pelukannya, hatinya begitu bahagia dengan dada yang begitu berdebar menyadari bahwa apa yang terjadi saat ini bukan sekedar mimpi baginya.

__ADS_1


Untuk beberapa lama mereka tetap berpelukan. Begitu Dave tidak lagi mendengar suara tangisan dari Laurel, Dave bergerak menjauhkan tubuh Laurel darinya, lalu memandangi wajah Laurel dengan tatapan lembut.


"Gadisku, aku benar-benar tidak menyangka akhirnya datang juga hari ini, setelah kita menundanya begitu lama," Dave bangkit dari berlututnya, lalu mengambil posisi duduk di samping Laurel, diraihnya tangan kanan Laurel yang sudah mengenakan cincin pernikahan mereka yang sudah dia siapkan sejak 7 tahun yang lalu dengan tangan kanannya, lalu telapak tangan kanan Dave bergerak ke atas punggung telapak tangan kanan Laurel, menyusun jari-jarinya agar berada diantara jari-jari tangan Laurel dan langsung mengenggamnya, membuat jari-jari tangan mereka saling bertautan dan cincin pernikahan yang mereka kenakan di jari manis mereka saling menempel.


Dengan gerakan lembut, Dave membaringkan tubuh Laurel ke atas tempat tidur, sedang dia sendiri langsung menggerakkan tubuhnya sehingga berada di atas tubuh Laurel dengan posisi kedua lututnya dan kedua telapak tangannya menumpu di atas tempat tidur di sebelah kanan kiri tubuh Laurel, sehingga tubuh Laurel yang terbaring di atas tempat tidur berada diantara tangan dan kaki Dave yang mulai menghujani tubuh Laurel dengan ciuman mesra, membuat Laurel tersentak kaget dan menjadi gugup karena tindakan Dave.


"Dave, kita harus ke rumah besar sekarang," Dave hanya tersenyum mendengar kata-kata protes dari Laurel.


"Mereka bisa menunggu, aku yang tidak bisa lagi menunggu. Aku sudah menunggu lama sejak pagi tadi, kali ini biarkan aku melepaskan rasa rinduku padamu," Dengan gerakan cepat Dave meraih remote yang tergeletak di atas tempat tidur, memencet beberapa tombol yang langsung membuat dinding kaca yang mengelilingi kamarnya berubah menjadi tidak tembus pandang seperti dinding.


"Dave, siang bolong begini, bagaimana kalau ada orang yang datang mencarimu ke sini?" Dengan gugup Laurel mencoba menghalangi Dave meneruskan apa yang sedang dilakukannya dengan menahan dada Dave dengan kedua telapak tangannya, membuat Dave menghentikan ciumannya dan memandang ke arah Laurel dengan mesra.


"Apa yang kamu takutkan? Tidak akan ada yang berani ke rumah ini tanpa ijin dariku. Lagipula ini masih hari cutiku,"


"Biarkan saja," Dengan cepat Dave membalik handphonenya agar berubah menjadi mode silent, namun tangan Laurel segera meraihnya, dan begitu melihat nama yang ada di layar, mata Laurel langsung terbeliak.


"Dave, Evelyn...," Dengan ogah-ogahan, Dave menjauhkan tubuhnya dari Laurel, menjatuhkan tubuhnya ke samping tempat tidur dengan sedikit keras sambil menarik nafas panjang, mengambil posisi berbaring di sisi tubuh Laurel dan mengangkat panggilan teleponnya.


"Hallo," Dave mengangkat teleponnya dan menjawabnya dengan suara pelan dengan sikap terlihat ogah-ogahan.


"Kak, sekarang kakak ada dimana? Kata Mira Kak Dave ada di rumah kaca. Aku ada di ruang tamu rumah kaca sekarang," Mendengar suara Evelyn yang mengatakan bahwa dia ada di ruang tamu rumah kaca, Laurel yang tanpa sengaja mendengar suara Evelyn karena cukup keras langsung bangkit dari berbaringnya, berdiri di samping tempat tidur, dan sibuk merapikan rambut dan pakaiannya yang terlihat sedikit berantakan karena tindakan Dave barusan.


"Kenapa kamu mencariku?" Dave bangkit dari posisi tidurnya dan duduk di tepi tempat tidur.

__ADS_1


"Kak Bryan menyuruhku memberikan file yang Kak Dave minta beberapa hari lalu, karena Kak Bryan pagi tadi harus buru-buru kembali ke Irlandia," Evelyn berkata sambil menaiki tangga rumah kaca Dave, berjalan ke arah kamar Dave.


"Kak Bryan berpesan...," Evelyn langsung menghentikan bicaranya begitu membuka pintu kamar Dave dan didapatinya Laurel yang berdiri di depan Dave. sedang Dave terlihat dalam posisi duduk di pinggiran tempat tidurnya dengan rambut dan pakaian terlihat sedikit berantakan, dengan salah satu kancing kemejanya bagian atas dalam kondisi tidak terkancing, dan sebagian kemejanya bagian bawah terlihat keluar dari dalam celana panjangnya, menambah kesan betapa Dave terlihat berantakan saat ini. Walaupun Laurel terlihat rapi, tapi melihat kondisi Dave yang tidak serapi biasanya cukup membuat Evelyn terperangah kaget, dengan mata terbeliak dan mulut terbuka Evelyn langsung terdiam, berdiri mematung di tempatnya.


"Eh..., maaf Kak. Apa aku mengganggu kalian?" Begitu sadar dari terkejutnya Evelyn langsung berkata sambil melangkah mundur dan kembali menutup pintu kamar Dave.


"Eh...," Laurel yang sedikit bergerak untuk mencegah Evelyn pergi langsung terdiam begitu tangan Dave bergerak cepat menahannya dengan memegang pergelangan tangannya.


"Biarkan dia menunggu sebentar," Dave menarik pergelangan tangan Laurel sehingga tubuh Laurel mendekat ke arahnya dan dengan sedikit sentakan Dave membuat tubuh Laurel jatuh terduduk di atas pangkuannya, dan dengan tangannya yang lain langsung memeluk pinggang Laurel yang terduduk di atas pangkuannya.


"Dave, apa yang mau kamu lakukan? Evelyn sedang menunggu kita di bawah," Wajah Laurel memerah dan langsung terlihat gelisah, membuat Dave tersenyum geli.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Aku hanya memintamu untuk merapikan rambut dan pakaianku, agar kita bisa segera turun menemui Evelyn," Mendengar perkataan Dave, wajah Laurel semakin memerah karena malu sudah mengira Dave akan memintanya melakukan hal lain.


Dave segera menggerakkan tangan kanannya untuk membuka laci nakas di samping tempat tidurnya dan mengambil sisir dari dalamnya, setelah itu menyodorkan sisir itu ke arah Laurel.


"Aku semakin yakin penilaianku benar tentang bosku, pimpinan rumah sakit ini ternyata laki-laki yang begitu manja, tidak sesuai sama sekali dengan gambaran yang selama ini aku dapatkan dari para pegawai rumah sakit ini. Bahwa bos rumah sakit ini laki-laki berwibawa yang tidak banyak bicara," Laurel berkata sambil menyisir rambut Dave, membuat Dave hanya tersenyum tipis mendengar sindiran yang ditujukan untuknya.


Begitu Laurel selesai menyisir rambut Dave, tangan Laurel bergerak ke arah kancing kemeja Dave bagian atas yang terbuka dan segera mengancingkannya. Setelah itu Laurel menepuk-nepuk bahu Dave dengan sedikit menarik kain kemeja yang dikenakannya.


"Sudah selesai, kamu sudah terlihat rapi dan tampan," Laurel berkata sambil bangkit berdiri dari pangkuan Dave yang langsung menyusulnya berdiri dan merapikan bagian bawah kemejanya, dengan memasukkan ke dalam celana panjangnya kembali.


"Terimakasih, jangan lupa nanti malam adalah kesempatanmu untuk bisa lebih memanjakanku mo cuisle, kita akan melanjutkan yang tertunda sejak pagi tadi," Setelah mengakhiri kata-katanya dengan cepat bibir Dave mencium bibir Laurel sekilas, membuat wajah Laurel lagi-lagi memerah untuk ke sekian kalinya karena Dave.

__ADS_1


__ADS_2