
“Siang bos,” Laurel sengaja menyapa Dave dengan sebutan bos, supaya Dave melihat bahwa saat ini dia menganggap bahwa dirinya tidak memiliki hubungan apapun dengan Dave kecuali hubungan antara seorang bos dan karyawan.
“Duduklah,” Dengan wajah tetap tenang Dave mempersilahkan Laurel untuk duduk, karena dia yakin dengan kemarahan yang masih terlihat jelas di wajah Laurel, Laurel tidak akan mau duduk di depannya jika dia tidak menggunakan otoritasnya (otoritas = kekuasaan yang sah yang diberikan kepada lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan para pejabatnya menjalankan fungsinya, hak untuk bertindak, kekuasaan, wewenang, hak untuk melakukan tindakan atau hak membuat peraturan untuk memerintah orang lain) sebagai seorang kepala rumah sakit ini kepada karyawannya.
Dengan cepat Laurel mengambil posisi duduk di hadapan Dave, dan tanpa menunggu lama Laurel menyodorkan amplop yang berisi surat pengunduran dirinya di atas meja dan menggeser amplop tersebut ke arah Dave.
“Apa kamu berencana pergi meninggalkanku seperti 7 tahun lalu?” Laurel sedikit tersentak mendengar perkataan Dave, ada sedikit rasa nyeri di dadanya saat Dave mengatakan itu, kebohongan Dave merupakan sesuatu yang benar-benar membuatnya marah dan merasa dipermalukan, tapi meninggalkan Dave sejauh-jauhnya seperti 7 tahun lalu? Entah apakah dia sanggup setelah dia memiliki rasa cinta kepada laki-laki itu. Yang ingin dilakukannya sekarang hanyalah menjauh dari Dave untuk sementara waktu, tapi di dalam hati kecilnya ke depannya dia sudah berencana jika masih ingin tahu tentang kabar Dave, akan dengan mudah dia dapatkan dari Lusiana atau Nia, tapi yang jelas saat ini dia ingin mengakhiri semuanya dengan Dave untuk menyatakan bahwa dia masih memiliki harga diri.
Dave melirik amplop tersebut tanpa menyentuhnya, justru tangannya bergerak membuka laci yang ada disamping kanan meja kerjanya, mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebentar kemudian dia meletakkan map yang baru saja diambilnya dari dalam laci mejanya dan menyodorkannya ke arah Laurel yang langsung mengernyitkan dahinya.
“Baca itu baik-baik sebelum aku membuka amplop ini,” Dave berkata sambil melirik ke arah amplop surat pengunduran diri dari Laurel yang tergeletak di depannya. Walaupun Dave belum membuka amplop dari Laurel itu, dia dapat menebak dengan pasti apa yang ada di dalamnya.
Dengan gerakan ragu-ragu Laurel meraih map yang tadi disodorkan oleh Dave ke arahnya dan membukanya perlahan-lahan. Laurel mengernyitkan dahinya, apa yang sedang dia baca sekarang adalah surat kontrak kerjanya ketika dia bergabung dengan rumah sakit ini. Laurel benar-benar tidak mengerti dengan apa yang diinginkan Dave, kenapa Dave memintanya untuk membaca surat kontrak itu lagi disaat dia ingin mengajukan surat pengunduran diri.
“O, ya, aku lupa, di bagian border (garis pinggir yang sering digunakan untuk membingkai bagian tulisan yang ada di tengah sebagai konten), ada beberapa tulisan yang harus kamu baca dengan menggunakan ini,” Dengan santai Dave menyodorkan sebuah kaca pembesar ke arah Laurel yang tersentak kaget, mulai mengamati kertas yang di depannya, tiba-tiba timbul perasaan tidak enak di hatinya.
Di semua lembaran surat kontrak perjanjian kerja yang dia tanda tangani memang terdapat border, tapi selama ini dia mengira itu hanya border biasa, tidak ada sesuatu yang perlu dicurigai atau diamati dengan border tersebut.
Dengan cepat Laurel meraih kaca pembesar di depannya dan mulai mengamati border yang ada di surat perjanjian kerjanya, yang ternyata berisi tulisan-tulisan kecil yang berisi syarat-syarat kerja di rumah sakit ini.
__ADS_1
Saya Laurel Tanputra mulai hari ini akan bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Anugrah Indonesia dan tidak akan berpindah kerja ke rumah sakit lain, dan Rumah Sakit Anugrah Indonesia berhak untuk tidak memberikan rekomendasi apapun kepada Rumah Sakit lain jika saya keluar dari rumah sakit Anugrah Indonesia.
Saya Laurel Tanputra sebagai istri sah Dave Alexander Shaw, jika suatu hari saya memutuskan untuk keluar dari Rumah Sakit Anugrah Indonesia, itu artinya saya memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga, mengurus seluruh kepentingan keluarga besar Shaw dan melupakan status saya sebagai seorang dokter, dan berhenti menjadi seorang dokter.
Laurel terbeliak kaget begitu membaca tulisan-tulisan itu, benar-benar tidak menyangka kalau Dave sudah menjebaknya untuk menandatangani surat perjanjian seperti itu. Dada Laurel bergemuruh melihat bagaimana dari awal Dave sudah mempersiapkan semuanya, bahkan dengan sengaja dia menggunakan kecintaannya terhadap profesinya sebagai dokter untuk mengancamnya.
Tangan Laurel mengepal dan dengan mata melotot memandang ke arah Dave yang tampak tenang dan tetap menatapnya dengan lembut.
“Dave! Kamu benar-benar keterlaluan,” Dave memandang Laurel dengan wajah tetap tenang dan tatapan lembutnya, tidak tampak adanya emosi di wajahnya meskipun mendengar Laurel berteriak kepadanya.
“Aku bersalah, silahkan kamu puaskan dirimu dengan memakiku,” Dave berkata pelan, dipandanginya leher Laurel yang sudah tidak lagi mengenakan kalung yang diberikannya malam itu. Dengan gerakan pelan Dave meraih amplop yang berisi surat pengunduran diri Laurel dan memegangnya.
"Aku bisa menuntutmu karena sudah membohongiku saat menandatangani surat kontrak kerjaku," Dave menahan nafasnya sebentar sebelum membalas perkataan Laurel.
“Dave, kenapa kamu tega sekali melakukan ini padaku? Kamu tahu menjadi dokter adalah impian terbesar dalam hidupku,” Dave bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekat ke arah Laurel.
“Aku tidak pernah menghalangimu untuk menjadi dokter. Bahkan sejak dulu aku selalu mendukungmu. Kamu bisa tetap menjadi dokter asal tidak pergi dari rumah sakit ini,” Laurel menggeretakkan giginya mendengar perkataan Dave yang terdengar betul-betul menyakitkan baginya, memaksanya tetap berada di rumah sakit ini sebagai dokter atau meninggalkan rumah sakit ini dan melepaskan status dokternya yang merupakan impian terbesarnya dan dengan begitu susah payah dia capai selama 7 tahun ini.
Dave berdiri di samping tempat Laurel duduk sambil menyandarkan tubuhnya di meja kerjanya, dibukanya amplop surat pengunduran diri Laurel, diambilnya kertas yang ada di dalamnya dan disobeknya di depan Laurel, membuat Laurel langsung bangkit berdiri dari duduknya dengan kaget.
__ADS_1
“Kenapa kamu merobek surat pengunduran diriku?”
“Tanpa surat pengunduran dirimu, kalau saat ini kamu mau berhenti dari rumah sakit ini kamu bisa melakukannya sekarang juga. Dan jika kamu mundur dari rumah sakit ini, tolong segera pindahkan semua barang-barangmu, kita berdua akan pindah ke rumah besar, karena sesuai dengan perjanjian yang sudah kamu tanda tangani, kalau kamu keluar dari rumah sakit ini, berarti kamu akan menjadi ibu rumah tangga di keluarga Shaw dan tempatmu adalah di rumah besar sebagai istri dari pewaris utama Shaw Corporation,” Leher Laurel tersekat mendengar perkataan Dave, dia benar-benar kehilangan kata-katanya, apalagi dengan cepat Dave mengambil kembali kalung yang ada di dalam amplop pengunduran dirinya, memasangkan kembali ke lehernya, dan Laurel hanya bisa berdiam diri melihat Dave melakukan itu dengan wajah yang masih shock.
Laurel terdiam mematung di tempatnya, saat ini pikirannya benar-benar kacau, tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukannya untuk menghadapi Dave, rasanya dia benar-benar tidak bisa menandingi kecerdikan Dave, bagaimana sejak awal Dave selalu menemukan cara untuk mengikatnya.
“Kamu…, benar-benar mengancamku?” Mendengar Laurel berkata dengan nada yang begitu putus asa membuat Dave menarik nafas dalam-dalam, badannya bergerak mendekat ke arah depan tubuh Laurel yang langsung tersentak, apalagi gerakan Dave membuatnya terpojok diantara meja kerja Dave dan tubuh Dave, sedangkan telapak tangan kanan Dave langsung bergerak menekan meja kerjanya, membuat tubuhnya begitu dekat dengan Laurel, yang mau tidak mau Laurel harus mengakui sampai detik inipun keberadaan Dave di dekatnya selalu berhasil membuat dadanya berdetak dengan kencang.
“Apa kamu tahu? Ancaman adalah bentuk keputusasaan. Ancaman adalah senjata terakhir yang bisa aku lakukan untuk mempertahankanmu tetap berada di sisiku karena aku tidak tahu lagi apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu untuk tetap bersedia bersamaku. Maafkan aku, tapi apapun akan kulakukan untuk tetap membuatmu ada di dekatku,” Dave menundukkan kepalanya di bahu Laurel sambil menutup matanya, menunjukkan saat ini diapun begitu putus asa menghadapi kemarahan Laurel.
Laurel terdiam, bagaimanapun dia harus mengakui bahwa sebenarnya dia juga mencintai Dave, tangan kanan Laurel bergerak ke atas, hendak mengelus punggung Dave, tapi ingatan tentang kebohongan Dave dan apa yang tertulis di surat perjanjian itu membuat Laurel kembali menarik tangannya, dadanya kembali teraduk-aduk oleh emosi dan rasa malu karena selama ini orang-orang di sekitarnya telah membohongi dan membodohinya.
Kemarahan Laurel kembali membuatnya tersadar bahwa Dave sudah mempermalukan dan menginjak-injak harga dirinya dengan kebohongannya, membuatnya menjadi orang yang terlihat bodoh, begitu percaya dengan cerita bohong tentang kematiannya, membuatnya selama ini dihantui oleh rasa bersalah yang tidak berkesudahan, bahkan sempat membuatnya tidak ingin jatuh cinta kepada siapapun untuk menebus rasa bersalah kepada almarhum suaminya.
Selama ini pasti kamu menertawakan kebodohanku yang begitu gampang percaya dengan cerita bohongmu, bahkan kamu membuat semua keluargamu dan keluargaku ikut serta dalam kebohonganmu, orang-orang yang begitu aku percaya dan sayangi begitu tega ikut membohongiku, Laurel berbisik dalam hati dengan geram. Dengan pelan Laurel menjauhkan tubuhnya dari Dave, diliriknya sekilas wajah Dave yang terlihat murung.
“Laurel, katakan padaku, apa yang kamu inginkan agar kamu tetap berada di sisiku? Apapun yang kamu minta akan aku berikan,” Laurel memandang ke arah Dave yang terlihat serius dengan apa yang dikatakannya, tapi dia berani bertaruh, jika dia meminta Dave menceraikannya, bisa dipastikan Dave tidak akan pernah mengabulkan permintaannya yang satu itu, melihat bagaimana selama 7 tahun ini pun Dave berusaha keras untuk tetap mengikatnya.
“Lakukan apapun yang kamu suka, tapi jangan harap kita benar-benar bisa menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya. Kita akan lihat apakah kamu akan tetap bertahan dengan keputusanmu untuk terus mengikatku tanpa aku perduli dengan itu,” Laurel melangkah keluar dari ruangan Dave, membiarkan Dave yang berdiri termenung di tempatnya sambil menarik nafas dalam-dalam, merasakan sesak di dadanya melihat sosok Laurel yang menjauh, tapi dia sedikit bernafas lega karena melihat apa yang dikatakan Laurel barusan untuk sementara ini bisa dipastikan Laurel akan tetap berada di dekatnya, tidak akan menghilang darinya seperti 7 tahun lalu.
__ADS_1