
"Kalau waktu bisa diulang, aku lebih memilih untuk menemuinya dan mengatakan terus terang bahwa aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai daripada aku membuatnya terluka seperti itu, tapi penyesalan mana ada yang di depan," Freya menarik nafas panjang mendengar kata-kata Laurel yang terdengar begitu menyedihkan dan penuh dengan penyesalan.
"Buka matamu kak," Dengan perlahan Laurel membuka matanya yang langsung terbeliak karena di kaca dia melihat sosok seorang gadis yang tampak begitu cantik dan memukau walaupun riasan di wajahnya bukan riasan tebal. Tatanan rambut Laurel juga sederhana, hanya menggunakan jepit rambut bewarna perak berbentuk bunga di sebelah kanan, tapi justru mampu menonjolkan keanggunan dan wajah cantik Laurel layaknya seorang putri dari sebuah kerajaan. Freya tersenyum puas melihat hasil karyanya di wajah Laurel.
"Kakakku memang yang tercantik, tapi kak...," Freya terdiam sebentar, membuat Laurel mengalihkan pandangannya dari kaca ke arah wajah Freya.
"Kakak harus bahagia," Freya mencium pipi Laurel lembut, membuat Laurel langsung meraih tangannya dan mengelusnya.
"Kamu dan mama juga harus bahagia, kita bertiga harus bahagia," Freya tersenyum mendengar perkataan Laurel.
"Kalau begitu, aku akan mengganti pakaian kakak agar terlihat lebih cantik dan membuat bos kakak jatuh cinta pada kakak," Freya mengedipkan sebelah matanya.
"Freya!" Laurel langsung menjerit pelan mendengar perkataan Freya yang langsung berlari keluar, dan beberapa saat kemudian dia datang kembali dengan membawa sebuah tas plastik di tangannya.
"Ta...da...," Freya mengeluarkan sebuah gaun dari tas tersebut, Laurel sedikit menyipitkan matanya melihat gaun yang ada di tangan Freya.
"Ini bukan pesta besar, aku tidak mau memakai gaun seperti mau ke pesta," Freya tertawa mendengar protes dari Laurel.
__ADS_1
"Kakak pakai dulu lah, ini kan bukan gaun pesta mewah, gaun biasa saja, tapi cantik sih, apalagi nanti kalau kakak yang pakai, pasti tambah cantik," Freya menarik tangan Laurel agar mau bangkit dari duduknya di depan meja rias.
"Ayo, aku bantu kakak memakainya," Dengan malas Laurel bangkit dari duduknya, dia tahu betul kalau Freya pasti tidak akan berhenti merengek di hadapannya sebelum dia memenuhi permintaannya.
Setelah mengenakan gaun sepanjang lutut bewarna biru navy (disebut juga biru dongker, biru tua atau biru gelap, merupakan salah satu jenis warna biru yang gelap) tersebut, Freya langsung menarik tangan Laurel kembali ke arah kaca meja rias.
"Lihat kak, gaunnya cocok sekali dengan kakak, itu hadiah pindah rumah buat kakak," Laurel memandang dirinya sendiri di depan kaca yang sudah mengenakan gaun biru navy itu. Gaun itu terlihat sederhana tapi terlihat begitu cantik, dan membuatnya terlihat begitu anggun. Selain itu, terlihat bahwa itu bukan gaun sembarangan, dari bahannya Laurel bisa tahu bahwa gaun yang sedang dikenakan merupakan gaun yang tidak murah harganya.
"Kamu membelinya untukku? Pasti ini gaun mahal, buat apa kamu menghabiskan banyak uang hanya untuk sebuah gaun? Berapa harga gaun ini? Biar aku mengganti uangnya," Freya langsung menggerak-gerakkan tangannya tanda penolakan, sedari tadi dia sengaja membantu Laurel mengenakan gaun itu agar dia tidak mengetahui bahwa gaun yang sedang dikenakannya saat ini merupakan gaun merk givenchy asli yang didatangkan dari negara asalnya (Banyak brand fashion dunia yang terkenal. Misalnya saja Givenchy yang menjual berbagai ragam desain pakaian, aksesoris, tas, sepatu dan barang fashion lainnya. Givenchy merupakan nama merek Perancis yang banyak digunakan olehbpara selebriti kelas dunia dan orang-orang terkemuka, bahkan gaun pengantin yang dikenakan oleh Meghan Markle merupakan gaun rancangan dari Givenchy) dengan harga lebih dari 45 juta rupiah yang dikirimkan oleh seseorang 3 hari yang lalu.
# # # # # # #
"Wuihhh, tuan rumah hari ini terlihat cantik sekali," Lusiana yang baru datang bersama Nia langsung memeluk Laurel.
"Wahhh, rumah barumu besar sekali," Nia memandang sekelilingnya dengan pandangan takjub. Laurel hanya bisa tersenyum, tidak terlalu banyak berkomentar, apalagi menjelaskan bahwa rumah ini dulunya adalah rumah orangtuanya, sampai akhirnya dibeli oleh laki-laki yang harus dia nikahi dan setelah laki-laki itu meninggal rumah itu kembali diserahkan kepadanya.
"Dan mewah sekali," Lusiana berbisik pelan ke telinga Laurel.
__ADS_1
"Ayo, silahkan ke kebun belakang," Denia yang baru saja berjalan ke depan ikut mempersilahkan semua teman-teman Laurel untuk langsung ke arah kebun di belakang rumah.
Feri dan Roy yang baru saja datang langsung bersiul begitu melihat Laurel yang sedang berdiri mengobrol dengan Lusiana dan Nia di dekat meja di tengah-tengah taman belakang rumahnya. Mendengar suitan Feri dan Roy, Lusiana dan Nia langsung tertawa.
"Siapa percaya kalau gadis secantik dia adalah dokter spesialis penyakit dalam? Harusnya kamu lebih pantas jadi seorang artis atau beauty influencer (Istilah selegram dan influencer hampir beriringan muncul di dunia maya dimana semakin banyaknya masyarakat yang menghabiskan waktu dengan stalking di media sosial. Beriringan juga dengan fungsi media sosial yang tak hanya sebatas tempat mencari teman baru. Media sosial juga dimanfaatkan banyak pihak untuk mempromosikan sebuah produk dan hasil karya, termasuk juga influecer dalam mempengaruhi banyak pengikutnya, seperti kehadiran beauty influencer yang berusaha memperkenalkan sebuah brand kecantikan. Seperti selegram yang terkenal di media sosial, beauty influencer pun juga demikian. Namun mereka terkenal karena selalu membagikan tips dan pengetahuan dalam dunia kecantikan dan produk kecantikan. Akun mereka banyak dicari dan difollow demi mendapatkan informasi menarik tentang kecantikan dan produk yang sudah pernah mereka coba)," Lusiana langsung menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Arnold yang juga baru saja bergabung karena tatapan Arnold yang memandang Laurel tanpa berkedip, sedang Nia langsung berdiri di antara Laurel dan Arnold, berusaha menghalangi pandangan Arnold ke arah Laurel.
"Sudah, kalau diteruskan lagi bisa-bisa bola matamu keluar dari rongganya," Yang lain langsung tertawa mendengar perkataan Nia, apalagi melihat wajah Arnold yang langsung berubah menjadi memerah dan terlihat begitu gugup karena kata-kata Nia barusan. Arnold benar-benar tidak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat penampilan Laurel malam ini.
"Eh, ngomong-ngomong apa bos tidak datang? Jangan bilang kamu tidak mengundangnya," Mendengar bisikan dari Lusiana, otomatis Laurel memandang ke arah pintu masuk kebunnya yang ada di bagian samping rumahnya.
"Aku sudah mengundangnya, mungkin dia sedang sibuk." Baru saja Laurel menyelesaikan kata-katanya tampak sosok Dave yang berjalan memasuki area pesta bersama Leo dan Hana, di belakangnya tampak Arman yang datang degan tergopoh-gopoh, karena sebelumnya dia datang paling belakangan dan berusaha menyusul tiga orang yang sudah berjalan di depannya.
Para pegawai dan dokter wanita yang melihat kedatangan Dave langsung tersenyum dan beberapa dari mereka mulai saling berbisik. Malam ini Dave mengenakan kemeja jenis slim fit (Dalam dunia desain fashion kemeja slim fit ini dikenal sebagai salah satu model kemeja pria yang memiliki potongan pas di badan mengikuti body atau bentuk tubuh pemakainya. karena memiliki ukuran yang pas sesuai bentuk tubuh penggunanya, kemeja slim fit ini dipercaya mampu memberikan efek visual yang lebih menarik untuk badan pria. Sekalipun bentuk dan potongan cenderung mengikuti lekuk badan, tetapi kemeja ini relatif nyaman dikenakan karena didesain dalam ukuran yang tidak terlalu ketat namun juga tidak terlalu longgar) dengan perpaduan warna hitam dan abu-abu, panjang lengan 3/4 tangan, dan celana panjang warna hitam, membuat tubuhnya yang atletis dan berotot terlihat semakin menarik, apalagi didukung oleh wajah tampan dan tinggi badannya yang di atas rata-rata, membuat dia terlihat begitu mempesona.
Laurel menatap ke arah Dave yang berjalan ke arahnya bersama Leo, Hana dan Arman. Jujur saja bagi Laurel sangat sulit mengalihkan pandangan matanya dari sosok Dave, tapi dengan keras dia berusaha membuat dirinya sedikit mengalihkan pandangannya dari Dave yang menurut perasaannya saat ini juga sedang menatapnya dalam-dalam tanpa berkedip, tapi sekali lagi Laurel lebih percaya itu hanya sekedar perasaannya saja, apalagi saat ini di sebelah Dave jelas-jelas ada Hana yang berjalan di sampingnya, rasanya tidak masuk akal jika dia mengharapkan Dave memandang ke arahnya sedang ada gadis seorang cantik yang berdiri di sebelahnya.
Memikirkan hal itu hanya bisa membuat Laurel menahan nafasnya untuk sesaat, berusaha mengembalikan angan-angannya agar tidak melambung terlalu tinggi, apalagi mengingat selama ini bagaimana cara Dave memandangnya dengan tatapan dingin tanpa ekspresi, rasanya sangat tidak mungkin memikirkan kemungkinan bahwa Dave akan tertarik padanya, dan lagi-lagi statusnya sebagai janda kembali menggelitik hatinya untuk lebih sadar diri untuk tidak memimpikan laki-laki sehebat Dave.
__ADS_1