
Suasana hening dan kaku langsung terlihat begitu Pramono Agung dan Tante Lia memasuki ruang tamu rumah kaca dengan diantar oleh Mira. Ketika kedua tamu itu memasuki ruang tamu, di sana sudah duduk dengan wajah terlihat serius Augistin Shaw yang duduk bersebelahan dengan Mama Rosalia, sedang Dave dan Laurel duduk berdampingan di sofa lain. Leo dan Evelyn memilih untuk duduk di ruang keluarga yang letaknya tidak jauh dari ruang tamu, namun tidak ada sekat, sehinggga walaupun mereka tidak bergabung dalam satu ruangan dengan mereka, tapi Leo dan Evelyn masih bisa mendengar apa yang akan dibicarakan mereka dari arah ruang tamu.
Awalnya begitu mendengar ada orangtua Dicky datang berkunjung, Leo ingin segera pamit meninggalkan rumah kaca karena merasa dia bukan bagian dari Keluarga Shaw, sehingga tidak seharusnya dia ada di sini. Tapi, Dave bersikeras agar Leo tetap ada di sini dan menemani Evelyn, toh selama ini apapun yang terjadi di Keluarga Shaw, Leo juga mengetahui semuanya seperti dia merupakan anggota Keluarga Shaw. Bahkan selama ini setiap ada acara pribadi di Keluarga Shaw, Leo selalu diundang secara pribadi oleh Mama Rosalia yang sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri.
“Selamat pagi Om dan Tante. Silahkan duduk. Kira-kira ada perlu apa sehingga datang ke sini?” Dave langsung membuka percakapan begitu melihat kedua tamunya terlihat kikuk dan salah tingkah.
Mendengar Dave mempersilahkan mereka berdua untuk duduk, kedua pasangan suami istri itu langsung mengambil posisi duduk berdampingan, tepat berhadap-hadapan dengan posisi duduk Laurel dan Dave. Tante Lia melirik ke arah Laurel sekilas yang wajahnya terlihat begitu tegang, dengan posisi lengan Dave yang melingkar di pinggang Laurel.
Setelah itu dengan gerakan pelan dan penuh keraguan, Tante Lia lebih memilih untuk menundukkan kepalanya. Setelah mengetahui tentang apa yang dilakukan Dicky kepada Laurel kemarin, sebenarnya Tante Lia sudah tidak lagi memiliki keberanian untuk bertemu Dave, apalagi Laurel. Tapi suaminya Pramono Agung tetap memaksanya untuk pergi menemui Dave dan Laurel.
“Pagi dokter Dave…, kami…,” Pramono Agung berkata-kata dengan suara terbata-bata, memilih untuk memanggil Dave dengan sebutan dokter untuk menunjukkan rasa hormat.
“Laurel!”
“Kak Laurel!”
Suara teriakan dari arah pintu masuk rumah kaca membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara dan membuat Pramono Agung menghentikan kata-katanya.
“Mama, Freya?” Begitu melihat siapa yang datang, suara Laurel berdesis pelan menyebutkan nama mereka berdua.
“Apa yang sedang kalian lakukan di sini! Apa belum puas kalian melihat Dicky hampir saja membuat Laurel dan Dave terbunuh!” Begitu melihat kehadiran Pramono Agung dan Tante Lia di ruang tamu rumah kaca Dave, emosi Mama Denia langsung memuncak.
__ADS_1
Begitu mendengar berita tentang kasus yang menimpa Laurel dan Dave semalam dari Evelyn, Mama Denia dengan buru-buru meninggalkan semua pekerjaan rumahnya dan langsung menyeret Freya, memaksanya untuk mengantarnya ke rumah Laurel dan melihat kondisinya. Sepanjang jalan Mama Denia terlihat begitu khawatir walaupun Freya sudah menjelaskan bahwa kondisi Laurel dan Dave baik-baik saja. Karena itu begitu melihat kehadiran Pramono Agung dan Lia, emosi Mama Denia langsung tersulut.
“Denia, tolong dengarkan dulu,” Tante Lia berkata dengan suara terlihat memohon ke arah Mama Denia yang menarik nafasnya dalam-dalam sambil menggertakkan giginya agar dapat menahan amarahnya.
“Aku sudah kehilangan suamiku! Dikhianati oleh saudara kandungku sendiri dan saudara iparku! Sekarang aku hanya memiliki Freya dan Laurel. Sudah sejak lama aku memperingatkan kamu agar kamu menjaga anakmu Dicky agar tidak berbuat hal bodoh! Kamu selalu saja berkelit dan mengatakan semua sudah baik-baik saja. Bahwa Dicky sudah normal, sudah tidak ada masalah. Tapi lihat apa yang terjadi, bahkan DIcky berniat membunuh anakku!” Mama Denia berkata dengan nada tinggi ke arah Tante Lia yang wajahnya terlihat pucat karena amarah dari Mama Denia.
Melihat mamanya begitu emosi, Freya langsung meraih kedua bahu mamanya dengan kedua tangannya, dan dengan gerakan pelan, Freya membawa ke arah sofa dan mengajak mamanya untuk duduk di sana, di samping Laurel. Setelah mengungkapkan amarah dan kekecewaannya, dengan lemas Mama Denia duduk di sofa yang berada di dekat Laurel dan dengan gerakan cepat Mama Denia langsung memeluk Laurel dengan erat dari samping sambul menangis.
“Apa kamu baik-baik saja nak?” Mama Denia berkata setelah itu melepaskan pelukannya kepada Laurel, lalu dengan kedua tangannya dirangkumnya wajah cantik Laurel dan dielus-elusnya lembut dengan jari-jari tangannya, seolah-olah tidak percaya Laurel sedang ada di hadapannya saat ini karena berita yang begitu mengejutkan tentang penculikan Laurel sudah membuat Mama Denia begitu ketakutan.
“Maafkan Mama, maafkan Mama nak. Mama hampir membuatmu celaka,” Mama Denia berkata dengan suara serak karena tangisnya.
“Laurel tidak apa-apa Ma. Mama tenang saja,” Laurel berkata lembut sambil satu tangannya mengelus tangan mamanya yang sedang menempel di pipinya saat ini.
“Kami mau meminta maaf atas tindakan ekstrim yang sudah dilakukan oleh Dicky selama ini kepada Laurel. Maafkan kesalahan Dicky akibat kegagalan kami mendidiknya,” Dave menarik nafas panjang mendengar permintaan maaf dari Paramono Agung.
“Mo cuisle…, apa kamu mau terus mendengarkan pembicaraan ini, atau kamu mau beristirahat di kamar untuk menenangkan diri?” Dave berbisik pelan ke telinga Laurel, karena dia tidak ingin Laurel tertekan jika harus mengingat lagi kejadian mengerikan kemarin malam bersama Dicky maupun Devan.
“Ada kamu di sini. Aku akan tetap di sini,” Laurel membalas bisikan Dave dengan suara pelan, sambil tangannya menggenggam erat tangan Dave, seolah memastikan bahwa Dave selalu ada untuknya dan dia dapat mengandalkan Dave untuk meminta perlindungan dari laki-laki tersebut.
“Ok, tapi kalau sewaktu-waktu kamu ingin pergi meninggalkan ruangan ini, beritahu aku,” Dave kembali berbisik pelan sambil tangannya yang lain mengelus lembut perut Laurel, berharap agar bayi dalam kandungan Laurel baik-baik saja.
__ADS_1
Melihat tangan Dave yang sempat mengelus perut Laurel, Tante Lia sedikit tersentak kaget, karena dari situ dia bisa menebak bahwa saat ini Laurel sedang hamil. Dan tentu saja, perbuatan Dicky kepada Laurel saja sudah cukup tidak bisa dimaafkan, apalagi ternyata Laurel sedang hamil. Menyadari itu, keringat dingin langsung membasahi dahi Tante Lia.
Dengan gerakan yang begitu tiba-tiba Tante Lia bangkit dari duduknya dan langsung duduk bersimpuh di dekat kaki Laurel. Melihat tindakan Tante Lia, Laurel sedikit menggerakkan tubuhnya ke arah Dave karena kaget, matanya langsung memandang ke arah Dave yang dengan reflek tangannya langsung memegang paha Laurel dengan sikap penuh perlindungan dan menariknya mendekat ke arahnya, menjauh dari posisi Tante Lia duduk bersimpuh.
“Laurel, maafkan Tante. Tante benar-benar tidak menyangka Dicky akan setega itu kepadamu. Laurel…, Dicky benar-benar mencintaimu,”
“Itu bukan cinta Lia! Tapi obsesi! Kalau cinta tidak akan tega menyakiti orang yang dicintainya bahkan sampai hampir membunuhnya!” Mama Denia yang duduk di sebelah Laurel langsung memprotes perkataan Tante Lia dengan wajah terlihat begitu emosi, membuat Laurel harus menenangkannya dengan memegang erat punggung telapak tangan mamanya.
“Tante, lebih baik Tante duduk di sofa, jangan duduk di lantai…,” Laurel menundukkan sedikit tubuhnya, tapi dengan cepat Freya langsung mendekat, menggantikan Laurel untuk menarik tangan Tante Lia agar bangun dari bersimpuhnya.
“Maafkan kami Laurel,” Tante Lia tetap saja ngotot untuk tetap bersimpuh.
“Tante, sebaiknya Tante duduk dulu, kalau Tante tetap bersikeras bersimpuh di situ, lebih baik kita hentikan pembicaraan kita sekarang,” Akhirnya mendengar perkataan Dave, akhirnya Tante Lia menerima bantuan Freya untuk bangkit dari duduk bersimpuhnya dan kembali duduk di sofa, di samping Pramono Agung.
“Tanpa Tante Lia jelaskan, kami sudah mengetahui bahwa Dicky memiliki masalah dengan kepribadiannya. Dia jelas-jelas mengalami gangguan identitas disosiatif, kepribadian ganda sejak kecil, bahkan dengan pola pikir dari kepribadiannya yang bercabang, dia menganggap dirinya sebagai titisan Dewa Siwa dan menganggap Laurel sebagai reinkarnasi dari Dewi Parwati yang dia anggap sebagai istrinya di masa lalu. Jangan bilang kalian berdua sebagai orangtua tidak mengetahui masalah ini,” Dave berkata dengan tangannya tetap memeluk erat tubuh Laurel yang berusaha tenang agar tidak menggigil sehingga membuat Dave mengkhawatirkannya.
Mendengar kata-kata dari Dave, Mama Denia tersentak kaget, sedang Pramono Agung dan Tante Lia langsung saling bertatapan sambil menarik nafas dalam-dalam. Freya yang duduk di sandaran sofa di samping mamanya sibuk mengelus bahu mamanya, berusaha untuk menenangkan mamanya agar tidak emosi menghadapi masalah ini.
“Maafkan kami Dave. Kami yang bersalah. Sejak kecil memang Dicky sudah menunjukkan gejala-gejala kelainan kepribadian, tapi kami tetap berusaha untuk menyembunyikannya dengan harapan kami dapat menyembuhkannya. Sejak Dicky berumur 12 tahun dia sudah menjalani perawatan. Kondisi Dicky juga sudah semakin membaik ketika dia mulai kuliah, bahkan sudah tidak lagi menunjukkan adanya kelainan. Namun sejak dia bertemu Laurel di acara pemakaman papanya, hari itu juga Dicky mengatakan kepada kami agar kami melamar Laurel karena dia sudah menemukan belahan jiwanya. Saat itu kami berpikir Dicky hanya main-main dan bercanda, tapi ketika dia pulang beberapa waktu kemudian dengan membawa pisau yang dipenuhi noda darah, kami tahu bahwa penyakitnya mulai kambuh kembali,” Tante Lia menghentikan bicaranya sebentar, berusaha menahan tangisannya mengingat bagaimana anak tunggalnya, anak yang begitu dibanggakannya mengidap kelainan seperti itu, bahkan memiliki kecenderungan untuk menyakiti orang lain saat keinginannya tidak dipenuhi.
“Waktu itu Dicky tidak menjelaskan dari mana dia mendapatkan pisau itu. Tapi begitu kami mendengar bahwa Laurel mengalami insiden penusukan di mall, saat itu kami yakin pelakunya adalah Dicky. Tapi saat itu kami begitu khawatir jika Dicky harus berurusan lagi dengan rumah sakit jiwa, karena itu kami berusaha menyembunyikan kebenaran itu sambil mencari jalan keluar agar Dicky tidak lagi terobsesi dengan Laurel. Saat itu kami sempat berencana melamar Laurel untuk Dicky, kami berharap dengan menikahkan mereka Dicky dapat disembuhkan, tapi begitu begitu mendengar bahwa Denia sudah menerima lamaran dari Keluarga Shaw, harapan kami kembali pupus. Kami berusaha menjelaskan kepada Dicky bahwa Laurel sudah menjadi istri orang lain untuk mencegahnya bertindak lebih lanjut, namun dia bersikeras dan tidak percaya, bahkan mendengar Laurel pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya, hampur saja Dicky menyusulnya ke sana,” Kali ini mendengar penjelasan dari Tante Lina yang mengatakan tujuh tahun lalu Dicky berencana menyusulnya ke Amerika membuat Laurel tidak bisa lagi mengendalikan ketakutan dalam dirinya.
__ADS_1
Membayangkan Dicky berencana mengejarnya sampai ke Amerika membuat tubuh Laurel sedikit menggigil, membuat Dave langsung mempererat pelukannya di tubuh Laurel. Dengan sigap Dave memberi kode kepada Evelyn yang duduk di samping Leo yang ada di ruangan keluarga, namun bisa melihat dan mendengar pembicaraan mereka yang ada di ruang tamu. Begitu melihat Dave memberi tanda kepadanya untuk mendekat, Evelyn segera bangkit dari duduknya, berjalan ke arah Dave dan Laurel duduk.