
"Senang bisa berlibur bersamamu dokter Laurel, sayangnya kamu lebih memilih liburan ke villa daripada ke Bali," Begitu duduk di samping Laurel, Dave langsung membisikkan kata-kata yang membuat Laurel langsung melotot ke arahnya, namun Laurel langsung kembali memalingkan wajahnya karena melihat penumpang yang lain terlihat masih menatap tidak percaya ke arah Dave yang memutuskan untuk naik bus bersama mereka.
Laurel mengambil handphone dari dalam tasnya dan mulai mengetikkan sesuatu dan langsung mengirimnya ke Dave.
Jangan berpikir macam-macam, saat ini hubungan kita hanya sebatas bos dan karyawan.
Begitu mendengar ada notifikasi dari handphonenya, Dave langsung membuka layar handphonenya, sedikit tersenyum geli melihat Laurel lebih memilih berbicara dengannya melalui pesan via handphone daripada langsung berbicara dengannya yang saat ini duduk tepat di sebelahnya.
Jangan khawatir, walaupun sekarang kita menjadi teman sebangku, teman sekamarmu tetap Mira, bukan aku. Begitu membaca pesan balasan dari Dave, Laurel langsung membalikkan tubuhnya ke arah jendela bus di sebelah kirinya, baru saja dia hendak membalas pesan Dave, sebuah pesan baru Dave kembali terkirim.
Atau sebenarnya kamu mengharapkan itu? Aku akan minta Mira menata ulang daftar penempatan kamar kalau itu yang kamu inginkan. Dengan senang hati mo cuisle.
Jangan memulai pertengkaran Dave. Laurel langsung membalas kembali pesan dari Dave dengan sedikit kesal.
Dave? Sebenarnya siapa yang tadi mengatakan hubungan kita hanya sebatas bos dan karyawan, tapi dengan kamu memanggilku Dave, apa itu artinya kamu ingin mengubah hubungan bos dan karyawan menjadi hubungan kita yang sebenarnya? Laurel tersentak kaget membaca pesan dari Dave, membuatnya tanpa sadar langsung membalikkan tubuhnya kembali ke depan dengan melirik tajam ke wajah Dave yang tampak tenang, bahkan tidak terlihat bahwa saat ini mereka sedang saling berdebat dengan saling bertukar pesan.
Apa kamu ingin untuk seterusnya aku memanggilmu "BOS"? Dave berusaha menahan tawanya membaca pesan dari Laurel yang menunjukkan dia mulai emosi.
Terserah kamu mau memanggilku dengan sebutan apapun, bagiku tetap akan terdengar sebagai panggilan sayang, dan apapun yang kamu pikirkan tentang kita, bagiku kamu adalah istriku, tidak ada yang bisa mengubahnya. Hentikan menuliskan pesan di handphonemu kalau tidak ingin matamu sakit, nikmati saja perjalananmu.
Setelah menuliskan pesannya, Dave langsung memasang earphone di telinganya, mematikan layar handphonenya, memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya, melipat kedua tangannya di depan perutnya dengan tubuh sedikit berselonjor sambil memejamkan matanya dan menikmati alunan musik yang mengalun melalui earphone di telinganya.
# # # # # # #
Laurel yang awalnya sedang menikmati pemandangan melalui jendela di samping kirinya tiba-tiba tersentak kaget ketika merasakan ada seseorang yang menggenggam erat tangan kanannya yang ada di atas pahanya. Dengan cepat Laurel menoleh, di hampir saja menyatakan protesnya kepada Dave, namun dia langsung mengurungkan niatnya begitu melihat wajah Dave yang terlihat begitu pucat dengan tangan kanan menutup mulutnya, sedang tangan kirinya masih menggenggam erat tangan kanan Laurel.
"Bos, anda baik-baik saja?" Dave langsung menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Laurel.
__ADS_1
Laurel mengamati wajah pucat Dave dan titik-titik keringat yang terlihat di dahi Dave, membuat Laurel dengan cepat langsung mengambil plastik yang ada di saku belakang jok kursi di depannya.
"Apa bos mabuk?" Dengan pelan Dave mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Laurel, yang sebenarnya membuat Laurel ingin tertawa.
Ah, salah siapa juga anak orang kaya sepertimu nekat mencoba naik bus yang seumur hidupmu mungkin belum pernah sekalipun menginjakkan kakimu di dalam kendaraan seperti ini, Laurel berkata dalam hati sambil menyodorkan plastik yang ada di tangannya, namun Dave dengan cepat melepaskan genggaman tangannya yang awalnya begitun erat menggenggam tangan kanan Laurel dan menjauhkan tangan Laurel yang memegang plastik sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kenapa kamu harus keras kepala menahan muntahmu? Laurel sedikit mengomel dalam hati dan langsung bangkit berdiri, disentuhnya bahu Mira yang duduk di depan bangkunya. Begitu Mira menoleh dan mendongakkan kepalanya ke arahnya, Laurel menundukkan badannya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Mira.
"Bos mabuk, tolong minta sopir menghentikan bus nya sebentar," Mira terdengar kaget mendengar bisikan dari Laurel, tanpa menunggu lebih lama Mira langsung berjalan mendekat ke arah kenek bus, memintanya memberi info kepada sopir agar segera menghentikan busnya.
Begitu bus berhenti, Laurel langsung meraih lengan kiri Dave dan mengajaknya turun dari bus, membuat penumpang yang lain bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, tapi begitu melihat wajah pucat Dave sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya mereka segera sadar apa yang sudah terjadi pada bos mereka.
"Ayo, muntahkan saja disini," Begitu mereka berdua turun dari bus, Laurel segera mengajak Dave ke pinggiran jalan yang dipenuhi dengan rumput, dan di sampingnya nampak sebuah selokan air kecil. Mendengar perintah Laurel, Dave kembali menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat Laurel menarik nafas panjang mencoba mengerti apa kemauan Dave. Namun begitu Laurel mengarahkan pandangannya ke belakang bus dan melihat mobil Dave yang dikendarai oleh sopirnya ikut berhenti, Laurel mendekatkan bibirnya ke telinga Dave.
"Kenapa? Apa perlu aku minta bus melanjutkan perjalanan dan kamu melanjutkan perjalanan dengan mobilmu?" Begitu mendengar pertanyaan laurel, Dave langsung menganggukkan kepalanya, membuat Laurel sedikit menyungingkan senyumnya karena sedari tadi dia bisa menebak bahwa Dave pasti merasa gengsi jika orang lain apalagi pegawainya melihatnya mabuk dan memuntahkan isi perutnya di tepi jalan seperti ini.
"Kalau begitu kami akan melanjutkan perjalanan, tolong dokter Laurel menemani bos di mobilnya," Laurel tersentak kaget mendengar perkataan Mira.
"Eh, kenapa bukan kamu yang menemaninya? Kamu kan asisten pribadi bos? Mestinya kamu lebih mengerti tentang bos daripada aku,"
"Maaf dok, sedari tadi saya juga sedikit mabuk, bukannya membantu bos, nanti justru bos yang repot karena mengurus saya. Iya kan dokter Lusiana?" Mira berkata dengan wajah terlihat memelas, sedang Lusiana langsung mengangguk mengiyakan perkataan Mira, walaupun Lusiana tahu sedari tadi jelas-jelas Mira baik-baik saja, bahkan terlihat begitu menikmati perjalanannya.
"Huffttt," Laurel menghembuskan nafas lewat bibirnya dengan sedikit keras, membuat rambut yang ada di dahinya sedikit berkibar-kibar karena tiupan angin dari bibirnya.
"Tolong dok, kasihan bos kalau dengan keadaan seperti itu harus sendirian, dokter Laurel bisa kan membantu bos? Tolong ya dok," Laurel menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya menggguk.
"Aku akan kesana dulu, kalian lanjutkan perjalanan saja dulu," Laurel buru-buru membalikkan badannya dan dengan sedikit berlari keluar dari bus dan kembali mendekati Dave yang tampak berjongkok di tempatnya tadi berdiri di temani oleh sopir pribadinya.
__ADS_1
Begitu bus sudah kembali melaju meninggalkan mereka, Laurel mendekat kembali ke arah Dave, ikut berjongkok di sampingnya dan mulai menepuk-nepuk lembut punggung Dave.
“Ayo, muntahkan saja biar badanmu terasa lebih ringan,” Begitu Dave menunjukkan tanda-tanda mau muntah, Laurel segera menggerakkan tangannya ke tengkuk Dave dan memijat mijatnya lembut sampai Dave akhirnya memuntahkan isi perutnya. Begitu melihat Dave sudah selesai, dengan cepat Laurel mengambil tissue dari dalam tasnya dan membantu Dave membersihkan bibirnya.
“Ayo, kita masuk ke mobil,” Laurel bangkit berdiri dari jongkoknya dan langsung menarik lengan Dave dibantu oleh sopir pribadinya.
“Aku sudah lebih enakan,” Dave melepaskan pegangan tangan sopirnya, namun tetap membiarkan Laurel memeluk lengannya yang lain dan mengajaknya berjalan ke arah ke mobilnya.
“Pak, apa ada air mineral di mobil?” Begitu mereka naik ke dalam mobil, Laurel langsung memandang sekelilingnya mencari adanya air putih di mobil itu.
“Ada non, sebentar,” Odi, sopir Dave segera meraih sebotol air mineral dari kursi di sampingnya dan menyerahkannya kepada Laurel.
“Terimakasih pak,” Laurel langsung membuka tutup botol yang berisi air mineral itu dan menyodorkan kepada Dave yang langsung meneguknya, menghilangkan rasa tidak enak di mulutnya.
“Kenapa juga kamu nekat naik bus jika belum pernah mencobanya, apalagi ini bukan perjalanan pendek, butuh paling tidak 4 jam untuk sampai ke tujuan,” Dave tersenyum masam mendengar omelan Laurel.
Kamu pikir aku melakukan semua ini demi siapa? Kalau dari awal kamu membiarkanku membawamu bersamaku naik mobil, aku tidak akan mengalami hal memalukan seperti ini, Dave berkata dalam hati.
“Tolong jangan mengomeli seorang pasien kalau kamu tidak ingin penyakit pasienmu bertambah parah dok,” Dave berkata sambil tangannya memegang keningnya yang terasa sedikit pusing.
Mendengar perkataan Dave dengan nada memelas, Laurel hanya bisa tersenyum kecil sambil menarik nafas panjang.
“Pejamkan matamu, supaya kamu bisa tidur untuk menghilangkan mabukmu, kalau nanti kita melewati toko obat aku akan membelikanmu obat untuk mengatasi mabukmu,” Dave menganggukkan kepalanya dan langsung memejamkan matanya dengan sedikit menyelonjorkan tubuhnya.
“Non, saya tahu ada jalan pintas menuju ke villa keluarga Tuan, biasanya hanya mobil-mobil pribadi yang bisa melewatinya karena jalannya tidak terlalu besar, apa perlu kita menggunakan jalur itu agar lebih cepat sampai di villa?” Odi bertanya sambil matanya melirik ke arah spion, menunggu jawaban Laurel.
“Iya pak, lewat sana saja, supaya kita bisa lebih cepat sampai, bos juga bisa segera beristirahat,” Odi langsung menganggukkan kepalanya sambil sekilas kembali melirik ke arah Laurel yang memanggil Dave dengan sebutan Bos, karena selain Mira, sopir pribadi Dave yang telah lebih dari 20 tahun bekerja di keluarga besar Shaw, sedikit banyak mengetahui tentang siapa gadis yang sedang duduk di samping bosnya saat ini, dan karena dia tahu posisi Laurel di keluarga Shaw maka dia berani meminta persetujuan Laurel untuk melewati jalan pintas ke villa keluarga Shaw.
__ADS_1