CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
KEHIDUPAN BARU AKAN DIMULAI???


__ADS_3

Laurel membuka matanya perlahan, diliriknya jam yang tertulis di layar handphonenya. Sambil menarik nafas dalam-dalam Laurel memandang ke arah Mama Denia yang terlihat masih tertidur di sampingnya. Sejak Laurel pulang setelah kejadian penusukan itu, Mama Denia sengaja menginap di rumahnya untuk menemani sekaligus menjaga Laurel. Walaupun Laurel menyatakan  bahwa dia tidak perlu ditemani karena sudah ada Bi Umi dan Rita, tampaknya Mama Denia tetap tidak tega membiarkan Laurel tanpa menemaninya.


Rasa nyeri yang dirasakan oleh Laurel di sekitar bahu kanan sampai ke punggungnya membuat Laurel kembali teringat pada kejadian tiga hari lalu di tempat parkir rumah sakit. Kejadian dimana seorang laki-laki yang tidak dapat dia kenali wajahnya karena memakai masker berusaha menyerangnya dengan pisau dan sempat membuatnya pingsan untuk beberapa saat, dan mendapatkan cukup banyak jahitan di kulitnya yang sobek akibat sabetan pisau yang menyerangnya.


Ingatannya kembali pada kejadian 7 tahun yang lalu, saat itu dia juga mengalami serangan dari seseorang yang tidak dikenalnya, dan bahkan sampai dengan saat ini dia tidak mengetahui dengan jelas siapa dan apa motif pelaku penusukan itu, sedang dia merasa tidak memiliki musuh. Sampai hari inipun menurut info dari Freya, Dave mengatakan bahwa pihak berwajib juga belum bisa menemukan tanda-tanda keberadaan pelaku.


Kejadian penusukan 7 tahun lalu Laurel sempat menganggap itu hanya perbuatan orang yang sedang salah mengenali sasarannya. Tapi, dengan kejadian yang terulang lagi membuatnya ragu apakah benar kejadian 7 tahun lalu hanya sebuah kebetulan biasa, tidak ada hubungannya dengan kejadian yang sekarang ini menimpanya.


Laurel baru saja hendak meletakkan kembali handphonenya, ketika dilihatnya Mama Denia membuka matanya, dan tangannya langsung bergerak ke arah Laurel, mengelus lembut wajah Laurel. Senyum manis langsung tersungging di bibir Laurel.


“Kamu sudah bangun nak? Bagaimana kondisimu pagi ini?” Laurel tersenyum karena mendengar pertanyaan mamanya sekaligus merasakan belaian lembut di wajahnya.


“Sudah jauh lebih baik ma, sudah tiga hari, rasa nyerinya sudah berkurang banyak, apalagi Lusiana tiap hari datang ke sini untuk merawatku, mengobati lukaku dan mengganti perban (Perban digunakan untuk menutup luka luar, perban adalah pembalut atau kompres steril yang diberikan pada luka untuk meningkatkan penyembuhan dan melindungi luka dari bahaya lebih lanjut. Perban dirancang untuk bersentuhan langsung dengan luka, dan yang paling sering digunakan untuk menahan kapas yang sudah mengandung obat pada tempatnya) pasti aku akan segera sembuh kembali, dan bisa beraktifitas seperti biasanya,” Mama Denia tersenyum, sejak Laurel terluka dia sengaja tinggal di rumah Laurel untuk menemani Laurel, sesuai dengan permintaan Dave waktu itu. Dave bersedia membiarkan Laurel kembali ke rumahnya dengan syarat Freya atau Mama Denia harus menemani dan merawatnya di masa penyembuhan luka di punggungnya.


“Ayo, segera bersihkan dirimu sebelum Lusiana datang,” Laurel tersenyum, bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi diikuti oleh Mama Denia untuk membantunya membersihkan diri.


Setelah membersihkan diri dan menghabiskan sarapannya bersama Mama Denia, Laurel memilih untuk duduk bersantai di atas tempat tidurnya sambil membaca email dari teman-teman kuliahnya dulu di Amerika, sampai di dengarnya suara pintu kamarnya dibuka oleh seseorang.


“Ma…,” Laurel langsung menyebutkan mamanya begitu melihat sosok Mama Denia muncul dari balik pintu.

__ADS_1


“Apa Lusiana sudah datang ke sini ma?” Begitu mendengar Laurel menyebutkan nama Lusiana dan menanyakan kedatangannya, Mama Denia tersenyum. Laurel sedikit mengernyitkan dahinya melihat senyum di wajah Mama Denia yang tidak seperti biasanya, seperti senyum yang menunjukkan dia sedang berusaha menahan senyumnya untuk menyembunyikan sesuatu.


“Kenapa ma? Apa Lusiana belum datang?” Mama Denia berjalan mendekat ke arah tempat tidur Laurel.


“Sepertinya hari ini bukan Lusiana yang akan membantumu mengobati lukamu dan mengganti perban di lukamu, sebentar…,” Belum selesai Mama Denia berkata-kata, tampak seseorang berjalan memasuki ruang kamar tidur Laurel. Sosok seseorang yang begitu Laurel kenal, Dave Alexander Shaw.


“Pagi Laurel, bagaimana kabarmu dua hari ini?” Laurel langsung terbeliak kaget. Bukan hanya karena kedatangan Dave yang menggantikan Lusiana untuk mengobati lukanya, tapi Dave juga berjalan masuk sambil menyeret sebuah koper pakaian. Mata Laurel langsung menatap tajam ke arah koper yang dibawa masuk oleh Dave ke kamarnya, berusaha menebak dengan tepat apa yang akan dilakukan Dave dengan membawa koper pakaian seperti itu masuk ke rumahnya, lebih tepatnya ke kamarnya.


“Mama akan ke bawah dulu ya,” Tanpa menunggu jawaban baik dari Laurel dan Dave, Mama Denia langsung berjalan keluar dari kamar Laurel dan dengan sengaja menutup pintu kamar Laurel, membiarkan Dave dan Laurel berdua di dalam kamar.


“Apa maksudmu dengan datang kemari menggantikan Lusiana dan membawa koper segala?” Dave meninggalkan kopernya di dekat pintu kamar dan berjalan mendekat ke arah Laurel, lalu berdiri di samping tempat tidur, memandangi wajah Laurel yang duduk di atas tempat tidur sambil tersenyum, dengan tatapan mata yang terlihat begitu merindukan Laurel setelah dua hari ini mereka tidak bertemu bahkan tidak saling menghubungi walaupun hanya sekedar lewat pesan.


"Hari ini aku hanya membawa pakaian secukupnya. Beberapa pakaian dan kebutuhanku yang lain akan segera diantarkan oleh Odi ke rumah ini," Dave berkata dengan santai, membuat Laurel semakin terbeliak kaget, tidak menyangka dia yang berusaha menghindari Dave dengan tidak tetap tinggal di rumah kaca, justru Dave sekarang yang datang ke rumahnya. Dan dengan perkataan Dave bahwa Odi akan mengirimkan pakaian dan keperluan yang lain, terlihat bahwa dengan sengaja Dave memberikan pernyataan secara tersirat bahwa dia akan tinggal di rumah ini bukan hanya untuk sehari dua hari.


“Siapa yang mengijinkanmu untuk tinggal di sini?” Dave berpura-pura memasang wajah sedang berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Laurel yang terdengar ketus sambil bergumam pelan, membuat hati Laurel semakin dongkol melihat sikap Dave yang jelas-jelas sengaja untuk menggodanya.


“Sejak kapan seorang suami perlu meminta ijin untuk dapat tinggal serumah dengan istrinya ya?” Mata Laurel kembali terbeliak mendengar kata-kata Dave yang terlihat  begitu santai, bahkan seolah-olah tidak melihat wajah Laurel yang memerah karena menahan marah, kaget dan juga malu mendengar apa yang dikatakan Dave.


"Lagipula Mama Denia sudah mengatakan padaku kalau mulai hari ini dia menyerahkan perawatanmu kepadaku karena hari ini Mama Denia akan pulang ke rumah, jadi mulai malam nanti Mama Denia tidak bisa lagi menemanimu di rumah ini," Laurel memasang wajah acuh tak acuh mendengar perkataan Dave, lebih tepatnya wajah menghindar, karena tidak tahu lagi apa yang bisa dia lakukan untuk menghalangi Dave.

__ADS_1


“Terserahlah, tapi jangan tidur di kamar ini, tidur saja di kamar lain,” Dave terkikik geli mendengar perkataan Laurel.


“Aku tidak berencana untuk tidur di kamar ini. Terlalu beresiko tidur di sebelah istri yang cantik tanpa melakukan kegiatan apapun. Apa kamu juga keberatan jika aku menempati kamar sebelah?” Kali ini apa yang dikatakan Dave sukses membuat Laurel selain melotot sekaligus membuat wajahnya memerah dengan cepat.


“Atau kamu ingin aku tidur di sini menemanimu?” Dave bertanya sambil membuka tas berisi peralatan dokternya, tanpa perduli Laurel menjawab atau tidak pertanyaannya sebelumnya.


"Aku akan tidur di kamar sebelah kamar ini, supaya kapanpun kamu membutuhkan aku, aku bisa segera menemuimu, terutama jika malam hari kamu mengalami kesulitan untuk tidur, jika kamu membutuhkan seseorang untuk membantumu membacakan dongeng agar bisa tertidur, aku akan dengan senang hati membantumu. Kamu bisa memanggilku kapan saja kamu mau," Dave berkata sambil menahan senyum di wajahnya dan dengan sengaja mengatakan itu untuk menggoda Laurel.


Aku benar-benar lupa kalau sebelum ini selama dua tahun dia pernah menempati rumah ini, dan pasti dia sudah begitu mengenal seluk beluk rumah ini. Ah, lakukan apapun yang kamu inginkan, tapi aku tidak akan membiarkanmu menggangguku, jangan harap kamu memiliki kesempatan untuk terus menerus menggangguku, Laurel berkata dalam hati sambil menahan nafasnya, karena mulai membayangkan bagaimana kehidupannya ke depannya dengan adanya Dave di rumah ini.


“Apa yang mau kamu lakukan?” Laurel melirik ke arah tangan Dave yang sudah memulai membuka tas kerjanya dan mengeluarkan obat dan peralatan dari dalam tas tersebut.


"Kenapa menanyakan itu? Tentu saja membantu mengobati lukamu dan mengganti perbanmu. Aku juga ingin mengecek apakah Lusiana sudah merawat luka istriku dengan baik. Bagaimanapun aku tidak ingin lukanya terlalu meninggalkan bekas di tubuhmu," Laurel terkesiap kaget, karena dia baru saja ingat tentang sesuatu tentang kondisi dirinya saat ini.


Sebelumnya dengan sengaja dia meminta bantuan Lusiana untuk membantu mengurus lukanya karena posisi lukanya yang ada di bahu bagian bawahnya yang memanjang ke bawah sepanjang 12 cm mengharuskan dia harus membuka pakaiannya bagian atas saat Lusiana mengobati dan mengganti perbannya, dan karena lukanya di posisi itu, tidak memungkinkan bagi Laurel  untuk memakai bra sementara waktu ini.


Selama ini Laurel merasa nyaman-nyaman saja karena yang mengobatinya adalah Lusiana, selain Lusiana adalah teman baiknya, alasan lain adalah mereka sama-sama perempuan, sehingga membuatnya merasa lebih santai dan tidak merasa kikuk. Tapi, jika saat ini Dave yang mengobatinya.... Laurel terdiam dengan matanya memandang Dave yang masih sibuk menyiapkan obat dan peralatannya, tidak berani membayangkan bagaimana bisa dia membiarkan Dave mengobati lukanya. Membayangkan itu tubuh Laurel bergidik dan tiba-tiba saja keringat dingin mulai keluar di dahinya, bagaimana dia bisa membiarkan Dave melihat tubuhnya dalam kondisi seperti yang dia pikirkan barusan.


Dengan pandangan mata terlihat bingung sambil memandang ke arah wajah Dave yang terlihat tetap tenang, Laurel mencoba mencari alasan agar Dave tidak meneruskan rencananya untuk mengobatinya.

__ADS_1


__ADS_2