
Laurel berjalan ke arah samping kiri mobil, sedang Dave sudah berdiri menunggunya disana. Begitu Laurel mendekat ke arah mobilnya dengan sigap Dave langsung membuka pintu mobil di sebelah kiri, mempersilahkan Laurel untuk duduk, setelah itu dengan berlarian kecil Dave berputar ke arah pintu mobil di bagian kanan.
Laurel sedikit terdiam melihat mobil yang saat ini dibawa oleh Dave, karena tampaknya mobil ini bukan mobil Dave yang biasa digunakan dan diparkir di tempat parkir rumah sakit, apalagi Laurel pernah diantar oleh sopir pribadi Dave pulang menggunakan mobil Dave, jadi dia tahu pasti bahwa kedua mobil ini benar-benar berbeda. Kedua mobil itu sama-sama bewarna hitam, tapi mobil yang sedang mereka tumpangi saat ini terlihat jauh lebih mewah.
"Kenapa dengan wajahmu?" Laurel tersentak kaget karena setelah mengajukan pertanyaan ke Laurel tiba-tiba Dave mencondongkan tubuhnya ke arahnya dan dengan cepat meraih sabuk pengaman di samping kiri Laurel, lalu memasangkannya, sehingga membuat wajah Dave hampir saja bersentuhan dengan bibir Laurel yang langsung memundurkan tubuhnya untuk menghindari bibirnya menyentuh wajah Dave.
"Kemana mobilmu yang biasanya?" Dave yang sudah kembali pada posisinya di depan setir tersenyum mendengar pertanyaan Laurel yang sedang memandang ke arahnya menunggu jawaban.
"Kenapa? Jangan khawatir, ini mobilku, bukan mobil pinjamam, justru sebenarnya mobil yang biasa aku pakai adalah milik orang lain, aku hanya meminjamnya sebentar sebelum pemiliknya yang asli mengambilnya," Laurel sedikit mengkerutkan keningnya mendengar penjelasan Dave yang masih menyisakan senyum di wajahnya. Dave mencoba membayangkan bagaimana reaksi Laurel jika dia tahu nama pemilik yang tertulis pada STNK (Surat Tanda Nomer Kendaraan) mobil yang biasa dibawanya adalah Laurel Tanputra.
Mobil yang biasa dipakai oleh Dave tersebut adalah mobil yang sengaja dibelikan oleh Dave untuk Laurel yang sudah ditolak Laurel mentah-mentah ketika mama Rosalia menemui Laurel beberapa waktu lalu setelah dia kembali ke Indonesia untuk memberikan barang-barang yang diakuinya sebagai warisan dari anaknya yang sudah meninggal untuk Laurel.
Sebenarnya saat itu Dave ingin membelikan mobil yang sama persis dengan miliknya untuk Laurel dengan warna yang berbeda, tapi saat itu dia mempertimbangkan kemungkinan ke depannya Laurel akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan jika teman-temannya mempertanyakan asal usul mobil mewah itu. Melihat karakter Laurel yang tidak suka pamer dan selalu tampil apa adanya, membuat Dave memutuskan untuk membelikan jenis mobil lainnya, yang ternyata akhirnya tetap saja ditolak oleh Laurel.
# # # # # # #
Senyum Laurel langsung mengembang melihat tempat yang mereka tuju. Begitu turun dari mobil Laurel langsung menarik nafas dalam-dalam karena udara di sekitarnya yang terasa sejuk dan sedikit dingin karena berada di daerah perbukitan. Dave yang baru saja turun dari mobil sambil membawa jaketnya di tangan kirinya langsung mendekat ke arah Laurel sambil tersenyum melihat respon Laurel yang tampak menikmati suasana tempat ini.
“Ayo, ikuti aku,” Dengan lembut Dave menepuk bahu Laurel pelan, membuat Laurel sedikit tersentak kaget karena tindakan Dave barusan, seolah-olah mereka sudah benar-benar menjadi sepasang kekasih, apalagi Laurel melihat di sekelilingnya tampak pasangan-pasangan muda mendominasi tempat itu.
__ADS_1
“Kamu sedang menunggu seseorang?” Dave yang sudah berjalan beberapa langkah di depan Laurel menghentikan langkahnya, menoleh dan bertanya sambil tersenyum ke Laurel yang masih terdiam di tempatnya dengan wajah gugup yang tidak bisa disembunyikannya lagi. Kata-kata Dave membuat Laurel langsung ikut tersenyum dan mendekat ke arahnya dengan sedikit bergegas.
“Aku tunjukkan tempat yang paling bagus pemandangannya di tempat ini,” Dave menggerakkan kepalanya ke samping, memberi tanda kepada Laurel untuk mengikutinya ke sana.
Dave mengajak Laurel berjalan menaiki sebuah tangga yang di samping kanan kirinya berjajar rapi lampu-lampu taman di sepanjang tangga yang mereka lalui, begitu hampir sampai di atas, tampak seorang gadis dengan wajah terlihat marah berlari ke arah mereka, disusul seorang pria yang meneriakkan sebuah nama yang sepertinya merupakan nama gadis yang sedang berlari itu.
Karena berlari sambil menundukkan wajahnya, tanpa sengaja gadis itu menabrak tubuh Laurel yang langsung kehilangan keseimbangannya dan hampir jatuh terjengkang, untung saja dengan sigap Dave yang berjalan menaiki tangga di sebelah kiri Laurel segera menahan tubuh Laurel dengan lengan tangan kanannya, dan lengan kirinya segera bergerak memeluk pinggang Laurel, sedang gadis yang menabrak Laurel itu tanpa menoleh terus berlari menuruni tangga, membuat laki-laki yang mengejarnya menghentikan langkahnya di dekat posisi Laurel dan Dave.
“Maaf, maaf,” Dengan wajah terlihat merasa bersalah laki-laki muda yang mengejar gadis itu mewakili gadis itu untuk meminta maaf kepada Dave dan Laurel sambil mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda penyesalan atas kejadian barusan. Begitu Dave menganggukkan kepalanya, laki-laki itu segera kembali berlari mengejar gadis yang menabrak Laurel.
“Kamu tidak apa-apa?” Dave bertanya dengan tatapan menyelidik ke arah Laurel, memastikan bahwa Laurel baik-baik saja, sambil lengan tangan kanannya masih melingkar di punggung Laurel, menahan tubuhnya, sedang tangan kiri Dave yang awalnya memeluk pinggang Laurel segera bergerak membantu Laurel sampai Laurel kembali tegak berdiri.
“Aku tidak apa-apa,” Laurel sedikit melirik ke arah telapak tangan Dave yang menempel di bahu kanannya yang sedang mengelus bahunya lembut, berusaha untuk membantu Laurel mengatasi rasa kagetnya. Laurel melirik ke arah tangan Dave sambil menahan nafasnya, berusaha mengatur debaran di dadanya yang selain akibat kaget, juga karena tindakan mesra Dave padanya barusan.
“Huffttt...,” Laurel segera mengambil posisi duduk di salah satu kursi di depannya, menarik nafas lega sambil memegang dadanya yang masih terasa berdebar-debar.
“Terimakasih,” Dave hanya mengangguk pelan mendengar ucapan terima kasih dari Laurel, setelah itu mata Dave langsung tertuju ke arah samping, membuat Laurel segera mengikuti arah pandangan Dave, dan membuatnya langsung terbeliak kaget dengan wajah terkagum-kagum.
“Wahhh.., indah sekali, bagaimana kamu bisa menemukan tempat seindah ini Dave?” Dave hanya tersenyum mendengar pertanyaan Laurel.
__ADS_1
Laurel memandang ke sekelilingnya, mereka sedang duduk di tempat yang dibawahnya terlihat sebuah danau buatan, di sekelilingnya berjajar rapi gasebo-gasebo dimana tampak pasangan muda mudi memenuhi tempat itu, beberapa tampak keluarga-keluarga muda dengan anak mereka yang masih kecil, tapi hanya beberapa saja. Jika Laurel mengarahkan pandangan matanya jauh ke depan tampak kerlap kerlip lampu kota yang terlihat jauh di bawah tempat mereka sedang berada sekarang, tapi menimbulkan efek kerlap kerlip indah, ditambah hembusan air yang semilir membuat suasana tempat ini menjadi nyaman untuk dinikmati.
Melihat pemandangan di samping bawahnya membuat Laurel tidak tahan untuk tidak berjalan mendekat ke arah pagar sebatas dadanya yang menjadi pagar pengaman antara tempatnya berdiri dan danau buatan yang ada di bawahnya.
Laurel melipat kedua tangannya di depan, menumpangkannya di atas pagar pembatas dengan sedikit menundukkan tubuhnya sambil tersenyum menikmati pemandangan di indah di depannya. Dave yang awalnya hanya mengamati tindakan Laurel yang tampak tersenyum dengan bahagia malam ini akhirnya berjalan mendekatinya.
“Aku lupa bahwa disini angin cukup kencang, harusnya aku mengingatkanmu untuk membawa jaket,” Laurel sedikit tersentak karena tiba-tiba saja Dave berkata sambil memakaikan jaket yang dia bawa ke punggung Laurel, membuat hidung Laurel langsung mencium aroma yang begitu pekat dari kesegaran parfum yang biasa dipakai oleh Dave, menjadikan seolah-olah tubuh Dave sedang menempel di tubuhnya dan ingatan malam itu tentang bagaimana dia pernah tidak sengaja terjatuh di atas tubuh Dave dan membuat bibir mereka saling berciuman terlintas kembali di ingatan Laurel, dan mau tidak mau membuatnya semakin salah tingkah.
“Aku tunjukkan bagian lain dari tempat ini yang terlihat indah,” Mendengar perkataan Dave, Laurel menggerakkan tubuhnya, mengikuti langkah-langkah Dave ke bagian lain dari tempat itu sambil memegang jaket yang diletakkan Dave ke punggungnya dengan kedua tangannya.
“Wah, cantik sekali,” Laurel tersenyum melihat ratusan lampu yang tergantung di atas tempat mereka berdiri, dengan berbagai warna dan bentuk, tapi didominasi dengan bentuk hati, dan alunan musik lembut langsung terdengar begitu mereka berdua berdiri di bawah ratusan lampu yang tergantung itu,membuat suasana tempat itu terlihat begitu romantis.
“Setelah aku kembali ke Indonesia, aku belum sempat kemana-mana, ternyata kota ini sudah banyak berubah, bahkan ada tempat seindah ini yang tidak aku ketahui sama sekali,” Dave yang berdiri di samping Laurel dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya tersenyum.
“Sepertinya selama ini hidupmu hanya dipenuhi dengan belajar dan bekerja saja, sekali-sekali kamu harus meluangkan waktu untuk menikmati hidupmu,” Laurel tertawa kecil mendengar perkataan Dave, karena selama ini dia begitu sibuk menyelesaikan kuliahnya dan bekerja untuk memenuhi biaya hidupnya, bagaimana dia memiliki waktu untuk bersenang-senang.
“Dan sepertinya hari ini aku beruntung sekali memiliki guide (pemandu) yang benar-benar tahu dimana tempat-tempat indah untuk dinikmati,” Dave tersenyum, lalu berjalan mendekat ke arah Laurel, berdiri di sampingnya dan menoleh ke arah Laurel sambil sedikit menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Laurel dengan jelas.
“Aku tidak keberatan untuk menjadi guidemu seumur hidupku,” Tawa Laurel langsung terhenti mendengar perkataan Dave, berganti dengan wajah gugup karena dia langsung teringat dengan janjinya untuk menjawab perasaan Dave setelah Dave kembali dari Irlandia.
__ADS_1