CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
AYO BERLIBUR


__ADS_3

Roy dan Feri langsung tersenyum lebar begitu melihat teman-teman sejawatnya dengan penampilan baju santai mereka sudah berkumpul di depan halaman rumah sakit, menunggu perintah selanjutnya dari ketua panitia yang hari itu dipegang oleh Mira dan Raga sebagai wakilnya. Kali ini Dave memutuskan agar kepanitian semua dipegang oleh para staff dan perawat, tidak ada satupun dokter yang menjadi bagian dari kepanitian agar mereka yang lainbisa unjuk gigi menunjukkan kebolehannya dalam mengatur acara besar seperti hari ini, memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan bahwa mereka juga bisa menyelesaikan tugas mereka dengan baik.


“Hai Lus!” Sambil menyapa Lusiana, dengan sengaja Feri menarik tas ransel yang tergantung di punggung Lusiana, membuat Lusiana tersentak kaget dan langsung membalikkan badan ke arah Feri, berencana memukul dada Feri, tapi tanpa sengaja Nia yang berlari dari arah belakang Lusiana untuk memanggil Indah menyenggol bahu Lusiana sehingga tubuh Lusiana terjatuh ke arah Feri yang langsung menangkapnya dan mengakibatkan posisi Lusiana berada dalam pelukan Feri, membuat Laurel yang berdiri tepat di belakang Lusiana terbeliak dengan tangan langsung menutup bibirnya yang terbuka karena kaget melihat apa yang baru saja terjadi.


“Eh, maaf,” Dengan gerakan cepat tapi lembut Feri menjauhkan tubuh Lusiana dari tubuhnya.


“A…, aku yang harusnya berterimakasih,” Tangan Laurel buru-buru memegang bahu Lusiana yang sedikit terlihat oleng setelah menjauh dari pelukan Feri.


“Ah.., dasar Nia, kenapa harus terburu-buru sih, kamu baik-baik saja Lus?” Feri mengomel pelan.


“Ma…, maaf,” Sambil mengatur nafasnya karena kembali berlarian ke arah mereka, Nia mengucapkan permintaan maafnya.


“Memang kenapa kamu terburu-buru seperti itu?” Mendapat pertanyaan dari Feri yang terlihat sedikit tidak bersahabat Nia tersipu malu, dengan pelan dia mendekatkan bibirnya di telinga Laurel.


“Aku sedang datang bulan, hari pertama, Indah baru saja membawakanku pembalut, maaf, aku permisi dulu,” Nia berbisik pelan di telinga Laurel yang hanya bisa mengangguk pelan dan membiarkan Nia berjalan menjauh ke arah toilet rumah sakit.


“Memang ada apa dengan Nia? Apa ada sesuatu yang salah?” Laurel tersenyum mendengar pertanyaan Feri yang terlihat cukup ketus, dan Laurel tahu pasti itu dikarenakan Nia yang dianggap Feri menyebabkan Lusiana hampir saja terjatuh. Siapa sih yang suka jika melihat gadis yang disukainya terluka karena tindakan sembrono orang lain? Laurel hanya bisa tertawa dalam hati melihat sikap Feri kepada Lusiana.


“Tenang Fer, Nia tidak sengaja, karena memang ada sesuatu yang harus buru-buru diselesaikannya, lagipula Lusiana baik-baik saja, kamu jangan terlalu khawatir,” Mendengar perkataan Laurel, Feri mencoba tersenyum, membuat Lusiana menepuk bahu Feri sambil meringis.


“Tumben sekali kamu perhatian sekali hari ini, mimpi apa aku tadi malam bisa melihatmu begitu perhatian padaku?” Feri melotot mendengar perkataan Lusiana.


“Sial, memang biasanya siapa yang sedikit-sedikit butuh bantuan selalu menelponku?” Lusiana memanyunkan bibirnya mendengar perkataan Feri.


“Iya sih, tapi tetap saja, setiap bantuanmu selalu minta balasan traktiran makan diluar,” Feri melotot mendengar perkataan Lusiana yang disambut oleh pelototan yang tidak kalah garang oleh Lusiana.


Dasar gadis keras kepala, tidak peka, memangnya aku ini laki-laki yang tidak sanggup membeli makanan untukku sendiri, seharusnya kamu tahu aku meminta itu agar aku bisa menghabiskan waktu berdua denganmu, Feri berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

__ADS_1


Laurel dan Roy terkikik melihat tingkah Feri dan Lusiana yang ketika bertemu seperti anjing dan kucing, tapi saat jauh saling mencuri pandang satu sama lain.


Pembicaraan mereka langsung terhenti ketika mobil Dave terlihat masuk ke halaman depan rumah sakit dan berhenti di dekat mereka berempat sedang berdiri. Begitu Dave keluar dari mobilnya, mereka berempat langsung menganggukkan kepala sebagai tanda sapaan dan tanda hormat.


“Pagi bos,” Begitu Dave mendekat ke arah mereka Roy langsung menyapanya, membuat Dave justru ikut bergabung bersama mereka.


Sejak Dave turun dari mobilnya setelah menyapa dengan anggukan kepalanya Laurel sedikit mengalihkan pandangannya, karena mau tidak mau dia harus mengakui bahwa dia yang hampir-hampir tidak pernah melihat Dave memakai pakaian casual (Casual sendiri merupakan gaya berpakaian yang dikenakan di waktu santai. Pakaian casual ini selalu identik dengan kaos, celana jeans, sandal atau sepatu sneakers) seperti hari ini, harus jujur bahwa pakaian casual yang dikenakan oleh Dave pagi ini bukannya mengurangi pesonanya, justru dalam balutan celana jeans biru tua dipadukan dengan kaos bewarna kuning gelap yang bentuknya begitu pas dengan bentuk tubuhnya yang atletis, membuatnya tampak begitu tampan. Belum lagi pagi itu Dave mengenakan kacamata hitam yang membuatnya benar-benar seperti artis dari Hollywood yang sedang bersiap-siap menghabiskan waktunya untuk berlibur.


“Pagi semua, bagaimana kabar kalian pagi ini?” Dave berkata sambil melepaskan kaca mata hitam yang dikenakannya.


“Baik bos,” Dave tersenyum mendengar jawaban mereka yang terdengar begitu bersemangat kecuali tentu saja Laurel yang hanya terdiam tidak menjawabnya, karena sedang sibuk mengalihkan pandangannya, berusaha menghindari dirinya sendiri untuk terus menatap ke arah Dave, dan tindakan Laurel tersebut justru membuat Dave menahan senyumnya karena tanpa disadari oleh Laurel, Dave sempat melihat semburat merah di pipi Laurel ketika mata mereka beradu pandang sekilas sesaat setelah Dave melepas kaca mata hitamnya tadi.


“Come on guys, kita berkumpul sebentar sebelum berangkat!” Suara teriakan dari Mira melalui pengeras suara membuat yang semua yang hadir bergerak mendekat ke arahnya, termasuk Laurel dan yang lain.


“Ok, untuk seluruh peserta liburan, silahkan melihat daftar nama kalian di kaca bagian samping kedua bus pariwisata di depan, di sana kalian akan tahu siapa yang akan menjadi teman sebangku kalian, yang artinya juga merupakan teman sekamar kalian. Untuk bus 1 ketua team saya sendiri, untuk bus 2 ketua team adalah Raga. Jika kalian mengalami kesulitan atau ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami. Untuk denah lokasi, posisi pembagian kamar, jadwal acara kami akan share di grup kita, silahkan mempelajarinya di sana. Kami beri waktu 15 menit untuk memindahkan barang-barang bawaan kalian ke dalam bagasi bus. Ok?”


“Eh, kira-kira bos akan ikut kita naik bus tidak?” Dokter Arman bertanya kepada Hana yang langsung menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak tahu dok, mungkin dia akan berangkat bersama mobilnya sendiri, tadi aku lihat dia membawa sopir,” Hana berjalan mendekat ke arah bus, mencari namanya apakah terdaftar di bus 1 atau bus 2, dan ternyata dia ada di bus 2 bersama beberapa rekan lainnya termasuk Leo, Nia, Arman, Feri dan Raga, sedang Laurel, Lusiana, Mira, Arnold dan Roy dan rekan lainnya ada di bus 1.


Laurel tersenyum melihat namanya tercantum di bus 1, teman sebangkunya adalah Mira, dengan posisi duduk di kursi barisan kedua sebelah kiri, posisi yang sangat disukai oleh Laurel. Di depannya duduk Lusiana dan seorang dokter lain.


“Pagi dok, bolehkan saya duduk di sebelah kanan dokter?” Laurel tersenyum mendengar pertanyaan Mira yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya.


“Dengan senang hati, aku paling suka duduk di dekat jendela,” Laurel langsung mengambil posisi duduknya di dekat jendela, dan langsung menatap keluar jendela sambil tersenyum, membayangkan sudah lama dia tidak melakukan perjalanan untuk berlibur.


“Eh, Mir, teman sebangkuku kenapa belum naik ke bus ya?” Mira yang mendengar pertanyaan dari Lusiana langsung menoleh ke arahnya sambil tersenyum.

__ADS_1


“O, ya? Saya lupa, teman sebangku dokter mendadak tidak bisa ikut berlibur, karena ada saudaranya yang sakit,” Lusiana mengangguk dan langsung kembali duduk di kursinya kembali.


“Dokter Laurel, maaf, sepertinya saya tidak bisa menjadi teman sebangku dokter, karena saya suka mabuk, harus duduk di kursi paling depan, saya akan duduk di sebelah dokter Lusiana,” Laurel sedikit mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Mira.


“Eh, Mir…,”


“Tenang saja, sebentar lagi pasti ada yang menemani dokter Laurel, tung…,” Belum sempat Mira menyelesaikan perkataannya beberapa Pegawai sudah langsung ribut melihat sosok Dave yang tiba-tiba naik ke dalam bus mereka.


“Eh, bos?”


“Bos naik ke bus juga?”


“Wahhh, benar-benar kejutan bos mau bersama kita di naik bus,”


Mendengar bisik-bisik dari para penumpang lain, Laurel langsung menarik nafas dalam-dalam karena sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, sekilas diliriknya wajah Mira yang masih berdiri di sampingnya dan menyungingkan senyum di wajahnya, membuat Laurel semakin yakin apa yang akan terjadi merupakan bagian dari rencana Dave dan Mira.


“Bos, maaf, seharusnya kami panitia sudah mengatur bahwa pria duduk dengan pria, wanita dengan wanita, tetapi karena hanya sisa satu kursi, terpaksa bos duduk di samping dokter Laurel,” Dave tersenyum mendengar penjelasan Mira, sekilas diliriknya Laurel yang wajahnya terlihat jengkel, karena dia tahu pasti semua sudah direncanakan oleh Dave, dan tentu saja dibantu oleh Mira.


"Tidak apa Mir, lagipula awalnya memang aku berencana naik mobil sendiri, tapi setelah aku pikir-pikir tidak ada salahnya sekali-sekali aku menikmati perjalanan dengan menggunakan bus," Mira mengangguk sambil tersenyum menanggapi perkataan Dave.


“Permisi dokter Laurel, hari ini aku akan jadi teman sebangkumu, semoga kita bisa sama-sama menikmati perjalanan kali ini,” Tanpa menunggu jawaban dari Laurel, Dave langsung mengambil posisi duduk di samping kanan Laurel, dan Laurel hanya bisa menghela nafasnya melihat tindakan Dave. Baik Lusiana dan Mira, hanya bisa sama-sama menahan senyumnya melihat kejadian itu.


Selamat menikmati perjalanan indahmu bersama suami tercinta Laurel, Lusiana berbisik dalam hati dengan tetap menahan senyumnya


 


 

__ADS_1


__ADS_2