
Tidak lama setelah Mama Denia memutuskan panggilan telepon dari Dave, terdengar suara nada panggilan dari arah handphone Laurel yang baru saja dinyalakannya, membuat Freya dan Mama Denia langsung tersenyum dengan wajah menggoda, membuat Laurel hanya bisa tersenyum dengan wajah sedikit memerah dan membiarkan handphonenya tetap berbunyi.
"Angkatlah, kasihan suamimu kamu biarkan menunggu lama, nanti diambil orang lho," Melihat Laurel tetap terdiam, mama Denia segera menyuruhnya untuk mengangkat teleponnya yang di layarnya jelas tertulis nama Dave.
Dengan gerakan pelan dan wajah sedikit bersemburat merah Laurel mengangkat panggilan teleponnya. Mama Denia langsung memberi kode kepada Freya untuk segera berjalan meninggalkan Laurel di kamarnya sendiri, membiarkan Laurel dan Dave mengobrol melalui telepon dan tidak ingin mengganggu mereka.
"Hallo," Dengan suara pelan Laurel menjawab panggilan telepon dari Dave.
"Bagaimana kabarmu siang ini mo couisle? Apa kamu sudah menghabiskan waktumu untuk bersenang-senang dengan Mama dan Freya?" Laurel tersenyum geli mendengar pertanyaan dari Dave.
"Kenapa? Apa kamu juga ingin bersenang-senang bersama kami?" Dave tertawa mendengar pertanyaan Laurel.
"Jangan khawatir, aku sudah menyelesaikan semua urusanku, sebentar lagi aku akan segera pulang,"
"Benarkah?" Laurel sedikit membeliakkan matanya mendengar penjelasan dari Dave. Mendengar suara Laurel yang terlihat bahagia membuat Dave menyungingkan senyum di bibirnya sambil sedikit menahan nafasnya. Bahkan hanya dengan mendengar suara Laurel yang terdengar bahagia rasanya hati Dave merasa bergetar, ingin segera pergi untuk menemui Laurel.
Mencintaimu benar-benar membuatku kehilangan akal sehatku, Dave berkata dalam hati sambil memmutar-mutar bolpoin yang ada di tangannya dengan jari-jari tangan kirinya.
"Apa ada sesuatu yang ingin aku bawakan untukmu?"
"Tidak, hari ini Renata mau datang ke sini. Sebenarnya siang ini dia berencana datang ke rumah sakit menemuiku jam istirahat, tapi karena aku tidak masuk kerja, dia akan ke rumah nanti sepulang kerja, karena dia harus memutar jika harus ke sini, jam istirahatnya tidak akan cukup," Dave mengernyitkan alisnya sekilas.
"Renata? Sepupu jauhmu? Yang katamu mempromosikan rumah sakit kita ketika kamu sedang mencari pekerjaan saat mau kembali ke Indonesia?"
"Betul, Renata yang itu...,"
"O ya? Berarti aku harus memberinya hadiah besar karena sudah berhasil membuatmu benar-benar melamar di rumah sakit ini," Laurel meringis mendengar kata-kata Dave.
"Dave..., seriuskah waktu itu kamu tidak terlibat sedikitpun dengan Renata? Kamu tidak mengenal Renata? Tidak dengan sengaja membuatnya mereferensikan rumah sakit Anugrah Indonesia kepadaku?" Dave tertawa tergelak mendengar begitu banyak pertanyaan Laurel yang penuh dengan niat menyelidik.
"Apa kamu berniat melamar kerja sebagai detektif?" Mendengar pertanyaan balik dari Dave, Laurel sedikit memberengut.
"Dave..., jangan bercanda dong,"
"Aku serius, sepertinya kamu pantas menjadi seorang detektif. Menurutmu aku sengaja mengatur agar kamu melamar ke rumah sakit ini?"
"Apa yang tidak mungkin kamu lakukan Dave? Dengan koneksi dan kekuasaanmu, apa yang tidak mungkin kamu lakukan untuk mengatur semua hal seperti itu?" Dave kembali tertawa mendengar perkataan Laurel.
"Sepertinya aku harus mengakui kamu pintar sekali menganalisa, sayangnya kamu melupakan satu hal. Dengan begitu banyaknya pendukungku, untuk mendapatkanmu tidak harus aku sendiri yang turun tangan, justru begitu banyak orang yang menawarkan bantuan kepadaku agar kamu segera kembali padaku. Walaupun aku tidak mengenal Renata, tapi ada yang membantuku membuatnya mau membujukmu untuk melamar kerja di rumah sakit ini," Mata Laurel terbeliak mendengar itu.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau...,"
"Yes, Mama Denia dan Freya yang menyuruhnya membujukmu. Walaupun aku sudah menyiapkan plan B (rencana B) jika seandainya dia tidak berhasil mengarahkanmu ke rumah sakit ini,"
"Maksudmu?"
"Aku tidak akan membiarkan rumah sakit lain menerimamu sehingga pada akhirnya kamu pasti kembali memilih rumah sakit ini,"
"Mr. Shaw!" Laurel sedikit berteriak mendengar perkataan Dave, seperti dugaannya, sejak awal bahkan dari hal yang terkecilpun Dave sudah mengaturnya dengan begitu rapi sehingga dia benar-benar tidak sadar apapun yang dilakukannya, pada akhirnya akan tetap menarik Laurel untuk mendekat ke arah Dave dan kembali ke sisi Dave.
"Ya mo cuisle...," Mendengar teriakan Laurel memanggil nama belakangnya hanya membuat Dave tersenyum karena baginya panggilan itu merupakan panggilan sayang Laurel untuknya, dan dengan nada mesra Dave langsung membalas teriakan Laurel dengan memanggil sebutan sayangnya ke Laurel.
"Ah, aku benar-benar tidak bisa melawanmu ya Dave," Laurel menarik nafas dalam-dalam sambil menggaruk rambutnya.
"Kamu salah mo cusile, justru karena aku yang tidak pernah bisa melawan pesonamu, karena itu aku tidak bisa membiarkanmu menjauh dariku. I love you mo cuisle," Laurel tersenyum mendengar perkataan Dave.
"Dave..., daripada kita mengobrol di telepon, lebih baik kamu cepat pulang ke rumah dan menemaniku,"
"Begitukah? Apa kamu sudah begitu merindukanku? Kalau memang Nyonya Shaw memerintahkan seperti itu, aku mana berani menentang keinginan Nyonya Shaw, aku hanya bisa pasrah...," Dave menghentikan bicaranya sejenak.
Tiba-tiba saja pintu kamar Laurel terbuka perlahan, mendengar itu Laurel langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu, melihat sosok Dave yang sudah berdiri di balik pintu, membuat mata Laurel benar-benar membulat karena kaget.
Begitu Dave berada di samping tempat tidurnya, Dave meletakkan keranjang buahnya di lantai, dan dengan manja Laurel mengulurkan kedua tangannya ke arah Dave yang langsung membungkukkan tubuhnya sambil tersenyum dan membiarkan Laurel memeluk lehernya, sedang dia sendiri langsung memeluk tubuh Laurel dan mengelus-elus punggung Laurel dengan kedua telapak tangannya dengan senyum masih menghias bibirnya.
"I miss u Dave," Dave langsung mengecup puncak kepala Laurel mendengar pernyataan Laurel barusan.
"Sepertinya sekarang kamu menjadi sangat manja," Dave berkat sambil melepaskan pelukannya dan mengambil posisi duduk di pinggiran tempat tidur.
"Tidak boleh?" Laurel berkata sambil sedikit memiringkan kepalanya dengan sedikit memajukan bibirnya.
"Tidak perlu aku jawab kan? Mana mungkin aku keberatan?" Laurel langsung terkikik mendengar jawaban dari Dave.
"Apa semua urusanmu lancar hari ini?"
"Kalau belum lancar tidak mungkin aku ada di sini sekarang," Dave meraih sebuah jeruk, mengupas dan membersihkannya, lalu menyuapkan ke Laurel, membuat Laurel teringat akan sesuatu.
"Dave, apa dulu kamu pernah mengirimkan jeruk dan roti manis isi daging di meja kerjaku?" Dave yang sedang membersihkan jeruk di tangannya langsung menoleh mendengar pertanyaan Laurel.
"Kenapa? Apa ada seseorang yang begitu perduli padamu sehingga mengirimkan sebuah roti manis isi daging dan jeruk saat Bosmu menghalangi makan siangmu dengan memanggilnya ke kantornya?" Dave berkata lirih sambil membiarkan hidungnya yang mancung menempel di pipi Laurel, menikmati bau harum minyak kayu putih yang tadi sempat dioleskan Laurel hampir ke seluruh tubuhnya agar merasa hangat.
__ADS_1
"Dave..., berarti benar kamu kan yang waktu itu mengirimkannya? Karena hanya kamu yang tahu aku tidak mungkin sempat makan siang di kantin karena panggilan ke kantormu,"
"Bau harummu seperti bau harum bayi," Dave bukannya menjawab pertanyaan Laurel justru sibuk menikmati bau harum dari minyak kayu putih yang tersebar melalui tubuh Laurel.
"Dave...," Laurel langsung memanggil nama suaminya dengan lembut dan mesra begitu Dave tidak memberikan tanggapan atas pertanyaannya yang sempat membuatnya begitu penasaran.
"Roti manis isi daging dengan keju mozarella dan taburan oregano di dalamnya? Bukannya itu roti favoritmu? Selama di Amerika rasanya kamu senang sekali dengan roti manis isi daging. Dan jeruk? Bukannya itu juga salah satu buah kesukaanmu?" Dave kembali tidak menjawab pertanyaan Laurel apakah dia yang mengirimkannya roti manis waktu itu, namun dari kata-kata Dave yang menyebutkan dengan begitu detail tentang roti yang dimakannya saat itu Laurel langsung tersenyum.
"Terimakasih untuk traktiran roti manis isi dagingnya waktu itu Bos," Laurel berkata sambil menjauhkan pipinya dari hidung Dave yang hampir saja menyatakan protesnya karena Laurel menjauh darinya yang sedang menikmati apa yang sedang dilakukannya. Namun Dave langsung membatalkan niatnya untuk memprotes Laurel karena dengan gerakan cepat Laurel mencium bibir Dave dengan mesra dengan tangan kiri Laurel memeluk pinggang Dave, dan tangan kanannya mengelus lembut kepala bagian belakang sampai ke tengkuk Dave, membuat Dave harus menahan nafasnya sambil menelan ludahnya untuk menahan gairahnya, dan memilih untuk memejamkan matanya sambil menikmati kehangatan dan kemesraan dari tindakan Laurel padanya.
# # # # # # #
Bau harum dari sabun setelah Laurel keluar dari kamar mandi spontan membuat Dave menoleh ke arah sumber bau harum tersebut.
"Kamu sudah selesai mandinya?" Laurel yang baru keluar dari kamar mandi mengangguk sambil berjalan ke arah Dave yang duduk di sofa ruang tamu sambil memandang ke arah Laurel yang tampak segar setelah mandi dan mengenakan baju santai berupa kaos tanpa kerah berlengan pendek dan celana kain sepanjang tiga perempat kaki.
Selain Dave di sana duduk Mama Denia dan Freya sambil menikmati kue bolu kukus yang ada di atas meja ruang tamu.
“Apa kamu belum mau mandi Dave?”
“Nanti saja, ada yang mau kutunjukkan kepadamu sebentar. Ayo Ma, Freya, kita ke sana sebentar,” Dave bangkit dari duduknya, menarik pergelangan tangan Laurel dan mengajaknya ke arah ruangan kecil diantara dapur dan ruang tamu.
Begitu sampai di sana Laurel terbeliak, dipandanginya dinding ruangan itu yang ternyata sudah berlubang, membuat rumah mereka terhubung dengan rumah yang ada di sebelah rumah mereka. Begitu Laurel memasuki salah satu ruangan di rumah itu, Laurel bisa melihat bahwa seluruh dinding ruangan dilapisi oleh wallpaper dinding dengan design yang terlihat mewah.
(Wallpaper dinding merupakan salah satu alternatif bahan pelapis dinding yang populer saat ini. Awalnya terbuat dari bahan kertas. Kini, kualitas wallpaper dinding jauh lebih baik daripada saat pertama kali diproduksi. Seiring perkembangan teknologi, diproduksilah berbagai macam wallpaper dinding dengan bahan yang beraneka seperti vinyl, kain, foil dan serat alam. Sekarang ini wallpaper dinding tak hanya dipakai untuk menghias rumah tinggal yang mewah maupun ruang publik seperti hotel, pertokoan dan rumah sakit. Wallpaper dinding kini sudah banyak dijumpai diaplikasikan pada hunian sederhana sekalipun)
“Dave…,”
“Ayo kita lihat, apakah kamu menyukai desain rumah ini,” Kepala Laurel langsung mendongak, memandang ke arah Dave.
“Apa maksudnya ini Dave? Kenapa tiba-tiba saja kedua rumah ini menjadi satu?” Melihat Dave tidak ada keinginan untuk menjawab pertanyaannya, Laurel menoleh ke arah Mama Denia, mencoba mencari penjelasan.
“Tadi pagi Dave membeli rumah sebelah dan merenovasinya, lalu menggabungkan kedua rumah ini,” Mata Laurel terbeliak mendengar jawaban dari mamanya. Rumah lama mereka memang merupakan rumah berukuran kecil yang sederhana, tapi rumah di samping rumah mereka merupakan salah satu rumah mewah yang ada di lingkungan RT mereka dan pemiliknya merupakan salah satu orang yang terkenal pelit dan tidak mau bertegur sapa dengan para tetangga yang seringkali dianggapnya kurang selevel dengannya.
“Pak Armo? Menjual rumah ini? Dave…,” Laurel langsung memandang Dave dengan mata menyelidik.
“Apa ada yang salah jika aku memberikan hadiah kepada mertuaku? Tanda ucapan terimakasih karena telah merelakan anaknya untuk menjadi istriku, setelah merawatnya dengan begitu baik selama bertahun-tahun,” Mendengar penjelasan dari Dave, Laurel hanya bisa diam terpaku, tidak menyangka Dave akan memberikan hadiah rumah mewah untuk Mama Denia.
“Bagaimana kamu membuat Pak Armo mau menjual rumahnya padamu? Setahuku Pak Armo bukan orang yang mudah untuk di nego,” Dave mengangkat kedua bahunya mendengar pertanyaan Laurel.
__ADS_1
“Tidak ada, aku hanya bilang kalau mau aku mau membeli rumahnya dua kali lipat dari harga pasaran tertingginya, kalau dia tidak mau, aku akan membeli sekaligus tiga rumah yang ada di sisi lain, di samping rumah Mama Denia dan membangunnya bahkan lebih mewah dari rumah ini,” Mendengar kata-kata Dave, tangan Laurel langsung bergerak untuk memukul bahu Dave yang langsung dengan sigap menangkap tangan Laurel dan menciumnya lembut sambil tertawa pelan.