
"Ambil ini," Lusiana menyodorkan sekotak dimsum jenis har gow yang sengaja dibawanya dari rumah ke arah Laurel.
(Dimsum adalah makanan ringan/kudapan khas masyarakat Cina. Dim sum sendiri adalah pengucapan dari masyarakat Hongkong yang rata2 berbahasa Kanton. Dimsum disajikan dengan steamer dari bambu, menjadi salah satu jenis kuliner yang sangat akrab dengan orang Indonesia. Dahulu kala, masyarakat China menyajikan dimsum sebagai salah satu kuliner wajib dalam acara-acara besar dan peringatan khusus. Meski merupakan bagian dari bentuk penyajian khas Tionghoa, dimsum sudah sangat familiar di berbagai negara. Penyajiannya menyesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Di Indonesia sendiri, dimsum bisa ditemukan dengan mudah. 10 dimsum yang paling disukai di tanah air : tofu skin roll (kulit bungkusannya tidak menggunakan adonan tapioka, melainkan dari tahu), steamed meatball (kata sederhananya adalah bakso), spring roll (berisi sayur dan daging yang menjadi satu dalam spring roll), spare ribs (dimsum yang dibuat dengan bahan dasar daging), mantau (memiliki rasa seperti bakpao tapi tidak memiliki isian), char siu baau (roti isi merupakan nama lain dari char siu baau. Isiannya dapat berupa kacang dan sayuran atau daging), shumai (bisa dibilang mirip siomay, kadang berisi udang), lotus leaf rice (dimsum jenis ini dibungkus oleh daun teratai, berisi beras, daging cincang, jamur, dan bumbu khas yang dikukus bersamaan), har gow (dimsum ini berisi cacahan udang segar dan dibungkus adonan tepung yang tipis), phoenix claws (ceker ayam dengan bumbu kecap dan rempah-rempah, dengan rasa spicy).
"Enak," Laurel langsung berkomentar setelah mengambil salah satu dimsum di depannya, dan memakannya dengan lahap. Lusiana terlihat senang melihat bagaimana Laurel melahap masakan dari tantenya yang kebetulan kemarin sore berkunjung ke rumahnya. Dan begitu melihat masakan dimsum tantenya yang terkenal enak, Lusiana langsung teringat akan Laurel.
"Makanlah yang banyak, aku sengaja membawakannya untukmu karena tahu kamu pasti akan menyukainya," Nia dan Indah ikut tersenyum melihat bagaimana Laurel menikmati dimsum yang dibawakan Lusiana untuknya.
"Ayolah, kalian juga ikut makan," Laurel sedikit menjauhkan kotak berisi dimsum dari hadapannya.
"No..., ini untuk debay (adik bayi)," Nia langsung menyodorkan kembali kotak bekal Lusiana berisi dimsum ke hadapan Laurel, dengan Indah dan Lusiana yang langsung mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan Nia.
"Hei, kalian pikir sebanyak itu makanku?" Laurel memanyunkan bibirnya dengan mata sedikit melotot untuk menyatakan protes kepada teman-temannya.
"Tidak ada yang akan berani menyalahkan kalau seorang ibu hamil makan dengan porsi jumbo. Kan yang makan jadi dua orang, maklum dong jatah makannya bertambah," Indah menanggapi protes dari Laurel sambil menahan tawanya melihat Laurel langsung menyipitkan matanya sambil memberengut.
"Kalian sengaja ingin membuatku gendut ya? Supaya hanya kalian saja yang terlihat memiliki bentuk tubuh ideal?”
"Apa Bos keberatan kalau kamu jadi gendut? Lagian mana mungkin ibu hamil tidak gendut? Tunggu saja beberapa bulan lagi," Lusiana berkata sambil tersenyum geli, menggoda Laurel.
"Aku tidak pernah keberatan istriku menjadi gendut apalagi karena hamil," Mendengar suara yang begitu mereka kenal dari arah samping tempat mereka duduk bersama, keempat dokter yang sedang bercanda di kantin langsung menoleh kaget dengan sedikit mendongakkan kepalanya, memandang ke arah Dave yang tiba-tiba sudah berdiri di samping meja mereka.
"Selamat siang, boleh aku bergabung?" Ketiga teman Laurel langsung menganggukkan kepalanya menyatakan setuju dengan permintaan Dave, sedang Laurel sedikit mengernyitkan dahinya, tanda protes kenapa Dave tiba-tiba muncul diantara mereka padahal kemarin sore Dave sudah mengijinkan dia untuk hari ini menghabiskan waktu makan siang bersama dengan teman-temannya.
Dave langsung menarik sebuah kursi dan meletakkannya tepat di samping Laurel dan duduk di kursi itu. Dan begitu duduk di sebelah Laurel, Dave langsung mendekatkan bibirnya ke arah telinga Laurel.
"Aku menginjinkanmu menghabiskan waktu makan siangmu dengan teman-temanmu, tapi aku tidak menjanjikan untuk aku tidak ikut bergabung bersama dengan kalian," Laurel sedikit melotot mendengar bisikan pelan dari Dave di telinganya, namun melihat senyum geli di wajah teman-temannya, Laurel langsung membuat wajahnya kembali menjadi senormal mungkin, agar teman-temannya tidak semakin menggodanya.
__ADS_1
Dasar Dave, kamu selalu saja tidak mau kalah, selalu mencari cara agar seolah-olah melepaskanku tapi dengan erat kamu tetap mengikatku. Seperti istilah melepaskan kepalanya tapi tetap memegang erat ekornya, Laurel berkata dalam hati sambil menahan senyumnya melihat bagaimana Dave sudah membuatnya tidak berkutik dengan keberadaannya diantara mereka berempat.
"Cobalah ini, Lusiana yang membawanya," Laurel menyodorkan kotak bekal berisi dimsum ke arah Dave yang langsung mengambilnya dan memakannya, dan langsung mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda dia menikmati makanan itu.
"Enak Lus, kamu yang memasaknya?" Lusiana langsung tertawa mendengar pertanyaan Dave.
"Mana mungkin Bos? Saya tidak ada bakat memasak sama sekali, adanya bakat makan saja. Itu Tante saya yang membuatnya, kemarin sore Tante mengantarnya. Saya langsung teringat calon keponakan di perut Laurel," Dave tertawa mendengar penjelasan Lusiana yang terkenal ceplas-ceplos saat berbicara, selalu berbicara apa adanya.
"Dokter Laurel beruntung sekali calon bayimu punya banyak Tante yang begitu perduli padanya," Laurel hanya bisa tersenyum mendengar kata-kata godaan dari Dave.
"Bos, sebentar lagi acara pesta perayaan pernikahan Bos dengan Laurel, sampai kapan Laurel tetap masuk kerja? Apa ada yang bisa kami bantu Bos?" Nia bertanya sambil memandang ke arah Dave yang tampak duduk dengan santai dengan kaki kanannya menumpu di atas kaki kirinya, dan kedua tangannya terlipat di depan perutnya, di sebelah Laurel yang lebih memilih untuk melanjutkan menikmati makan siangnya.
"Kenapa Nia? Apa kamu tidak kenal dengan dokter Laurel yang sulit sekali untuk diminta beristirahat di rumah? Jangankan dalam keadaan sehat seperti hari ini. Dengan kondisi kurang sehat pun dia pasti akan bersikeras untuk tetap masuk kerja," Baik Nia, Lusiana maupun Indah hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Dave yang matanya tampak melirik ke arah Laurel yang baru saja disindirnya, membuat Laurel langsung menghentikan makannya dan menoleh ke arah Dave dengan senyum manis di bibirnya.
"Maaf Bos, bukannya Bos tahu biaya pernikahan tidak murah, jadi saya harus bekerja keras mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan saya, apalagi kalau terlalu sering mengajukan ijin, saya benar-benar takut dengan alasan karena sering ijin saya dipecat oleh Bos saya. Kalau sudah seperti itu, setelah pesta pernikahan saya makan apa Bos?" Dave langsung menarik nafas panjang sambil menggaruk keningnya, karena Laurel yang membalas godaannya dengan sukses, sedikit membuatnya tidak berkutik, membuatnya harus berpikir dengan cepat untuk membalas perkataan Laurel.
"Kalau begitu minta makan saja kepada Bosmu. Bilang saja kalau dia berani memecatmu dia harus bertanggung jawab untuk keperluan hidupmu, apalagi dia juga yang harus bertanggung jawab untuk bayi yang ada di perutmu sekarang," Dave berkata sambil dengan gerakan pelan meraih gelas minuman milik Laurel dan meneguknya dengan santai.
# # # # # # #
"Sore Meria, bagaimana kabarmu?" Meria melirik ke arah Laurel yang baru saja masuk ke dalam ruangannya sambil membawa sekeranjang besar buah segar dengan kedua tangannya.
"Sore Kak Laurel, dimana Kak Dave?" Meria tersenyum dengan manis ke arah Laurel walaupun dalam hati merasa sedikit jengkel dan kecewa dengan kehadiran Laurel yang tampak sendirian, tidak terlihat tanda-tanda adanya Dave yang datang bersamanya.
"Maaf, Dave sedang sibuk di rumah sakit. Dia sengaja memintaku untuk mengunjungimu lebih dahulu untuk melihat keadaanmu. Jika ada waktu, mungkin besok atau lusa Dave akan datang menjengukmu," Laurel berjalan mendekat, meletakkan sekeranjang buah segar di meja kecil dekat tempat tidur Meria, diikuti oleh pandangan mata Meria yang mulai tidak bisa menahan rasa tidak sukanya melihat kedatangan Laurel yang tidak disangka-sangkanya sedangkan dia begitu mengharapkan Dave yang datang menjenguknya, tentu saja sebisa mungkin tanpa mengajak Laurel, yang keberadaannya seringkali membuat dadanya terasa panas.
Bahkan waktu itu Meria sudah dengan susah payah sengaja mengatur bagaimana agar Dave datang menjenguknya sendirian dengn berpura-pura pingsan saat pesta ulang tahun Leo diadakan. Namun pada akhirnya rencananya gagal total, dan sampai hari ini Meria tidak tahu dengan jelas apa alasan yang membuat Dave tidak datang kepadanya malam itu, bahkan sejak malam itu Dave belum pernah sekalipun menhubungi apalagi menjenguknya.
__ADS_1
"Kak Laurel, apa Kakak sengaja menjauhkan aku dengan Kak Dave?" Laurel yang baru saja meletakkan keranjang buah yang dibawanya sedikit tersentak mendengar pertanyaan Meria yang terdengar tidak bersahabat.
"Tentu saja tidak. Dave dan kamu sudah lama saling mengenal, tidak ada alasan bagiku untuk menghalangi persahabatan kalian. Aku juga memiliki teman masa kecil yang sudah seperti saudara bagiku. Dave pun pasti tidak akan menghalangi persahabatanku dengan para teman masa kecilku," Laurel menjawab pertanyaan Meria dengan senyum di wajahnya, walaupun dia bisa melihat tatapan Meria yang mulai berubah sedikit sinis kepadanya.
Tanpa Dave di sisiku ternyata wajahmu tidak seramah dan selembut yang biasa kamu tunjukkan kepada orang-orang yang ada di sekelilingmu selama ini. Aku bukan wanita yang lemah lembut sepertimu, tapi paling tidak aku tidak pernah berpura-pura di hadapan orang lain. Saat aku suka atau tidak, sedih atau bahagia, aku tidak akan berusaha menjadi seorang artis yang mencoba menyembunyikan perasaanku. Kita lihat sampai seberapa jauh kamu sanggup untuk tetap berpura-pura, Laurel berbisik dalam hati dan tetap menjaga agar dirinya tidak terpancing oleh kata-kata Meria.
"Apa hubunganmu dengan Dave selama ini cukup dekat? Maaf, aku tidak terlalu mengerti hubunganmu dengan Dave sedekat apa karena Dave juga tidak pernah menceritakan padaku tentang kamu. Setelah pesta di rumah besar, itu pertama kalinya kita bertemu dan Dave menjelaskan tentang siapa kamu sebagai teman masa kecil adik-adiknya," Perkataan Laurel yang diucapkan dengan nada tenang justru sukses membuat Meria membeliakkan matanya.
"Kakak pikir Kakak lebih mengerti tentang Kak Dave? Bahkan Kakak baru saja kembali ke sisinya belum ada setengah tahun. Bagaimana Kak Laurel bisa menyamakan hubunganku dengan Kak Dave yang sudah terjalin sejak kami masih kecil?" Laurel mendekat ke arah Meria dengan langkah tenang.
"Jangan emosi Mer, kondisimu sedang tidak sehat. Jangan membuat dirimu sendiri dalam bahaya karena emosimu," Laurel mencoba menyentuh tangan Meria, namun dengan kasar Meria langsung menampik tangan Laurel yang hanya bisa mengelus pelan tangannya yang terasa sedikit sakit akibat perbuatan Meria, membuat Laurel seketika membatalkan niatnya untuk menyentuh Meria.
Selama ini aku begitu percaya kamu memiliki perasaan yang tulus kepada Dave sebagai seorang sahabat, tapi ternyata aku terlalu percaya pada aktingmu. Hari ini aku akan membuatmu membuka kedok aslimu, Laurel berbisik pelan dalam hati sambil berjalan mundur sebanyak dua langkah.
"Maaf kalau kedatanganku justru membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin tahu kondisi kesehatanmu, mungkin ada yang bisa aku bantu untuk meringankan sakitmu," Meria kembali melirik dengan tatapan tajam ke arah Laurel.
Kalau begitu ingin membantuku, lepaskan Kak Dave, serahkan kepadaku. Aku tahu Kak Dave bukan barang yang bisa dengan begitu saja dipindah tangankan. Namun tanpa keberadaanmu, paling tidak Kak Dave akan mau mengarahkan pandangan matanya kepadaku, Meria berkata dalam hati sambil memandang ke arah Laurel, mengamatinya dari ujung kaki sampai kepala.
Mau tidak mau Meria harus mengakui bahwa wanita yang ada di depannya sekarang adalah sosok seorang wanita yang sangat cantik dan wajahnya terlihat begitu menyenangkan untuk dilihat. Melihat sosok Laurel tidak mengherankan kalau banyak laki-laki yang begitu tertarik padanya, tetapi bagi Meria, dia tidak bisa menerima kenyataan itu selama laki-laki yang menyukai Laurel itu Dave, bukan laki-laki lain.
"Kak Laurel, apa Kakak yang sengaja menghalangi Kak Dave untuk menjenguk dan menemuiku?" Laurel sedikit mengernyitkan dahinya, melihat bagaimana tatapan mata Meria yang melihatnya dengan aura sinis dan tidak suka.
"Aku tidak pernah menghalangi Dave melakukan apapun yang menurutnya baik. Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Meria bangkit dari tempat tidurnya, sambil melepas infus di pergelangan tangannya dengan kasar, membuat Laurel tersentak kaget karena tidak menyangka dengan tindakan Meria yang baginya terlihat begitu nekat dengan kondisinya, jika benar dia sedang dalam kondisi sakit seperti yang diceritakan oleh Dave selama ini.
"Meria! Apa yang kamu lakukan! Itu bahaya untuk dirimu sendiri! Tolong jangan bertindak gegabah seperti itu. Kendalikan emosimu," Laurel berkata sambil berjalan mendekat ke arah Meria, mencoba menghalangi apa yang dilakukan oleh Meria.
"Masa bodoh! Toh Kak Dave tidak ada di sini untuk melihatku! Percuma aku berpura-pura baik di depan Kak Laurel!" Dengan gerakan kasar Meria turun dari ranjang rumah sakitnya, dengan infus yang sudah terlepas dari tangannya.
__ADS_1
"Aku benci kamu! Berani-beraninya kamu menjadi penghalang antara aku dan Kak Dave! Laki-laki yang begitu aku cintai sejak lama! Seharusnya kamu tidak pernah muncul di hadapan Kak Dave dan merebutnya dariku!" Meria berteriak sambil berjalan mendekat ke arah Laurel yang tertegun di tempatnya dengan wajah masih begitu kaget karena tindakan Meria, apalagi Meria sudah mulai memanggilnya dengan sebutan kamu, tidak lagi Kak Laurel.
Sambil berjalan ke arah Laurel, tangan kanan Meria meraih vas bunga yang ada di meja yang ada di dekat tempat tidurnya dan berniat menghantamkannya ke arah Laurel.