
"Datanglah ke rumah besar bersama yang lain sekarang. Ada yang harus kita selesaikan sekarang," Dave menarik nafas panjang mendengar perintah dengan nada suara tegas dari papanya.
"Baik, kami ke sana sekarang," Augistin Shaw memutuskan sambungan teleponnya setelah Dave mengatakan kesediaannya untuk pergi ke rumah besar bersama yang lain.
"Ayo ke rumah besar, papa sedang menunggu kita semua ke sana," Dave sedikit membungkukkan tubuhnya, meraih pergelangan tangan Laurel untuk mengajaknya berdiri dan segera membawanya berjalan keluar dari ruang keluarga.
Di belakang Dave dan Laurel, Evelyn dan Leo segera bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti langkah-langkah Dave ke arah mobilnya yang terparkir di depan rumah Mama Denia. Dave langsung memberi kode kepada Odi untuk menjalankan mobilnya, sedang Evelyn yang tadinya dijemput oleh Leo dari restauran miliknya, sebelum mereka berdua menemui Dave, mengikuti langkah-langkah Leo untuk masuk ke mobil Leo yang langsung mengendarai mobilnya mengikuti mobil Dave menuju rumah besar.
# # # # # # #
Begitu Odi menghentikan mobil yang dikendarainya bersama tuannya Dave dan Laurel di halaman depan rumah besar yang terlihat begitu luas, Dave melirik ke arah beberapa mobil yang tampak terparkir rapi di depan halaman rumah besar.
Sepertinya akan ada kejadian besar malam ini, Dave berkata dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam, mencoba mempersiapkan dirinya untuk apa yang akan terjadi ke depannya.
Untuk beberapa saat Dave tetap duduk diam di dalam mobilnya dengan Laurel yang duduk di sampingnya juga memilih untuk tidak mengeluarkan suara sama sekali.
"Mo cuisle," Mendengar Dave yang tiba-tiba memanggilnya dengan suara pelan, Laurel langsung menoleh ke arah Dave.
"Aku tidak tahu kenapa papa memanggil kita, tapi apapun yang terjadi nanti, jangan biarkan dirimu tertekan. Jangan sampai emosimu terpancing, ingat bayi kecil kita. Sebenarnya aku tidak ingin mengajakmu untuk masuk ke dalam rumah besar. Aku tidak mau kamu tertekan, tapi sepertinya kehadiranmu diperlukan di rumah besar malam ini," Dave berkata sambil tangannya mengelus lembut perut Laurel yang langsung memegang punggung telapak tangan Dave yang sedang berada di perutnya.
"Semua akan baik-baik saja Dave. Dan jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Selama ada kamu di sisiku, apalagi yang aku khawatirkan dan aku takutkan," Dave tersenyum, dan dengan gerakan cepat diciumnya pipi Laurel dengan mesra, seolah berusaha mentransfer kekuatan kepada Laurel.
"Ayo kita turun menemui papa," Dave menjauhkan tubuhnya dari Laurel, membuka pintu mobilnya dan keluar dengan menggandeng tangan Laurel.
__ADS_1
Begitu memasuki ruang tamu rumah besar Dave melihat sudah banyak orang berkumpul di situ. Mulai dari Mama Rosalia, Meria, Papa Meria, Mama Meria, bahkan kedua kakak Meria bersama dengan pasangannya, membuat Dave mengernyitkan keningnya kenapa keluarga besar Meria datang ke sini malam-malam. Namun, ketika pandangan mata Dave menyapu sekeliling ruangan itu, tidak dilihatnya sosok papanya, Augistin Shaw.
Ketika Dave, Laurel, Leo dan Evelyn memasuki ruang tamu, suasana tegang dan dingin begitu terasa. Mama Rosalia yang biasanya berwajah ramah, malam ini terlihat tegang dengan tatapan mata dipenuhi oleh kemarahan dengan sesekali memandang ke arah Meria sambil menahan nafasnya. Dave melirik ke arah semua anggota keluarga Meria yang tampak terdiam, bahkan Papa dan Mama Meria terlihat lebih memilih untuk menundukkan kepalanya, seolah-olah sedang menantikan keputusan hakim atas kejahatan yang sudah mereka lakukan.
Dave memilih untuk duduk dengan posisi sedikit menjauh dari kumpulan orang-orang yang sudah ada lebih dahulu di ruangan itu, terutama duduk jauh dari posisi Meria. Sekilas Dave melirik ke arah Meria yang wajahnya terlihat lesu bahkan boleh dibilang berantakan, tidak ada senyum, tidak ada kelembutan dan keanggunan yang selama ini selalu melekat padanya. Dan melihat wajah gadis itu membuat Dave harus menarik nafas dalam-dalam karena kemarahan kembali memenuhi dadanya. Mengingat bagaimana Meria melakukan hal buruk yang hampir saja melukai Laurel, bahkan sejak dua tahun lalu. Laurel hanya bisa mengikuti apa yang dilakukan Dave, duduk di samping kiri Dave dengan jarak yang terlihat lumayan jauh dengan mereka semua yang ada di situ tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Evelyn berjalan mendekat ke arah Mama Rosalia dan memilih untuk duduk di samping mamanya, sedang Leo memilih untuk duduk di samping kanan Dave. Rasanya hari ini perasaan Leo kurang lebih sama dengan Dave, begitu malas melihat keberadaan Meria dengan seluruh anggota keluarga besarnya yang sebagian besar bahkan datang dari Singapura. Baik Dave maupun Leo sudah bisa menerka bahwa kedatangan mereka semua pasti ada hubungannya dengan Meria, mengharapkan keluarga Shaw mau memaafkan Meria.
Rasa antipati Leo dan Dave terhadap Meria semakin besar mengingat kejadian tadi di rumah sakit, apalagi setelah melihat apa yang terjadi hari ini di kamar rumah sakit tempat Meria dirawat, dan malam ini Meria duduk di ruangan itu dengan tidak menunjukkan tanda-tanda seperti seseorang yang sedang menderita kanker otak. Ah, tentu saja tidak terlihat seperti orang sakit, karena memang dia tidak sakit, mengingat hal itu kembali membuat Dave mengepalkan tangannya karena menahan amarah di dadanya.
Semua yang ada di ruangan itu tidak ada satupun yang berani mengeluarkan suaranya sampai terdengar suara langkah-langkah kaki seseorang yang begitu dikenal oleh Dave. Suara langkah kaki dari papanya yang melangkah memasuki ruangan tempat mereka berkumpul dengan wajah datar namun menunjukkan wibawa dan ketegasannya.
"Selamat malam," Augistin Shaw mengucapkan selamat malam dan langsung mengambil posisi duduk di sebuah kursi besar yang berada di tengah-tengah ruangan itu. Kursi itu dikhususkan untuk diduduki oleh satu orang saja, dengan bentuknya yang terlihat kokoh, megah dan mewah, dengan sandaran kursi yang menjulang tinggi, sehingga siapapun yang duduk di sana jika dilihat dari arah belakang kursi itu pasti seluruh tubuhnya akan tertutup oleh sandaran kursi itu. Kursi itu adalah kursi yang biasa digunakan oleh Augistin Shaw saat ada tamu kerhormatan yang datang, saat menegur para pegawainya atau saat menasehati atau mengumumkan sesuatu yang penting kepada anak-anaknya jika mereka berkumpul di ruang tamu rumah besar.
Bagaimanapun keberadaan Perusahaan Mulia selama ini berhasil karena banyaknya dukungan dari pihak Shaw Corporation, bahkan beberapa kali saat mereka mengalami kesulitan keuangan dengan mudahnya mereka mendapatkan suntikan dana dari pihak Perusahaan Shaw tanpa perlu pusing memikirkan bagaimana cara pembayaran ataupun tenggang waktu pembayaran pinjaman mereka. Ketergantungan Perusahaan Mulia terhadap keluarga Shaw begitu besar, sehingga saat hari ini mereka mendengar begitu marahnya Augistin Shaw akibat karena tindakan Meria, seluruh anggota keluarga Meria bahkan rela untuk langsung terbang ke Indonesia untuk menemui Augistin Shaw dan meminta maaf atas perbuatan Meria.
"Augistin...," Mendengar Papa Meria menyebutkan namanya, Augistin memandang ke arahnya dengan tatapan dingin, tidak lagi ada kehangatan di pancaran mata Augistin yang menunjukkan persahabatan mereka.
"Malam ini kami sengaja datang ke rumah ini dengan seluruh anggota keluarga kami untuk mewakili Meria meminta maaf atas kejadian tidak menyenangkan yang sudah dilakukan oleh Meria. Dia masih terlalu muda dan belum mengerti tentang bagaimana menjadi seorang gadis dewasa yang bertanggung jawab," Mama Rosalia membeliakkan matanya mendengar perkataan Papa Meria.
Mama Rosalia sebenarnya menyayangi Meria bahkan sudah menganggap Meria sebagai salah satu anggota keluarganya. Namun setelah Mama Rosalia mendengar dari Evelyn tentang semua peristiwa kebohongan Meria tentang penyakitnya, tentang tindakan Meria hari ini yang hampir saja melukai Laurel dengan vas bunga, bahkan peristiwa dua tahun lalu yang dilakukan Meria terhadap Dave dan Laurel membuatnya benar-benar kecewa.
"Usia bukan alasan untuk kamu membiarkan Meria melakukan hal buruk semacam itu. Bahkan bisa-bisanya dia berpikir untuk memisahkan anak dan menantuku bahkan sejak dua tahun lalu dengan rencana sekotor itu!" Mama Rosalia berkata dengan nada cukup tinggi, membuat Evelyn langsung mengelus lembut lengan mamanya agar tidak terlalu terbawa emosi.
__ADS_1
Wajah Mama Rosalia begitu memerah karena menahan marah, bagaimana mungkin dia bisa menganggap seorang Meria yang hatinya benar-benar jahat sebagai anaknya sendiri, bahkan sempat membela Meria di depan Laurel agar tidak perlu cemburu dengan keberadaan Meria yang menyukai Dave. Mama Rosalia mendengus kesal, andai saja dia tahu peristiwa dua tahun lalu, dia tidak akan membiarkan sedetikpun Meria untuk bertemu lagi dengan anggota Keluarga Shaw, apalagi bertemu Dave.
Augistin Shaw melirik ke arah Mama Rosalia sambil menghela nafasnya, merasa maklum melihat istrinya terlihat begitu marah setelah mengetahui apa yang dilakukan Meria, apalagi istrinya merupakan mama yang begitu menyayangi dan melindungi anak-anaknya, terutama Dave yang selama ini dianggapnya sebagai anak tertua yang selalu mengalah dengan yang lain. Ditambah lagi keberadaan Laurel di sisi Dave akhir-akhir ini membuat istrinya terlihat begitu bahagia, karena beban pikirannya selama tujuh tahun tentang kondisi Dave bisa terlepas dari pundaknya. Dan kebahagiaan Mama Rosalia semakin sempurna begitu mendengar tentang berita kehamilan Laurel. Begitu mendengar tentang bagaimana Meria memperlakukan Laurel yang sedang mengandung calon cucunya tentu saja membuat Mama Rosalia begitu marah dan kecewa.
Dua tahun lalu Augistin sengaja menutup-nutupi perbuatan Meria dari Dave dan Mama Rosalia karena tidak ingin ada kebencian diantara mereka, tidak ingin persahabatannya kedua keluarga besar yang sudah terpupuk selama puluhan tahun hancur begitu saja, Toh, saat itu Augistin berpikir bahwa tidak satupun dari rencana Meria berhasil, baik rencana busuknya terhadap Laurel maupun Dave. Saat itu Augistin hanya ingin memberi kesempatan Meria yang masih begitu muda untuk menyesali perbuatannya, tapi dia benar-benar tidak menyangka jika Meria datang kembali ke tengah-tengah mereka dengan merencanakan sesuatu yang jahat kembali.
“Augistin, Rosalia…, tolong maafkan kesalahan Meria kami. Aku yakin dia akan berubah, tolong berikan kesempatan sekali lagi kepadanya,” Mama Meria berkata dengan wajah yang terlihat begitu memelas. Mama Rosalia hampir saja mengeluarkan kata-kata pedasnya, namun Augistin langsung kembali menegaskan sikapnya.
“Dua tahun lalu, aku sudah memberikan kesempatan kepada Meria untuk bertobat dan menyesali perbuatannya. Tapi hari ini kita semua tahu dia kembali merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Dave dan Laurel. Sudah cukup bagi kami keluarga Shaw memberikan sekali kesempatan kepada seseorang untuk memperbaiki kesalahannya,” Augistin berkata dengan nada tenang namun tegas, membuat Mama Meria mengarahkan matanya ke arah Mama Rosalia.
“Rosalia, tolong maafkan kami, maafkan Meria…,” Melihat bagaimana wajah memelas Mama Meria dan kata-kata permohonannya, Mama Rosalia menarik nafas dalam-dalam.
“Sudah cukup dua tahun lalu Meria berniat mencelakakan Laurel dan Dave. Kesempatan yang diberikan oleh keluarga kami bukan membuatnya berubah, justru dimanfaatkannya untuk menyusun rencana baru! Kita sama-sama wanita, sama-sama seorang mama. Bagaimana aku membiarkan seseorang berusaha merusak dan mencelakakan anak dan menantuku! Bahkan hari ini dia bukan hanya berencana menjebak Dave, tapi berusaha mencelakakan menantu dan calon cucuku!” Mama Rosalia bekata dengan nada sedikit tinggi untuk menumpahkan kekesalan dalam hatinya.
“Plakk…,” Sebuah suara tamparan keras terdengar di tengah-tengah ruangan.
Dengan keras Papa Meria menampar pipi Meria begitu mendengar tentang kondisi Laurel yang sedang hamil dan Meria hampir saja melukainya, membuat hampir semua mata yang hadir di ruangan itu terbeliak kaget. Semua benar-benar tidak menyangka Papa Meria akan bertindak sejauh itu.
“Pa…,” Meria berbisik pelan sambil memegang pipinya yang terasa begitu sakit setelah tamparan keras dari papanya.
“Anak kurang ajar! Berani sekali kamu menyerang wanita yang sedang hamil! Apa kamu lahir dari batu hah! Cepat minta maaf kepada mereka semua,” Papa Meria berteriak keras sambil menunjuk ke arah semua anggota keluarga Shaw, agar Meria meminta maaf.
Papa Meria benar-benar tidak menyangka bahwa saat ini Laurel sedang mengandung anak dari Dave, jika saja dia tahu tentang itu, pasti dia tidak akan membiarkan Meria melakukan hal yang berakibat fatal seperti ini, karena dia bisa memastikan bahwa Augistin Shaw pasti tidak akan membiarkan siapapun menyakiti apalagi menyerang menantunya yang sedang mengandung calon cucunya.
__ADS_1
Papa Meria menarik nafas panjang menahan marah melihat bagaimana Meria tetap diam di tempatnya tanpa ada niat untuk meminta maaf. Dengan gerakan cepat tangannya kembali terarah untuk menampar Meria lagi, namun Mama Meria buru-buru memegang tangan suaminya untuk mencegahnya kembali menampar Meria, karena baginya kesalahan itu bukan semata-mata kesalahan Meria, tapi kesalahan seluruh anggota keluarganya karena terlalu berambisi untuk menjadi bagian dari keluarga Shaw.