CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
KEBERADAANMU KADANG MEMBUATKU LUPA SEGALANYA


__ADS_3

“Thank you for your love, mo cuisle,” Dave mencium lembut bibir Laurel sebelum dia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah walk in closet di kamarnya, mengambil pakaian bersih untuk dikenakannya. Sedang Laurel memilih untuk mengenakan kembali pakaian yang dia kenakan sebelumnya, setelah itu mengambil pakaian Dave yang berserakan baik di tempat tidur maupun di lantai, lalu meletakkannya di bak di dekat kamar mandi yang memang diperuntukkan untuk meletakkan pakaian kotor, lalu merapikan kembali sprei dan selimut tempat tidur yang terlihat berantakan.


“Kenapa kamu sibuk membereskan itu? Nanti Bi Yuni akan datang jam 5 sore untuk membereskan rumah kembali,” Dave yang sempat melihat Laurel yang sibuk membereskan pakaiannya dan tempat tidur berkata sambil sibuk merapikan pakaian yang dikenakannya, memasukkannya ke dalam celana panjangnya, lalu mengenakan sabuknya.


“Istt, memangnya kamu tidak malu, orang lain yang harus membereskan bekas perbuatan kita berdua? Lagipula kamu tidak malu jika orang mulai bergosip bahwa di jam istirahat kita bahkan sempat-sempatnya kita melakukan itu?” Dave langsung tertawa mendengar perkataan Laurel yang ada benarnya.


“Mereka akan mengerti jika mereka tahu bahwa kita adalah pasangan pengantin baru, walaupun sudah menikah 7 tahun lalu,” Dave menanggapi perkataan Laurel sambil menggerakkan kepalanya ke belakang agar bisa melihat sosok Laurel dari arah walk in closetnya.


Begitu Dave selesai berpakaian, dia langsung mendekat ke arah Laurel yang sedang menyisir rambutnya,dan langsung memeluk pinggang Laurel dari belakang.


“Asal lain kali kamu juga tidak keberatan mengulang lagi apa yang kita lakukan seperti hari ini, aku akan menuruti apapun yang kamu ingin lakukan. Tapi, kenapa kamu tidak berganti pakaian?” Laurel yang memandang wajah Dave melalui pantulan cermin di depannya, hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan dari Dave.


“Apa kata orang kalau ada yang menyadari aku berganti pakaian setelah keluar dari kantormu? Lagipula aku tidak membawa baju cadangan untuk aku pakai,” Dave tertawa mendengar apa yang dikatakan Laurel.


“Siapa bilang tidak ada pakaianmu di sini? Semua pakaian yang ada di lemari kamar yang pernah kamu tempati adalah pakaianmu,” Laurel membeliakkan matanya mendengar itu.


“Sejak kapan kamu menyiapkan itu? Bukannya kamu bilang semua pakaian itu milik adikmu? Berarti itu milik Evelyn kan?” Dave tersenyum mendengar semua pertanyaan dari Laurel.


“Begitu aku mendengar kamu akan kembali ke Indonesia, harapan terbesarku adalah kamu mau bekerja di rumah sakit ini. Dan jika kamu bekerja di sini, artinya, kamu tidak akan bisa menghindar, suatu ketika pasti kamu menginjakkan kakimu di rumah ini. Karena itu aku sengaja menyiapkan kamar dan segala keperluanmu. Agar sewaktu-waktu jika kamu membutuhkannya semua sudah tersedia,” Laurel tertegun mendengar penjelasan dari Dave, tidak menyangka bahwa sejak awal Dave sudah menyiapkan segala yang terbaik untuknya.


“Mr. Shaw, bagaimana kamu begitu ahli dalam membuat hatiku berdebar dan bibirku kehilangan kata-kata,” Dave langsung tersenyum geli mendengar itu.


“Karena memang hatimu ditakdirkan untuk menjadi milikku, dan hanya akan bergetar karena aku, bukan orang lain,” Laurel langsung tertawa mendengar kata-kata balasan dari Dave.

__ADS_1


“Bosku yang dingin, ternyata justru menyimpan api yang bisa membuatku terbakar,” Dave langsung mencubit pipi Laurel dengan gemas mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Laurel. Bagi Dave, Laurel benar-benar merupakan satu-satunya wanita yang begitu menggoda baginya, apalagi sejak mereka bersama, Laurel begitu pandai membuat hatinya bergejolak karena sikap dan kata-kata Laurel yang seringkali sengaja menggoda jiwa laki-lakinya.


“Sebelum pergi, ambil ini,” Dave meraih tangan Laurel dan meletakkan sesuatu di telapak tangannya, membuat Laurel langsung melihat apa yang diberikan Dave ke tangannya.


“Kunci kantorku dan rumah ini. Sewaktu-waktu kamu membutuhkan sesuatu atau mau beristirahat, kamu bisa menggunakan kunci itu untuk membukanya. Tapi jangan biarkan seorangpun menggunakan kunci itu selain kamu sendiri,” Laurel tersenyum mendengar apa yang dikatakan Dave.


“Kenapa? Bukannya Mira juga memegang kunci yang sama?” Dave memperat pelukannya ke tubuh Laurel.


“Dia tidak akan berani membuka kantor ataupun rumahku tanpa perintahku. Dia hanya berhak memegang kunci itu tapi tidak berhak menggunakannya,” Laurel sedikit mengernyitkan dahinya mendengar itu, karena tiba-tiba dia teringat sesuatu.


“Tapi, malam itu, saat kamu sakit, Mira memberikan kunci kantormu untuk memintaku mengirimkan makanan ke rumah ini,” Dave tersenyum mendengar Laurel mengatakan itu.


“Sejak awal, Mira sudah tahu kalau kamu adalah istriku, menurutmu? Siapa pegawai di rumah sakit ini yang berani memerintah istri dari pimpinannya?” Dave berbisik pelan di telinga Laurel, setelah itu Dave mengecup telinga Laurel dengan lembut.


“Istriku benar-benar wanita yang polos dan penurut sekali. Saat itu aku hanya mencobanya bersama Mira, tidak menyangka kalau kamu benar-benar akan datang kepadaku dengan wajah khawatir malam itu,” Dave melepaskan pelukannya dan menggerakkan tubuh Laurel sehingga mereka saling berhadap-hadapan.


“Kehadiranmu malam itu, merupakan hadiah ulang tahun terbaik yang pernah aku terima seumur hidupku, apalagi ciuman malam itu…,”


“Waktu kita sudah hampir habis,” Laurel buru-buru memotong perkataan Dave yang sukses membuat wajahnya memerah, karena Dave mengingatkannya lagi tentang kejadian malam itu, dan apa yang ditakutkan oleh Laurel jika mereka terus membahas tentang itu, dia tidak menjamin baik dirinya sendiri ataupun Dave tidak tergoda untuk kembali melakukakan sesuatu berdua di tempat tidur.


“Aku sudah selesai, ayo kita ke bawah,” Laurel berkata sambil berjalan melangkah keluar dari kamar Dave yang langsung meraih remote dan mengembalikan warna dinding di kamarnya menjadi tembus pandang kembali sambil tersenyum melihat bagaimana Laurel berusaha menghindari topik pembicaraan ke arah yang berbau romantis di antara mereka berdua.


Dengan sedikit bergegas Laurel berjalan menjauhi kamar Dave, berjalan ke arah ruang tamu rumah kaca. Sekilas diliriknya makanan yang ada di meja dapur.

__ADS_1


“Laurel, jangan lewatkan makan siangmu,” Dave langsung memanggil Laurel yang berencana langsung keluar dari rumah kaca karena diliriknya jam sudah menunjukkan tepat pukul 12:55 siang, yang artinya, jam istirahat mereka sudah hampir berakhir, tidak ada lagi waktu untuk menikmati makan siangnya bersama Dave.


“Tidak sempat lagi Dave, nanti sore saja,” Mendengar penolakan Laurel, Dave langsung meraih apel dan roti manis di meja dapur, dan langsung berlari ke arah Laurel yang sudah meraih handle pintu rumah kaca dan membukanya.


“Setidaknya makan ini, kamu harus selalu menjaga kesehatan, agar secepatnya calon anak kita bisa hadir di sini,” Tangan Dave bergerak dengan cepat menyentuh perut Laurel bagian bawah, membuat Laurel sedikit tersentak, namun setelah itu dia langsung tersenyum.


“Semoga doamu segera terkabul,” Laurel menjawab perkataan Dave, setelah itu dengan cepat digigitnya apel yang baru saja diberikan Dave kepadanya.


# # # # # # #


Begitu Dave membuka pintu kantornya, berencana membiarkan Laurel meninggalkan kantornya karena jam istirahat mereka telah berakhir, bahkan sudah terlewat 5 menit, wajah Dave langsung tersentak kaget, apalagi Laurel yang berdiri di belakang tubuh Dave, karena begitu pintu kantornya terbuka, di sana tampak Nia, Lusiana, Mira dan Indah sudah berdiri di balik pintu, seolah-olah memang sengaja menunggu di sana.


“Kenapa kalian berkumpul di depan pintu kantorku?” Dave bertanya dengan dahinya yang berkerut karena tidak menyangka dengan kehadiran keempat pegawainya secara bersamaan di depan pintu kantornya.


“Eh, apa Bos lupa tentang hari ini?” Mira bertanya dengan suara pelan.


“Memang ada peristiwa apa hari ini?” Mendengar pertanyaan balik dari Dave, mereka berempat hanya bisa saling berpandang-pandangan, sementara Laurel yang berdiri di balik tubuh Dave hanya bisa mendengarkan mereka tanpa mengerti apa yang sedang mereka bicarakan karena sudah beberapa hari dia tidak masuk bekerja.


“Maaf Bos, hanya mengingatkan, bukannya hari ini Bos ada janji pertemuan dengan Pak Roni untuk melakukan pengecekan rutin ruang insenerator rumah sakit kita tadi jam 12:30?” Mira mengingatkan tentang jadwal Dave yang sudah terlewat lebih dari 30 menit dari jadwal yang sudah diaturkan Mira sebelumnya.


(Insenerator / Incinerator adalah suatu alat pembakar sampah yang di operasikan dengan menggunakan teknologi pembakaran pada suhu tertentu, sehingga sampah dapat terbakar habis. Sedangkan teknologinya disebut dengan insinerasi. Insinerasi atau pembakaran sampah adalah teknologi pengolahan sampah yang melibatkan pembakaran bahan organik. Insinerasi dan pengolahan sampah bertemperatur tinggi lainnya didefinisikan sebagai pengolahan termal. Insinerasi material sampah mengubah sampah menjadi abu, gas sisa hasil pembakaran, partikulat, dan panas).


 

__ADS_1


 


__ADS_2