
“Bunga apa ini? Tentu saja mawar aku tahu, tapi tiga bunga yang lain aku tidak mengenalnya, Laurel menunjuk ke arah buket bunga di depannya, yang berisi bunga mawar dan tiga bunga lain, yang sengaja Laurel tanyakan kepada Dave, karena Laurel ingat tentang jam dinding hadiah dari Dave ketika dia pindah rumah, dari bentuknya sepertinya sama dengan dua bunga yang sekarang terangkai bersama bunga mawar di depannya.
“Itu bunga gerbera, peony dan melati madagaskar,” Laurel tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, sedang Dave langsung tersenyum sambil melihat ke arah buket bunga itu, karena gerbera, peony dan melati madagaskar merupakan bunga istimewa baginya. Bunga yang artinya merupakan perwakilan dari harapan dan perasaannya kepada Laurel selama ini.
(Bunga peony mewakili karakter berkelas dan natural. Bunga ini juga melambangkan keberuntungan, dan dikenal sebagai bunga kemakmuran dan kehormatan. Peony juga terkadang dikaitkan dengan pengundang jodoh dan keabadian pernikahan. Bunga melati madagaskar disebut pula dengan istilah bunga stephanotis. Bunganya berbentuk sederhana, mungil dan cantik. Bunga ini hanya memiliki satu arti yang sangat jelas yaitu, kebahagiaan pernikahan. Inilah mengapa melati madagaskar / stephanotis sangat cocok jadi bunga pilihan untuk pesta pernikahan ataupun anniversary pernikahan. Bunga gerbera, bunga yang satu ini mungkin sering dijumpai tapi orang seringkali tidak pernah benar-benar tahu nama dari bunga ini. Bunga gerbera merupakan bunga potong yang paling sering diperdagangkan bersama dengan bugna mawar, anyelir, seruni dan juga tulip. Bunga ini melambangkan cinta yang sudah lama terikat, cocok untuk diberikan kepada pasangan saat hubungan mereka sudah berlangsung lama atau mereka memiliki keinginan untuk menikah. Bunga gerbera juga melambangkan kesetiaan kepada pasangan, serta meyakinkan pasangan kalau si pemberi bunga akan berada disisi pasangannya sampai maut memisahkan).
“Besok pagi aku akan berangkat ke Irlandia, malam ini aku sengaja menemuimu untuk sekalian berpamitan padamu,” Laurel memandang ke arah Dave yang memandang ke arahnya dengan lembut, membuatnya segera mengalihkan padangan matanya kembali, agar Dave tidak melihat saat ini dia begitu gugup berada di dekat laki-laki itu.
“Semoga urusanmu lancar disana, dan kamu tetap sehat saat kembali ke sini,”
“Terimakasih doanya, aku harap kamu bisa memikirkan baik-baik tentang apa yang aku katakan tadi siang, harapanku kamu bisa menerima perasaanku,” Laurel tersenyum mendengarkan Dave mengingatkannya akan janjinya.
“Kalau kamu ragu, apa kita perlu menulis surat perjanjian di atas materai?” Dave sedikit tertawa mendengar perkataan Laurel, dan baru saja dia berencana untuk membalas perkataan Laurel sampai mereka berdua mendengar suara benda yang terjatuh dari arah lemari di dekat ruang tamu, dan begitu mereka menoleh, mereka melihat Freya dan Evelyn yang jatuh ke lantai dengan tubuh saling menindih dan tampak tersenyum dengan wajah malu karena ketahuan telah menguping pembicaraan mereka. Dengan bergegas baik Freya dan Evelyn bangkit berdiri dan buru-buru masuk ke dalam rumah.
"Ma..., maaf, adik-adikku tingkahnya masih seperti anak kecil," Laurel buru-buru meminta maaf kepada Dave melihat tindakan Freya dan Evelyn yang justru membuat Dave merasa senang karena dengan Laurel menyebut Freya dan Evelyn adik-adiknya berarti Laurel juga sudah menganggap Evelyn sebagai adiknya juga.
# # # # # # #
Bagaimana kabarmu siang ini? Jaga kesehatanmu, jangan melewatkan makan siangmu, Laurel tersenyum membaca pesan dari Dave, diliriknya jam di dinding yang menunjukkan pukul 12 siang, berarti di Irlandia saat ini masih pukul 6 pagi. Sejak kemarin Dave menginjakkan kaki di kota Dublin, Irlandia, yang pertama kali dilakukan oleh Dave adalah memberikan kabar kepada Laurel bahwa dia sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat.
Karena Dave melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat jet pribadi dia datang lebih awal, kurang lebih 2 jam daripada menggunakan pesawat komersial kelas satu (first class) pada umumnya, namun bagaimanapun harusnya Dave mengambil waktu beristirahat sebentar, tapi ternyata hal pertama yang diingatnya adalah Laurel.
(Umumnya, terdapat tiga kelas layanan pesawat, yaitu kelas ekonomi, bisnis, dan kelas satu (first class). Layanan kelas bisnis dan first class dalam pesawat berada di baris paling depan dengan tingkat privasi yang lebih tinggi dan layanan yang lebih personal dibandingkan dengan kelas ekonomi).
__ADS_1
Walaupun Laurel belum memberikan jawaban apapun terhadap perasaan Dave, sepertinya Dave sudah memperlakukannya seperti seorang kekasih. Hampir di setiap kesempatan Dave mengirim pesan, walaupun tidak ada satu pesan pun dari Dave yang mengarah ke sesuatu yang berbau romantis tapi dari setiap pesan-pesannya menunjukkan bahwa laki-laki itu begitu perduli dan perhatian dengan Laurel.
"Hei, sedang melamunkan siapa?" Laurel tersentak kaget mendengar suara Lusiana yang langsung masuk ke kantornya tanpa mengetuk pintu kantornya.
"Tidak ada," Laurel menjawab pelan dengan pipi sedikit memerah, membuat Lusiana langsung tersenyum geli.
"Apa kamu sedang merindukan bos?" Laurel sedikit membeliakkan matanya mendengar pertanyaan dari Lusiana.
"Apa maksudmu? Jangan mengigau di siang bolong," Lusiana hanya tersenyum mendengar teguran dari Laurel.
"Kapan bos kembali ke Indonesia?"
"5 hari lagi," Laurel menjawab singkat pertanyaan Lusiana yang justru membuat Lusiana tertawa terbahak-bahak.
"Apa kubilang? Aku tidak percaya kamu tidak memiliki hubungan apapun dengan bos. Kamu tahu? Setiap orang di rumah sakit ini yang aku tanya kapan bos kembali ke Indonesia, tidak ada satupun yang bisa menjawabnya, tapi kamu bisa dengan pasti menyebutkannya," Mata Laurel melotot, merasa sudah terjebak oleh Lusiana.
"Ayolah, aku tahu sejak pertama kali kedatanganmu di rumah sakit ini, pandangan mata bos tidak pernah sekalipun lepas darimu. Apa kamu tidak punya perasaan sedikitpun kepada bos?" Lusiana memiringkan kepalanya ke samping dengan wajah tersenyum menggoda, apalagi melihat respon Laurel yang terlihat salah tingkah.
"Jangan bergosip," Laurel berkata sambil berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghindari Lusiana melihat perubahan pada wajahnya.
"Kamu mungkin bisa membodohi orang lain, tapi tidak denganku. Mataku cukup tajam dan awas untuk bisa melihat bagaimana kamu seringkali salah tingkah jika ada bos di dekatmu," Lusiana berkata sambil menepuk bahu Laurel dengan lembut.
"Aku sudah hampir 3 tahun bekerja disini. Sejak dua tahun lalu bos mengambil alih kepemimpinan rumah sakit ini aku belum pernah melihat dia dekat atau memandang seorang gadis seperti dia memandangmu. Walaupun dokter Hana selalu ada di dekatnya, aku bahkan tidak pernah melihat sekalipun mata bos memandangnya seperti bos memandang ke arahmu. Berapa kali aku pernah melihat bos memandang diam-diam ke arahmu dengan senyuman di wajahnya. Sejak kedatanganmu di sini, entah dengan yang lain, tapi aku merasa bos yang sekarang lebih ceria dibandingkan dengan dulu ketika aku pertama bertemu dengannya 2 tahun lalu," Laurel tersenyum mendengar penjelasan Lusiana.
__ADS_1
"Bos orang yang baik dan selalu menjadi idola bagi semua pegawai di sini, tidak ada yang bisa mengalahkan kepandaian dan keperduliannya terhadap para pegawai bahkan para pasiennya, biarpun murah senyum bos orang yang tidak banyak bicara dan pendiam, tapi sejak ada kamu sepertinya kamu menularkan aura ceriamu kepada bos," Lusiana mencubit pipi Laurel pelan.
"Ceritakan padaku, apa benar semua yang aku katakan?" Laurel menarik nafas dalam-dalam mendengar pertanyaan Lusiana, membuat Lusiana sedikit mengernyitkan dahinya.
"Ada apa denganmu? Apa ada sesuatu yang buruk yang terjadi? Kalau kamu percaya padaku, kamu bisa ceritakan masalahmu padaku, jangan mencoba menanggung bebanmu sendirian apalagi saat kamu merasa itu sudah terlalu berat buatmu," Laurel menarik lengan Lusiana, menariknya, mengajaknya untuk duduk di kursi bersamanya, dia memandangi wajah Lusiana dalam-dalam, setelah berapa lama ini mengenal Lusiana, Laurel merasa dia merupakan sahabat yang baik, membuatnya berpikir untuk dapat menceritakan apa yang sedang dialaminya saat ini.
"Aku ingin menceritakan sesuatu padamu, tapi aku mohon, apa yang akan aku ceritakan ini bukan untuk konsumsi publik, aku tidak mengharapkan orang lain mengetahui tentang ini," Lusiana mengangguk sebagai tanda mengiyakan permintaan Laurel.
Mendengar cerita dari Laurel, beberapa kali Lusiana harus menarik nafas panjang. Dia tidak menyangka sama sekali di balik sifat ceria Laurel dan wajahnya yang selalu tersenyum tersimpan beban yang berat. Bagi Lusiana jika dia berada di posisi Laurel belum tentu dia kuat untuk menanggung beban seperti itu. Laurel yang dilahirkan dalam keluarga kaya raya harus mengalami keterpurukan dalam hitungan bulan, kehilangan ayah tercintanya untuk selama-lamanya, dipaksa menikah dengan seseorang yang belum dia kenal demi bisa membayar seluruh hutang keluarganya, bahkan belum sempat dia meminta maaf karena pergi di hari pernikahannya, suaminya sudah meninggal, belum lagi dia harus lari ke negeri asing untuk mencapai mimpinya.
Lusiana sedikit menahan nafasnya, setelah mendengar kisah hidup Laurel, walaupun dia bukan dari keluarga milyuner, tapi paling tidak orang tuanya mewariskan usaha properti yang cukup besar untuk menunjang kehidupannya selama ini, dan dia tidak pernah merasakan kekurangan, jika itu berhubungan dengan yang namanya uang.
"Tapi Laurel, kamu bilang sejak awal bos tahu kamu sudah pernah menikah?" Laurel menganggukkan kepalanya.
"Kalau memang begitu berarti bos tidak mempermasalahkan statusmu kan?"
"Bos berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya, aku merasa tidak pantas menjadi pendampingnya, apalagi menghadapi keluarga besarnya dengan statusku," Lusiana mengelus pundak Laurel lembut.
"Aku ingin menjalin hubungan dengan laki-laki dengan latar belakang biasa-biasa saja, terlalu berat jika harus menjalin hubungan dengan laki-laki sehebat bos," Lusiana tersenyum sambil memandang dalam-dalam ke arah wajah Laurel.
"Jangan menyiksa dirimu sendiri, kenapa tidak mencoba menjalaninya kalau kamu benar-benar mencintai bos? Aku yakin bos adalah laki-laki yang bisa bertanggung jawab terhadap hubungan kalian dan bisa melindungimu,"
"Lebih mudah dikatakan daripada dijalani," Lusiana tertawa kecil mendengar sanggahan dari Laurel.
__ADS_1
"Dalam 5 hari ini pikirkan baik-baik tentang perasaanmu, apa benar kamu rela melepaskan kesempatanmu untuk bersama bos, apa benar keberadaan bos tidak berarti apa-apa bagimu? Apa kamu benar tidak merasakan apa-apa saat bos tidak ada di sisimu? Apa kamu rela jika bos bersama gadis lain atau bahkan menjadi milik gadis lain? Tanya saja pada hatimu apa benar perasaanmu kepada bos hanya sekecil ini," Lusiana berkata sambil menyatukan jari telunjuk dan jempolnya tangan kanannya dan mengarahkannya ke wajah Laurel.
Mendengar perkataan Lusiana, Laurel sedikit memegang dadanya, dia harus jujur pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan rela jika Dave mengalihkan hatinya pada gadis lain, dadanya terasa begitu sakit membayangkan Dave bersama gadis lain. Entah sejak kapan, tapi sekarang rasanya sosok Dave begitu memenuhi hati dan pikirannya.