
Laurel memandang ke arah luar jendela taksi yang sedang ditumpanginya. Sambil tersenyum, dielusnya perutnya sekilas sambil memejamkan matanya sebentar, membayangkan wajah Dave yang bisa dipastikannya akan tersenyum lebar mendengar berita tentang keberadaan calon anak mereka.
Akhirnya sampai sekarang Mama belum bisa memberitahukan keberadaanmu kepada Papamu. Tunggulah, malam ini kita berdua akan sama-sama melihat wajah bahagia papamu ketika mengetahui tentang keberadaanmu sayang, Laurel berkata dalam hati sambil salah satu jari-jari tangannya bergerak ke arah keningnya dan mulai memijit lembut keningnya untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya yang sepertinya belum mau pergi.
Laurel melirik ke arah sopir taksi yang sedang mengemudi di kursi pengemudi, melihat sosok pria yang menjadi sopir taksi yang ditumpanginya terlihat berusia sekitar pertengahan 60 an, Laurel yang awalnya ingin meminta agar kecepatan mobil ditambah akhirnya membatalkan niatnya, apalagi ketika dilihatnya sesekali sopir taksi itu terlihat mengelap keringat dingin di dahinya sedangkan mereka sedang berada di dalam mobil ber AC, membuat Laurel sedikit mengernyitkan alisnya, mencoba menebak apa yang sedang dialami oleh sopir taksi yang ditumpanginya.
Laurel kembali memandang ke arah luar jendela, ketika tiba-tiba dirasakannya rasa mual yang tiba-tiba muncul. Dengan gerakan pelan Laurel mengambil tissue dari dalam tasnya untuk menutup mulutnya yang terasa sedikit pahit dan menahan agar rasa mualnya tidak membuatnya menumpahkan isi perutnya di dalam taksi.
"Pak, berhenti di depan sana ya, di rumah berpagar warna kuning," Laurel mengarahkan telunjuknya ke rumah berpagar kuning yang ada di sebelah kanan jalanan sempit itu dengan sedikit menarik nafas lega karena akhirnya sampai di tujuan dengan selamat.
"Baik Non," Sopir itu menjawab dengan sopan.
"Tidak perlu menyeberang pak, berhenti saja di sebelah kiri, nanti saya menyeberang sendiri," Sopir taksi segera memperlambat laju mobilnya dan menepi di sebelah kiri.
"Ini pak, ambil saja kembaliannya," Laurel menyerahkan empat lembar uang seratus ribuan ke arah sopir taksi yang melihatnya dengan mata sedikit terbeliak.
"Tapi Non, uang ini terlalu banyak. Bahkan dengan selembar uang ini lebih dari cukup membayar ongkos taksinya Non," Laurel yang awalnya sudah hampir menutup pintu taksi kembali, melongokkan kepalanya ke dalam mobil dan memandang ke arah sopir taksi yang menoleh ke arahnya sambil tangannya tetap memegang uang yang diberikannya.
"Tidak apa-apa, buat Bapak saja. Kalau ada waktu, Bapak coba pergi ke dokter untuk memeriksakan kondisi Bapak, sepertinya bapak sedang kurang sehat. Terimakasih sudah mengantar saya Pak," Mendengar kata-kata Laurel, sopir taksi itu hanya bisa melongo.
__ADS_1
"Terimakasih banyak Non," Akhirnya hanya kata-kata itu yang bisa diucapkan oleh sopir taksi kepada Laurel yang tersenyum sambil mengangguk, setelah itu Laurel menutup pintu mobill dan berjalan menyeberang ke arah rumahnya, tanpa menoleh lagi ke arah sopir taksi yang terlihat masih termangu karena tidak percaya dengan lembaran uang yang ada di tangannya.
Jarum jam menunjukkan pukul 10 malam ketika Laurel melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dengan cepat dibukanya tasnya untuk mencari kunci duplikat rumah yang selalu dibawanya walaupun dia sudah tidak tinggal di sini lagi. Beberapa kali Laurel menggerak-gerakkan tangannya, merogoh tasnya sambil matanya sibuk mencari-cari kunci dari dalam tasnya, sengaja tidak mau menekan bel rumah karena tidak ingin mengganggu kalau-kalau Mama Denia ternyata sudah tertidur, sedangkan Freya, Laurel yakin masih sibuk di cafenya.
Laurel yang terlalu sibuk mencari kuncinya langsung tersentak kaget begitu merasa tangannya ditarik oleh seorang dengan keras dan kasar, membuatnya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Dengan mata terbeliak Laurel menatap laki-laki yang sedang memegang pergelangan tangannya dengan begitu kuat, laki-laki yang memiliki mata hitam tajam dan dingin dengan masker terpasang di wajahnya.
Belum sempat Laurel sadar dari rasa kagetnya, laki-laki itu menariknya dengan kasar ke arah sebuah mobil bewarna hitam yang terparkir berada tidak jauh dari pagar rumah Laurel.
“Lepaskan aku! Apa maumu?” Laki-laki itu terlihat tidak perduli dengan teriakan Laurel, tetap berusaha menarik tubuh Laurel untuk mendekat ke arah mobil hitam itu.
Ketika laki-laki itu berusaha memaksanya masuk ke dalam mobil, Laurel tersentak kaget karena suara rem yang terdengar berdecit dengan keras dari arah berlawanan dengan posisi mobil yang sedang terparkir milik laki-laki yang menyeretnya, dilihatnya beberapa mobil dengan kecepatan tinggi berhenti mendadak di dekat rumahnya, dan dilihatnya sosok Dave yang langsung keluar dari mobil dan berlari kencang ke arahnya dan dengan gerakan cepat langsung memukul laki-laki yang sedang mendorong tubuh Laurel, untuk memaksanya masuk ke dalam mobil, disusul oleh Leo dan beberapa pria yang tidak dikenal oleh Laurel ikut berlari ke arahnya.
Pukulan Dave ke arah wajah laki-laki tersebut sukses membuat laki-laki itu kaget dan dengan spontan melepaskan cengkeraman tangannya di tangan Laurel yang langsung berusaha menjauh dari sosok laki-laki itu dengan cepat, dengan tubuh merapat ke arah pagar rumahnya.
Dengan cepat Dave melirik ke arah Laurel yang wajahnya tampak pucat pasi, membuat Dave tanpa sadar langsung melepaskan cengkeraman tangannya di leher baju laki-laki bermasker tersebut dan tanpa perduli lagi dengan laki-laki itu Dave berlari ke arah Laurel yang terlihat sudah tidak bisa lagi menahan tubuhnya sendiri.
"Ini untuk balasan karena berani-beraninya sudah menyakiti Laurel!" Begitu Dave menjauh, dengan gerakan tangan yang cepat, Leo langsung memukul wajah laki-laki bermasker itu dengan kuat, membuat laki-laki itu sedikit terhuyung, dan membersihkan noda darah yang terlihat mengotori bibirnya. Namun laki-laki itu langsung bersiap untuk menyerang balik Leo. Leo hampir saja kembali memberikan pukulannya jika tidak dihentikan oleh Detektif Eka dan timnya yang langsung berusaha memegang tubuh mereka berdua, baik Leo dan laki-laki itu agar tidak melanjutkan perkelahian itu.
Mata Laurel memandang ke sekelilingnya sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba semakin terasa begitu sakit. Tiba-tiba saja pandangan mata Laurel terasa berkunang-kunang, dan tidak berapa lama kemudian membuatnya merasa pemandangan yang dilihat oleh mata di sekelilingnya tiba-tiba menjadi gelap, dan sebelum tubuhnya terjatuh dengan sigap Dave langsung menahan tubuh Laurel dan langsung menggendong sambil memeluk tubuh Laurel yang ada di gendongannya dengan erat dengan wajah penuh kekhawatiran karena melihat Laurel yang tiba-tiba saja pingsan.
__ADS_1
# # # # # # #
Karena mendengar suara ribut di depan rumahnya, Mama Denia yang kebetulan sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat kue besok subuh mengintip dari balik jendela rumahnya dengan menyibakkan sedikit tirai jendela. Begitu Mama Denia melihat sosok Laurel dan Dave di depan pagar rumah, Mama Denia langsung berlari keluar dari rumah dengan wajah bercampur antara kaget, tidak percaya, takut, khawatir sekaligus tegang, apalagi melihat Laurel yang tidak sadarkan diri dalam gendongan Dave.
"Dave, kenapa dengan Laurel?" Mama Denia yang baru saja membuka pintu gerbang langsung menyingkir untuk menjauh begitu melihat Dave yang sedang menggendong tubuh Laurel dengan sedikit berlari masuk ke dalam rumah. Setelah kembali menutup pagar rumahnya, Mama Denia bergegas mengikuti langkah-langkah Dave ke dalam rumah.
"Dave, bawa Laurel masuk ke kamar yang biasa ditempatinya dengan Freya," Mama Denia langsung menunjuk ke arah pintu kamar yang dulunya ditempati oleh Freya dan Laurel, begitu melihat Dave berencana meletakkan tubuh Laurel ke atas sofa.
Rumah yang ditempati oleh Mama Denia dan Freya merupakan rumah sederhana yang hanya memiliki dua buah kamar yang tidak terlalu besar. satu kamar digunakan oleh Mama Denia, satunya lagi ditempati oleh Freya dan Laurel sebelum Laurel menikah dan pergi ke Amerika. Setelah Laurel pindah ke rumah peninggalan papanya, saat Laurel merindukan Freya dan Mama Denia dia akan pulang dan tidur bersama Freya seperti biasanya. Bahkan walaupun Laurel tidak sering menginap di sana, Freya tetap membiarkan barang-barang Laurel berada di kamar itu bersama dengan barang-barang miliknya, agar Laurel tetap merasa nyaman tinggal di kamar itu.
Begitu Dave membaringkan Laurel di atas tempat tidur, Dave membungkukkan tubuhnya, meletakkan punggung tangannya ke dahi Laurel yang terasa sedikit hangat. Mama Denia yang sedari tadi memandang dengan wajah khawatir mendekat ke arah Dave.
"Apa Laurel baik-baik saja? Kenapa dia bisa pingsan di depan rumah Dave? Apa yang sedang terjadi? Kenapa tadi terjadi keributan di luar rumah?" Mata Dave yang awalnya terfokus pada Laurel, akhirnya menoleh ke arah Mama Denia.
"Orang yang waktu itu menusuk Laurel, hari ini bermaksud menyakiti Laurel lagi. Tapi Mama tidak perlu khawatir, diluar ada orang-orang yang akan mengurusnya. Ma, Laurel sedikit demam, bisakah aku minta diambilkan air hangat dan kain untuk mengompresnya?" Mama Denia terbeliak mendengar penjelasan singkat dari Dave, kemudian dengan buru-buru dia keluar dari kamar untuk mengambil apa yang diminta oleh Dave.
Dave menarik kursi pendek di dekat meja rias kecil yang ada di samping tempat tidur tempat Laurel terbaring. Begitu duduk di samping tempat tidur Laurel, Dave membungkukkan tubuhnya ke arah Laurel, diraihnya tangan kanan Laurel untuk mendekat ke arahnya, digenggamnya tangan itu erat-erat menggunakan kedua tangannya yang terkatup, dengan kedua siku tangan Dave menumpu pada kedua pahanya.
Maafkan aku mo cuisle, maafkan aku..., Dave berkata dalam hati sambil menahan gejolak di dadanya yang membuat nafasnya sedikit tersengal-sengal. Geraham Dave terkatup dengan erat, menimbulkan sedikit suara karena gesekan dari gigi-giginya karena menahan tangis sekaligus emosinya. Namun pada akhirnya Dave tidak lagi dapat menahan airmatanya. Kepalanya tertunduk lemah di atas kedua tangannya yang terkatup dengan tangan Laurel berada dalam genggamannya. Sebentar kemudian Dave sedikit membuka genggaman tangannya, dengan mata nanar dipandanginya wajah Laurel yang masih belum sadarkan diri sambil diciuminya bertubi-tubi tangan Laurel yang berada dalam genggaman tangannya dengan menggunakan hidung dan bibirnya, dengan berusaha keras menahan tangisnya agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
__ADS_1
Ketika Mama Denia masuk ke kamar dan mendapati Dave yang terlihat begitu putus asa dan sedih, duduk di samping tempat tidur, dengan tubuhnya yang membungkuk dan memegang erat tangan Laurel, Mama Denia meletakkan baskom berisi air hangat dan kain untuk mengompres di sebelah kanan Dave, di atas tempat tidur dan buru-buru melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu kamar rapat-rapat tanpa suara.
Cepatlah sadar mo cuisle, jangan biarkan aku mengalami lagi perasaan ditinggalkan olehmu, masa-masa tergelap dalam hidupku, aku tidak mau kembali ke masa-masa mengerikan itu. Masa-masa yang begitu menyiksaku, bahkan mengingatnyapun membuat dadaku terasa begitu sakit. Tolong aku mo cuisle, maafkan aku. Jika kamu sadar kamu boleh memakiku, silahkan memarahiku sampai hatimu merasa puas, aku tahu aku bersalah padamu, aku membiarkanmu mengalami kejadian seburuk ini, membiarkan musibah menimpamu, aku benar-benar lengah. Aku tidak bisa melindungimu dengan baik, bahkan membiarkanmu mengalami ketakutan bersama bayi kita. Tidak ada di sampingmu saat kamu begitu membutuhkanku, Dave berkata dalam hati sambil menahan tangisnya dengan sekuat tenaga, merasa begitu menyesali kebodohannya malam ini.